
Dari ufuk timur, mentari pagi telah mencuatkan sinar jingganya menyabut pagi yang sepertinya akan lebih cerah dari kemarin. Di rumah sederhana yang sebentar lagi akan digunakan sebagai tempat resepsi, tampak Irma sedang bersiap-siap untuk menghadiri sidang pra-nikah—sidang yang dilaksanakan sebagai syarat setiap anggota kepolisian sebelum melaksanakan nikah negara. Sejak sang surya mulai muncul, Irma tak lagi keluar kamar. Ia sibuk memilah dan memilih pakaian yang cocok digunakannya untuk menghadiri sidang, bahkan isi lemari sudah keluar semua dan dicoba satu persatu. Namun, tetap saja ia masih tak percaya diri dengan penampilannya. Ia takut mempermalukan Andre dengan penampilannya yang pas-pasan itu.
"Ya ampun, Kak! Apa yang sedang kau lakukan?" Hingga suara Naura yang masuk ke kamarnya mengagetkan Irma. Begitu pun dengan Naura. Ia tak kalah terkejutnya melihat kamar Irma yang sudah seperti habis terkena gempa berskala tinggi. Lemari menganga tanpa isi dan pakaian berceceran di lantai dan ranjang.
"Eh, kamu De, sudah kemari?" Irma memamerkan rentetan giginya saat melihat siapa yang ada di ambang pintu kamar.
Naura tak mengindahkan ucapan Irma. Ia masuk ke kamar yang sudah tak seperti kamar itu, menghampiri sang kakak sambil terus berdecak dan geleng-geleng kepala. "Ck ... ckck, ini kamar apa kapal pecah? " tanya Naura dengan tangan memunguti pakaian di lantai yang hampir terinjak, lalu melemparnya ke atas kasur.
"Kakak bingung mau pakai baju apa untuk sidang hari ini? Semua baju udah kakak coba, tapi semua terlihat gak cocok di badan kakak." Irma menjatuhkan pantattnya di tepi ranjang. Ia mulai frustrasi dengan pakaian yang dimilikinya. Mungkinkah harus membeli baju lagi? Akan tetapi tidak ada waktu untuk itu, setengah jam lagi mereka akan berangkat ke kantor.
"Ternyata orang yang nikah atas dasar cinta itu meribetkan, ya? Semuanya ingin terlihat perpect, meskipun malah membuat bagian lainnya kacau balau. Contohnya ruangan ini yang sudah seperti kapal yang habis nabrak gunung es karena si Tuan Putri ingin tampil memesona." Naura mencibir kelakuan Irma, karena dipernikahan Naura maupun Irma yang pertama tidak terjadi drama seperti yang dilakukan Irma saat ini.
Irma mendelik begitu mendengar penuturan si adik. "Diamlah! Jangan malah mengejek! Kalau gak mau bantu, sebaiknya keluar saja," ucapnya sembari memilih kembali pakaian di atas ranjang yang belum terjamah.
Hufft! Naura membuang napas kasar, "Gitu aja ngambek! Mentang-mentang bentar lagi mo pengantenan sensian amat!" Naura semakin menggoda Irma, lalu ikut memilihkan baju. "Nih, pake ini aja!" Tak selang berapa lama, wanita hamil itu menemukan baju yang cocok.
Irma memandang baju yang dipilihkan Naura. Senyumnya seketika mengembang dan langsung meraihnya. "Kenapa dari tadi kakak gak nemu baju ini?"
__ADS_1
"Matamu terlalu siwer, yang ada di mata sama kepala hanya Andre doang," cibir Naura. "Udah, cepetan pake! Aku udah kelaperan. Kita sarapan bersama," lanjutnya, lalu keluar dari kamar Irma.
***
Naura yang pagi-pagi buta mendapat kabar kalau kakaknya akan sidang pra-nikah langsung pergi ke rumah tempat ia dibesarkan. Kini, wanita hamil itu sedang duduk di kursi makan bersama Dimas dan Ranti, menanti Irma untuk sarapan bersama. Namun, yang ditunggu tak kunjung keluar kamar, padahal Naura sudah memilihkan baju untuk si kakak. Bahkan, wanita hamil itu sampai membuat nada-nada nyaring dari garpu dan sendok yang dibuat beradu dengan piring sambil menggerutu tak jelas.
Hingga, suara langkah kaki menghentikan aksi Naura. Ia mendongak saat mendengar derap kaki itu semakin mendekat. Dan, Naura dibuat melongo melihat penampilan sang kakak.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Irma yang masih belum percaya diri dengan penampilannya.
"Empat jempol untukmu. Dua jempol pinjem punya Papol!" Naura mengacungkan kedua jempolnya, mengagumi penampilan Irma yang tampak begitu berbeda dari biasanya. "Kakak sangat cantik, para bidadari di kayangan pun pasti langsung ngumpet karena minder kalau liat penampilan kakak yang seperpect ini," puji Naura yang membuat Irma tersipu. "Enggak sia-sia ngobrak-ngabrik kamar pun kalau hasilnya seperti ini mah," lanjut Naura yang langsung mendapat cebikkan Irma.
"Emak kenyataannya. Kamarmu udah melebihi kapal pecah."
Ranti dan Dimas hanya tersenyum melihat kelakuan dua kakak beradik itu yang terus beradu mulut tak ada yang mau ngalah. Namun, tiba-tiba Irma terdiam. Ia yang belum pernah menginjak kantor polisi, ada rasa ragu dan takut untuk pergi ke sana. Apalagi, ia belum tahu apa-apa tentang sidang yang akan dilaksanakannya. Saat bertanya kepada Andre pun, lelaki itu tak memberikan jawaban yang memuaskan. Malah menyuruh Irma bertanya kepada Naura saja.
"Mikirin apa? Entar cantiknya ilang kebanyakn mikir," ujar Naura dengan mulut yang sudah dipenuhi nasi goreng buatan sang mamah, yang sudah dipesannya sejak dari rumah.
__ADS_1
"Kakak gugup. Takut gak bisa menjalankan sidang dengan baik." Irma mengaduk-aduk makanan di piring, tanpa melahapnya. Tampak jelas kegundahan yang tiba-tiba menyergap hati wanita yang beberapa hari lagi akan berubah status.
Ranti, Dimas dan Naura saling melempar pandang, lalu menatap Irma yang masih mengaduk makanan.
"Apa yang membuatmu takut? Tidak ada yang perlu ditakutkan." Ranti mencoba menenangkan Irma.
"Aku takut ditanya yang aneh-aneh dan akhirnya gak bisa jawab. Batal deh, pernikahannya."
"Parnomu ketinggian. Kenapa tidak tanya kepada orang yang sudah berpengalaman?" imbuh Naura sambil menaik-turunkan alisnya denga senyum yang kembali mengembang. Menggoda Irma kembali. Entah, kenapa ia suka sekali menggoda kakaknya yang sedang gugup setengah mati itu. "Paling nanti ditanya udah ngapain aja selama pacaran? Terus tes keperawanan. Terus ditanya malam pertama mau ngapain?" Naura semakin menggoda Irma, yang langsung mendapat tatapan dari Dimas.
Dimas menggeleng sembari memegang tangan sang istri, seolah dari tatapannya ia meminta Naura untuk tidak terus menggoda Irma.
Sementara itu Irma semakin dibuat tak karuan oleh ucapan Naura. "Hah?! Jangan ngaco kamu, De!" Irma mengangkat sendok yang dipegangnya,bersiap melempar ke arah ibu hamil tahu. Di saat ia benar-benar gugup, sempat-sempatnya Naura menggoda dengan pertanyaan yang memang tak mungkin dipertanyakan pemimpin sidang.
"Yaelah, Kak. Santai aja napa. Enggak bakal ditanya aneh-aneh juga. Kita cuma ditanya seputar kesiapan kita menjalankan rumah tangga dengan seorang anggota polisi, terus dikasih wejangan yang panjang dikali lebar." Naura masih ingat betul wejangan-wejangan yang disampaikan wakapolresta saat mejadi ketua sidang dirinya dulu.
"Apa benar, Dim?" tanya Irma kepada Dimas. Ia sudah tak yakin dengan semua ucapan adiknya.
__ADS_1
"Iya, Kak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak perlu se-nervous itu dibawa santai saja. Ingat polisi juga manusia. Enggak bakal makan kakak juga ... kecuali Andre. Kalau laki yang satu itu aku tak bisa menjamin," imbuh Dimas yang juga ujung-ujungnya malah menggoda Irma.
"Ah, kalian memang sebelas-duabelas."