Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
110


__ADS_3

Hidup berkeluarga dengan wanita yang dicintai adalah impian setiap lelaki. Hidup satu atap, satu kamar, bahkan satu bantal, melihat sang pujaan saat akan terlelap dan juga saat pertama kali terbangun, makan dan minum dari piring dan gelas yang sama, mengerjakan apapun bersama-sama, serta berbagi dalam suka dan duka. Kehidupan keluarga harmonis merupakan impian setiap pasangan suami istri, dan Andre telah mendapatkan semua itu dengan adanya Irma di sisinya. Kehadiran Irma di dalam kehidupan Andre, telah menyempurnakan hidup lelaki itu.


Semenjak kepulangan dari berlibur, Andre dan Irma menimpati rumah Andre. Tinggal berdua di rumah yang juga bersampingan dengan rumah Ranti, membuat Irma tak merasa khawatir karena meninggalkan mamahnya seorang diri. Sementara itu, orang tua Andre dan Friska sudah kembali ke kota kelahiran Andre setelah seminggu pernikahan Andre dan Irma digelar. Sepasang suami istri itu pun telah kembali ke rutinitasnya masing-masing, tanpa menanggalkan tugas mereka sebagai suami dan istri.


"Selamat pagi, Mbak Say!" Suara parau Andre menggelitik telinga Irma. Lelaki itu memeluk Irma yang sedang memasak dari belakang.


"Pagi, Mas." Irma melirik sekilas lelaki yang sedang menancapkan dagu dengan malas di bahunya.


"Masak apa?" tanya Andre kemudian sembari mendaratkan beberapa kecupan di bahu dan tengkuk sang istri.


Irma bergidig geli saat daging tak bertulang dengan bulu-bulu halus di atasnya mengenai kulit Irma yang tak tertutup kain. "Mas, geli. Lagian aku masih bau, lho!"


"Bagiku kamu selalu wangi lebih wangi dari bunga kesturi," jawabnya. "Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Andre lagi, tanpa melepaskan tautan tangannya yang melingkar di perut Irma.


"Lepaskan pelukanmu! Itu sangat membantu, karena sekarang aku susah bergerak." Irma berujar dengan tangan yang sedang sibuk mengaduk-aduk tongseng mengunakan spatula.


"Kiss dulu baru aku lepaskan," ucap Andre.


Bekerja dengan keadaan seperti itu cukup mengganggu Irma. Ia tak bisa gesit ke sana kemari menyelesaikan pasakkannya, meskipun sebenarnya ia suka—terkesan sangat romantis. Akan tetapi, pekerjaan lain sudah menanti kalau seperti ini terus yang ada mereka akan kesiangan. Irma pun meletakkan spatulanya, lalu berbalik menghadap sang suami. Menangkup wajah Andre, menarik wajah itu untuk sedikt menunduk supaya sejajar dengannya yang sedikit lebih pendek, kemudian memberikan apa yang Andre mau.


"Udah," ujar Irma setelah mendaratkan ciuman di kening, pipi dan bibir Andre.


"Makasih." Andre tersenyum bahagia. "Sekarang apa yang harus kulakukan?" tanya Andre, melihat bahan masakan yang masih tergeletak di meja.

__ADS_1


"Tolong bersihkan sayurannya, ya, Sayang!"


"Siap laksanakan, Nyonya!" ucap Andre sembari mengangkat sebelah tangannya ke dekat pelipis, lalu melaksanakan perintah sang istri.


Keseharian Andre dan Irma selalu dilaksanakan dengan gotong royong. Bahkan menginjak usia sebulan pernikahan mereka, sepasang suami istri itu tidak pernah berselisih paham, sebaliknya mereka semakin harmonis dan romantis. Mereka sepaket yang tidak bisa terpisahkan, di mana ada Andre pasti ada Irma. Si istri yang sangat setia pun dengan sukarela setiap hari mengantarkan makan siang penuh cinta kepada si suami, membuat iri para rekan kerja Andre yang jomlo maupun yang sudah berrumahtangga.


"Mas, tadi mamah telepon," ucap Irma kemudian.


"Pagi-pagi gini?" jawab Andre yang masih sibuk membersihkan semua sayuran yang ada di keranjang kecil.


"Hooh." Irma mengangguk. "Dia nagih terus, kapan kita mau ke sana lagi? Para saudaramu yang tidak hadir di acara nikahan kita sudah nanyain terus katanya," tuturnya lagi, mengingat semua ucapan ibu mertuanya.


"Nanti kalau ada libur rempetan dan aku gak kebagian piket, kita bisa ke sana." Andre menoleh ke arah Irma dengan seringai yang menghiasi wajah. Sementara itu, Irma hanya mengerucutkan bibir. Lelaki itu paham akan gelagat si istri, karena bulan ini tidak ada hari libur secara berturut-turut.


"Iya. Nanti aku telepon balik mamah sambil minta maaf karena anak dan menantu kesayangannya enggak bisa ke sana dalam waktu dekat," imbuh Andre. "Mentang-mentang udah jadi mantu kesayangan tiap hari nanyainnya kapan ke sana lagi. Dasar emak-emak!" Andre merutuki Rita yang seminggu ini tanpa bosan terus menelpon dan menanyakan kepulangan mereka.


Mendengar omelan Andre, Irma langsung menghampiri sang suami dan mendaratkan cubitan di pinggang Andre. "Harusnya bersyukur istrinya udah diterima jadi mantu. Atau Mas mau aku dimusuhin mertua seumur hidup?"


Spontan, Andre langsung memukul tiga kali ujung westafel sembari mengucap amit-amit tiga kali.


"Makanya disyukuri istrimu ini sudah diterima lagi," lanjut Irma sambil mengambil sayuran yang sudah dibersihkan Andre.


Andre melirik Irma dengan senyum yang selalu tertampil, kemudian menengadahkan kedua tangannya sambil berucap, "Alhamdulilah ... istriku sudah diterima lagi oleh Mamah Rita yang keras kepala itu." Sementara itu, si istri hanya mencebik melihat kelakuan suaminya itu.

__ADS_1


Acara masak memasak di pagi ini pun dibumbui oleh ketengilan Andre yang selalu menggoda Irma. Gelak tawa juga mewarnai dapur mereka yang sudah wangi dengan berbagai jenis masakan.


"Selesai," gumam Andre, begitu selesai menyajikan menu sarapan mereka di meja makan.


"Nasi putih, tongseng ayam, bakwan sayuran, perkedel serta balado terong hasil buatan Chef Irma dan dikacaukan oleh Chef Andre sudah siap tersaji." Dengan tangan terlipat di dada dan senyum mengejek, Irma yang berdiri di samping sang suami langsung menimpali.


Si pembuat dosa pun hanya senyum-senyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selama di dapur, Andre yang ketengilannya sedang kumat memang lebih banyak mengacaukan acara memasak Irma. Irma menyuruh A, ia melaksanakan B. Irma meminta garam yang diambil malah gula.


"Kepalanya udah ngebul kayak kompor yang mau meledug, sebaiknya cepetan disiram, yuk!" Bukannya meminta maaf, lelaki itu malah mengangkat tubuh Irma dan membawanya pergi dari ruang makan.


"Eh, ngapain malah angkat-angkat aku segala?"


"Mau nyiram kepala Mbak yang udah berada pada tegangan tinggi!" ujar Andre lagi sambil memamerkan rentetan gigi putihnya dan langsung mendapat pelototan dari Irma. "Udah siang kita mandi dulu biar wangi." Andre mengulang ucapannya.


Lelaki itu membawa Irma ke kamar, lebih tepatnya lagi ke kamar mandi yang berada di dalam kamar. Ia meletakkan tubuh si istri di bathtub, lalu mengisi tempat itu dengan air. Ya, Mandi bersama sudah menjadi kebiasaan Andre dan Irma. Tidak ada lagi kata malu diantara mereka, toh lebih dari sekedar mandi pun sudah sering mereka lakukan.


"Mbak Say, seragamku di mana?" Andre yang sudah keluar kamar mandi kembali masuk menanyakan keberadaan baju yang dicarinya.


"Udah aku siapkan di atas kasur, Mas." Irma yang masih ingin berendam enggan beranjak dari bathtub.


"Ok." Andre pun kembali keluar kamar mandi. Namun, beberapa detik kemudian ia kembali masuk ke kamar mandi. "Semvak sama kaosnya di mana juga?" tanyanya lagi.


Mendapati Andre yang terus bolak-balik kamar mandi, Irma langsung menoleh ke arah sang suami dengan mata yang seakan-akan keluar semua. "Mas, lama-lama kepalaku meledug beneran, lho! Udah sana keluar, aku juga udah selesai. Nanti aku ambilkan!" Irma keluar dari buthtub dan membersihkan dirinya di bawah shower, lalu mengekori sang suami yang ternyata masih menunggu di pintu kamar mandi.

__ADS_1


Satu hal yang disesalkan Andre dari pernikahannya bersama Irma, yakni hilangnya kemandirian lelaki itu dalam beberapa hal termasuk dalam segi berpakaian. Ia yang sejak menikah dimanjakan sang istri dengan menyiapkan segala urusan, membuat Andre tidak tahu di mana Irma menyimpan semua keperluannya. Bahkan, mungkin sekarang Andre sudah lupa bagaimana cara mengancingkan baju, karena setiap hari dengan penuh cinta Irma selalu melayani Andre sampai ke hal terkecil pun.


__ADS_2