
Tangisan Bayi Kay menyambut hari yang cerah di hari ke lima ia berada di dunis. Kayla Azalea Dimara adalah nama yang dipersiapkan Naura dan Dimas jauh-jauh hari kalau Naura melahirkan anak perempuan. Dan nama itu pun tersemat pada bayi yang lahir dengan sehat itu.
Sejak hari ke dua Bayi Kayla sudah bisa dibawa pulang. Kini, suara tangisnya menggema di kamar yang sudah disiapkan khusus oleh Naura. Bayi cantik dan menggemaskan itu merasa lapar, setelah baru saja selesai dimandikan oleh Irma.
"Uluh-uluh ... keponakan bubu pengen mimi, ya? Bentar, ya, Baba sedang buatkan khusus untuk Baby Kay." Irma memangku Kayla yang baru saja selesai memakai baju. Membawa bayi itu duduk di kursi goyang busui dekat ranjang.
Kelahiran anak Naura membuat sepasang suami istri itu memiliki panggilan kesayangan baru yang juga akan menjadi panggilan kesayangan Kayla kepada mereka.
"Ini susunya, Sayang." Tidak selang berapa lama Andre pun menghampiri Irma, lalu memberikan sebotol susu yang dibuatnya.
Irma mengambil botol susu itu, lalu memberikannya kepada Kayla. Seketika tangis Kayla pun terhenti, bayi itu menghisap kuat-kuat dot yang ada di mulutnya.
"Terima kasih, Baba," ujar Irma dengan seutas senyum yang tertampil.
"Sama-sama. Tapi, tidak gratis." Senyum Andre mengembang sembari mendekatkan pipinya ke dekat wajah Irma.
Mengerti yang dimaksud sang suami, Irma pun mendaratkan sebuah kecupan di pipi lelaki yang sudah berseragam polisi itu. "Babamu masih pagi udah genit aja, Kay."
"Biar pun genit tapi bubumu juga suka, Kay," jawab Andre. Ia balas mencium pipi Irma juga Kayla. "Hari ini ke rumah sakit lagi?" tanya Andre kemudian, sambil memperhatikan Kayla yang sedang asyik menguras isi botol yang dipegang Irma.
"Iya, Ba. Apalagi hari ini Dimas juga kerja. Ara tidak ada yang menemani di sana."
"Kayla, bagaimana?"
"Ada mamah sama Tante Ana."
Andre hanya mengangguk.
Semenjak kejadian mengerikan itu, Irma dan keluarga bergantian menjenguk Naura. Apalagi, setelah Baby Kayla dibawa ke rumah, mereka juga harus berbagi tugas menjaga Naura dan Kayla. Bahkan, sejak kepulangan Kayla, Irma dan Andre tinggal di rumah Dimas. Mereka menggantikan Naura dan Dimas sementara waktu untuk menjaga bayi cantik itu dibantu juga oleh Ana dan Ranti. Irma mulai mengerti kenapa beberapa waktu lalu Naura selalu menunjukkan setiap detail persiapan untuk si bayi. Itulah yang disebut dengan firasat. Sementara itu, Dimas lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, meskipun ia juga kadang pulang untuk melepas rindu dengan Kayla.
__ADS_1
Setelah kedatangan Ana dan Ranti, Irma pun berangkat ke rumah sakit bersama Andre yang juga akan pergi bekerja.
"Baik-baik sama Oma dan Nenek, ya. Nanti sore bubu pulang lagi." Irma mencium Kayla di dalam gendongan Ranti.
"Ucapkan salam dari mamah untuk Ara, ya, Kak." Mata Ranti kembali berkaca-kaca mengingat anak bungsunya yang tak kunjung sadar.
Irma hanya mengangguk, lalu mengucap salam sambil mencium tangan Ranti dan pergi. Ia tahu hati mamahnya sangat sakit melihat keadaan Naura, begitu pun dengan hati Irma. Namun, bagaimana lagi, semua orang sudah berjuang. Sekarang hanya tinggal menunggu sebuah keajaiaban yang berharap segera datang.
Dimas baru saja selesai membersihkan tubuh si istri saat Andre dan Irma baru saja tiba di kamar inap Naura.
"Sekarang kamu sudah wangi lagi, Sayang. Cepat bangun, ya!" ujar Dimas sembari mencium kening Naura.
Pemandangan itu pun tak luput dari penglihatan Andre dan Irma. Irma sangat salut dengan cinta lelaki itu kepada sang adik. Dimas dengan telaten menjaga Naura, bahkan lelaki itu tak pernah membiarkan orang lain untuk memebersihkan tubuh si istri, hanya ia yang berhak.
Tanpa terasa, cairan bening kembali meleleh dari mata wanita berekerudung itu yang segera dihapus menggunakan punggung tangannya. Irma pun lantas menghampiri Dimas yang sudah duduk kembali di samping Naura.
"Iya, Kak. Ini juga rencananya mo pulang setelah Kakak sampai," jawab Dimas tanpa menoleh ke arah lawan bicara. Pandangan lelaki yang sedang menggenggam erat tangan sang istri hanya tertuju pada satu pusat, yakni mata Naura. Berharap mata indah itu akan segera terbuka.
"Ya, sudah. Irma sudah sampai. Pulang gih! Biar Naura Irma yang jaga. Di rumah Kayla pasti sudah merindukanmu," tutur Andre.
Kayla. Satu lagi belahan jiwa Dimas. Andre mengingatkan Dimas kalau ada cintanya yang lain yang juga butuh perhatiannya.
"Maafkan aku. Aku malah merepotkan kalian semua." Dimas menunduk, menempelkan wajahnya di ranjang si istri. Ia merasa dirinya sangat tak berguna. Istrinya terbaring tanpa sadarkan diri, sedangkan anaknya harus dijaga oleh keluarga yang lain dan semua ini karena ulah masalalunya. "Karena aku, istriku sampai koma. Karena aku anakku tidak bisa merasakan sentuhan mamanya, bahkan aku ayahnya pun tak punya banyak waktu untuknya dan akhirnya semua kena imbasnya. Kalian menjadi kerepotan ngurusin Baby Kay dan bolak-balik rumah sakit. Begitu pun dengan mamah dan mamah Ranti," tutur Dimas. Suara di balik wajah yang masih bersembunyi itu terdengar parau dan pundaknya juga bergetar.
Lima hari ke belakang, Dimas benar-benar down. Apalagi setelah mendengar penuturan Nadia. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi. Bahkan, kalau air mata bisa mengeluh, mereka sudah bosan keluar dari kedua mata Dimas.
Irma dan Andre saling pandang. Lalu, dengan gerakan kepala dan lirikan, Irma meminta si suami untuk menenangkan Dimas. Andre pun menghampiri lelaki yang masih tergugu sembari memegang tangan Naura.
"Dim, jangan terus menyalahkan dirimu sendiri! Semua ini takdir, bukan salahmu. Lagian kami tidak merasa direpotkan. Kita keluarga, sudah seharusnya seperti ini. Saling dukung, saling bantu dan saling menguatkan." Andre berujar sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu. "Kamu tidak boleh terus-terusan rapuh seperti ini! Kamu harus kuat untuk Naura dan Kayla," lanjut Andre.
__ADS_1
Dimas diam, mendengarkan setiap ucapan Andre yang memang benar adanya. Ia harus kuat. Ia tidak boleh rapuh seperti itu. Mungkin, dengan ia lebih semangat menghadapi hari -hari, Naura pun akan semakin terdorong untuk cepat bangun. Perlahan, Dimas mengangkat kepalanya, lalu bangun dari kursi dan memeluk sahabatnya itu.
"Terima kasih. Terima kasih selalu ada untukku dan keluarga kecilku," ucap Dimas. "Kamu benar, aku tidak boleh rapuh. Aku harus kuat demi anak dan istriku," lanjutnya.
Andre mengangguk sambil menepuk tubuh belakang Dimas. "Pulanglah! Anakmu sudah istriku dandanin sangat cantik. Kau pasti pangling liat princes kecilmu itu," ujar Andre sambil berseringai saat pelukan mereka terurai dan suasana pun sudah sedikit mencair.
"Ya, aku akan pulang. Aku juga sudah sangat merindukannya," jawab Dimas dengan seutas senyum yang juga tertampil.
Setelah berpamitan dan mencium kening Naura, Dimas pun pulang.
"Ini pasti berat untuk Dimas." Irma menatap punggung Dimas yang mulai menghilang seiring pintu kamar yang ditutup Dimas.
Andre yang juga memperhatikan kepergian Dimas, langsung merangkul bahu si istri. "Bukan hanya untuk Dimas, tapi untuk seluruh keluarga. Kita harus bisa menguatkan mereka, supaya mereka tidak terus larut dalam nestapa ini," ucap Andre, bijak.
Irma hanya mengangguk, kemudian duduk di kursi bekas Dimas duduk. Andre menemani si istri menjaga Naura, meskipun tidak lama karena lelaki itu harus berangkat kerja.
Selama menemani Naura, Irma tidak hentinya mengajak adiknya berbicara. Banyak yang ia ceritakan dari mulai urusan rumah, toko juga tentang baby Kayla dan cerita lainnya yang tentunya cerita bahagia. Meskipun Naura tak menanggapi ocehannya, tetapi Irma tak putus asa. Ia yakin adiknya bisa mendengar semua yang diceritakan.
"De, lihatlah! Tadi Mas Andre videoin Kayla waktu mandi sampai pakai baju. Baby Kay ngegemesin sekali. Dia itu mirip kamu tapi wajah Dimas dominan juga. Senyuman dia itu membuat semua orang jatuh cinta padanya." Irma menunjukan video saat ia memandikan Kayla.
Terlihat seperti orang bodoh. Irma tak peduli, memang ia seperti orang bodoh. Berbicara sendiri, menunjukkan video pada orang yang pada kenyataannya tidak bisa melihat apa yang ditunjukkannya.
Video itu terus ia putar. Irma yang sedang memandikan Kayla terus berbicara mengajak bayi itu bermain. Andre yang menjadi juru kamera juga terdengar mengajak bayi itu bermain, Kayla sendiri sesekali juga mengeluarkan suara khas bayi, hingga Kayla yang sedang dipakaikan baju oleh Irma tiba-tiba menangis keras. Irma lupa tidak menghilangkan cuplikan saat Kayla menangis kencang.
Suara yang terdengar di ponsel pun sangat nyaring, tanpa disadari tangisan itu membuat Naura teransang sampai data grafik di monitor langsung berubah yang membuat Irma langsung panik.
"De, kamu kenapa?" Ia segera memanggil dokter dengan air mata yang seketika luruh lagi.
Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau terjadi sesuatu pada Naura karena telah memperdengarkan tangisan Kayla.
__ADS_1