
28
Irma sedang rebahan di kamar saat tiba-tiba terdengar suara ribut seperti orang yang sedang bertengkar dari kamar Friska.
"Ada apa, kok, ribut-ribut?"
Dengan cepat, Irma keluar kamar dan berlari menuju kamar adiknya. Hingga ia dibuat terdiam di depan pintu kamar yang masih tertutup begitu mendengar pengakuan si adik ipar. Ia tak menyangka kalau gadis itu telah jatuh cinta kepada mantan suaminya.
"Apa aku tidak salah dengar? Pantas saja Baba beberapa hari ini terlihat seperti orang bingung. Aku pikir dia hanya sedang memikirkan resepsi Naura saja," gumam Irma.
Sebagai seorang istri ia bisa melihat kegundahan sang suami, meskipun lelaki itu selalu menutupi saat bersamanya dengan guyonan. Namun, di saat sendiri Andre selalu terlihat melamun.
Di saat Irma masih mencerna semua yang didengarnya, pintu kamar Friska terbuka, menampilkan Andre yang baru saja membuka pintu dan Friska yang sedang menangis di tempat tidurnya.
"Ba!" Irma memanggil Andre saat lelaki itu keluar dari kamar Friska dengan wajah yang kusut.
Andre hanya tersenyum, tanpa menjawab panggilan Irma dan memilih untuk pergi.
Irma yang ada di ambang pintu malah mematung melihat punggung sang suami dengan gontai pergi menjauh dari sana. kemudian, matanya beralih kepada Friska yang sedang menangis di dalam kamar. Irma ingin menyusul Andre untuk menenangkan amarahnya, tetapi ia juga tidak tega melihat Friska yang tampak sangat terluka oleh kata-kata Andre.
"Fris ...." Akhirnya, Irma lebih memilih menghampiri gadis yang sedang memeluk berbaring sambil memeluk guling dengan air mata yang terus mengalir semakin deras.
"Kakak mau apa kemari? Kalau kakak hanya mau menyuruhku untuk menjauhi Kak Ryan sebaiknya kakak pergi saja," ucap Friska, tanpa menoleh kepada orang yang mengajaknya bicara.
Irma mendekati Friska dan duduk di tepi ranjang. Meskipun ia mendukung ucapan Andre, bukan waktunya mengatakan itu saat ini. Gadis di dekatnya itu sedang butuh tempat bersandar, bukan malah semakin ditekan.
"Tidak. Kakak datang kemari karena mendengar teriakan kalian. Kakak tidak tahu apa yang kalian ributkan. Tapi, kalau kamu mau berbagi cerita sama kakak, kakak mau menjadi pendengar yang baik."
Saat Mendengar ucapan Irma, Friska pun menoleh ke arah wanita itu dan menatapnya cukup lama dengan air yang terus menetes, membuat yang ditatapnya canggung. Lalu, tiba-tiba Friska memeluk erat si ibu hamil itu dan menangis dipelukannya.
__ADS_1
"Kak Andre tidak menyayangiku, Kak. Kak Andre tidak pernah peduli dengan kebahagiaan dan keinginanku. Dia jahat!" ucap Friska di sela-sela tangisnya.
"Memangnya apa yang telah Kak Andre lakukan padamu? Sampai kamu menganggap kakakmu tidak sayang padamu. Setahu kakak dia sangat menyayangimu. Meskipun dia sering jahil, begitulah cara dia untuk semakin dekat dengan orang-orang tersayangnya."
Friska langsung mengurai pelukannya, begitu mendengar ucapan Irma yang seakan-akan membela Andre. " Sudahlah, kakak kembali saja sana! Tidak ada gunanya juga bicara denganmu karena kakak juga pasti satu frekuensi dengannya."
Irma kembali dibuat bingung oleh sikap Friska yang malah merajuk juga pada dirinya. 'Apa aku salah bicara, ya?'
Irma pun kembali mencoba membujuk gadis yang sedang sangat sensitif itu, salah sedikit langsung usir. Kemudian, Friska membicarakan semua yang terjadi antara dirinya dan Andre. Irma yang tadi belum mendengar secara keseluruhan, kini merasa jantungnya terlepas saking kagetnya.
'Jadi Friska benar-benar menyukai Mas Ryan? Masalah macam apa ini? Masa iya, sih?' Irma masih tidak percaya dengan yang didengarnya dari pertengkaran Friska dan Andre benar adanya.
"Apa kakak juga akan menentang perasaanku?" tanya Friska begitu selesai menceritakan semuanya.
'Apa yang harus kukatakan?'
"Eh, iya. Apa?" Irma yang masih mencerna apa yang didengarnya dibuat terkesiap oleh tindakan Friska.
"Sudahlah ... tidak perlu ditanyakan lagi. Dari wajah kakak, aku sudah tahu, kakak juga akan menolaknya," tandas Friska.
Irma menarik napas panjang. Ini tidak mudah, salah bicara akan memperpanjang masalah. Akan tetapi, mendukung Friska pun tidak mungkin. Dalam dua bulan ke depan Ryan akan menikah dengan Dewi, karena mereka memutuskan untuk langsung menikah tanpa pacaran dahulu.
"Sayang, kakak tidak mendukung siapa-siapa. Kakak mengerti perasaanmu, karena kakak juga pernah merasakannya. Kakak juga tidak menyalahkan cintamu karena kakak tahu cinta bisa datang kapan saja tanpa kita tahu akan datang kepada siapa. Tapi, coba kamu renungkan baik-baik dengan kepala dingin semua ucapkan Kak Andre. Dalam menjalin hubungan itu, tidak cukup hanya ada kamu dan dia, tetapi ada banyak keluarga yang terlibat. Belum lagi di sini, kamu belum tahu perasaan Mas Ryan seperti apa padamu."
Friska terdiam saat mendengar ucapan kakak iparnya itu. Gadis itu tidak lagi menyela seperti saat Andre juga memberitahunya akan hal itu.
"Sudah malam. Sebaiknya kamu tidur, jangan terlalu memikirkan itu. Nanti yang ada kamu sakit," lanjut Irma dna dijawab anggukan Friska. "Apa mau kakak temenin?"
"Boleh."
__ADS_1
Irma pun menemani gadis yang muka sudah sembab itu sampai terlelap. Setelah dirasa Friska sudah pulas, Irma keluar untuk menemui sang suami. Tidak lupa, ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur di sana.
"Selamat malam, Fris. Semoga setelah tidur kamu bisa berpikir jernih." Sebelum pergi, Irma mengusap lembut rambut gadis yang sedang memeluk guling dengan mata yang terpejam.
Irma kembali ke kamarnya, tampak Andre masih duduk bersandar di kepala ranjang sambil membaca buku untuk mengalihkan kekesalannya.
"Apa dia sudah tidur?" tanya Andre, begitu Irma sudah ada di dalam kamar.
Irma mengangguk, lalu duduk di samping sang suami. "Boleh tahu cerita versi kamu-nya, Ba?" Irma menatap sang suami yang masih mencoba menyibukkan diri dengan buku.
Andre menutup buku dan meletakkannya di samping tubuhnya, kemudian membawa sang istri kepelukannya. "Tentu saja," jawab Andre.
Ia pun menceritakan secara detail sejak pertama kali bertemu Ryan dan Friska di sebuah cafe, hingga berlanjut saat di acara resepsi juga kejadian tadi pagi.
"Pantas saja saat Dewi bilang dia nerima perjodohannnya dengan Mas Ryan, Friska langsung keselek. Pasti dia kaget dengan berita yang didengarnya. Dan, kalau diperhatikan adik kita itu akan berubah jika habis bertemu Mas Ryan dan Dewi sedang bersama. Oh, ya, ampun kenapa jadi rumit, ya!" Irma masih sulit menerima kenyataan yang baru didengarnya. "Lalu bagaimana jika Mas Ryan juga mencintai Friska?" Satu pertanyaan yang lolos dari mulut Irma dan berhasil membuat Andre melonggarkan pelukannya.
"Dia itu lelaki. Lelaki yang dipegang omongannya. Dia sudah bilang tidak mencintai Friska."
"Aku tidak berharap ini terjadi. Tapi bagaimana kalau dia juga mencintai adik kita?"
Kedua mata Andre langsung memelototi Irma, begitu mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut si istri.
"Aku cuma nanya," ucap Irma sembari bersembunyi di dada bidang sang suami begitu melihat mata yang menatap tajam ke arahnya.
"Aku sudah memberinya kesempatan untuk mengakui perasaannya sebelum semua terlanjur jauh dan masih bisa dikendalikan. Aku juga bersedia menjadi tameng saat menghadapi mamah. Tapi, dia tetap mengatakan 'tidak' jadi jika nanti dia berubah pikiran, tidak ada lagi kesempatan." Andre berujar sambil memainkan rambut Irma. Andai jawaban Ryan 'ya', pertengkarannya dengan Friska saat ini pasti tidak akan terjadi, meskipun dengan resiko akan ada pertengkaran hebat lain yang menanti.
"Apa aku keterlaluan sudah membentaknya bahkan sampai menangis?" lanjut Andre. Ia sangat menyesal telah membentak Friska dengan sangat keras.
"Tenang saja, besok juga dia akan baikan," tandas Irma.
__ADS_1