Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
85


__ADS_3

"Mati kau!" Suara itu terdengar beberapa kali terucap dari sebuah ruangan. Andre yang tahu persis suara siapa yang berucap langsung bergegas menuju sumber suara yang belum tahu keberadaannya. Dengan tergesa-gesa lelaki yang masih berseragam polisi itu, menyeret kakinya mencari di mana suara itu berasal. Hati Andre semakin dibuat tak karuan, mendengar kata 'mati' dan suara pukulan semakin jelas begitu ia hampir sampai di sebuah ruangan.


"Ra, apa yang kau lakukan?" gumam Andre begitu sampai di ruangan yang ternyata merupakan ruang makan yang menyatu dengan dapur.


Andre terpaku di sana, tubuhnya terasa lemas seketika. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mungkinkah, si ibu Bhayangkari akan terjerat kasus karena masalah yang sedang menimpa Irma dan keluarganya? Bagaimana pertanggungjawabannya kepada sang sahabat? Apa yang akan terjadi dengan Dimas? Semua berkecamuk di kepala Andre.


"Ra, apa yang kamu lakukan?" tanya Andre lagi dengan suara yang lebih tinggi, menghampiri Naura yang memegang tongkat dan tampak Ryan tengkurap didekatnya dengan sebagian tubuhnya berada di bawah meja.


"Akhirnya mati juga!" Naura tersenyum puas dengan tongkat yang masih di tangan. "Eh, kakak iparku datang juga. Kau telat datangnya!" Naura menoleh ke arah suara yang bertanya kepadanya dengan senyum yang masih terukir.


"Ra, apa yang kamu lakukan? Kamu bisa masuk penjara." Andre merampas tongkat dari tangan Naura dan melemparnya sembarang arah. "Bukan seperti ini cara menyelesaikan masalah, Ra? Ini malah menambah masalah. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memborgol calon adik iparku sendiri?"


Andre tampak begitu frustrasi. Kejahatan di depan mata dan calon adik iparnya sebagai pelaku. Apa yang harus dilakukannya sebagai seorang polisi yang tidak boleh pandang bulu. Sementara itu, Naura malah dibuat kebingungan oleh ucapan Andre.


"Kamu ngomong apa, sih?" tanya Naura yang masih merasa tidak bersalah.


"Ra, jangan bercanda! Ini tidak lucu. Kamu menghabisi orang dan malah nanya aku ngomong apa?" Andre dibuat greget oleh kelakuan Naura.


Naura terdiam. Ia mencoba mencerna ucapan Andre dan menelaah ketegangan yang terjadi di wajah lelaki itu. Hingga, tawanya pun menggelegar di ruang makan tersebut.


"Apa kau kira aku membunuh dia?" tanya Naura dengan tangan menunjuk orang yang sedang merangkak mundur dari kolong meja, lalu berdiri dengan sebuah makhluk di tangan lelaki itu.

__ADS_1


"Aku telah menghabisinya. Kau tak perlu takut lagi," ujar Ryan mengacungkan lengan dengan hewan yang disebut monster oleh Naura, sudah tidak bernyawa.


Sementara itu, Naura semakin terpingkal-pingkal tanpa memperhatikan Andre yang masih tegang dan malah tampak kebingungan.


"Dia! Mau ngapain ke sini?" tunjuk Ryan yang menyadari kehadiran Andre di sana.


"Mau menangkapmu karena telah menghabisi kecoa," ujar Naura dengan tawa yang masih menghiasi wajahnya.


"Hah?!" Ryan menyipitkan sebelah matanya, mendengar ucapan Naura yang tak masuk akal.


"Tanya aja sama yang bersangkutan," timpal Nuara. "Ya, Tuhan. Perut dan mulutku senam mulu abis marah-marah sekarang tawa-tawa gak jelas, bikin perut semakin lapar saja." Tanpa memedulikan ekspresi Andre, Naura menarik kursi lalu duduk dan menikmati hidangan di atas meja yang hendak ia lahap, tetapi terganggu oleh kedatangan kecoa. Sehingga ia dan Ryan harus berperang membasmi monster paling di takutinya terlebih dahulu.


'Apa sebenarnya yang terjadi? Sepertinya aku mikir kejauhan. Malah sekarang mereka tampak akur.' Andre masih mencoba meresapi semua yang terjadi, tetapi malah membuat kepalanya semakin pusing. Ia pun menarik kursi dan duduk di samping Naura. Memperhatikan ibu hamil yang sedang menikmati sepiring mie goreng dengan telur ceplok dengan begitu lahap.


"Laper banget, Ra?" tanya Andre yang tanpa sadar menelan salivanya melihat Naura menikmati mie goreng, membuatnya membayangkan mie goreng itu menari-nari di mulutnya.


"Hooh. Tenagaku terkuras habis dan itu semua gara-gara ulah kalian." Naura mendelik ke arah Andre dengan mulut yang dipenuhi mie.


"Pelan-pelan makannya." Ryan menyodorkan segelas air dan langsung mendapatkan ucapan terima kasih dari Naura. "Nanti kalau terjadi sesuatu, aku lagi yang jadi sasaran," ujar Ryan dengan mata yang menatap tajam Andre, lalu berjalan memutari meja—duduk di seberang Naura.


Sikap Ryan yang tampak lembut kepada Naura dan begitupun sebaliknya, membuat kepala Andre dipenuhi sejut tanda tanya.

__ADS_1


"Kenapa malah bengong? Apa lapar juga? Sana buat sendiri! Tenang aja stok mie dan telur masih banyak," seloroh Ryan lagi, menyadari Andre memperhatikannya dan Naura secara bergantian.


"Aku tidak lapar," jawab Andre, ketus.


"Pemobohong besar. Aku lihat sendiri kau menelan ludah saat Ara memakan mie," sanggah Ryan lagi.


Namun, Andre tidak menghiraukan ucapan Ryan dan kembali bertanya kepda Naura yang masih sibuk dengan makanan di piring. "Ra, sebenarnya apa yang terjadi? Kakakmu begitu mengkhawatirkanmu. Di depan juga acak-acakkan gak karuan. Kamu gak berbuat anarkis kan?" tanya Andre.


"Apa aku terlihat memiliki jiwa anarkis?" Mata Naura menyipit sebelah, menatap Andre.


'Sangat. Mungkin juga setelah berbuat anarkis, kamu malah numpang makan di sini. Itu jawaban yang paling mendekati.' Andre berujar dalam hati.


"Tidak juga, tetapi khawatir boleh kan? Lalu di mana istrinya dia yang hendak kamu jadiin perkedel itu?" tanya Andre lagi sambil menunjuk Ryan, mengingat ucapan Irma tentang itu.


"Istri dia sudah ke laut, tanpa harus aku yang membereskannya. Udah ah, aku lapar. Tanya mendetailnya, tanya sama dia saja." Naura juga menunjuk Ryan. "Satu lagi, sebaiknya kalian jadi teman saja, tak baik bermusuhan. Sudah jelas juga siapa yang dipilih Kak Irma. Yang kalah harus legowo terima kekalahannya," lanjutnya sebelum kembali menghabiskan mie-nya.


Istri dia ke laut? Andre semakin dibuat pusing oleh semua ucapan-ucapan ibu hamil itu. Kalau hanya menerka-nerka terus, tidak akan baik bagi kesehatannya. Andre mengalihkan pandangannya ke arah Ryan. menatap tajam lelaki itu.


"Apa sebenarnya yang terjadi? Pernikahanku di ujung tanduk karena ulahmu dan istrimu?"


Hai-hai kakak readers semuanya. Maaf off-nya kelamaan hampir seminggu 🙏🙏 biasalah mabokku masih terus berlanjut padahal udah mulai trisemester ke 2 🤧🤧. Niat hati ingin tamatin Bang Andre di penghujung bulan oktober, tapi apalah daya mangkrak karena keseringan bolong. Semoga kalian masih betah, meskipun bolong-bolong up-nya. Sehat selalu untuk kita semua 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2