Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 21


__ADS_3

21


"Bagaimana apa sudah selesai?" Dimas masuk ke kamar karena upacara akan segera dimulai, sedangkan kedua MUA belum memberi kabar tentang pekerjaan mereka.


Kedua MUA dan Naura pun langsung menoleh ke arah suara. "Sudah, Pak! Kami baru saja akan memberitahu, Bapak." Bertepatan dengan Dimas yang masuk ke kamar, mereka baru saja melakukan finishing pada penampilan Naura.


Tanpa berkata lagi, lelaki berseragam kepolisian lengkap itu langsung mengusir dua orang itu hanya dengan entakan jari. Sementara itu, mata Dimas terhipnotis oleh pemandangan indah di hadapannya. Seorang wanita yang terlihat sangat cantik, dan angggun dengan mengenakan gaun pengantin model ball gown berwarna peach dengan detail payet yang tampak mewah.


"Apa aku tidak salah kamar?" tanya Dimas tanpa mengalihkan pandangannya, membuat Naura menyipitkan mata. "Aku sedang mencari istriku, kenapa yang kutemui malah seorang bidadari?" lanjutnya menghampiri Naura.


"Gombalan basi," ujar Naura, yang masih sedikit kesal karena tidak ada yang mau memberitahu apa yang terjadi. Namun, saat melihat penampilan sang suami dan dirinya, sedikit demi sedikit Naura mulai bisa menebak apa yang terjadi, tetapi tetap saja ia ingin mendengar langsung dari orang-orang yang ditanyainya.


"Kau sangat-sangat ... sangat-sangat cantik," gumam Dimas dan berhasil membuat Naura tersipu.


"Makasih. Papol juga sangat tampan," balas Naura. "Apa sekarang akan menjelaskan sesuatu?" tanyanya.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Semua orang sudah menunggu. Dijelaskannya nanti saja sambil berlangsung acaranya," jawab Dimas. "Ayo!" Dimas meminta wanitanya itu melingkarkan tangan di lengannya.


Naura tidak lagi protes. Ia pun mengikuti semua yang diucapkan sang suami. Dimas membawa Naura menuju Aula hotel di mana acara yang sesungguhnya akan di mulai.


"Ini!" Mulut Naura menganga dengan semua yang dilihatnya. "Ini ...." Ia tidak mampu lagi berkata-kata saat melihat para tamu dan para pasukan berseragam ada di aula.


"Kita akan melakukan prosesi pedang pora, seperti yang kamu inginkan. Maaf baru bisa terwujud hari ini."


"Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku bahagia, sedih, terharu, semua campur jadi satu. Makasih, Papol!"


"Bahagiamu adalah bahagiaku." Dimas mencium punggung tangan Naura.


"Aku masih banyak pertanyaan."


"Sesi bertanyanya dilanjut nanti setelah acara selesai," gumam Dimas karena acara akan segera dimulai.


Upacara pedang pedang poradimulai. Di dalam Aula acara dimulai dengan salam pembuka yang diucapkan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan membacakan susunan acara yang telah disusun rapi. Selain itu, Pembawa acara juga membacakan tujuan dan makna dari pedang pora.


Sementara itu, Naura dan Dimas berdiri di depan pintu masuk bersiap berjalan memasuki gerbang yang terdiri dari dua belas pasukan pedang pora yang berdiri berhadap-hadapan dan satu komandan regu, dengan seragam lengkap beserta pedang pora yang masih berada di sarung dan tergantung di pinggang masing-masing. Di belakang Dimas dan Naura juga berdiri tiga orang yang masing-masing membawa satu nampan. Nampan itu berisi lilin, kalung bunga, buket bunga dan seragam bhayangkari.


Upacara pedang pora pun dimulai. Pembawa acara meminta seluruh hadirin untuk berdiri dan komandan upacara menyiapkan pasukannya. Ruangan yang tadinya terang benderang pun dibuat meredup, lalu terdengar bunyi sirene yang membuat acara itu semakin kental dengan kemiliteran.


Selanjutnya, komandan upacara memberikan hormat kepada kedua mempelai, lalu melapor bahwa upacara pedang pora siap dilaksanakan. Pasukan pedang pora pun disiapkan untuk mulai menghunuskan pedangnya.


Pedang terhunus. Dengan diiringi alunan puisi yang mendayu-dayu dan suara tambur, Naura dan Dimas menghentakan kaki mereka secara bersamaan, mulai berjalan secara perlahan tapi pasti di bawah pedang pora yang perlahan terangkat saat mereka melewatinya.


*Tegarnya hentakan kaki


kokoh dan berwibawa menuju cita


Kala kata hati telah bersayu


Tuk menghantar dan merajut puspa melati


Akan janji dan ikrar bersama


Bhayangkara muda


Bhayangkari sejati


Dirimu bagaikan sepasang merpati


Yang sekian lama menjalin benang asmara


Kini 'kan berikrar tuk setia selamanya


Hari demi hari bunda tabah menanti


Demi sang buah hati


Dalam medan pertempuran di bumi Pertiwi


Bhayangkari selalu setia membantu tugas sang bhayangkara


Wira bhayangkara

__ADS_1


Teguhkan janjimu


Mantapkan langkahmu


Dalam doa yang terpanjat*


*Sepasang merpati meninggi langit


menembus awan ... menerpa badai


Sepasang merpati beriring janji


Lintasi lautan tak bertepi


Merpati yang dulu terbang tanpa arah


Berkepak sayap tanpa lelah


Kini hinggap dalam sangkar luas dan pasrah


Terpagut oleh lentera ... cerah


Sepasang merpati beriring janji


Teriring derap langkah perwira


Melepas sejuta damba


Menuju sumpah setia


Dalam arung bhakti padaMu Pertiwi


Arahpun semakin nyata terpadu dalam dua jiwa


Merpati pun menjadi putih


Bersusun dalam janji setia


Pedang Pora adalah pertanda


Hasrat setia dalam sumpah Ksatria


Mengikat bhayangkara pengiring laga


Darma ksatria dalam bhayangkara


Berpuluh ... bahkan beratus pasang mata


Melepas ... dan saksi ikrar suci


Dan bhayangkari sejati


Langkahkan tekad dan niat setajam hunus pedangmu


Jangan terhenti meski terseok lelah


Susun langkah menembus batas arah


Bulatkan jiwa dalam senandung petaka


Merpati putih hati ... angkara pun sirna*


Kedua puisi itu terus mendayu-dayu sejak Dimas dan Naura mengentakan kaki yang pertama kali sampai melewati gapura pedang yang terakhir dan berlanjut sampai pasukan pedang pora dengan langkah tegap mereka mengikuti kedua mempelai, lalu membentuk formasi lingkaran kemudian menghunuskan pedang membentuk payung.


*Sang pengantin ....


Untukmu sekuntum bunga terangkai


Ikhlas dan bangga


Kami pun bahagia

__ADS_1


Sang pengantin ....


Ikat erat janjimu ....


Cita-citaku jadi nyata ....


Walaupun badai ombak kan datang


Menerjang bahteramu


pegang teguh janjimu dan ikrarkan ....


Berdiri tegap ....


Abadiak diri sepenuh hati ....


Pasrahkan pada Yang Kuasa


Selamat jalan bhayangkara


Selamat jalan bhayangkari


Selamat menempuh bahtera baru


Percayalah ....


Doa dan restu kami


Selalu bersamamu*


Diiringi puisi itu, Dimas dan Naura yang berada di bawah payung pora pun menerima pemasangan cincin yang melambangkan bahwa mereka akan hidup bersama-sama dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.


Setelah itu pasukan menurunkan pedang mereka, lalu berbalik membelakangi kedua mempelai dan berjongkok. Dengan senyum yang merekah Dimas mencium kening cukup lama dengan diiringi puisi selanjutnya.


*Raut nan ayu laksana bidadari


Menghias wajah sang permaisuri


Tegar tegap langkah perwira


Seiring langkah sang Bhayangkari


Bhayangkara muda


Bhayangkari sejati


Kini dirimu bertahta bagai sang raja


Dengan disaksikan berpuluh pasang mata


Kebahagiaanmu kebahagiaanku


Menggapai putri sejati pujaanmu


Wira Bhayangkara


Tataplah masa depan yang cerah


Tabahlah dan sabarlah dalam menghadapi cobaan


Dan selamat mengarungi bahtera cinta*


Pasukan kembali berdiri dan kembali menghadap kedua mempelai setelah puisi selesai dibacakan. Berlanjut dengan pengalungan bunga kepada Dimas dan pemberian buket bunga serta seragam bhayangkari oleh inspektur upacara dan ibu.


Setelah itu kedua mempelai dipersilakan menuju tempat pelaminan dan pasukan pedang pora melakukan sarungkan pedang, lalu komandan memberikan laporan bahwa upacara telah selesai dilaksanakan.


Prosesi pedang pora pun berakhir dengan sesi foto bersama antara kedua mempelai bersama pasukan pedang pora dan inspektur upacara beserta istrinya.


"Terima kasih. I love you so much!" bisik Naura kepada Dimas selepas foto bersama itu diambil.


Noted: Puisi diambil dari berbagai sumber.

__ADS_1


__ADS_2