
Di tengah-tengah para tamu yang sedang ikut berbahagia dengan kebahagiaan Irma dan Andre, terselip seseorang yang malah nangis sesegukkan dipelukkan sang suami. Bahkan, para tamu yang duduk di dekatnya tampak memperhatikan, tetapi ia tak peduli. Dimas yang sudah beberapa kali bertanya pun, tidak mendapatkan jawaban. Membuat lelaki itu kebingungan sendiri, sekaligus malu karena jadi pusat perhatian ke dua setelah sepasang pengantin.
"Aku benci Papol!" Sejurus kemudian Naura melepaskan diri dari pelukkan Dimas, lalu meninggalkan tenda dan masuk ke rumah.
'Hah! Apa salahku?' Dimas yang tidak tahu sebab-musabab perubahan mood si istri semakin kebingungan.
"Sayang, mau ke mana?" tanya Dimas sembari mengejar Naura.
"Ara kenapa?" Terdengar orang-orang di sekitar Dimas saling berbisik mempertanyakan sikap Naura. Namun, Dimas memilih tak mengindahkannya. Ia terus berjalan mengejar sang istri.
"Ara kenapa menangis, Dim?" Seorang kerabat yang berpapasan dengan Dimas juga bertanya.
"Entahlah, Mbak. Dia mendadak nangis, lalu pergi."
"Mungkin dia menangis bahagia karena Irma sudah mendapatkan kebahagiaannya. Itu hal biasa tidak perlu khawatir," ujarnya sambil menepuk bahu Dimas.
Dimas hanya mengangguk dengan seutas senyum yang tertampil, lalu pamit menyusul Naura. Semoga saja ucapan si kerabat itu memang benar, tetapi saat melihat gelagat si istri, ia juga yakin kalau ada hal lain yang dipikirkan Naura.
Lelaki berseragam polisi lengkap itu pun sampai di kamar, tampak Naura sedang berbaring sembari memeluk guling dengan isak tangis yang terdengar jelas. Dimas menutup pintu, lalu menghampiri sang istri yang sedang membelakanginya, lantas duduk di samping si istri.
"Sayang ada apa? Maaf, jika aku melakukan kesalahan." Tangan Dimas mengusap lembut kepala Naura. "Tapi, kalau boleh tahu kesalahanku apa? Biar Papolmu ini bisa memperbaikinya," lanjut Dimas dengan sangat hati-hati, takut si ibu hamil malah akan tersinggung.
Perlahan, Naura mengubah posisi tidurnya. Ia berbalik dengan guling yang masih setia dipeluk, lalu mendongak melihat wajah lelaki yang duduk di samping kepalanya dengan tangan yang tak berhenti mentrasferkan kasih sayang kepadanya. Sedikit senyum tertampil di wajah Naura saat melihat Dimas tersenyum begitu manis. Kemudian, pandangan Naura tertuju pada pakaian yang dikenakan Dimas, membuat ia kembali menangis.
"Aku benci Papol pakai seragam," ucap Naura di sela-sela tangisnya.
"Hah? Kok bisa?" gumam Dimas, tidak percaya dengan yang kata-kata yang keluar dari mulut istrinya. Bukankah, setiap hari ia memakai seragam? Dan wanita di sampingnya itu tidak pernah protes. Bahkan sebaliknya, Naura selalu memuji penampilan Dimas.
"Jadi seragam ini masalahnya?" Dimas menunjuk baju yang dipakainya dan dijawab anggukkan Naura. "Kalau gitu tunggu sebentar! Aku ganti pakaian dulu, biar gak nangis lagi," lanjutnya.
__ADS_1
Dimas pun beranjak dari tempat tidur, hendak mengganti baju yang mendadak tidak disukai sang istri. Demi Naura apapun akan dilakukan, itulah motonya saat ini. Namun, baru juga berdiri, Naura mencekal tangan Dimas, melarang lelaki itu pergi.
"Tapi, ganteng. Jangan ganti!" celetuk Naura yang membuat Dimas melongo.
'Hah! Apa yang terjadi dengan istriku?' Dimas semakin dibuat bingung. Ingin sekali ia menepuk jidatnya. Baru beberapa detik yang lalu Naura memintanya berganti pakaian dan sekarang malah mencegahnya.
"Enggak jadi ganti?" tanya Dimas memastikan.
Naura beringsut, lalu duduk dengan punggung menyender di kepala ranjang. Ia pun menggelang pasti. Dimas sendiri, langsung duduk di samping Naura begitu mendapat jawaban si istri. Ia merengkuh bahu Naura, membawa wanita itu kembali ke pelukannya.
Cukup lama Naura berada dipelukkan sang suami, tanpa ada kata yang saling terucap dari keduanya. "Apa karena dulu kita menikah dengan segudang perjanjian janji nikahan kita enggak pakai upacara pedang pora?" Naura yang sudah gatal ingin membombardir Dimas dengan seribu pertanyaan, akhirnya membuka suara sembari memainkan telunjuknya di dada Dimas.
'Apa masalah utamanya adalah pora?' Dimas baru menyadari perubahan sikap Naura terjadi setelah upacara pedang pora Irma dan Andre berlangsung. 'Kenapa aku gak peka?' Ia sampai merutuki dirinya sendiri.
"Sekarang kamu jadi perwira upacara pedang pora dinikahan sahabatmu. Tetapi di nikahan kita? Ah, mana ada yang kayak gituan. Teman seperjuanganmu yang hadir cuma segelintir orang." Naura membanding-bandingkan pernikahannya dengan pernikahan Irma.
"Apa karena kita nikah bukan karena cinta jadi kamu gak mau bersumpah di depan inspektur upacara seperti yang dilakukan Andre tadi?" tanya Naura lagi, mengingat Andre yang dengan lantang mengucapkan sumpah saat upacara berlangsung.
"Karena memang itu kenyataannya. Aku sadar pernikahan kita tidak didasari cinta, jadi aku pun tak berharap banyak. Tapi, melihat pernikahan kakak yang digelar seperti tadi, aku sedikit merasa iri. Aku membayangkan, aku yang berjalan di bawah gapura pedang, lalu diikuti oleh para prajurit berseragam dan mengucap sumpah bersama membuatku jadi pengen nangis." Naura berujar dengan air mata yang kembali menetes.
Tangan Dimas memegang dagu Naura, lalu mengangkat sedikit, membuat Naura mendongak ke arahnya, hingga mata mereka pun saling bertemu. "Maaf, telah membuatmu menangis." Dimas mencium kedua mata si istri, lalu mencium bibirnya juga. "Maaf juga, aku tidak peka pada perasaanmu," lanjutnya.
Naura tidak menjawab, hanya matanya tak berhenti menatap Dimas dan berakhir di bibir sang suami. "Aku maafkan, tapi ciumnya kurang lama."
Naura menarik tengkuk Dimas, membuat lelaki wajah Dimas kembali mendekat dan tak berjarak. Naura menempelkan bibirnya di bibir sang suami. Bukan menempelkan, tetapi lebih tepatnya lagi saling menautkan dan menikmati bibir pasangannya.
"Riasanku terlanjur udah ancur, sekalian aja rusakin lipstiknya sebelum dirombak lagi," ujar Naura, setelah tautan bibir mereka terlepas.
Dimas hanya mengulum senyum, tanpa ada niatan membala ucapan Naura. Ia lebih memilih memeluk sang istri lagi. "Biar gak terjadi salah paham, aku jawab pertanyaan kamu yang tadi, ya!" ujar Dimas sembari mengelus perut Naura. "Kita tidak melakukan prosesi pedang pora bukan karena kita nikah bukan atas dasar cinta, Sayang. Kamu tahu sendiri, kita nikah dalam masa pandemi yang masih sangat gawat. Aku tidak diizinkan untuk menggelar prosesi pedang pora dan jika tetap memaksa konsekwensi aku pasti dapat sangsi. Masih untung kalau cuma turun jabatan, gimana kalau langsung di-out?" Dimas menjelaskan alasan pernikahan mereka tidak mengadakan prosesi pedang pora.
__ADS_1
Begitu mendengar penjelasan Dimas, Naura menjadi merasa bersalah. "Maaf. Tanpa bertanya yang jelas, aku malah maen ngambek aja." Naura memegang telinganya sebelah, sembari meminta maaf, membuat Dimas semakin gemas dibuatnya.
"Dimaafin, tapi nengok debay dulu," ujar Dimas menggoda Naura yang langsung mendapat pukulan di lengannya.
"Iya kali orang lagi nerima tamu, kita malah main kuda-kudaan di sini," sungut Naura
"Orang lagi nerima tamu, ini juga malah nangis di sini." Dimas semakin menggoda si istri.
"Au, ah."
Naura lebih memilih beranjak dari tempat tidur, hendak membersihkan riasannya yang sudah berantakan. Meninggalkan Dimas yang masih mengumbar senyum, berhasil menggoda Naura.
"Bagaimana kalau kita adain resepsi ulang sekalian prosesi pedang poranya juga?" usul Dimas kemudian.
Naura yang sedang memoleskan bedak di wajah pun menghentikan aktivitasnya. Lantas menoleh ke arah Dimas dengan sebelah mata menyipit. "Resepsi ulang?" tanya balik, Naura.
Dimas pun mengangguk pasti.
"Ogah." Dan langsung mendapatkan penolakkan dari wanita yang tadi menangis sesegukkan. "Iya kali aku mau jadi penganten dengan perut besar kayaka gini. Gimana kalau si debay mendadak pengen brojol, yang ada gatot lagi acaranya." Naura menolak mentah-mentah usulan Dimas.
Jika dipikir dengan logika, ucapan Naura ada benarnya. Tidak mungkin mereka melaksanakan serangkaian acara yang dapat menguras tenaga itu dalam keadaan hamil besar, bisa-bisa Naura kelelahan dan mengancam keselamatan si ibu dan bayinya.
"Kalau gitu abis debay lahir," usul Dimas lagi.
"Nah, kalau itu bisa dipertimbangkan," jawab Naura dengan senyum yang mengembang. Karena sejujurnya, ia sangat ingin menjalankan prosesi yang dilakukan pasangan abdi negara yang menikah pada umumnya.
"Ok, deal. Kita laksanakan resepsi lagi setelah melahirkan," ujar Dimas sembari beranjak dari tempat tidur. Ia menghampiri si istri yang masih duduk di depan meja rias. "Apa belum selesai? Ini sudah terlalu cantik." Dimas memandang wajah sang istri dari balik cermin.
"Udah, kok."
__ADS_1
"Kalau gitu jangan lupa kado kita!" Dimas memberikan sebuah amplop yang hendak mereka berikan kepada sepasang pengantin itu.
Naura menatap amplop berwarna merah jambu itu, lalu beralih menatap Dimas. "Apa yakin mau memberikan amplop itu?" Mendadak, Naura tidak ikhlas memberikan isi yang ada di amplop tersebut.