Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 20


__ADS_3

20


Dimas meninggalkan Naura bersama dua MUA tanpa memberikan penjelasan apapun kepada Naura. Hanya sebuah kecupan di kening dan seutas senyum yang ia persembahkan kepada si istri sebelum pergi. Begitu pun dengan dua orang yang ada di ruangan itu, mereka tidak sedikit pun memberikan jawaban yang memuaskan dari banyak pertanyaan yang Naura lontarkan.


"Maaf, Nona, kami hanya menjalankan perintah untuk mendandani Nona. Selebihnya, silakan Nona tanya sendiri kepada Pak Dimas," jawab mereka, setiap kali Naura bertanya dan berhasil membuat ibu satu anak itu kesal hingga memilih diam.


Sampai dua makeup artis itu hampir selesai mendandaninya, sejuta kepenasaran itu masih belum lenyap dari kepala Naura. 'Kejutan apa yang sebenarnya Papol siapkan untukku? Sampai-sampai dia mendiamkanku selama seminggu dan ada acara culik-culikan segala? Apa di pikir ini film action apa? Untung jantungku kuat, gimana kalau aku tiba-tiba dapat serangan jantung? Nangis kejer ampe jadi duda baru tahu rasa.' Naura yang mencoba mencari jawabannya sendiri malah dibuat kesal dengan semua yang sudah dilakukan suaminya.


"Sekarang tanggal berapa, Mbak?" tanya Naura kepada wanita yang sedang merias matanya. "Tidak ada yang spesial di tanggal ini," gumam Naura, setelah orang itu menjawab pertanyaannya.


Saat ini bukanlah hari atau tanggal spesial. Tidak ada acara khusus yang terjadi di tanggal sekarang. Ulang tahun Naura sudah lewat, ulang tahun pernikahan masih beberapa bulan lagi, ulang tahun suaminya pun juga sudah lewat. Lalu ada perayaan apa yang membuat dirinya sampai ada di tempat itu? Pertanyaan itu masih belum mendapatkan jawaban.


"Nona, sudah selesai. Ini pakaiannya, silakan ganti dulu pakaiannya! Nanti tinggal finishing." Salahsatu MUA memberikan kotak berisi gaun yang sudah disiapkan Dimas.


"Aku tidak mau ganti pakaian, sebelum kalian mengatakan ada acara apa di sini," tolak Naura.


"Maaf bukan kami tidak mau menjawab, tapi itu bukan wewenang kami." Si MUA juga keuekeuh pada pendiriannya. "Sebaiknya Nona cepat ganti pakaian karena acara akan segera dimulai."


"Ish ...." Naura mencebik kesal. Ia mengambil kotak itu dan menegeluarkan isinya.


"Eh, kok, gaunnya mirip gaun pengantin, ya?" gumam Naura pada diri sendiri, saat melihat gaun pengantin berwarna peach.


Sementara itu, Para keluarga sudah menunggu di aula hotel. Aula yang sudah disulap oleh pihak wedding organizer menjadi tempat resepsi yang sangat megah dengan perpaduan warna white dan gold dengan sedikit sentuhan pink. Di tempat itulah, Dimas ingin mewujudkan impian sang istri yang ingin merasakan prosesi yang pernah dilaksanakan Irma saat pernikahan dulu. Prosesi yang hanya bisa dilaksanakan sekali seumur hidup, yakni prosesi pedang pora.


Di saat semua orang sudah tidak sabar untuk menyaksikan upacara pedang pora, lain halnya dengan adik ipar Irma. Gadis itu, tidak terlalu peduli dengan prosesi yang akan terjadi karena ia sedang sibuk mencari perhatian seseorang dengan lebih mengenal anak orang itu.


Friska sedang berada di sebuah kamar bersama ibu-ibu muda yang sedang mengasuh bayi-bayi mereka. Ia pun begitu asyik menjadi pengasuh dadakan Alvino. Ia yang notabene-nya memiliki banyak keponakan, sudah tahu bagaimana cara mengasuh sehingga tidak susah bagi Friska untuk cepat akrab dengan Alvino. Selain itu, Friska juga memang menyukai anak kecil.

__ADS_1


"Fris, pasti pegal dari tadi gendong Al terus. Sini, biar gantian!" Dewi yang merasa kasihan melihat Friska menggendong Alvino cukup lama pun mengajak gadis itu gantian untuk menggendong Alvino.


"Enggak usah, Mbak. Engga pegal, kok," tolak Friska dengan seutas senyum yang tertampil.


"Nanti kalau pegal bilang aja, ya. Biar gantian," ucap Dewi yang dijawab anggukan Friska.


Namun, di dalam hati Friska berjanji tidak akan memberikan anak kecil itu barang sedikit pun kepada Dewi. Jika anak kecil itu bisa menyebut Dewi dengan sebutan 'mama', ia yakin dengan kedekatan yang mulai terjalin Alvino juga bisa menyebutnya 'mommy'. Sementara itu, Dewi memilih kembali berkumpul bersama Irma dan istri Bara yang sedang menjaga Kayla dan Arka.


'Mbak, aku tahu kamu orang baik. Tapi, aku juga mau punya kesempatan. Jadi, mari kita bersaing secara sehat!' gumam Friska, melihat sekilas ke arah Dewi yang sedang berbicara dengan Irma.


Alvino pun tampak mulai anteng di dalam gendongan Friska, meski awal-awal sempat menolak dan terus rewel memanggil mama kepada Dewi.


"De, mending turunin dulu Alvino-nya mumpung masih di sini. Nanti baru gendong lagi pas di Aula." Irma juga memberi saran, tetapi Friska tetap menolak.


'Kenapa Friska seolah-olah tidak ingin Alvino dipegang sama orang lain? Ia sampai rela terus menggendong Al.' Irma yang sejak tadi memperhatikan tingkah Friska mulai merasa ada yang ganjal. Bahkan, gadis itu tanpa risih dan dengan senang hati mau mengganti popok Alvino saat anak kecil itu malah pup.


"Mbak, aku ingin cerita," ucap Dewi dengan ragu-ragu kepada Irma, membuyarkan lamunan ibu hamil itu.


Namun, bukannya memulai bercerita, Dewi malah memainkan kuku-kuku tangannya. Ia bingung harus memulainya dari mana, bahkan terlihat jelas kalau wanita itu saat ini sedang gerogi.


Irma yang melihat tingkah anak buahnya tidak seperti biasa langsung menggenggam tangan Dewi. "Katanya mau bicara. Ayo, bicaralah! Apa ada masalah?" tanya Irma yang dijawab gelengan oleh Dewi.


"Kemarin Mas Ryan dan kedua orangtuanya datang ke rumah," ucap Dewi, memberanikan diri, yang membuat semua wanita yang ada di sana tercengang, termasuk Friska.


"Terus?" tanya Irma, tidak sabar.


"Orang tua Mas Ryan dengan terang-terangan meminta aku kepada ayah untuk dijodohkan dengan Mas Ryan," tutur Dewi lagi, yang berhasil membuat gadis yang sedang menggendong Alvino terasa kehabisan pasok oksigen.

__ADS_1


"Lalu bagaimana keputusannya?"


"Ayah menyerahkan semuanya kepadaku, Mbak."


"Terus keputusanmu?" Irma semakin tidak sabar dengan jawaban Dewi. Ia berharap Dewi mau menerimanya, tanpa mengetahui jika itu terjadi ada satu hati yang akan terluka.


"Seperti kata Mbak, setiap orang mempunyai masa lalunya masing-masing. Mungkin Mas Ryan memang dulu sangat buruk, tapi dari buruk itu dia bisa belajar lebih baik. Dan, setiap orang berhak memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Chika juga tampak senang setelah dua kali bertemu dengan Mas Ryan," tutur Dewi panjang lebar, yang kemudian terhenti—bingung mengatakannya. "Seperti kata Mbak juga, jodoh, rezeki dan maut itu Tuhan yang ngatur. Jadi, setelah aku menimang-nimang, aku ingin mencoba membuka hati untuk Mas Ryan. Dan mau seperti apa kedepannya, aku serahkan semuanya sama Yang Di Atas," lanjut Dewi.


"Jadi kamu menerimanya?" tanya Irma memastikan yang dijawab anggukan Dewi. "Ah ... aku bahagia sekali. Selamat, ya!" Irma langsung memeluk Dewi setelah mendengar semua itu, begitu pun dengan istri Bara.


Uhuk!


Lain halnya dengan Friska. Gadis itu bagaikan tersambar petir di siang bolong saat mendengar pengakuan Dewi. Bahkan tanpa sadar ia menusuk potongan buah sangat banyak dan memakannya sekaligus sampai tersendat, membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Kamu itu kebiasaan kalau makan tidak hati-hati sampai keselek kaya gitu." Ryan yang baru masuk ke ruangan itu langsung mengambil minum dan memberikannya kepada Friska dengan penuh perhatian, saat melihat gadis itu gelagapan karena sesuatu memenuhi tenggorokannya.


"De, kamu kenapa?" Irma pun langsung menghampiri si adik, khawatir.


Setelah buah-buah itu masuk dengan dibantu segelas air. Friska menatap semua orang yang sedang menatapnya dengan khawatir dengan seringai lebar yang menghiasi wajahnya.


"Tante nakal ya, Al! Buah punya Al malah tante makan, jadinya tante keselek," ucapnya kepada Alvino.


"De, kalau makan hati-hati," lanjut Irma yang dijawab anggukkan Friska.


"Sayang, sini gendong sama papah. Tantenya kasihan abis keselek." Ryan lantas mengambil Alvino dari gendongan Friska. "Oh, ya, aku ke sini tuh, mau jemput kalian. Acara sudah mo dimulai, sebaiknya kita ke sana sekarang," tandas Ryan lagi.


Tujuan utama, Ryan ke sana adalah untuk memberitahukan berita itu. Namun, pas sampai ia malah disuguhkan Friska yang sedang tersedat buah.

__ADS_1


Semua orang pun keluar dari ruangan tersebut menuju Aula.


'Jangan nyerah Fris! Perjuanganmu yang sesungguhnya baru akan dimulai. Misimu kali ini adalah lempengin lagi janur yang sebentar lagi akan melengkung,' ucap Friska menatap dua punggung yang keluar berdampingan dari ruang itu, lalu ia pun menyusulnya.


__ADS_2