Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 4


__ADS_3

4


Seunit mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang cukup ramai di hari libur, kemudian berbelok ke sebuah perumahan elit yang terletak di kawasan kota. Si pengemudi masih sibuk dengan setir dan fokus pada jalanan sambil komat-kamit tidak jelas apa yang sedang dirutukinya. Semenjak kedatangan Ryan, mood-nya sedikit anjlok. Sementara itu, sang istri yang duduk di kursi samping pengemudi hanya mengulum senyum dengan tingkah si suami sambil menikmati coklat pemberian Ryan. 


"Ba, coba deh, coklat enak banget." Irma menyodorkan coklat ke mulut Andre yang masih komat-kamit. 


Wangi coklat yang sangat menggiurkan, membuat Andre menelan ludah. Akan tetapi mengingat ketengilan Ryan membuat Andre langsung menolak. "Enggak, makasih. Rasa coklat sama saja," tolaknya dengan pandangan masih lurus ke depan setelah sempat melirik sedikit makanan manis tersebut dengan ujung matanya. 


"Yakin gak mau? Enak, lho! Nanti kalau udah abis malah nangis, minta. Aku gak tanggung jawab, ya!" goda Irma yang tahu suaminya itu menginginkan makanan yang dipegangnya, tetapi gengsinya terlalu besar. Lalu dengan jahil, Irma memasukkan paksa coklat itu ke mulut Andre. "Gimana, enakkan?" 


"Enak," ucap Andre, tanpa sadar. Karena coklat itu memang benar-benar enak dan yang telah mencobanya pasti akan ketagihan. 


"Tuh, kan. Sekarang ngaku. Makanya jangan gengsian, lagian yang belinya juga pakai uang kamu," tandas Irma sambil memakan coklat lagi. 


"Tapi, Baba sebel sama ucapan resenya yang dengan seenak jidat kalau si twins bakal mirip dia." 


"Ish ... dia itu hanya bercanda, Sayang. Ngapain diambil pusing, kayak dirimu gak pernah candain orang aja." Irma menjuwel pelan pipi sebelah kiri sang suami saking gemasnya. 


Tanpa terasa perjalanan mereka yang ditemani coklat itu pun sudah sampai di sebuah rumah mewah dengan arsitektur modern. Andre memarkirkan mobilnya di halaman rumah tersebut. 


Sementar itu, Irma masih asyik dengan coklat yang hanya tinggal sedikit, mengunyah coklat tersebut sambil merem melek merasakan lezatnya makanan itu hingga kunyahan terakhir. 


"Kok, coklatnya dihabisin, Bu? Baba kan juga mau," ujar Andre yang sudah memarkirkan sambil dibuat menelan ludah dengan ekspresi si istri, ditambah lagi wanita itu memakan coklatnya sampai belepotan. 


"Di rumah masih ada," jawab Irma, masih meresapi rasa coklat yang membuatnya ketagihan itu.


'Ya Tuhan, dia itu lagi makan coklat atau lagi menggoda imanku sih?' rutuk Andre dalam hati. 


Naluri Andre sebagai lelaki berjalan lebih cepat. Secepat kilat ia menyambar bibir yang belepotan dengan coklat itu, membersihkan bibir si istri dengan bibirnya.  

__ADS_1


"Ba! Apa yang kau lakukan?" Mata Irma terbelalak saat wajah Andre sudah tak berjarak dengan bibir yang sedang mengepel area bibirnya. 


Bukannya menjawab, melihat bibir Irma terbuka ia malah tak membuang kesempatan emas itu, hingga keduanya saling meny*sap dan bertukar saliva yang terasa sangat manis dari coklat yang dimakan Irma. 


"Ba, apa yang kau lakukan?" tanya Irma sembari mengelap bibirnya yang terasa basah oleh air liur Andre. 


"Membersihkan coklat. Makanya, kalau makan coklat jangan belepotan," jawab Andre dengan seringai lebar menghiasi bibirnya. 


"Itu cari kesempatan namanya," tandas Irma, lalu keluar dari mobil. "Ba, janjian sama Dimas juga?" tanya Irma, saat melihat mobil Dimas juga terparkir di sana. 


"Tidak," jawab Andre. Ia pun merasa heran, kenapa mobil Dimas juga ada di sana, padahal mereka tidak janjian untuk bertemu Bara. 


"Kalau mobil Dimas di sini, berarti 


Baby Kay juga ada di sini." Dengan antusias Irma langsung bergegas ke rumah depan pintu dan menekan bel dengan tidak sabar. Ia sudah sangat rindu dengan dua bayi yang sangat menggemaskan itu. 


Setelah pintu dibuka oleh seorang asisten rumah tangga, Irma langsung menanyakan tentang Kayla. Dan, benar saja keponakannya itu sedang ada di rumah itu. Dengan diantar ART Bara, Irma menuju tempat kedua bayi itu berada. Bahkan, ia sampai melupakan Andre yang berjalan di belakangnya. 


Irma yang sudah sangat merindukan Kayla, spontan langsung meraih bayi mungil itu hendak menggendongnya. 


"Eh, jangan!" cegah Naura dan Kim Nara   (istri Bara) secara bersamaan, membuat Irma spontan menjauhkan kembali tangannya yang hendak menggendong Kayla. 


"Kalian kenapa? Aku hanya ingin menggendongnya?" tanya Irma menatap adik dan sahabat barunya, lalu beralih menatap Kayla yang sedang tersenyum ke arahnya. 


"Mamamamama ...." Kayla yang sedang merangkak, langsung duduk dan mengangkat kedua tangannya. Seolah-olah ia minta digendong oleh bubunya. 


"Kau baru merdeka, mau di penjara lagi suruh duduk di kursi roda ampe sembilan bulan?" Naura menghampiri anak dan kakaknya. "Ingat jangan bekerja yang berat-berat. Kayla itu udah berat, nanti aku yang disalahkan sama suamimu," tandas Naura lagi sambil meraih Kayla ke dalam gendongannya. "Sayang, gendongnya sama mama, ya. Bubu-nya lagi gak boleh gendong Kay, jadi main aja ya! Jangan digendong," ucap Naura pada bayi berusia tujuh bulan itu. 


Irma tidak membantah ucapan Naura, karena  yang diucapkan Naura benar adanya. Ia pun lantas menghampiri Kim Nara—wanita keturunan Korea—yang sedang menyuapi pure mangga kepada Arka. 

__ADS_1


"Wah, calon mantu bubu sedang makan. Pintar sekali makannya, jadi tambah emes!" Irma mengusap pelan pucuk kepala Arka. 


Arka pun tersenyum layaknya bayi begitu Irma menyapanya, seolah-olah sudah mengerti dengan maksud ucapan Irma. Setiap Irma menyebutnya calon mantu, bayi tujuh bulan itu akan tersenyum riang. 


Bukan tanpa alasan, Irma menyebut Arka sebagai calon mantu. Kedua bayi yang dilahirkan di bulan yang sama itu sudah sering bersama sejak usia Kayla baru empat puluh hari. Bahkan, kedua orang tua mereka sudah sepakat untuk menjodohkan mereka, meskipun  keputusan akhir ada pada diri mereka masing-masing—kelak jika sudah dewasa. 


"Apa kabarmu, Ir? Sudah lama tidak bertemu?" sapa Kim Nara sembari cipika dan cipiki kepada Irma. 


"Kabar baik. Aku merindukan kalian," jawab Irma. 


Ketiga wanita itu pun saling mengobrol sembari menemani Kayla dan Arka bermain. Tawa menghiasi kebersamaan mereka oleh tingkah kedua bayi yang usianya sebaya itu, yang begitu menggemaskan dan tidak bisa diam. 


Sementara di tempat lain, tepatnya di ruang keluarga tampak ketiga lelaki —yang merupakan para suami ketiga wanita di ruang bermain— sedang bercengkrama sembari menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan curhatan Pak Polisi yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. 


"Tapi, enggak sampai diusir lagi di tengah jalan kan?" ujar Dimas dengan gelak tawa yang menghiasi wajahnya. 


Mereka tahu betul apa saja keluh kesah seorang Andre karena lelaki itu selalu minta solusi kepada dua lelaki yang sudah jauh lebih berpengalaman darinya saat menghadapi mood ibu hamil yang susah ditebak. 


"Enggak dong, kali ini aku sukses besar," jawab Andre dengan seringai lebar juga menghiasi wajahnya. 


"Kalau sukses besar, kenapa mukamu seperti kesal begitu?" sela Bara. 


"Si kupret Ryan pulang ke Indo." Andre mendengus kesal. Lalu menyeruput kopi. 


"Masalahnya di mana? Bukankah kalian sudah berteman?" tanya Dimas. 


"Berteman sih berteman, tapi tetap saja kalau liat dia rasanya gedeg banget. Kenapa, ya? Padahal ... sumpah aku sudah tidak memiliki masalah dengannya. Aku sudah tidak ada keluhan apapun tentang lelaki itu. Tapi, kalau melihatnya aku serasa pengen lempar dia ke kutub utara," jelas Andre panjang lebar. "Apa benar juga, kalau kita terlalu benci pada seseorang anak kita akan mirip orang itu?" lanjut Andre. Ia masih penasaran tentang mitos itu karena Andre mendengar kata-kata itu bukan dari Ryan saja, dan Andre tidak mau kalau anaknya benar-benar mirip Ryan.


Dimas dan Bara hanya mengedikkan bahu. 

__ADS_1


"Wih, calon besan kompak amat. Bukannya cari solusi, malah angkat bahu bareng-bareng." 


Happy reading, Kak. Alurnya masih slow dan adem ayem, ya, belum ada konflik. Masih tahap perkenalan 🤭🤭🤭


__ADS_2