
Waktu terus bergulir, hari telah berganti seiring pergantian siang dan malam. Seperti hari yang setiap hari berubah, begitu pun dengan Andre, semakin hari sikapnya kepada Irma semakin acuh dan terkesan begitu dingin.
"Sekarang dia semakin menjauh." Harapan Irma tak sesuai kenyataan, ia berharap perubahan Andre tak memengaruhi dirinya. Namun, semuanya terbalik, hatinya terasa sakit saat lelaki itu semakin hari semakin jauh.
Hari setelah peristiwa tangga itu, Irma masih berpikir positif, mungkin tetangga sebelahnya sedang ada masalah di pekerjaan hingga berimbas pada orang di sekitarnya. Di hari berikutnya, perubahan sikap Andre semakin mencolok karena hanya pada Irma bersikap tak bersahabat. Membuat wanita itu mulai bisa menyimpulkan, jika lelaki itu yang selalu menyanjungnya telah lelah dengan semua usaha dan memilih tuk menyerah.
"Seharusnya aku senang, melihat dia menyerah. Setidaknya, suatu saat dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik." Tak terasa bulir bening menetes dari kedua sudut matanya yang sedang menatap kepergian sebuah motor yang baru saja lewat di hadapannya—tanpa menyapa atau setidaknya menyembunyikan klakson.
"Bukankah ini yang kamu inginkan?" gumam Irma lagi dengan tangan yang masih menenteng sayuran yang baru saja dibelinya dari tukang sayur keliling. "Tapi, kenapa cuma aku yang tidak disapanya? Sedangkan ibu-ibu itu dia sapa dengan begitu ramah?" Irma menatap iri kepada ibu-ibu yang masih mengerumuni tukang sayur beberapa meter dari tempat Irma berdiri. Mereka di sapa Andre dengan begitu ramah sembari menghentikan sejenak motornya, bahkan senyum yang sangat Irma rindukan pun, Andre tampilkan kepada mereka.
"Ini tak adil. Meskipun kita tak berpacaran, apa harus kau mengabaikanku seperti ini? Bukankah kita bisa berteman." Irma mengedigkan kakinya dengan keras, lalu balik badan meninggalkan Andre yang masih berbicara dengan para ibu komplek.
Dengan langkah seribu, wanita itu memasuki pekarangan rumah. Hatinya sangat dongkol mendapatkan perlakuan super dingin dari Andre, ditambah lagi kondisi hormon yang tak stabil karena tamu bulanan membuatnya semakin uring-uringan.
"Kamu kenapa, Kak?" tanya Ranti, melihat sang anak menyimpan barang belanjaan dengan kasar. "Awas, telurnya pecah, Kak!" lanjutnya, mengingat dirinya meminta sang anak untuk membeli telur.
"Eh, lupa!"
Sadar apa saja yang baru saja dibelinya, Irma langsung membuka kresek belanjaan yang setengah dilemparnya, memastikan pesanan sang mamah tidak pecah.
__ADS_1
"Yah ... yah ...." gumamnya, mendapati ada yang tidak beres dengan kresek telur. "Ah, gara-gara dia, telurku jadi pecah semua." Irma berujar sangat pelan, menyalahkan Andre yang telah membuat mood-nya di pagi hari anjlok seanjlok-anjloknya.
"Gimana telur mamah?" Ranti menghampiri Irma yang sedang mengeluarkan semua belanjaan.
Dengan rentetan gigi yang sengaja ditampilkan, mencoba tersenyum semanis mungkin, berharap Ranti 'kan luluh dengan senyum yang Andre bilang kalau senyumnya sangat manis dan merupakan senyuman termanis di dunia. 'Shitt ... kenapa malah ingat-ingat kata-katanya,' rutuk Irma dalam hati. Ia pun mengeluarkan kresek berisi setengah kilogram telur yang pecah. "Ini telurnya, Mah!" Irma menyodorkan kresek tersebut dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
"KAKAK!!!" pekik Ranti melihat cangkang telur dan isinya sudah tak berbentuk utuh.
"Maaf, Mah! Kakak gak sengaja," ucap Irma, seraya memelas. "Nanti, Kakak ganti sepuluh kali lipat, sembari belanja buat keperluan toko. Mamah jangan marah, ya!" Ia mencoba merayu sang mamah yang hidungnya sudah kembang kempis, menahan kekesalan.
Ranti menarik napasnya kuat-kuat, lalu mengeluarkannya dengan kasar dan dilakukannya berkali-kali, mengusir rasa kesal kepada anak sulungnya itu. Ia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah anaknya satu itu, yang segala sesuatu selalu diperbuat dengan apik, jauh dengan Naura yang terkenal ceroboh. Namun, beberapa hari ini anaknya begitu ceroboh, bukan hanya telur yang telah dipecahkannya. Piring dan gelas juga menjadi korban Irma, karena mencuci sambil melamun kedua barang tersebut harus rela tercerai-berai.
"Baru telur sama piring dan gelas," jawab Irma sambil membereskan telur, memisahkan cangkangnya.
"Baru??" Ranti menyipitkan sebelah matanya, melirik sang anak. "Apa ada niatan untuk memecahkan barang yang lain?" tanya Ranti.
"Mamah gitu amat sama kakak. Kakak gak sengaja, Mah." Irma mengerucutkan bibirnya, mendengar penuturan Ranti.
Ranti menarik tangan Irma yang masih sibuk memisahkan cangkang telur, lalu mendudukkan sang anak di kursi makan.
__ADS_1
"Mah, aku lagi bersihin telur, kenapa malah suruh duduk di sini?" Irma berdiri hendak kembali dapur.
Dengan sorotan mata yang siap menerkam, Ranti menekan bahu Irma, meminta wanita itu duduk kembali. Terpaksa, Irma pun menurut.
'Siap-siap dapat ceramah,' gumamnya dalam hati.
"Telurnya tinggal buang, sudah kecampur sama cangkang yang sudah pasti masih kotor. Enggak perlu dipisah-piahin segala," ujar Ranti, sambil duduk di kursi sebelah Irma.
"Baik."
"Kamu bukan orang ceroboh, Ir. Kalau Ara yang lakuin semua itu, mamah udah biasa. Tapi, kalau kamu tiba-tiba mecahin ini dan itu, mamah jadi menebak kalau kamu sedang ada masalah. Sebenarnya kamu kenapa? Ada masalah apa?" Sikap Irma tak luput dari perhatian Irma.
"Enggak kenapa-kenapa, mah. Mungkin karena sedang PMS, jadi gak karuan kayak gini," ujar Irma mencoba berkilah.
"Kamu pikir mamah anak TK yang bisa kamu kecoh? Sudah berapa ratus kali kamu menstruasi semenjak pertama kali datang bulan? Apa setiap kamu menstruasi suka mecahin barang-barang? Enggak, 'kan?" cecar Ranti lagi. "Sebenarnya ada masalah apa? Cerita sama mamah, siapa tahu kita bisa cari jalan keluarnya bareng-bareng," lanjutnya dengan lembut.
"Aku gak kenapa-kenapa, Mah. Ini hanya efek datang bulan saja. Kalau ada masalah aku pasti cerita sama Mamah." Irma menampilkan senyumnya lagi, tak ingin membuat Ranti khawatir. "Sebaiknya aku belanja sekarang saja, sekalian gantiin telur yang pecah itu. Mamah gak usah berpikir yang macam-macam. Mamah gak usah khawatir, aku tidak apa-apa." Ia beranjak dari tempat duduknya, tak lupa sebelum pergi ia mencium pipi Ranti.
'Bagaimana aku tak khawatir, kamu orangnya terlalu tertutup. Mungkin, jika bukan karena adikmu, sekarang pun kamu masih bersama si Bedebah itu dan terus berpura-pura menjadi keluarga harmonis. Semoga kamu benar-benar tidak sedang memiliki masalah.' Ranti berujar dalam hati, menatap kepergian Irma yang lebih memilih pergi daripada membahas urusan pribadinya.
__ADS_1