Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 32


__ADS_3

Bersama dengan Krisna, Friska bisa mengurangi rasa sesak di hatinya. Lelaki itu, mencoba membawa kembali senyum Friska yang beberapa saat sempat menghilang entah karena apa. Bahkan, sampai mereka pulang, Krisna tidak sedikit pun menyinggung perihal alasan Friska menangis.


Dari balik tirai, Andre dan Irma memperhatikan dua sejoli yang baru saja tiba di depan rumahnya. Krisna mengantarkan Friska pulang setelah cukup puas bermain dan saat ini keduanya baru saja tiba di rumah.


"Sekali lagi terima kasih sudah mau menemaniku," ucap Friska, sebelum lelaki itu pulang.


"Dalam pertemanan tidak perlu ada terima kasih. Teman selalu ada untuk teman kita dalam suka dan duka. Jika hari ini kamu yang menangis di bahuku, bisa jadi besok aku yang nangis di bahumu."


"Apa kamu juga berniat menangis di bahuku?" Friska menyipitkan sebelah matanya. "Apa gak malu sama pangkat?" gurau Friska.


"Mau pangkatnya apapun, kalau sedih dan mo nangis ya nangis. Emang ada larangan 'polisi di larang menangis' gitu?"


"Ya, sudah, kalau gitu aku tunggu itu. Biar kita bisa inpas." Friska berujar yang diakhiri tawa keduanya.


Mereka mengobrol cukup lama di depan rumah. Meskipun keduanya masih tahap perkenalan, mereka bisa menperlihatkan jika Friska dan Krisna cepat akrab walaupun hanya sebatas teman. Mereka tidak ingin terburu-buru dalam mengambil perasaan, Friska pun tidak mau hanya menjadikan Krisna sebagai pelampiasan, hingga menjadi sahabat menjadi pilihan terbaik bagi mereka.


"Sudah, Ba, ngintip mulu. Entar bintitan, lho!" ujar Irma kepada Andre yang masih melihat kedekatan mereka dari balik kaca.


"Sepertinya mereka semakin akrab, ya?"


"Bukankah itu yang kamu mau?" tandas Irma dan langsung dijawab anggukan oleh Andre. "Berarti seharusnya kamu bersyukur. Friska bisa dengan cepat membuka hatinya kembali," lanjut Irma. "Ba, udah yuk! Aku mau tidur dikelonin sama kamu." Irma merengek mengajak lelaki yang masih setia berdiri di balik tirai itu untuk pergi ke kamar.


Mau tidak mau, perintah ibu negara adalah nomor satu. Andre membawa sang istri ke kamar dan menemani si istri yang beberapa hari ini manjanya sangat luar biasa. Hanya untuk tidur saja, wanita itu harus dininabobokan dulu oleh Andre.


"Ba, bukannya tadi kamu bilang kencan mereka batal, tapi kenapa mereka bisa pulang bareng?" tanya Irma saat keduanya sudah di kamar.


"Tadi aku dilarang ngintip. Nah, Bubu malah kepo. Gimana kalau kita ngintip lagi aja, siapa tahu punya jawabannya." Lelaki yang sedang mengusap lembut rambut si istri itu malah menggoda.


Irma memiringkan tubuhnya, menghadap Andre lalu menatap wajah yang suami. "Tapi, sepertinya ada yang kamu sembunyikan?" tanya Irma penuh selidik kepada lelaki yang sedang menyangga kepala itu.

__ADS_1


"Memangnya aku menyembunyikan apa?" tanya Andre dengan seringai tipis di wajah.


"Entahlah. Apa Baba menyembunyikan sesuatu?" Irma beringsut mendekati Andre dan semakin menatap intens lelaki itu.


"Kamu mau nanya? Apa mau makan aku?" goda Andre yang malah mengalihkan pembicaraan.


"Ish ...." Irma mencebik kesal karena Andre malah semakin menggodanya.


"Dua ronde baru aku ceritakan."


"Apanya dua ronde?"


"Dua ronde atau mati penasaran."


Andre sedang main tawar menawar demi kelancaran si junior untuk menengok kakak-kakaknya di dalam perut si istri. Irma sangat manja dan selalu minta dikelonin saat tidur, tetapi ada satu hal juga sedang kumat. Wanita itu, tidak mau melayani Andre untuk urusan ranjang, membuat lelaki yang sedang menaik-turunkan alisnya itu sakit kepala atas dan bawah.


"Aku pilih atau aja, deh," jawab Irma.


Irma yang penasaran pun mencoba main tawar menawar juga. "Satu aja, ya."


Andre menggeleng, sudah seminggu ia sakit kepala dan malam ini harus tersalurkan. Hingga akhirnya, Irma pun akan menyetujui tawaran Andre setelah lelaki itu menceritakan semuanya.


Di dalam dekapan Andre, Irma mendengarkan semua yang diucapkan sang suami. Keningnya sesekali berkerut begitu mendengar ucapan suaminya.


"Jadi, Baba mata-matain Friska?" tanya Irma yang dijawab gelengan Andre. "Terus?"


"Temanku sedang ada di cafe itu juga saat melakukan VC-an tadi dan tanpa sengaja baba melihat mereka sedang makan bersama," jelas Andre dengan tangan menggerayam mencari sesuatu.


Beberapa waktu lalu ....

__ADS_1


Andre sedang menerima video call dari salah satu teman lamanya. Di saat mereka sedang berbincang-bincang, Andre seperti melihat beberapa orang yang dikenalnya berada di belakang si teman. Ia yang penasaran meminta orang itu untuk mengarah kamera ke arah mereka, meskipun agak jauh. Lantas menyuruh temannya itu men-zoom dan Andre tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya waktu melihat Friska, Ryan dan Dewi benar-benar ada di meja itu.


Setelah video call berakhir, keberadaan mereka bertiga yang sedang bersama terus mengganggu pikiran Andre, karena Friska bukan orang yang mudah melupakan perasàannya terhadap seseorang. Saat menyukai Dimas saja, gadis itu harus berjuang sampai dua tahun hingga mancari banyak pelampiasan dan menjadikan dirinya dicap play girl's.


Ketika hari sudah semakin sore, Friska tidak kunjung pulang, juga tidak menghubungi Andre, membuat lelaki itu semakin khawatir. Ia pun lantas mengambil kunci mobil, bergegas untuk menjemput Friska. Namun, sejurus kemudian niat itu langsung diurungkannya. Andre memilih seseorang untuk menjemput adiknya itu. Ia menghubungi Krisna, meminta lelaki itu untuk menjemput sang adik.


"Tapi, bukannya Krisna sedang ada tugas? Baba ganggu dia dong?" tanya Irma setelah mendengar cerita Andre.


"Dia baru saja pulang dan langsung menemui Friska. Krisna orang yang baik, semoga dengan bantuannya Friska bisa dengan cepat melupakan Ryan."


"Aamiin ...." Irma meng-amin-kan harapan suaminya itu.


"Ceritanya sudah selesai sekarang giliran Bubu tepati janji," ujar Andre yang tiba-tiba sangat bersemangat.


"Huaam ... mataku tiba-tiba susah dibuka, ya!" Irma menguap, lalu matanya terpejam.


"Jangan ngada-ngada!" ucap Andre yang sudah berada di atas tubuh si istri, mengungkung pergerakan wanita itu. "Ingat ciri-ciri orang munafik itu ada tiga, salahsatunya ingkar janji. Dan aku, tidak ingin istriku tergolong pada orang-orang munafik," lanjutnya, sambil menoel hidung sang istri.


"Baik, Pak Ustad." Irma yang mendengar ceramah Andre tak bisa menyembunyikan tawanya, hingga tawa itu menghilang saat bibir Andre membungkamnya dengan sentuh lembut.


"Bentar dulu, ada satu permintaan lagi!" ucap Irma begitu Andre melepaskan tautan bibir mereka, bahkan wanita itu sedikit mendorong tubuh Andre yang sudah siap berpacu mengarungi lautan cinta.


"Apa?"


"Besok piknik, yuk!"


"Itu aja?"


Irma mengangguk.

__ADS_1


"Itu hal kecil, tapi si junior ingin piknik duluan, jadi jangan ganggu konsentrasiku. Ok!" ucap Andre yang mulai kesal kepada si istri yang terlewat jahil. Wanita itu beberapa kali merusak momen-momen pencapaian surga dunia mereka. Di saat hamil, ide jahil yang dimiliki Andre tiba-tiba menular kepada si istri yang berhasil hampir saja membuatnya gagal lagi.


__ADS_2