Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 5


__ADS_3

5


Seorang gadis mengendarai motor memasuki area parkir sebuah mini market. Gadis berambut panjang dengan hanya memakai baju tidur bermotif doraemon yang dilapisi sweater, lantas buru-buru turun dari motor setelah memarkirkan kendaraan yang dibawanya. 


"Ah, Twins masih dalam perut pun kamu itu menyusahkan tantemu saja," gerutunya. "Kak Andre juga percaya aja sama yang kayak gituan? Mana ada anaknya ngences gara-gara kemauan ayahnya gak kesampean. Biasanya kan yang ngidam emaknya bukan bapaknya." Ia merutuki kelakuan Andre yang membuatnya malam-malam harus pergi ke minimarket sebagai bentuk sebuah pertanggungjawaban.


Gadis itu adalah Friska Fiandra, gadis 21 tahun, adik bungsu dari seorang Andreas Denandra. Friska terpaksa pergi ke mini market untuk membeli coklat sebagai ganti cokelat Andre yang telah dimakan tanpa sepengetahuan si pemiliknya. 


Friska buru-buru masuk ke minimarket tersebut dan langsung menuju tempat barang yang diminta Andre. Setelah mengambil lima batang cokelat, Friska lantas mengantre di meja kasir dengan antrian yang cukup panjang. 


Dari tempat Friska berdiri, ia melengo ke depan dan dilihatnya orang-orang sudah seperti kereta saja, dengan barang belanjaan yang tidak sedikit. "Hal paling menyebalkan adalah mengantri. Mana antriannya panjang pula. Twins kau benar-benar mengerjain tante," rutuk Friska yang malah menyalahkan bayi yang bahkan belum lahir. 


Belum lagi budaya mengantri yang masih belum tertib. Tiba-tiba ada orang menyerobotnya dan langsung berdiri di depan orang yang berdiri di depan Friska, sampai-sampai orang di depan Friska terhuyung ke belakang karena didorong orang tak beradab itu. Untung saja Friska dengan cepat menahan tubuh ringkih itu, hingga tidak sampai terjatuh.


"Maaf, Neng, Nenek tidak sengaja," ucap nenek tua yang tanpa sengaja menginjak kaki Friska. 


"Tidak apa-apa, Nek. Apa Nenek tidak apa-apa?" tanya Friska yang dijawab gelengan nenek tua itu. Kemudian, mata Friska tertuju pada wanita muda yang berdiri di depannya yang tanpa ada rasa bersalah malah ikut mengantri di depan si Nenek. "Eh, Mbak, bisa baca gak?" Friska menepuk bahu si wanita sambil menunjuk sebuah papan yang berisi tulisan 'Harap antri'. "Noh, liat, harap antri! Kenapa maen serobot aja? Sampe dorong nenek-nenek lagi, gak punya hati banget," cecar Friska, kesal dengan ulah wanita yang berpenampilan cantik tetapi tidak memiliki kesopanan. 


Wanita itu menoleh ke arah Friska dengan tatapan tak suka. "Eh, anak kecil apa urusanmu kalau aku nyerobot atau tidak? Tidak usah sok menasehatiku," sarkasnya yang membuat Friska semakin kesal. 


Jika nenek tua di dekatnya tidak menghalangi, Friska ingin sekali mencakar mulut dengan gincu merah mencolok itu. 

__ADS_1


"Sudahlah, orang waras lebih baik mengalah," gumam Friska menenangkan dirinya sendiri yang membuat si nenek tersenyum karena ucapannya. 


Wanita itu menoleh kembali ke arah Friska dengan tatapan sinis. Ia seperti ingin membalas ucapan Friska, tetapi tidak jadi dan kembali menghadap ke depan. Friska sendiri memilih berbincang dengan si nenek yang membawa belanjaan cukup banyak. 


"Mumpung ada diskon besar-besaran, Neng. Makanya sampai antri panjang begini," ujar si Nenek, saat Friska bertanya tentang orang-orang yang belanjaan hampir sama semua.


Setelah cukup lama berdiri dengan antrian yang cukup membuat kaki kesemutan, Friska sampai di meja kasir. Ia pun langsung memberikan barang belanjaannya kepada kasir untuk di nota. 


"Jumlahnya jadi dua ratus dua puluh lima ribu, Mbak." Kasir memberitahukan jumlah uang yang perlu dibayar Friska. 


Friska mengangguk. Namun, sejurus kemudian ia terlihat panik. "Eh, dompetku di mana?" Friska menatap kedua tangannya yang tidak memegang dompet, lantas meraba saku celana dan saku sweater. Barang yang dicarinya masih tidak ada, bahkan tidak ada uang sepeser pun yang tertinggal di saku. "Ya, ampun, apa aku lupa membawa dompet? Bagaimana ini? Malu-maluin aja, mana ponsel juga enggak bawa," rutuk Friska pada dirinya sendiri. 


"Mbak total semuanya jadi dua ratus dua puluh lima ribu," ucap si kasir dengan nada sinis, melihat Friska yang tidak kunjung memberikan uangnya. "Bisa dipercepat sedikit pembayarannya, Mbak? Di belakang masih antri." 


"Mbak, sekalian nota sama punya saya." Tiba-tiba suara seorang lelaki memotong pembicaraan Friska. Lelaki itu menyodorkan belanjaannya dan menyuruh  kasir itu untuk menghitungnya bersama barang belanjaan Friska. 


'Dia?' Friska tahu wajah lelaki itu, meskipun tidak mengenalnya lebih jauh. Akan tetapi, wajah itu cukup membuatnya terhipnotis oleh ketampanan lelaki itu. 


"Ini milikmu." Lelaki itu menyodorkan kantong berisi coklat kepada Friska, setelah membayarnya. 


Ucapannya menyadarkan gadis yang masih menatap wajah lelaki tampan itu. "Eh, terima kasih," ujar Friska malu-malu sambil menerima kantong itu. 

__ADS_1


"Sama-sama," jawabnya, sambil berlalu. 


"Orang zaman sekarang, gak punya uang masih sok-soan belanja. Masih untung ada orang baik yang mau bayarin," tukas si Kasir dengan sinis kepada Friska.


Friska mendelik ke arah kasir sinis itu. Ingin sekali rasanya menjawab kata-kata pedas si Kasir, tetapi ada yang lebih penting dari itu, yakni menyusul lelaki itu dan berterima kasih dengan benar. 


Dengan langkah lebarnya, Friska menyusul lelaki yang mengenakan kaos putih dan topi itu. Setiba di luar, Friska mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang telah menjadi pahlawannya barusan. 


"Dia kemana? Cepat banget menghilangnya?" Orang yang dicarinya tidak ada di sana. Hingga pandangan Friska tertuju pada dua orang yang ada di seberang jalan.  Salah satunya adalah lelaki yang menolongnya. "Itu, dia! Sebaiknya aku menghampirinya ke sana." 


Friska pun menyeberang jalan, menghampiri lelaki itu. Namun, belum sempat mendekat, ia mendengar suara bariton lelaki itu yang sedang menghardik lawan bicaranya, membuat Friska seketika langsung menghentikan langkahnya. Kedua orang itu sedang bertengkar hebat. 


"Ada hubungan apa wanita itu dengan Kak Ryan? Kenapa mereka sampai bertengkar hebat seperti itu di depan umum?" gumam Friska. Ia mengetahui lelaki itu yang menolongnya itu adalah Ryan, mantan suami kakak iparnya. Akan tetapi, ia tidak mengenal wanita sombong yang tadi membuatnya darah tinggi dan sekarang sedang bertengkar dengan Ryan. 


"Sebaiknya gue tunggu urusan mereka selesai saja, baru temui dia." 


Friska memilih kembali ke parkiran dan menunggu adu mulut dari keduanya selesai sambil duduk  di atas motor. Namun, baru beberapa saat, Friska kembali teringat ucapan Andre yang hanya memberikan ia waktu tiga puluh menit. 


"Sekarang jam berapa, Pak?" tanya  Friska pada seorang pria yang lewat ke depan motornya. 


"Jam sembilan kurang sepuluh menit, Mbak." 

__ADS_1


Friska langsung tepuk jidat begitu mendengar jawaban orang itu. Itu artinya ia sudah terlambat lima belas menit. "Urusan dengan Kak Ryan nanti saja. Untuk ganti uangnya nanti aku bisa minta nomor ponselnya dari kakak. Sekarang selesaikan dulu masalah dengan bapak-bapak yang sedang ngidam." Ia pun lantas menghidupkan motor, lalu pulang.


"Hanya karena sebuah cokelat, hidup gue ribet kayak gini," rutuk Friska sambil mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. 


__ADS_2