
Andre dan Irma saling mentransfer kasih sayang dan cinta lewat ciuman yag makin lama semakin panas dan menuntut lebih, membuat atmosfer di ruangan tersebut terasa meningkat. Tak sabar, ingin menjelajahi tempat lain selain bibir sang istri, tangan Andre berusah melepas gaun Irma. Namun, pergerakkan tangan lelaki itu terhenti saat tiba-tiba sesuatu di bagian bawah membuyarkan acaranya. Perut Andre terasa melilit dan tidak bisa tertahankan, sehingga ia terpaksa melepaskan tautan keduanya dan segera berlari ke kamar mandi.
Irma hanya menatap punggung Andre yang tiba-tiba menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia melongo melihat kelakuan Andre yang menurutnya sangat lucu sekaligus menggelikan. Lelaki itu langsung melucuti baju dan celana panjangnya begitu tautan mereka terlepas dan segera berlari ke kamar mandi dengan tangan yang memegang perut dan satu tangan lagi memegang bagian belakang tubuhnya yang hanya tertutup celaana dalam saja.
"Apa itu sebuah kebiasaanya?" Seketika senyum menghiasi wajah Irma, mengingat ia juga pernah melihat pemandangan seperti itu. "Tapi, yang barusan sangat manis." Irma menjatuhkan tubuhnya di taburan sembari memegang bibir yang baru saja dijamah sang suami. "Terima kasih, Mas. Aku sangat-sangat mencintaimu, Semoga kebahagiaan ini tidak pernah berlalu," ujarnya masih memegangi bibir. Ia pun lebih memilih memainkan kelopak mawar yang bertaburan di ranjang sembari menungu sang suami kembali.
Sementara itu, di kamar mandi, Andre masih setia duduk di atas kloset sembari merutuki perut yang tidak bisa diajak kopromi. Di saat sesuatu yang selalu diimpikannya sudah di depan mata, terpaksa harus tertunda oleh panggilan alam dadakan. Kesal sampai ke ulu hati itulah yang dirasakan Andre, tetapi bayangan saat mereka menikmati pertautan bibir, sedikit bisa mengobati kekesalan Andre. Membayangkan kelanjutan aksinya membuat Andre senyum-senyum sendiri dan tak sabar keluar dari sana.
"Lega!"
Setelah cukup lama berdiam diri di kamar mandi, Andre pun dengan senyum yang lebar bersiap menyambung kegiatannya yang sempat tertunda. Akan tetapi, perut Andre sepertinya menjadi ujian terberatnya saat ini. Baru saja, Andre membuka pintu kamar mandi, ia sudah menutupnya lagi dan kembali ke atas kloset.
"Ya, Tuhan, kenapa sakit lagi?" rutuk Andre. Perutnya terasa melilit dan sangat menyiksa. "Sabar, ya, Mbak Say! Perasaan tidak makan yang aneh-aneh, tapi kenapa perutnya jadi sensitifan kayak gini?" Andre masih terus meratapi perutnya.
Akhirnya, Andre terjebak di kamar mandi sangat lama. Malam pertama yang ia idam-idamkan tak semulus jalan tol, bahkan terancam gagal karena sakit perutnya yang tidak kunjung membaik. Bahkan, beberapa kali Irma mengetuk pintu, menanyakan keadaannya. Terlalu lama duduk di atas kloset dan menganggurkan sang istri, membuat Andre dirundung resah. Ia takut kejadian ini menjadi momen tidak mengenakkan dan membuat Irma kecewa kepadanya. Kesendirian di dalam kamar mandi pun membawa pikiran lelaki itu berkelana ke mana-mana.
"Bagaimana pun aku hanyalah anak piyik yang bersembunyi di tubuh yang bertampang dewasa. Aku sama sekali tidak berpengalaman, hanya bermodalkan pengetahuan tanpa pernah praktek. Bagaimana kalau dia tidak puas dengan cara kerjaku? Secara dia sudah jauh lebih berpengalaman. Bagaiman kalau nantinya aku tidak lebih baik dari si mantannya itu?" Tiba-tiba pikiran aneh itu menghantui kepala Andre. Rasa tidak percaya diri akan kemampunnya tetiba menyeruak, padahal ia sudah mempersiapkannya dengan matang, bahkan Andre sudah menonton beberapa video sebagai referensi. Namun, ia yang masih terjebak di kamar mandi membuat nyalinya semakin menciut saja.
Irma sendiri tampak mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Mendapati Andre yang tak kunjung keluar kamar mandi membuatnya khawatir, meskipun lelaki itu selalu mengatakan kalau ia baik-baik saja.
"Mana mungkin baik-baik saja kalau dari tadi gak keluar-keluar," gumam Irma sembari menggigit ujung kukunya.
"Mbak sedang apa?" tanya Andre saat membuka pintu kamar mandi dan mendapati sang istri sedang mondar-mandir di depan pintu.
__ADS_1
Irma pun langsung menoleh ke arah suara, tampak Andre sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang sudah memucat.
"Mas, kenapa?" Irma menghampiri Andre. Tidak peduli penampilan Andre yang hanya memakai pakaian dalam saja. Baginya memastikan keadaan sang suami lebih penting. "Kamu pucat sekali."
"Perutku sakit sekali, Mbak," ujar Andre sambil berjalan menuju ranjang.
Andre pun langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur—tengkurep. Berlama-lama di kamar mandi benar-benar membuat tubuhnya lemas, ditambah lagi rasa sakit yang masih menggelitik perut.
"Apa kamu salah makan, Mas?" tanya Irma sambil memijit punggung Andre.
"Entahlah. Tapi, kayaknya aku gak makan yang aneh-aneh."
"Perutnya dibalur, ya! Biar cepet mendingan."
Irma pun beranjak, mengambil kotak p3k yang disimpan di nakas. Lalu, membawa minyak kayu putih dan membalurkannya ke perut Andre. Belum juga selesai, Andre tiba-tiba bangun dan kembali berlari ke kamar mandi.
Akhirnya, malam pertama mereka hanya dihabiskan Andre dengan bolak-balik ke kamar mandi dan baru membaik setelah meminum obat sakit perut. Irma pun dengan sangat telaten memijit Andre, hingga lelaki itu tertidur.
"Kasian sekali suamiku harus bolak-balik kamar mandi." Irma memandangi lelaki yang sudah terlelap karena kelelahan. "Tidur yang nyenyak. Semoga nanti pas bangun, sakitnya sudah hilang," lanjut Irma sambil mendaratkan kecupan di kening Andre, kemudian menyelimuti tubuh Andre. "Dasar Tarzan," gumamnya sambil geleng-geleng, melihat tubuh Andre yang seperti tarzan.
Irma yang masih menggunakan gaun pun, memilih membersihkan dahulu badannya yang sudah sangat lengket sebelum gabung tidur dengan sang suami. Perlahan, ia turun dari ranjang, lalu pergi ke kamar mandi.
Setelah badannya kembali segar, Irma pun kembali ke atas ranjang. Tidur bersama dengan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Meregangkan otot-otot yang sudah sangat kelelahan oleh acara seharian ini yang sangat menguras tenaga.
__ADS_1
***
Menjelang dini hari, Irma terjaga. Ia teringat kondisi Andre, takut suaminya itu kembali merasakan sakit. Namun, pergerakkannya terkunci oleh Andre yang tidur sambil memeluknya sangat erat. Perlahan Irma, memiringkan tubuh, membuat keduanya saling berhadapan. Wanita itu memandangi wajah sang suami yang masih terpejam.
"Sepertinya kamu sudah membaik," gumam Irma dengan mata yang tak lepas dari wajah yang begitu menenangkan itu.
"Apa aku tampan?" tanya Andre tanpa membuka mata.
"Eh, udah bangun juga? Bagaimana perutnya? Apa masih sakit?" tanya Irma, tanpa menjawab pertanyaan Andre.
"Berkat wanita cantik yang merawatku dengan penuh cinta dan kasih sayang, sekarang aku sudah membaik." Andre membuka mata dengan senyum yang tertampil. "Terima kasih sudah merawatku," lanjut Andre.
"Sudah kewajibanku sebagai seorang istri, merawat suamiku yang sedang sakit."
"Tapi aku belum menunaikan kewajibanku sebagai suami, yang ada malah merepotkanmu. Maaf, karena perut yang tidak mendukung malam pertama kita ambyar gak karuan." Andre mencium tangan Irma. Ia benar-benar merasa bersalah dan takut Irma kecewa terhadapnya. "Maaf telah membuatmu kecewa," ujarnya lagi, penuh sesal.
Irma menggenggam tangan yang sedang menggenggam tangannya itu dan menciumnya.
"Kamu tidak pernah membuatku kecewa. Bahkan sebaliknya, kamu selalu membuatku bahagia. Terima kasih," ujar Irma dengan pandangan yang tidak pernah teralihkan dari wajah Andre.
Begitu pun dengan Andre. Tanpa bosan, ia terus memandangi wajah kekasih halalnya itu. Wajah Irma seakan menjadi kutub magnet yang terus menariknya untuk terus mendekat.
"Masih ada waktu menjelang subuh. Apa mau lanjut sesi pemanasan yang sempat tertunda itu?" ujar Andre dengan senyum yang tertampil.
__ADS_1
Wajahnya semakin mendekati wajah Irma.