
Semburat jingga di upuk timur mengucapkan selamat tinggal pada kerudung hitam yang mulai terlihat terang. Orang-orang bersiap memulai kembali aktivitas baru, menyongsong pagi yang sepertinya akan cerah sampai sore. Begitu pun dengan Irma. Wanita itu sudah mulai disibukkan dengan kegiatan pagi di rumah. Dengan sapu lidi dan sengkup di tangan, ia tampak sibuk membersihkan halaman rumah. Karena musim kemarau yang mulai melanda, daun-daun kering dari tumbuhan di depan rumah mulai berguguran, membuatnya harus setiap pagi dan sore membersihkan halaman rumah.
Andre pun baru saja keluar dari rumah. Sebuah panggilan meminta untuk datang lebih awal, meskipun hari masih terbilang sangat pagi. Hingga, matanya menangkap sosok wanita yang masih memakai baju tidur sedang menggiring daun-daun kering ke dalam sengkup. Sembari bersandar di depan pintu, Lelaki berseragam lengkap itu lebih memilih menikmati terlebih dahulu pemandangan indah di hadapannya. Bibirnya membentuk lengkungan senyum kala mendengar nyanyian yang keluar dari mulut sang kekasih.
Tak puas hanya memandang dari jarak beberapa meter, Andre mendekati Irma yang masih asyik dengan dunianya sendiri. Wanita itu tak menyadari kalau Andre sudah berada di belakangnya.
"Bunga yang cantik untuk wanita soleha yang cantik." Dari belakang Andre menyodorkan setangkai bunga mawar ke depan Irma. Membuat Irma terkejut sekaligus tersipu oleh ucapan Andre, hingga ia menghentikan aktivitasnya. "Selamat pagi, calon istriku!" ucap Andre sembari mengembulkan wajahnya di samping wajah Irma dengan senyum khasnya.
"Pagi!" jawab Irma sembari menoleh ke arah suara membuat mata mereka saling beradu. "Mas bikin kaget saja." Ia menghadiahkan pukulan ke lengan yang masih memegang bunga.
"Tapi kamu suka, kan?" goda Andre dengan senyum yang mengembang.
"Nanti ketahuan Mamah Rita dan Ayah, lho."
"Memangnya kenapa kalau ketahuan? Orang kita gak ngapa-ngapain? Waktu mereka gak ada di sini juga kita sering berduaan," ujar Andre seraya menaik turunkan kedua alisnya. "Enggak terjadi apa-apa juga. Udahlah, tanganku udah pegal pegang bunga. Ambil napa!" Andre menyodorkan kembali bunga ke hadapan Irma yang masih bertatap muka dengannya.
Irma tersenyum, lalu meraih bunga berwarna merah yang masih segar itu. Menciumnya, menghirup dalam-dalam aroma khas mawar yang begitu mewangi. "Harum dan cantik," gumam Irma.
__ADS_1
"Seperti yang megangnya," tandas Andre.
"Yang megang belum mandi jadi belum harum. Mas, tumben sudah rapi sepagi ini?" tanya Irma kemudian, melihat Andre sudah berpakaian lengkap, siap berangkat kerja.
"Iya, ada urusan mendadak. Tapi, pas liat bidadari lagi nyapu, duniaku tiba-tiba teralihkan." Lagi-lagi lelaki itu membuat Irma seperti kepiting rebus di pagi hari.
"Kalau yang lagi nyapu bukan bidadari namanya, tapi si Iyem," sarkas Irma.
"Iyem siapa?"
"Nama pembantu di sinetron-sinetron."
"Sudahlah, berangkat sana! Bisa-bisa entar aku kayak balon mengapung di angkasa gara-gara makan rayuanmu terus." Irma menyuruh Andre untuk segera berangkat.
Andre yang sudah ditunggu rekan kerjanya pun memilih tuk mengiakan ucapan Irma. Tak lupa Irma mencium tangan Andre dengan takjim layaknya seorang makmun kepada imamnya.
"Oh, iya. Nanti siang fiting bajunya aku jemput, ya!" Andre yang sudah di atas motor menghentikan sejenak motornya. Hal penting yang ia hendak utarakan malah terlupakan.
__ADS_1
"Bukannya sama Mamah?" Setahu Irma jadwal hari ini masih dengan sang calon mertua.
"Ganti sama aku. Dia takut camannya di rebut orang kalau dikekang mulu." Dari balik helm Andre memamerkan rentetan gigi putihnya. "Habis Duhur aku jemput ke sini, ya!" lanjut Andre yang dijawab anggukan Irma.
Setelah mendapat persetujuan sang kekasih, Andre pun kembali melajukan sepeda motornya menembus jalanan yang masih sepi dengan suhu diri yang bisa membuat tubuh menggigil.
Sementara itu, Irma melanjutkan kembali menyapu dengan bunga mawar yang masih setia ia pegang di tangan kiri. Hingga, omelan dari tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan Andre mengagetkannya.
"Ada apa, Nek?" tanya Irma setengah berteriak dari depan rumah, melihat Nenek penghuni rumah itu sedang mendumel.
"Ada orang maling bunga ros nenek, Neng! Padahal itu bunga udah diwanti-wanti sama cucu nenek, katanya mau dikasih sama pacarnya," jawab nenek itu.
Seketika Irma melirik bunga yang sedang dipegangnya, lalu melihat ke arah halaman rumah si nenek dan bunga yang dipegangnya sejenis. "Mas Andre!" gumam Irma pelan, tetapi tak berani mengucapkan yang sejujurnya, ia malah menyembunyikan bunga itu di balik tubuhnya.
"Mungkin udah dipetik sama cucunya, Nek." Irma mencoba berargumentasi.
"Dia masih ngorok, Neng. Mana mungkin metik bunga."
__ADS_1
"Oh, gitu, ya! Yang sabar, ya, Nek. Ikhlaskan saja, Nek. Semoga saja nanti Tuhan membalas dengan yang lebih banyak lagi," ucap Irma yang dijawab anggukkan si Nenek. "Kalau gitu Irma masuk dulu ya, Nek!" Irma lebih memilih masuk daripada ketahuan Andre yang telah mengambil bunga itu.
"Polisi kok, tukang maling. Dasar gak mau bermodal, ngasih bunga metik dari halaman orang. Kan dicariin sama yang punya." Irma geleng-geleng kepala, menatap bunga di tangannya dengan lengkungan senyum yang terukir. Ia tak habis pikir dengan kelakuan Andre di pagi hari yang sudah membuat Nenek tua renta, tetangganya, kalang kabut.