
Andre menatap takjim pemandangan indah dan mengharukan di depannya. Kedua matanya tak dibiarkan berkedip barang sekali pun, ia tak ingin melewatkan memori yang sangat menyentuh hati. Seorang ayah mengumandangkan azan dan iqomah di telinga bayi yang baru saja lahir.
'Akankah aku juga akan merasakan hal seperti itu?' Walau pun sebelumnya Andre bersyukur karena Irma tidak bisa melahirkan, tetapi melihat lelaki yang beberapa waktu lalu meminta bayi itu dari gendongannya, tanpa terasa membuat Andre terenyuh dan berharap bisa merasakan menjadi seorang ayah pula.
Pemandangan di depan mata membuat Andre beberapa saat larut dalam kebahagiaan sebuah keluarga yang baru dikaruniai anggota baru itu. Si lelaki menggendong dan mencium bayi merahnya, lalu menghampiri si istri dan memberikan bayi itu serta mendaratkan ciuman di kening wanita yang telah berjuang antara hidup dan mati. Sejurus kemudian lelaki itu meninggalkan si istri, lalu menghampiri Andre yang masih menikmati adegan yang menurutnya sangat indah.
"Terima kasih, telah mengantarkan istri saya ke rumah sakit, Pak!" ucap lelaki itu dengan seutas senyum tulus yang tertampil.
"Sama-sama, Pak."
"Perkenalkan nama saya Bara." Lelaki itu menyodorkan tangannya, memeprkenalkan diri dan langsung disambut tangan Andre sambil menyebutkan nama juga. "Maaf, telah merepotkan Bapak. Belum lagi, Bapak harus menerima kebrutalan istri saya. Sejak melahirkan anak pertama, dia memang seperti itu. Saya tidak tahu kalau dia akan melahirkan hari ini, sehingga saya meninggalkannya pergi ke kantor cabang sebentar. Sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Pak." Bara yang berprofesi sebagai pengusaha itu merasa bersalah dan tidak enak hati dengan apa yang telah dialami Andre.
"Tidak apa-apa, Pak Bara. Sesama manusia memang sudah seharusnya saling membantu. Saya senang bisa membantu keluarga Bapak," ujar Andre dengan seutas senyum yang tertampil. 'Meskipun badanku sakit-sakit,' lanjutnya dalam hati.
Kedua lelaki itu pun berbincang cukup lama, bicara ngaler-ngidul, sampai Andre teringat akan Irma yang pasti sedang menunggu di rumah. Setelah pamit dan mengucapkan selamat kepada istri Bara, Andre memilih segera pulang.
"Sekali lagi terima kasih, Pak," ucap Bara dan istrinya.
"Selamat ulang bulan pernikahan kalian! Semoga kalian juga cepat diberikan momongan," lanjut Bara.
"Aamiin. Terima kasih." Dengan senyum yang tertampil, Andre mengaminkan ucapan lelaki yang baru saja tahu kalau dirinya itu baru menikah. Meskipun peluang yang Andre miliki kecil, tetapi bukankah setiap ucap adalah doa? Semoga saja Tuhan mendengar salahsatu doa dari mereka yang mendoakannya dan Irma.
"Tapi, kalau boleh saran, sebelum melahirkan kukunya dipotongin dulu, ya, Mbak!" lanjut Andre dengan seringai lebar menghiasi wajah sebelum benar-benar meninggalkan ruangan tersebut, membuat Bara dan si istri juga melempar senyum.
***
__ADS_1
Malam telah larut, jalanan yang tadi masih terlihat remang-remang kini sudah menggelap sempurna. Bahkan, lampu-lampu dari rumah-rumah dan penerangan pinggir jalan telah menyala di mana-mana, menyadarkan Andre berapa lama ia menemani wanita tadi di rumah sakit. Tak ingin membuat Irma menunggu lebih lama lagi, Andre pun mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang sudah mulai lenggang.
Setiba di rumah, Andre langsung turun dari mobil.
"Semoga dengan ini, bisa meredakan sedikit kekesalannya." Andre menenteng sebuket bunga yang ia beli di dekat rumah sakit, lalu bergegas masuk ke rumah yang ternyata tidak dikunci oleh Irma.
Jam di dinding sudah menunjukan pukul 21.30, rumah pun tampak sangat sepi. "Mungkin dia sudah tidur." Andre mendengkus, ada rasa kecewa saat mendapati Irma tidak menyambut kepulangannya. "Tapi, ini juga salahku. Aku yang pulang terlalu larut, bahkan aku tidak bisa menghubunginya dulu," ujar Andre yang juga menyalahkan dirinya sendiri.
Lelaki itu pun berjalan lesu, menuju kamar. Namun, langkahnya berbelok ke dapur saat tenggorokanya terasa kering. Hingga langkahnya terhenti dengan yang mata membulat sempurna ketika melihat seseorang sedang tertidur sambil duduk di ruang makan dengan berbagai jenis hidangan tersaji di meja serta sebuah kotak berwarna hitam yang masih setia dipegang.
"Ya, Tuhan! Mbak, kamu menungguku sampai ketiduran di sini." Andre semakin merasa bersalah karena telah membuat Irma menunggu. "Maaf, membuatmu menunggu,' ucap Andre sembari mendaratkan kecupan di kening.
Tidak ingin mengganggu tidur sang istri, Andre memindahkan wanita itu ke kamar tanpa membangunkannya. Dengan sangat hati-hati, ia menidurkan Irma di atas ranjang, lalu menyimpan bunga yang dibawa di samping wanitanya itu.
"Kamu sudah mempersiapkannya, tetapi aku malah mengacaukannya." Andre menyunggingkan senyum dengan tangan yang sedang memegang lingeria merah, yang lupa Irma bereskan setelah mencobanya.
***
Irma masih tertidur dengan pulas di atas ranjang. Tampak beberapa kali ia menggerakkan tubuh, miring ke kiri lalu ke kanan dengan tangan yang meraba-raba tempat kosong di sampingnya, mencari seseorang yang sebulan ini selalu menemani tidurnya. Akan tetapi, sosok yang dicari tidak ada. Hingga wanita itu mengingat satu hal yang membuatnya langsung membuka mata lebar-lebar.
Mata Irma menyapu seluruh ruangan kamar, terasa ada yang ganjil, tetapi ia juga tak paham. Nyawa yang belum terkumpul sempurna pun dipaksakan untuk mengingat apa yang terjadi.
"Eh, bukannya aku tadi sedang menunggu Mas Andre di ruang makan? Tapi kenapa sekarang aku ada di sini?" tanya Irma pada diri sendiri, hingga matanya tertuju pada bunga yang berada di samping bantal. "Bunga? Apa Mas Andre sudah pulang dan mememindahkanku ke sini?"
Irma mengambil bunga itu dan menghirup aromanya dalam-dalam, lalu mengambil secarik kartu ucapan di dalamnya yang membuat Irma yakin kalau suaminya sudah pulang.
__ADS_1
"Mas!" Wanita itu beranjak dari tempat tidur, mencari lelaki yang telah menghadiahinya sebuket bunga mawar dengan puisi cinta di dalamnya. Ia melihat ke kamar mandi, tetapi tidak ada, lalu mencari di luar kamar.
Akhirnya, Irma bisa menemukan sosok yang dicarinya itu di dapur. Lelaki yang sangat ia rindukan itu sedang berdiri di depan kompor dengan kaos ketat berwatna putih dan celana sketer yang digunakan tampak sangat tampan dan seksi, ditambah rambut yang masih basah membuat Irma tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. "Suamiku tampan sekali," gumam Irma sembari menghampiri Andre.
Andre sendiri yang merasakan kehadiran Irma di sana langsung berbalik. "Aku memang tampan," jawabnya. "Malam, Sayang! Sudah bangun?" tanya Andre dengan senyum yang sangat memikat.
Senyum Irma pun mengembang dibarengi kepalanya yang mengangguk. Namun, sejurus kemudian senyum itu mengerucut, mengingat Andre yang pulang sangat larut tanpa memberi kabar apa pun kepadanya.
"Eh, bibirnya kenapa malah jadi kayak siput gitu? Minta dicium, ya?" goda Andre kemudian.
"Apa, sih? Minggir biar aku yang hangatin." Irma menyenggol tangan Andre, membuat lelaki itu meringis karena goresan bekas kuku istri Bara yang tersenggol terasa sangat linu. "Apa, sih, lebay banget?" protes Irma.
"Enggak lebay, Sayang. Beneran sakit, nih, liat!" Andre menunjukkan lengannya yang merah-merah karena cengkaraman dan cakaran.
"Eh!" Irma langsung terkesiap begitu melihat kondisi lengan lelaki di sampingnya. Ia meraih tangan itu, memperhatikan setiap goresan. "Mas, ini kenapa? Udah diobatin belum?"
Andre hanya menggeleng sembari berucap, "Tadi obatnya masih tidur."
"Apa sakit?" tanya Irma lagi yang dijawab anggukkan Andre. "Kalau gitu aku ambil obat dulu!"
"Obatnya cukup disun aja, pasti langsung sembuh."
Tanpa menghiraukan ucapan Andre, Irma mengayunkan kakinya hendak mengambil obat yang terdapat di kamar, tetapi langkahnya langsung dihentikan si suami. "Nanti saja ambil obatnya. Sebaiknya kita makan dulu karena perutku sudah tidak bisa diajak kompromi," ujar Andre yang merasakan perutnya lebih sakit daripada goresan kuku di tangan.
Irma hanya mengangguk, lalu berbalik dan menghidangkan kembali makanan yang sudah di panaskan oleh Andre ke meja makan. Rasa lapar yang telah menggerogoti mereka membuat keduanya langsung melahap hidangan yang tersaji, melupakan rencana awal Irma yang ingin mengadakan makan malam romantis bersama Andre dengan di temani lagu-lagu romantis serta suasana yang romantis dengan lilin-lilin yang menghiasi meja makan mereka. Bahkan, kue perayaan ulang bulan pernikahan mereka pun sudah tak diindahkan lagi.
__ADS_1