Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
73


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 20.30, Andre tampak mondar-mandir di depan kamar saat melihat kedua orang tua dan adiknya masih berkumpul di ruang tengah.


Hufft!


Lelaki itu mengembuskan napasnya kasar. Waktu semakin larut, tetapi belum ada tanda-tanda orang-orang rumah masuk ke kamar masing-masing. 'Bagaimana aku bisa menemui Mbak Say kalau mereka masih pada ngejugrug di sana?' Andre berpikir keras supaya bisa membuat mereka segera masuk kamar. 'Ide brilian!' Sebuah ide konyol terlintas di kepalanya. Ia pun lantas bergegas keluar.


"Mau ke mana, Kak?" tanya Friska, melihat Andre tampak buru-buru.


Andre mengacungkan kunci motor yang dipegang, tanpa menoleh kepada orang yang mengajaknya bicara, bahkan langkahnya semakin cepat saja. "Mau masukkin motornya," ujarnya sambil berlalu. Sementara itu, Friska hanya ber-oh ria, percaya saja dengan yang diucapkan sang kakak.


Senyum tersungging di wajah Andre, begitu sampai di luar rumah. Matanya langsung tertuju pada sebuah benda yang terpasang di atap rumah. "Hari ini kau korbanku!" Andre menatap benda seperti tampah itu. Lantas ia pun mengambil tangga di belakang rumah sebagai akses untuk menuju benda di atas atap yang sering disebut parabola.


Andre tampak celinagak-celinguk melihat ke sana kemari, takut ada yang memergoki, lalu dengan buru-buru menaiki setiap anak tangga dan melancarkar aksinya—melepaskan konektor yang tersambung dengan parabola.


"Tiga ... dua ... satu!" Ia menghitung mundur, lalu sebuah teriakkan terdengar dari dalam rumah yang membuat Andre cekikikan sendiri. "Sukses jaya!"


Andre yang biasanya jadi tukang servis dadakan, kini jadi tukang merusak kesenangan orang, hanya demi bertemu sang pujaan hati yang selalu dibatasi oleh kedua orang tuanya dengan alasan yang tetap sama yaitu dipingit. Rencana berhasil, Andre pun dengan segera turun dan menyimpan kembali tangga ke tempat semula. Tak lupa memasukkan motor untuk membenarkan ucapannya kepada Friska.


Sembari memainkan kunci motor, senyum Andre terus mengembang atas keberhasilannya dan ia yakin selepas ini keluarganya pasti langsung ke kamar masing-masing. Dengan siulan merdu, lelaki itu pun kembali masuk ke rumah.


"Pasti mereka sedang kalang kabut?" gumamnya dengan senyum yang terus mengembang, mengingat kejahilan yang dilakukannya. Bahkan, terdengar pertengkaran kecil dari ketiga orang di ruang tengah yang saling menyalahkan karena sebelumnya mereka sedang berebut remote dan tiba-tiba tidak ada gambar sama sekali. Hal itu, membuat Andre semakin cekikikan sendiri.


Andre pun menghampiri para penghuni ruang tengah yang sudah mulai berpencar menuju tempat peraduan masing-masing begitu.

__ADS_1


"Kalian mau pada ke mana? Padahal aku baru saja mo gabung?" tanya Andre sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa, seolah-olah tidak tahu apa-apa.


"Siaran televisinya kayaknya gangguan, Kak. Enggak ada sinyal sama sekali, padahal enggak ada ujan. Mana acaranya lagi seru banget," ujar Friska yang juga ditimpali oleh Rita. "Atau mungkin gara-gara mamah nonton film warkop, jadi si Om Dono dan Kasino ngambek gak mau ditonton sama mamah. Mati deh, tivi-nya!" lanjut Friska yang masih kesal karena sedang asyik menonton acara drakor malah dipindahkan chanel-nya oleh sang mamah.


"Hush! Kalau ngomong suka aneh-aneh saja," tegur Rita yang tak terima ucapan si anak bungsu.


"Udah gak usah pada ribut! Di sini memang kadang gangguan tiba-tiba. Besok juga balik lagi." Andre mencoba berempati, meskipun hatinya bersorak gembira.


Semua orang pun memilih tuk masuk kamar masing-masing, begitu juga dengan Andre. Namun setelah dirasa aman, Andre keluar kembali dengan pakaian yang sudah wangi layaknya seseorang yang akan berkencan. Tak lupa, bunga yang dibelinya pun sudah di tangan dengan sebuah coklat berhiaskan pita. Dengan mengendap-endap, ia mencoba keluar dari rumah seperti seorang maling.


"Selamat!" ujarnya seraya mengelus dada begitu tiba di luar.


Di luar sudah sangat sepi, Ia pun langsung bergegas menuju rumah sebelah. Tak lupa, menghidu aroma baju, memastikan ia sudah wangi dan sempurna.


"Cari siapa?" tanyanya, begitu orang itu hendak mengetuk pintu. Andre yang penasaran pun menghampiri seorang lelaki yang sudah berada di depan pintu.


Orang itu pun berbalik badan saat mendengar suara Andre di belakangnya. "Maaf apa ini benar rumahnya Nona Alesha Irmania?" tanyanya.


Andre menatap lelaki di hadapannya dari atas dari bawah dan juga barang bawaan lelaki itu. "Iya. Saya suaminya. Ada apa?" tanya Andre lagi.


Tatapan Andre begitu tajam dan menusuk, membuat tubuh lelaki itu gemetar. "Ma-maaf, Mas. Saya seorang kurir, cuma mau mengantar paket." Lelaki yang mengaku sebagai kurir itu langsung meminta maaf dan memberikan paket itu kepada Andre.


Andre menerima paket bunga lili dengan sebuah kartu ucapan di dalamnya, lantas segera membacanya. Ternyata prediksinya benar adanya, membuat ia meremas kartu ucapan itu. "Lain kali kalau mau nganter paket liat waktu, Mas!" ujar Andre lagi, ketus. Sebenarnya yang jadi permasalahannya bukanlah si tukang kurir, tetapi si pengirim bunga itu.

__ADS_1


Si tukang kurir hanya mengiakan dan meminta maaf lagi, lalu tungganglanggang meninggalkan tempat itu. Sementara itu, seseorang yang juga sedang memperhatikan rumah Irma, tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dengan kedua tangan yang mengepal sempurna dan gigi-gigi yang saling beradu, matanya yang menyala itu menatap tajam penuh amarah kepada Andre.


"Ternyata kau benar-benar angkat bendera perang denganku. Dasar tak tahu diri! Apa di rumahnya tidak ada kaca, ya?" Andre memperhatikan bunga yang ditangannya, lalu membuangnya ke tong sampah. Namun, belum sempat mendarat di tempat sampah, Andre menarik kembali bunga itu dan lebih memilih membawa bunga itu ke samping rumah Irma—menemui sang kekasih dari balik jendela.


***


"Mas, pasti membuat si kurir ketakutan?" tebak Irma yang dijawab gelengan Andre. "Itu kenapa pula konektor parabola sampai dilepas?"


"Kalau gak dilepas sampai tengah malam pun aku gak bakal bisa berduaan kayak gini," ujar Andre. Keduanya pun tertawa begitu renyah mengingat tingkah-tingkah konyol Andre seharian ini.


Namun, tiba-tiba tawa Andre menghilang. Ia sejenak terdiam, mendongak menatap langit yang masih dihiasi taburan bintang.


"Ada apa?" Irma melirik Andre, lalu ikut mendongak juga.


Andre meraih tangan sang kekasih, menggenggamnya erat. "Aku percaya sama Mbak Say, tapi aku tak percaya sama Ryan. Sepertinya dia memang ada rasa sama Mbak Say. Bolehkah aku minta untuk menjauhi lelaki itu bila dia mencoba mendekati apapun alasannya. Untuk mencegah fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan." Andre menatap wajah yang masih menengadah itu.


Irma pun menoleh, membuat mata mereka saling beradu. Dengan senyum yang mengembang Irma memegang tangan yang sedang memegang tangan satu lagi. "Semua ucapan Mas adalah perintah bagiku. Sebagai calon istri yang baik aku akan menuruti semua yang Mas ucapkan, selagi itu baik untuk kita. Aku akan selalu menjaga kepercayaan Mas."


"Terima kasih, calon istri solehaku!" Andre mengusap pucuk rambut Irma. "Eh, liat deh ada bintang jatuh!" Tiba-tiba Andre menunjuk ke arah samping, spontan Irma pun menoleh ke arah yang ditunjuk lelaki itu.


"Udah, ah, aku mau pulang! Jangan lupa besok sidang, ya! Good night, mimpi indah!" Dengan senyum mengembang atas keberhasilannya melabui sang kekasih, Andre pun melompat dari jendela lalu meninggalkan Irma yang masih mematung atas perbuatan Andre.


"Mas, apa yang kau lakukan?" gumam Irma sambil memegang pipinya.

__ADS_1


Sementara itu, Andre terus berlalu sambil sesekali menoleh ke belakang dan kiss jarak jauh dengan senyum yang tak sedikit pun pudar. Sepertinya malam ini, Andre akan tidur dengan sangat pulas.


__ADS_2