Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
71


__ADS_3

Seunit mobil memasuki pekarangan rumah Ranti. Dimas yang menjemput Naura di toko, sengaja mengantarkan dahulu kakak iparnya. Begitu mobil terparkir, Irma yang pikirannya sedang kusut pun langsung keluar dari mobil. Hingga, mata sendunya melihat motor Andre sudah terparkir di depan rumah sebelah.


Embusan napas kasar keluar dari mulut Irma, gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah wanita yang tak banyak bicara semenjak perselisihannya dengan Andre di depan toko. 'Bahkan dia sudah pulang duluan, tanpa mau menjemputku.' Ingin sekali ia menangis, mendapati Andre menjadi acuh, padahal lelaki itu sudah berjanji seharian ini lelaki itu akan memberikan waktu luangnya untuk Irma.


Naura baru saja keluar dari mobil, saat melihat Irma sedang menatap sendu motor berwarna merah. Dengan segera, ia mendekati dan merangkul sang kakak, lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Enggak usah diambil hati, apalagi sampai pecahin telur." Naura menggoda si kakak yang langsung mendapat delikkan Irma.


"Dia cuma butuh waktu sebentar. Cemburu itu wajar tandanya dia cinta sama kakak. Nanti juga dia yang duluan nyamperin, Kakak." Naura kembali berujar, mencoba menghibur Irma. "Kalau dia kelewat batas, nanti aku sendiri yang bakal nampol dia," lanjutnya sembari memamerkan rentetan gigi putihnya yang dihiasi si ginsul, membuat senyum Naura semakin manis.


"Tapi kenapa dia gak mau dengerin penjelasan kakak? Maen ngambek gak jelas kayak anak kecil." Irma masih tak habis pikir, lelaki yang biasanya bersikap dewasa dan berpikir secara logis, berubah menjadi tukang merajuk.


"Mungkin dia mau disogok sama permen seember," timpal Naura lagi.


Spontan, Irma mengerucutkan bibirnya begitu mendengar ucapan Naura. "Emang dia anak kecil?"


"Kan kakak sendiri yang bilang dia kayak anak kecil, siapa tahu kalau dikasih permen langsung sembuh."


"Kalau dia gak butuh permen seember, cukup satu aja yang diemut bareng-bareng pasti langsung luluh ngambeknya." Tiba-tiba Dimas juga ikut menimpali ucapan Naura disertai alis yang naik turun.


Irma memicingkan sebelah matanya, melirik Dimas yang masih menaik-turunkan alis dengan senyum yang mengembang. Wanita itu masih mecoba mengartikan ucapan adik iparnya. Sementara itu, Naura yang paham maksud ucapan Dimas langsung menghampiri sang suami sembari menyapit roti sobek Dimas lalu memutarnya, membuat Dimas meringis kesakitan.

__ADS_1


" Aww ... sakit, Honey!"


"Kau nyuruh kakakku ngerujak bibir, hah?!" tanya Naura dengan tangan yang masih menyapit perut si suami.


"Ah, dasar suami-istri somplak. Kalian enggak ada yang waras. Lama-lama dekat kalian aku bisa ikutan gak waras," ujar Irma, begitu mengerti maksud ucapan Dimas, lalu mengentakkan kaki, memilih pergi dari hadapan suami istri tersebut.


"Beberapa hari lagi aku jamin kau akan lebih tidak waras dari kita," teriak Dimas yang langsung mendapatkan cubitan lebih keras dari Naura.


Puas mencubit sang suami, Naura langsung menarik Dimas. "Pulang, ayo! Malu-maluin ih, gimana kalau kedengeran sama Mamah," omel Naura. "Mah, Ara langsung pulang ya! Jangan lupa jauhin telur dari Kak Irma!" teriak Naura kepada Ranti.


Irma yang baru berjalan beberapa langkah pun, mengehentikan kakinya dan langsung berbalik badan begitu mendengar ucapan terakhir Naura. "Dasar somplak! Sana, pada pulang!" usir Irma sembari berkacakpinggang.


Wanita yang baru masuk ke rumah itu pun memilih tuk pulang ke rumahnya.


"Biasanya juga kamu lebih parah dari itu. Bilang aja kamu pengen ngerujak makanya ngajak pulang. Atau pengen ngemut loli, ya?" bisik Dimas sesampai di depan mobil, menggoda sang istri dan langsung mendapat pelototan Naura.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 21,00. Irma sudah masuk kamar sejak satu jam yang lalu, tetapi ia belum bisa terpejam sama sekali. Irma berbaring di atas kasur dengan kedua tangan yang ia lipat di belakang kepala sebagai bantalan. Mata indahnya menatap langit-langit kamar dengan isi kepala yang masih memikirkan hal-hal tadi siang, yang menurutnya sangat-sangat melelahkan. Namun, perubahan sikap Andre lebih mendominasi pikiran wanita berpiyama kuning bergambar bunga matahari itu. Meskipun Naura memintanya tetap tenang, tetap saja hatinya takut kalau masalah itu akan merembet dan menjadi penghalang pernikahan mereka.


"Kenapa tak mencoba menghubunginya?" Irma bangun, lalu meraih ponsel yang tersimpan di atas nakas.

__ADS_1


Dengan segera, ia pun langsung mengubungi nomor Andre. Namun, ia dibuat gigit jari. Berkali-kali Irma menghubungi nomor itu, berkali-kali pula ia mendapat suara pengalihan dari operator.


"Dia benar-benar ngambek?" Irma membuang napas kasar. "Apa yang harus kulakukan?"


Irma mencoba berpikir, mencari jalan keluar supaya bisa menghubungi Andre dan menjelaskan semuanya lebih jelas lagi. Ia tampak mondar-mandir sembari menggigit jari, mencari solusi yang tak kunjung didapatnya. Menemui Andre di rumahnya pun tak memungkinkan. Mau taruh di mana mukanya di depan orang tua Andre kalau menemui lelaki itu malam-malam. Apalagi kedua orang tua mereka sudah membatasi pertemuan keduanya dengan alasan dipingit.


Hingga, sebuah suara jendela diketuk dari luar mengagetkan Irma yang masih mondar-mandir di dekat jendela tersebut. Spontan, ia pun langsung berlari ke kasur.


"Siapa itu? Maling, kah?" tanya Irma pada dirinya sendiri sembari memeluk guling.


Tak ada respon dari Irma, jendela lun kembali diketuk berkali-kali. "Ir, buka!" ucap orang dari balik jendela dengan suara yang begitu pelan.


"Si-si-apa?" teriak Irma, ragu-ragu.


"Aku."


Merasa familiar dengan suaranya, Irma pun perlahan beringsut dari tempat tidur dan mendekati jendela. Ia, lantas menggeser gorden, mengintip, mencari tahu siapa yang memanggilnya. Wanita itu pun menatap tak percaya, dengan orang yang dilihatnya saat ini. Keterkejutan jelas tampak di wajah Irma.


"Hah?! Mas, sedang apa di sini?"


"Hai!" ucap orang itu dengan senyum yang mengembang sembari menyodorkan bunga lili kepada Irma yang masih terhalangi oleh kaca tersebut.

__ADS_1


__ADS_2