Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 14


__ADS_3

14


"Friska beneran enggak apa-apa kan, Ba?"  tanya Irma yang sedang mengeringkan rambut suaminya dengan handuk sembari memijat pelan kepala Andre, kemudian menyisiri rambutnya. Mereka baru saja selesai membersihkan tubuh mereka berjamaah. Namun, tingkah Friska tadi itu masih mengganjal di hati Irma. Ia mengkhawatirkan keadaan adik iparnya. 


Andre yang sedang duduk di depan meja rias, memandang sang istri dari balik cermin dengan seutas senyum yang tertampil. "Dia tidak kenapa-kenapa, tenang saja. Malah dia pernah melakukan hal lebih gila dari itu," ujar Andre sambil meraih tangan yang baru selesai membereskan rambutnya dan mencium lembut tangan itu. "Sekarang giliran aku yang keringkan rambutmu. Sini duduk!" Andre beranjak dari kursi, lalu mendudukkan sang istri di kursi itu. 


Lelaki itu mengambil handuk yang masih dipegang Irma, kemudian mulai mengeringkan rambut si istri. 


"Tapi, aku masih khawatir, Ba." 


"Tidak perlu khawatir. Dia itu pasti habis nerima chat dari seseorang yang disukainya. Kelakuan adik iparmu memang kadang sangat ajaib kalau menyangkut yang namanya suka sama lawan jenis," ucap Andre. "Bubu tahu, saat pertama kali dia menyukai Dimas, kelakuan dia itu lebih gila dari ini. Ia sampai mencetak semua chat-an dari Dimas dan memajangnya di kamar, bahkan ia sampai tidak keramas sampai sebulan hanya karena Dimas mengusap rambutnya." Andre menceritakan kegilaan adiknya dalam mengejar cinta seorang lelaki. 


Irma yang belum mengenal Friska sampai sejauh itu, hanya bisa melongo mendengar penjelasan Andre. "Ternyata ada yang lebih gila dari kamu, Ba," ucap Irma tanpa sadar. "Ups ...." ia langsung menutup mulutnya saat menyadari telah mengatai suaminya sendiri juga gila. 


"Dan kamu juga luluh karena kegilaan aku, kan?" ucap Andre, lalu mencium pucuk kepala Irma dan menghidu aroma sampo dari rambut setengah basah milik sang istri yang begitu menenangkan. 


Irma hanya tersenyum. Benar juga yang dikatakan Andre, jika lelaki itu tidak pernah nekad mengejarnya dengan segala kegilaan yang dilakukan belum tentu saat ini mereka sudah bersama. 


"Tapi, siapa yang membuat Friska bisa jadi seperti itu? Ia baru kerja sehari, lho, Ba. Masa udah dibuat klepek-klepek sama teman sekantornya? Kenal jauh juga belum," tandas Irma kemudian. 

__ADS_1


Pertanyaan yang terlontar dari mulut Irma, juga menjadi pertanyaan bagi Andre sendiri. Siapa lelaki yang membuat Friska lagi-lagi seperti orang gila, setelah perjuangan panjang gadis itu mengejar Dimas dan berakhir hanya dianggap sebagai adik. 


"Entahlah, Bu. Baba juga tidak tahu." Andre menggeleng. 


"Coba tanya sama Bara, Ba. Siapa yang sedang dekat dengan Friska dan tanyakan juga kepribadian orang itu. Aku tidak mau Friska salah pilih." lanjut Irma. Ia malah semakin khawatir, takut adik iparnya itu salah pilih dan malah dimanfaatkan oleh orang lain. 


"Iya, nanti aku tanyakan. Jangan terlalu mengkhawatirkannya. Dia sudah dewasa, dia pasti tahu yang baik dan jelek. Kamu lihat sendiri meskipun dia tipe orang yang suka mengejar apa yang ingin dikejarnya, tetapi ia tidak pernah sampai merendahkan martabatnya sebagai wanita. Dia akan tetap menjaga kehormatannya," ujar Andre panjang lebar. Ia tidak mau si istri terlalu mengkhawatirkan Friska yang akhirnya malah akan membuat si istri dan janinnya stres. 


"Udah selesai," lanjut Andre yang juga sudah selesai menyisir rambut Irma. 


"Makasih, Ba." 


Andre pun tampak sibuk dengan ponselnya. Ia sedang berbalas pesan di grup chat empat sekawan (Andre, Dimas, Bara, dan Ryan), tawanya pecah saat mereka saling mengejek satu sama lain. Namun, di balik tawa dan saling mengejek itu, ada sebuah rencana besar yang sedang mereka bahas. 


[Pokoknya aku tidak mau tahu, rencana ini harus berhasil kalau perlu ajak juga istri kalian untuk kongkalingkong. Ingat sekarang sudah H-2.] Pesan dari si pemilik ide yang tidak mau rencana yang sudah ia planning dengan sangat matang sejak beberapa bulan lalu itu gagal total. 


"Ish ... bapak satu anak itu perintahnya melebihi tugas dari presiden saja," umpat Andre. 


Irma yang sudah selesai menyiapkan seragam untuk Andre dibuat mengerutkan dahi saat melihat suaminya yang sebentar-sebentar tertawa dan sebentar-sebentar lagi mengumpat. 

__ADS_1


"Baba sedang chat-an dengan siapa?" tanya Irma menghampiri Andre. 


Andre menoleh ke arah sang istri, lalu menyodorkan ponselnya. Ia yang tidak pernah menyembunyikan apapun dari Irma, menyuruh wanita itu membaca isi pesannya. "Bacalah!" 


Wanita itu pun langsung meraih ponsel Andre dan mulai membaca pesan di group chat itu satu persatu yang berhasil membuat alis Irma mengkerung, sekaligus terbelalak dengan apa yang sedang mereka bahas. 


"Ba, rencana sebesar itu kamu baru kasih tahu aku sekarang? Kalian sudah merencanakan ini sejak kapan? Bahkan persiapannya sudah hampir 80%." Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Irma. Ia tidak terima karena dirinya tidak ikut andil dalam rencana itu. 


"Maaf. Hanya menjalankan komando saja. Tapi, kan, sekarang udah dikasih tahu," ujar Andre sambil memamerkan senyum. 


"Tapi, tetap saja—" 


"Ia tidak mau rencananya gagal, karena biasanya kalau wanita itu sering keceplosan. Baba harap Bubu bisa mengerti." Andre memotong ucapan Irma yang mulai merajuk, lalu memeluknya. 


"Lalu rencana kalian sekarang apa?" tanya Irma yang sedikit luluh, meskipun ia sangat masih kesal. Dan, jika rencana mereka sudah berhasil, Irma berjanji akan membuat perhitungan dengan si  pemilik komando.


"Tentu saja nunggu perintah." 


'Jadi ini alasan yang sebenarnya yang membuat wanita itu terus uring-uringan. Dia lagi dikerjain, ternyata! Malang nian nasibmu, dikerjain sama suami sendiri ampe berpikir suami punya selingkuhan.' Irma senyum-senyum sendiri saat mengingat curhatan dari istri si punya komando serta mengaitkannya dengan pesan-pesan yang baru dibacanya. 

__ADS_1


'Tenang saja ada hal indah yang terselip dari kegalauanmu, Sayang! Sebentar lagi kamu pasti sangat-sangat bersyukur memiliki suami seperti dia.' Irma juga sangat bahagia karena orang-orang yang disayanginya dikelilingi oleh orang-orang yang juga mencintai mereka dengan sangat dalam. 


__ADS_2