Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
44


__ADS_3

Libur yang disebutkan Andre pun tiba dan Andre benar-benar membuktikan keseriusan hubungannya dengan Irma. Lelaki itu membawa Irma menemui keluarganya, sebelum kedua orang tuanya resmi melamar wanita itu dirinya. Dengan menunggangi kuda besi kesayangannya, Andre membawa sang pujaan hati ke kampung halamannya. Hampir tujuh jam keduanya berada di atas motor, hingga akhirnya mereka sampai di kota kelahiran Andre.


"Apa kita istirahat dulu? Kamu pasti pegal seharian duduk." Andre memperlambat laju motornya.


"Aku gak pegal, kok. Tapi, kalau mo istirahat, terserah Mas saja," ujar wanita yang tak pernah melepaskan tangannya dari pinggang Andre.


"Kalau gitu lanjut saja, ya!" ujar Andre dan dijawab anggukkan Irma. "Aku malah berharap perjalanan masih sepuluh jam lagi biar bisa terus dipeluk kamu, tapi sayang sebentar lagi sampai." Andre berseringai.


"Modus sekali kau ini. Pantas saja saat Dimas menawarkan mobilnya kamu tolak mentah-mentah." Irma mendaratkan cubitan di perut yang terhalangi jaket kulit itu.


"Tapi kamu juga suka, 'kan?"


Irma tak menjawab, ia malah mengeratkan pelukkan terhadap lelaki yang selalu memberi warna di hidupnya itu. "Udara di sini dingin banget," gumamnya tak berbohong.


"Ini baru modus," goda Andre.


"Ini kenyataan, Mas." Udara di kota kelahiran Andre, memang sangat dingin karena wilayah itu berada di daerah pegunungan.

__ADS_1


Motor Andre pun memasuki sebuah pekarangan rumah yang begitu luas. Dilihat dari rumahnya, keluarga Andre merupakan orang berada di tempat itu. Sepanjang perjalanan saat menyusuri jalanan menuju rumah Andre, rumah di hadapan Irma saat ini adalah rumah paling besar yang dilihatnya.


Tampak Friska keluar dari rumah besar itu dan langsung berhambur kepelukkan Irma. Tak selang berapa lama dua orang paruh baya juga keluar dari rumah itu, menyambut kedatangan mereka.


"Mah, Yah, lihatlah, calon mantu kalian sudah tiba!" teriak Friska yang masih memeluk Irma.


"Kalau begitu jangan kamu cegat di sana, De. Sini, kenalin sama Ayah!" ucap lelaki paruh baya yang berada di depan pintu.


"Ayo, Kak." Friska menarik tangan Irma, mengajak wanita ke hadapan orang tuanya.


"Woi aku ditinggal!" protes Andre kepada Friska yang biasa menyambutnya, tetapi kali ini malah menganggurkannya. Sementara itu, Friska hanya menoleh ke arah suara sembari menjulurkan lidah, mengejek sang kakak.


"Mah, Yah, kenalkan ini Kak Irma, calon mantu kalian yang cantik, baik hati dan tidak sombong." Friska memperkenalkan Irma di hadapan kedua orang tuanya.


Ayah Andre hanya tersenyum saat mendengarkan penuturan Friska, tetapi tidak dengan mamahnya. Wajah ramah di telepon, berbanding terbalik dengan sikap yang diterima Irma saat ini. Mamah Andre menatapnya begitu sinis, ia bahkan meperhatikan Irma dari ujung kaki sampai ke kepala dengan ekspresi yang semakin membuat nyali si calon mantu menciut.


"A-assalamualaikum." Dengan seutas senyum yang ia tampilkan untuk menyembunyikan kegugupannya, Irma mengucap salam seraya salim dan mencium tangan ayah Andre.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Bagaimana kabarmu, Nak?"


"Baik, Om."


Selanjutnya, Irma mengulurkan tangan kepada ibu yang telah melahirkan kekasih untuk menyalaminya, tetapi sambutannya tak sehangat ayahnya Andre. Tangan Irma dibiarkan menggantung di udara. Mata wanita paruh baya itu, terus menatap Irma.


"Jadi dia yang ingin kamu kenalkan ke mamah, Dre?" tanyanya dengan nada suara yang seakan-akan tidak menyukai gadis pilihan Andre.


"Iya, Mah. Kenalkan dia Irma." Andre yang mengikuti adik dan kekasihnya, merasakan ada hawa tak beres dari sorot mata sang mama. 'Bukannya, mamah yang paling antusias ingin bertemu dengan Irma. Kenapa reaksinya jadi begini?' Andre mengalihkan pandangannya kepada ayahnya dan Friska, seakan-akan bertanya. Ada apa? Kedua orang itu pun hanya mengedigkan bahu, sama tak mengertinya.


Irma. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Apa yang ditakutkannya benar-benar menjadi kenyataan. Orang tua Andre tak menyukainya, bahkan dari hari pertama ia menginjakkan kaki di tanah kelahiran sang kekasih.


"Ternyata tak sesuai dengan diharapkan, ya! Di hape pacarmu terlihat cantik, tapi apa ini?" ujarnya sangat sinis, memandang rendah Irma.


"Mah! Irma sangat cantik bahkan sangat-sangat cantik. Sejak kapan mamah memandang orang dari penampilannya?" Andre menegur mamahnya. Ia tak menyangka mamahnya akan berbicara seperti itu.


Irma sendiri hanya bisa tersenyum pahit, walaubagaimana pun ia tak mau terlihat sedih. Mungkin, memang dia tak seperti harapan mamahnya Andre. Toh, setiap orang memiliki standarnya masing-masing. Meskipun, sudah pasti menyakitkan.

__ADS_1


Namun, yang tak disangka Irma, mamahnya Andre bahkan sampai menepis tangan Irma yang hendak bersalaman tanpa menghiraukan ucapan Andre, membuatnya semakin yakin ia tak akan diterima di keluarga Andre. "Nyesel mamah ... nyesel gak ikut Friska liburan ke sana. Ternyata kamu sangat cantik-tik-tik-tiiiiik, pantas saja anak mamah sampai tergila-gila padamu," ujar wanita itu seraya memeluk Irma. Irma dibuat mematung, wanita paruh baya itu telah membuatnya sport jantung. "Selamat datang, Sayang, di rumah kami." Ia mencium kening Irma penuh kasih.


__ADS_2