
Sepagi itu Irma dibuat heboh oleh berita yang dibawa oleh Andre. Calon mertuanya memang pernah mengatakan akan pergi menemui keluarga Irma, tetapi ... tepatnya kapan? Mereka belum memberitahunya.
"Mamah!" pekik Irma.
Setengah berlari, Irma masuk menemui Ranti memberitahukan kabar dadakan yang disampaikan sang kekasih. Terlalu panik dengan kabar yang didapat, begitulah Irma. Sampai-sampai ia berlari tanpa memperhatikan sekitar dan sebuah ember pun tanpa sengaja tertabrak, hingga air didalamnya tumpah dan membasahi lantai yang sedang di pel oleh Ranti.
Mendengar teriakan Irma, Ranti pun menoleh ke arah suara dan betapa terkejutnya wanita paruh baya itu melihat air sudah menggenang di lantai yang baru saja dibersihkannya. Baru saja akan memrotes tingkah anak sulungnya tiba-tiba ada sebuah beban berat mendorong kaki Ranti, membuatnya kehilangan keseimbangan, hingga tersungkur ke lantai basah yang baru saja dipel.
"Aww ...." Irma menginjak lantai yang basah serta licin membuatnya terjatuh dan kakinya menabrak kaki Ranti yang berdiri tak jauh dari dia terjatuh.
"Aww ... kamu ini apa-apaan, Kak?" rutuk Ranti yang juga kesakitan. Keduanya tergeletak di atas lantai.
"Maaf, Mah. Aku tak sengaja," ujar Irma pernah sesal.
Kemudian, Irma mencoba mengangkat pantatt untuk bangun dengan kedua tangan yang dijadikan tumpuan beban, tetapi medan yang licin membuat Wanita kesusahan untuk bangun.
"Ish, kenapa susah sekali?" rutuk Irma.
Tiba-tiba sebuah tangan mengulur di depan Irma, membuat Irma langsung mendongak ke arah pemilik tangan tersebut. "Sini, aku bantu!" Sembari mengulum senyum, Andre mengulurkan tangannya kepada sang kekasih yang sedang kesusahan untuk bangun. Tanpa pikir lagi, diraihnya tangan itu dan dengan satu tarikan Andre berhasil membantu Irma berdiri tegak.
"Aku menyuruhmu bersiap-siap untuk dandan cantik, bukan malah mandi dengan air pel," ujarnya dengan tawa yang hampir meledak, melihat keadaan sang kekasih.
"Mas, ih!" Irma mendaratkan sebuah cubitan di pinggang yang kini sudah terbalut kaos lengan pendek. "Semua ini juga gara-gara kamu," lanjutnya menyalahkan Andre.
__ADS_1
"Kenapa salah aku?"
"Ya, iya, 'Kan kamu yang—"
"Berdebatnya nanti saja. Bangunin mamah dulu!" Tetiba ucapan Irma terpotong oleh suara Ranti yang masih tergeletak di lantai, kesusahan tuk bangun.
Andre dan Irma pun langsung menoleh ke arah suara, lantas membantu wanita paruh baya itu untuk bangun.
"Ya, ampun! Badan mamah sakit semua." Ranti merintih saat merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit karena terbentur dengan lantai.
"Maafkan Irma, Mah. Irma gak sengaja," ucap Irma penuh sesal, sembari memapah Ranti untuk duduk di sofa.
"Sebenarnya ada apa kamu sampai-sampai lari kayak tadi? Bukannya kamu tuh tadi mau beli sayuran."
"Keluarga Nak Andre mau kemari?" Sekarang giliran Ranti yang dibuat kaget oleh berita yang disampaikan Irma.
"Iya, Mah."
"Beneran, Nak Andre?" Ranti menatap Andre, memastikan ucapan yang diucapkan putrinya benar adanya.
Andre hanya mengangguk, mengiakan ucapan Irma.
"Ya, Ampun! Kenapa sekarang malah tiba-tiba kepala mamah jadi pusing?" Kedua tangan Ranti memegang tangan kepalanya yang terasa berat karena berita yang dibawa dua sejoli di hadapannya. "Kenapa memberitahunya dadakan begini, Nak? Mamah kan butuh persiapan. Iya kali, keluarga kamu mamah kasih air putih doang. Belum lagi, kalau acara resmi kayak gitu harusnya ada lelaki yang dituakan sebagai wali pengganti ayahnya Irma. Mamah harus kabari uwa-nya Irma dulu. Gimana kalau dia berhalangan hadir?" Ranti tahu apa yang akan dibicarakan keluarga Andre, membuatnya semakin pusing tujuh keliling.
__ADS_1
Andre sendiri hanya bisa meminta maaf. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Ranti karena dirinya pun sama terkejutnya saat mendengar berita itu.
"Sudahlah. Mamah mau coba hubungi uwa-mu semoga saja dia bisa datang nanti malam." Ranti beranjak menuju kamarnya untuk menghubungi kakak dari mendiang suaminya yang tempo lalu menjadi wali nikah Naura. "Hari ini toko libur saja, Kak. Jangan lupa selesaiin ngepelnya, ya!" perintahnya lagi kepada Irma.
Irma hanya mengangguk dan Ranti pun berlalu dari sana.
"Aku jadi tak enak hati sama Mamah," ujar Andre begitu Ranti sudah tak terlihat lagi.
"Buang kucing saja." Irma juga berdiri, hendak membereskan kekacauan yang telah diperbuatnya.
"Kucing juga belum tentu mau," jawab Andre yang juga membantu Irma membersihkan lantai yang sudah digenangi air.
"Sebenarnya, kenapa Mas tiba-tiba kembali ke sini?" tanya Irma kemudian. Ia masih penasaran dengan kehadiran Andre yang tiba-tiba.
Andre pun menceritakannya, ia yang baru saja sampai di dalam kamar, teringat mungkin saja dirinya akan pulang terlambat. Andre pun berinisiatif untuk menitipkan kunci cadangannya kepada si calon istri. Setelah, memakai baju yang lebih layak diperlihatkan kepada lawan jenis, lalu bergegas kembali ke rumah sebelah. Namun, betapa terkejutnya ia saat mendapati ibu dan anak sedang tergeletak di atas lantai.
"Lalu kenapa Mas malah ketawa-ketiwi?" tanya Irma lagi saat melihat wajah Andre yang sedang menahan tawa.
"Maaf, Mas hanya lucu saja liat kamu mau bangun jatuh lagi, jatuh lagi." Tawa Andre pun pecah.
"Au ah! Dan asal kamu tahu itu juga gara-gara kamu!" Irma menunjuk hidung orang yang masih menertawakannya. "Sini kuncinya dan sebagai gantinya Mas saja yang beresin ini semua. Aku mau mandi, ganti baju. Bajuku basah semua." Irma memberikan alat pel-nya kepada Andre dan mengambil kunci rumah Andre, lalu berlalu.
"Eh, kok! Kenapa aku yang kena buntutnya?"
__ADS_1