
Lelaki yang baru saja mendapatkan petuah plus jackpot dari Ana itu langsung menjatuhkan tubuh di atas kasur begitu tiba di kamarnya. Ia masih merutuki sepasang suami istri yang tega-teganya menganggap dirinya sekelas dengan hantu dan setan. Hingga, gejolak di perut mengganggu. Ia merasakan bagian dalam perutnya begitu melilit. Semakin dirasa malah semakin menjadi, Andre pun lantas beranjak dari kasur dan langsung melucuti pakaiannya, kemudian berlari ke kamar mandi.
"Sial, kenapa mesti lupa!" rutuk Andre saat sudah duduk diatas kloset dan mengingat kalau kloset di kamar mandi kamarnya ruksak.
Untung saja, lelaki itu belum mengeluarkan apa pun. Dengan langkah seribu ia keluar kamar dan masuk ke kamar mandi yang berada di luar kamar. Akhirnya, Andre bisa mengendalikan gejolak di perutnya dengan berlama-lama di dalam kamar mandi ditemani gemericik air dan juga alunan lagu yang didengarnya dari MP4 —yang tertinggal di sana pagi tadi. Tak lupa, sekuntung rokok juga selalu menjadi teman setianya saat ia duduk berlama-lama di kamar mandi.
Musik diputar begitu kencang di telinga Andre. Sembari membuang hajat, lelaki itu pun mengadakan konser solois di kamar mandi. Membuatnya tak bisa mendengar teriakan Irma yang sudah berkali-kali memanggilnya.
"Lega ...." gumam Andre, begitu selesai melaksanakan ritual yang memiliki kenikmatan tersendiri.
Dengan lubang telinga yang masih di tutupi headset, lelaki yang tak memakai pakaian luar itu pun keluar kamar mandi—dan itu bertepatan dengan pandangan Irma yang tertuju ke arah kamar mandi.
Spontan, Irma berteriak begitu kaget saat mendapati Andre layaknya model underware. Matanya ternoda dengan yang tak semestinya dilihat. Wanita itu pun langsung berbalik badan, tak ingin isi kepalanya juga ternoda oleh pemandangan yang bisa membuat wanita sakit mata dan berakhir mabuk kepayang.
"Eh, ada Mbak Irma," ujar Andre sembari melucuti alat pendengar musik yang masih menempel di telinga, saat mendapati kehadiran Irma di dalam rumahnya.
__ADS_1
"Ya. Maaf, aku main masuk saja. Tadi aku ketuk pintu tak ada yang menyahut." Irma merutuki dirinya karena cemas terhadap keadaan Andre, ia asal masuk saja, hingga mendapatkan pemandangan seperti itu. "Aku disuruh nganterin jamu sama Mamah," lanjutnya, dengan badan yang masih membelakangi Andre.
"Kenapa malah berbalik badan? Dikira aku hantu apa, itu tadi sampai menjerit segala?" tanya Andre yang belum menyadari keadaannya. "Atau saking eneknya sama aku, sampai dirimu tak mau melihat wajahku. Sebegitu kah menjijikkannya aku bagimu, Mbak?" Ia berjalan ke arah wanita yang masih saja membelakanginya.
"Bukan begitu ...." Irma menjadi semakin tak enak hati mendengar ucapan Andre, tetapi tak mungkin juga ia kembali berbalik jika keadaan Andre masih seperti itu.
"Jika kamu memang tak ingin menemuiku, tak perlu datang kemari."
'Kenapa dia jadi sangat baperan seperti ini? Apa dia tak sadar dengan pakaian yang dipakainya apa?'
"Aku disuruh Mamah untuk mengantarkan jamu supaya badanmu tidak pegal-pegal. Dia masih tak enak hati dengan kejadian tadi pagi. Apa badanmu masih sakit?" tanya Irma. "Ini jamunya!" Irma merasakan Andre semakin mendekat, ia pun langsung menyodorkan jamunya ke belakang.
"Ini jamu apa? Baunya tak enak sekali," tanya Andre sambil menutup hidung.
"Namanya juga jamu pasti baunya tak enak kalau yang enak itu permen," jawab Irma. "Minumlah! Mamah menyuruhku memastikan Mas Andre meminumnya," lanjutnya.
__ADS_1
Senyum tersungging di bibir Andre. Meskipun sedang kesal dengan gadis di hadapannya, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda Irma.
"Aku tak akan meminumnya sebelum kau berbalik badan!" tegas Andre.
"Mas, jangan aneh-aneh! Cepatlah minum! Aku tak mungkin berbalik badan." Irma masih tak habis pikir, bisa-bisanya dengan kondisi seperti tuyul raksasa, Andre masih memintanya untuk menghadap lelaki itu.
"Ya, sudah, bagaimana kalau aku buang saja, nanti kamu tinggal bilang kalau aku sudah meminumnya habis." Andre beranjak hendak membuang jamu di tangannya ke westafel.
'Bagamana ini? Kata orang kalau cuma sekali itu anugerah, tapi kalau berkali-kali itu bisa jadi dosa jariyah dan akhirnya jadi musibah.' Irma bingung sendiri dengan yang harus dilakukannya.
"Baiklah, tinggal buang saja. Aku hanya mengantarkannya sesuai perintah Mamah."
Andre menghentikan langkahnya, Jawaban Irma di luar dugaan Andre.
"Mamah pasti sudah menunggu, sebaiknya aku pulang saja. Kalau gak suka tinggal buang saja." Akhirnya, Irma lebih memilih mengabaikan ancaman Andre, lalu melenggang meninggalkan lelaki itu, tanpa menoleh ke arah Andre yang masih terdiam. "Oh, iya satu lagi, sejak kapan beralih profesi jadi tuyul?" lanjutnya, sembari mengulum senyum.
__ADS_1
"Tuyul? Maksudnya gimana?" Andre masih belum sadar dengan keadaannya sendiri.
"Lihat saja di cermin!" Irma menimpali, sebelum ia benar-benar keluar dari rumah polisi tersebut.