Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
81


__ADS_3

"Apa Tante yakin akan menjadikan wanita mandul ini sebagai menantumu? Apa Tante ingin membuat masa depan kehidupan anak Tante suram karena tak bisa memiliki anak?" tanya Elsa lagi, dengan senyum jahat yang tersungging di bibirnya. Ia yakin, bisa membuat Irma kalah telak dengan ucapannya.


Mandul? Seketika, Rita dan ahmad dibuat membeku oleh ucapan Elsa. Rita tak tahu harus menjawab apa, ia sama sekali tak tahu menahu tentang itu. Begitu pun dengan Irma dan Ranti.


Irma sendiri tak menyangka keadaannya akan terungkap di hadapan orang tua Andre dengan cara seperti itu. Kebahagiaan yang sudah di depan mata, mungkinkah akan berakhir oleh ulah orang sama?


"Mandul? Jaga bicaramu anak muda! Jangan asal bicara! Kau bisa kena pasal pencemaran nama baik kalau mulutmu tidak bisa direm." Rita masih tidak percaya dengan ucapan Elsa.


"Aku tidak asal bicara karena itu kebenarannya. Bukan begitu Mbak Irma?" Elsa melirik Irma yang sudah pucat pasi, senyum kemenangan tersungging di wajah liciknya.


Irma hanya diam. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Ranti yang berada di samping Irma, langsung menggenggam tangan sang anak, memberikan kekuatan pada tangan yang sudah gemetar.


"Ir, itu tidak benarkan, Sayang?" Rita menoleh ke arah Irma yang ada di sampingnya sembari memegang bahu Irma. "Dia berbohong kan, Sayang? Kamu tidak pernah menceritakan apapun kepada Mamah," ujarnya lagi, meminta penjelasan calon menantunya.


Namun, Irma hanya terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Tidak ada rencana seperti ini di dalam hidupnya setelah keputusan bersama dengan Andre sewaktu di kota kelahiran Andre. Ia lupa, segala pun harus ada antisipasi. Meskipun ia dan Andre tak akan mengungkapnya, bukankah ada orang lain yang juga mengetahui kebenaran itu dan Irma melupakan hal itu.


"Sayang, jawab. Jangan biarkan dia terus menginjak-injak harga dirimu!" desak Rita lagi.

__ADS_1


Irma mendongak, menatap Ranti meminta bantuan yang hanya dijawab sang ibu oleh anggukan. Lalu, beralih menatap Ahmad yang juga mendapat anggukkan dari lelaki bersahaja itu.


"Itu ... itu .... i—" tangan Irma semakin dingin, keringat keluar semakin banyak. Ia masih kebingungan dalam memilih kata yang tepat untuk mengungkap semua itu.


"Dia tak bisa jawab karena ucapanku memang benar. Apa Tante tidak diberitahunya terlebih dahulu? Ternyata selain mandul, kau juga seorang penipu ya, Ir! Tega sekali kau menipu calon mertuamu dengan tidak memberitahukan kebenarannya. Kau benar-benar tak tahu diri," sarkas Elsa kemudian.


Penipu. Ranti tak terima dengan ucapan Elsa. Cukup sekali ia menyakiti anaknya, tetapi tidak untuk kali ini.


"Jaga bicaramu! Dia bukan penipu." Tiba-tiba suara berat Andre yang sudah dipenuhi emosi bergema di kedai, mengurungkan niat Ranti yang juga hendak mengatakan hal yang sama. "Kau telah mengganggu ketenangan orang lain. Sebaiknya kau pergi sebelum kena pasal dan aku akan menyeretmu ke kantor polisi." Andre menghampiri Elsa, menatap tajam ke arah Elsa yang sedang merasa di atas angin. "Jangan kau ganggu calon istriku. Atau kau akan menyesal telah membangunkan harimau yang sedang tidur," ujar Andre memelan, tetapi terdengar sangat dingin dan mencekam.


Amarah Andre sudah memuncak semenjak mendapat pesan dari Rita kalau Irma dilabrak seorang wanita tak dikenal dan memutuskan tuk menyusul mereka. Hingga, ia disuguhkan Irma yang semakin terpojok oleh pertanyaan sang mamah, membuat otot-ototnya menegang, kedua tangan Andre mengepal sempurna bahkan giginya saling beradu menahan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun. Dan, amarahnya semakin tak terkendali saat mendengar wanita yang sangat dicintainya seorang penipu.


"Memangnya kau tahu apa tentang calon istriku? Apa yang kau pikirkan, dengan menceritakan itu kepadaku? Asal kau tahu, aku lebih tahu dari dirimu. Aku tahu segalanya, tanpa kau harus bersusah payah membangunkan iblis dalam tubuhku terlebih dahulu," ujar Andre tanpa berhenti menatap tajam Elsa, membuat kedua orang tua Andre paham satu hal. Andre telah mengetahui semuanya dan menyembunyikannya dari mereka. "Pergilah kau! Sebelum aku melupakan segala batasan!" usir Andre.


Melihat ekspresi Andre yang semakin mengerikan, Elsa pun dibuat gemetar.


"Pergi!" bentak Andre lagi, membuat Elsa langsung tunggang langgang dari sana.

__ADS_1


"Kau pasti menyesal!" rutuk Elsa sebelum pergi.


"Apa kau tidak apa-apa?" Andre menangkup kedua pipi Irma, bertanya dengan penuh lemah lembut. Matanya langsung tertuju pada kerudung dan baju Irma yang basah. "Apa dia melakukan sesuatu?" tanyanya lagi, khawatir.


Irma menggeleng dengan air mata yang terus mengalir. Perbuatan Elsa kali ini sangat mengguncang Irma. Berbagai ketakutan berkelebatan di kepala wanita itu. Hal yang paling ia takutkan, kedua orang tua Andre tidak akan menerimanya.


"Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berubah." Andre membawa Irma ke dalam pelukkannya, tanpa peduli ada orang tuanya di sana. Ia hanya ingin menenangkan Irma.


"Jadi semua yang dikatakan wanita itu benar dan kamu sudah mengetahuinya, Dre?" tanya Rita yang tampak syok dan mencoba mencerna semua yang terjadi.


"Aku jelaskan nanti di rumah, Mah."


Jawaban Andre masih ambigu, tetapi sudah menjawab semuanya. Membuat Rita lemas dan tiba-tiba selera makannya menghilang.


"Kalau gitu kita pulang saja. Jelaskan semuanya di rumah." Rita melangkah keluar, tanpa menoleh ke arah Andre dan Irma, yang diikuti oleh Ahmad juga. Tergurat kekecewaan yang mendalam terhadap kedua orang itu.


"Mari kita jelaskan semuanya. Sudah seharusnya kedua orang tuamu tahu yang sebenarnya." Ranti menepuk bahu Andre, lalu pergi juga.

__ADS_1


Kepergian Ranti, bertepatan dengan para pelayan yang datang membawa baso pesanan mereka.


"Maaf telah membuat keributan." Andre meminta maaf atas keributan yang telah terjadi, lalu menyodorkan sejumlah uang untuk baso yang telah keluarganya pesan.


__ADS_2