
Setelah menyimpan gelas, Irma pun ikut bergabung bersama Andre dan Ranti yang sedang berbincang-bincang. Terdengar beberapa kali Andre mengucapkan terima kasih kepada Ranti dan berulang kali pula Ranti mengucapkan kata maaf karena Andre harus merasakan sakit akibat jatuh dari tangga. Mereka selalu terlihat sangat akrab. Ujung bibir Irma terangkat, senyum tersungging melihat keakraban keduanya. Ryan saja yang pernah menjadi suaminya, tak pernah seakrab itu dengan sang mamah.
"Filmnya sudah selesai, meskipun berderai air mata tetapi berakhir bahagia. Ya, sudah mamah mau lurusin pinggang dulu di kamar," ujar Ranti saat Irma ikut bergabung dengan mereka. "Nak Andre, ngobrolnya bareng Irma saja, tante rebahan dulu. Seharian di toko bikin pinggang lumayan pegal," ujarnya juga kepada Andre.
"Iya, silakan, Tan!" tutur Andre sembari tersenyum.
Selepas kepergian Ranti, tak ada yang membuka suara. Hanya suara dari layar televisi yang terdengar di ruangan itu. Sesekali Irma melirik Andre yang berpura-pura khusuk menonton televisi. Meskipun lelaki itu tahu, Irma terus meliriknya, ia sekuat tenaga menahan keinginannya untuk menyapa terlebih dahulu.
"M ... Mas," Akhirnya, Irma memecahkan kesunyian dari mereka.
Andre tersenyum, 'kau menang Ndre.' Ia pun menoleh ke arah suara, "Ya. Apa Mbak memanggilku?"
"Ya, iyalah 'kan cuma ada Mas Andre di sini."
"Iya, juga, ya." Andre menjawab, lalu diam kembali.
Tidak ada perbincangan lagi dari keduanya, biasanya Andre yang suka bicara ke sana-kemari, tetapi kali ini lelaki itu berubah jadi pendiam.
'Tak baik berlama-lama di sini, mulutku sudah gatal ingin ngomong ini dan itu.'
"Mbak."
"Mas." Mereka membuka suara secara bersamaan.
__ADS_1
"Mas duluan saja," lanjut Irma, setelah keduanya saling diam kembali.
"Ok. Aku hanya mau minta maaf, tadi kamu telah melihat sesuatu yang tak seharusnya kamu lihat. Aku tak bermaksud untuk menodai matamu. Sekali lagi aku minta maaf."
"Seharusnya aku yang minta maaf. Aku telah asal masuk saja ke rumah Mas tanpa permisi. Aku pikir kamu kenapa-kenapa karena aku panggil-panggil kamu tak menjawab, jadi aku main masuk saja. Maafkan aku," ujar Irma sembari menunduk.
'Apa dia mengkhawatirkanku? Yes ... yes ... kemajuan! Lanjutkan Ndre, sampai dia bilang cinta juga.'
"Itu tak masalah, salahku juga di kamar mandi sambil pakai pendengar musik," jawab Andre, tanpa ekspresi.
"Maaf juga aku telah mengataimu tuyul. Itu refleks, jangan masukin ke dalam hati, ya!" sambung Irma, penuh sesal.
"Tidak apa-apa tak perlu diambil pusing. Lagian—"
"Lagian apa?" Irma masih menunggu kelanjutan ucapan Andre, berharap lelaki itu menggodanya seperti biasa.
"Lagian aku juga yang salah," jawab Andre. "Sebaiknya aku pulang saja, masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan. Aku permisi."
Akhirnya, Andre lebih memilih pulang, daripada harus berlama-lama di sana dan semuanya harus gagal sebelum di mulai.
"Eh, tapi—"
"Saya pulang, ya, Mbak." Andre tak memberikan kesempatan Irma tuk berbicara.
__ADS_1
Irma pun terpaksa mengangguk, memberikan izin lelaki itu pulang. Melihat sikap lelaki itu, tak diizinkan pun belum tentu Andre 'kan tetap tinggal.
***
Denting suara jam dinding yang terus berputar seiring bergulirnya waktu, menemani Irma di keheningan malam. Wanita itu tampak masih berkutat dengan ponsel dan buku kecil serta pulpen yang dipegangnya—mencatat keperluan untuk toko yang dikelolanya yang sudah mulai ramai pengunjung. Hingga, jarum pendek dan panjang sudah menunjuk tepat pada angka dua belas, wanita itu masih tetap terjaga.
"Selesai!" gumam Irma, sembari menutup catatannya.
Terlalu lama menulis, membuat tangan dan kepalanya terasa begitu pegal. Irma meregangkan kedua tangannya serta melakukan patahan pada kepala, merileks-kan dua anggota tubuhnya yang ia ajak menulis keperluan toko dan menulis sesuatu di buku diary-nya yang memakan waktu hampir dua jam.
"Kenapa gak sekalian aku buat novel saja?" gumamnya lagi saat membereskan buku hariannya yang lembaran kosongnya sudah berkurang lebih dari lima lembar.
Kebiasaan Irma sejak masih duduk di bangku sekolah, jika perasaannya sedang tak menentu, ia selalu mencurahkan seluruh isi hatinya pada buku daripada kepada oranglain. Menurutnya, curhat pada diary lebih aman, tidak seperti kepada sesama manusia yang kadang tidak bisa menjaga mulutnya, meskipun sudah berjanji untuk saling menjaga rahasia.
Wanita berpakaian piyama tosca itu pun, menyimpan buku diary-nya ke laci. Lalu, ia menjatuhkan tubuh di atas kasur serta menarik selimut sampai menutupi tubuhnya sampai ke leher, bersiap untuk pergi ke alam mimpi.
"Bukannya pergi tidur, kenapa malah terus kepikiran dia?" Irma membuka matanya kembali yang sudah berusaha ia pinjamkan. Namun, bukannya tertidur, bayangan Andre malah menari-nari di pelupuk mata.
"Dia kenapa, ya? Seharian ini sikap aneh, kayak angin kadang ke barat kadang ke timur. Tapi, kenapa aku malah kesel banget saat dia berubah dingin?" Wajah Irma memberengut mengingat Andre yang tiba-tiba berubah dingin. "Aku lebih suka kamu gombalin," ujarnya dengan senyum yang merekah, mengingat gombalan-gombalan receh yang membuat hatinya di penuhi bunga cinta.
"Ya, ampun, Ir! Apa yang kamu pikirkan? Jangan mikir yang aneh-aneh." Hingga akhirnya, wanita itu menoyor kepalanya sendiri, saat seorang tuyul kembali memenuhi isi kepala. "Aku melihatnya gak sengaja, lagian langsung balik badan juga. Tapi, kenapa malah keinget terus. Bisa rusak otakku kalau kayak gini," tandasnya sembari menutup wajah dengan bantal, berharap sosok yang menampilkan postur tubuh nyaris sempurna itu menghilang.
Namun, bukannya menghilang, sosok itu malah semakin sering muncul. "Ah ... aku bisa gila kalau kayak gini caranya!"
__ADS_1