
Andre dan Irma kembali ke kamar hotel setelah menghabiskan seabreg makanan yang dipesan oleh Naura. Rasa begah karena isi perut yang melebihi kapasitas, membuat Andre langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Adikmu nyiksa kebangetan. Bukannya dapat tenaga buat lanjut tempur, yang adan tepar duluan karena tempur sama seafood tadi," gumam Andre yang masih tak habis pikir dengan kelakuan adik iparnya.
Naura memesan sebelas menu makanan, tetapi tak kuasa menghabiskan semua makananan yang terhidang. Perutnya yang sudah terisi oleh sebuah kehidupan baru, membuat wanita itu cepat lapar, tetapi cepat kenyang juga. Si ibu hamil pun memasrahkan semua hidangan itu kepada tiga orang yang bersamanya dan yang paling kalap dalam menghabiskan semua menu itu adalah lelaki yang sedang terkapar di atas kasur.
"Kan aku sudah bilang gak usah dihabiskan. Kamu sih ngeyel," jawab sang istri yang juga ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Andre.
"Sayang duit. Berapa uang Dimas yang keluar buat bayarin semua makanannya? Kan sayang buang duit gitu aja. Enak juga sih, makanannya." Andre menoleh ke arah Irma sambil memamerkan rentetan giginya.
"Berarti kalau gitu, Mas, aja yang doyan." Irma juga membalas senyum sang suami.
"Tapi, kayaknya bermain satu atau dua ronde bisa buat kalori yang menumpuk sedikit turun." Andre memainkan alisnya naik turun dengan pandangan yang tak hentinya menatap sang istri.
Irma hanya geleng-geleng, lalu bangun dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. "Udah kewalahan sama perut pun masih aja inget yang itu."
Andre pun mengikuti sang istri, beringsut ke dekat kepala ranjang, juga meneyenderkan tubuhnya—tepat di samping si istri. "Kalau untuk yang satu itu aku tak akan pernah lupa. Apalagi dengan kelihaian Mbak bikin aku semakin ketagihan," ujar Andre sembari merangkul bahu Irma.
"Kelihaian apa sih, Mas, bikin aku malu saja. Seolah-olah aku itu wanita liar, pemuas napsu kelas kakap saja." Irma memukul pelan tangan yang sudah bertengger di bahu serta wajah yang sudah memerah. Ia benar-benar malu oleh kelakuannya sendiri yang bisa-bisanya selalu tidak bisa mengontrol gelora yang membara saat bercinta dengan sang suami.
"Kelihaian dalam melayani suami. Yang pinter muasin suami bukan berarti wanita liar pemuas napsu kelas kakap, Sayang." Andre menelengkan wajahnya ke arah Irma dengan sebuah cubitan mendarat di pipi Irma. Lelaki itu dibuat gemas oleh persepsi wanita di sampingnya. "Aku suka. Jangan sampai kamu kurangi takarannya karena takut dibilang liar!" lanjut Andre, kembali menaik-turunkan alisnya, menggoda sang istri. "Apa mau bakar kalori lagi sekarang?"
"Aku mau ke kamar mandi," jawab Irma dengan senyum yang mengembang seraya turun dari ranjang, lalu berdiri hendak pergi ke tempat yang disebutkannya.
Namun, belum sempat melangkah, Andre kembali menarik lengan Irma sampai wanita itu terjatuh ke pangkuannya.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Andre kepada wanita di atas tubuhnya yang sudah terkunci dengan mata yang menatap intens si istri.
"Itu—"
"Kita ke surga lagi aja," potong Andre, lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibir Irma.
Andre kembali mengabsen setiap lekuk wajah Irma dengan bibirnya, hingga setiap jengkal tubuh sang istri tiada yang terlewat. Ia mencatat aroma tubuh sang istri dalam sesimpul sarafnya. Kembali membuat gambar-gambar merah kebiruan di setiap tempat yang ia sukai serta tangan yang terus bergerilya ke mana pun sesuka hati. Hingga, menghasilkan gelenyar aneh di tubuh Irma, membuat wanita itu semakin mengeratkan semua geraknya dala dekap. Aksi mereka terus berlanjut sampai kedua tubuh yang sudah tidak terbalut benang itu pun menuntut sesuatu lebih.
"Aww ...." Tiba-tiba rintihan Irma menghentikan Andre yang sedang menikmati tempat favorit pertamanya.
Andre yang sudah penuhi gelora asmara yang membara, mendongak sang istri yang tiba-tiba merintih seperti kesakitan. "Apa aku bermain terlalu kasar?" tanya Andre.
Irma menggeleng. "Perutku sakit! Aku mau ke toilet." Wanita itu mendorong tubuh yang mengungkung tubuhnya, lalu berlari ke kamar mandi tanpa memedulikan Andre yang diam mematung.
Dejavu. Baru kemarin dia melakukan hal itu, sekarang Irma membalasnya satu sama. Ditinggal pas sedang asyik-asyiknya.
"Siapa yang balas dendam? Aku beneran sakit perut," jawab Irma tanpa menoleh.
"Ish ...." Andre mendesis sembari memukul bantal, lalu menggigitnya karena gemas. Lagi dan lagi kegiatannya terganggu gangguan alam dadakan. "Sakit perut sepertinya musuh utamaku," gumamnya seraya mengacak-acak rambut.
Andre kembali bersorak, saat tidak perlu menunggu lama pintu kamar mandi kembali terbuka. Permainannya bisa di mulai lagi. Akan tetapi, Irma tidak keluar malah bersembunyi di balik pintu, hanya memperlihatkan kepala yang mengembul keluar.
"Mas, boleh minta tolong!" ucap Irma .
"Tentu saja," jawab Andre dengan senyum yang kembali menghiasi wajah. "Mau aku jemput dan gendong sampai sini? Boleh." Ia beranjak dari tempat tidur, hendak menghampiri Irma.
__ADS_1
"Bukan," jawab Irma, menghentikan langkah Andre. "Tolong ambilin roti di koper punyaku, Mas!" pintanya kemudian.
"Roti? Mau makan roti di kamar mandi?" tanya Andre keheranan, tetapi tak dapat jawaban dari Irma. Wanita itu malah meminta Andre untuk segera mengambilkan barang yang diinginkannya.
Meskipun sambil menggerutu, Andre tak ayal juga mencari barang yang disebut Irma. Ia membongkar isi koper Irma mencari roti yang disebut istrinya. Akan tetapi setelah mengobrak-abrik koper, Andre tak menemukan jenis roti apapun ada di sana.
"Mas, mana rotinya?" Irma sudah tak sabar, apalagi melihat sang suami yang malah mengeluarkan semua barang bawaannya.
"Roti yang mana? Enggak ada roti di sini," jawab Andre, kebingungan.
Seketika Irma tepuk jidat. Menyadari, mana mungkin kaum lelaki mengerti roti yang dimaksud Irma? Karena roti yang dimaksudnya berbeda arti dengan roti biasa yang gunanya untuk mengganjal perut.
"Mas, tolong ambilin barang dengan wadah warna pink." Irma mengulang ucapannya yang lebih mudah dipahami oleh Andre.
Andre pun mencari barang-barang warna pink yang ternyata tidak hanya satu jenis, membuat ia mengangkat setiap barang yang berwarna pink dan mengabsennya.
"Mas, aku minta pembalut!" teriak Irma yang semakin tak sabar melihat kelakuan suaminya.
"Owh, pembalut. Dari tadi ngomongnya yang jelas kayak gitu napa?" ujar Andre sambil mengambil barang yang disebut Irma. Namun, sejurus kemudian melotot sempurna, menyadari apa yang dipegangnya. "Hah! Pembalut?"
"Beneran pembalut?" Andre menatap sang istri dari kejauhan, bertanya kembali. Berharap pendengarannya tidak berfungsi dengan normal.
"Iya, Mas. Cepetan ambilin sini, sekalian sama pakaiannya juga."
Seketika tubuh Andre luruh ke lantai dengan tangan yang masih memegang sebuah benda bewarna pink. Ia menatap benda yang kata si istri di dalamnya berisi roti. Badan Andre teras tak bertulang, lemas, lunglai itulah yang dirasakannya. Sekarang bukan hanya dipending satu atau dua jam, tapi satu sampai dua minggu.
__ADS_1
"Mas!" teriakan Irma membuyarkan lamunan Andre.