
Perut Naura semakin membuncit. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dan dengan berat badan yang semakin hari semakin meningkat membuat wanita itu pun cepat merasa lelah. Bahkan, Dimas sejak tujuh bulan masa kehamilan Naura sudah memindahkan kamar mereka ke kamar bawah supaya istrinya itu tidak terlalu menguras tenaga untuk naik dan turun tangga. Sekarang, kehamilan Naura sudah menginjak sembilan bulan. Hanya tinggal menghitung hari, buah hati Naura dan Dimas akan lahir dan melengkapi kesempurnaan keluarga kecil nan bahagia mereka, meskipun pernikahan mereka di awali oleh sebuah perjodohan yang terkesan dipaksakan.
Semua orang pun sudah sangat menanti anggota baru itu bergabung dengan mereka. Hadiah-hadiah juga sudah menumpuk di kamar, padahal tidak satu pun dari mereka yang tahu anak yang akan lahir itu seorang putra atau putri.
Mata Naura memindai seisi kamar yang ia desain sendiri, kamar bernuansa ceria khusus untuk si jabang bayi. Dengan furniture-furniture di dalamnya yang sebagian besar adalah hadiah dari pihak keluarga.
"Lihatlah, Sayang, semua orang sudah menanti kehadiranmu di sini! Semua ini hadiah dari seluruh keluarga kita." Naura mengajak anaknya berbicara sembari mengelu-elus bagian perut yang terlihat menyembul, ada pergerakan di sana. "Kamu pasti sangat senang seluruh keluarga menyayangimu," ujarnya lagi dengan seutas senyum yang tertampil. Seakan ingin menjawab ucapan sang mama, bayi di dalam perut Naura kembali bergerak membuat Naura tersenyum lebar. "Anak pintar! Mama senang, setiap mama ajak bicara kamu selalu merespon."
Pembicaraan Naura dan si jabang bayi pun terhenti, saat seseorang menghampiri Naura.
"Pantas saja aku memanggilmu tak nyahut-ngahut, ternyata di sini." Irma yang berkunjung ke rumah Naura, berkali-kali memanggil nama si adik. Akan tetapi tidak ada sahutan, membuatnya masuk ke rumah yang tidak terkunci itu.
Naura menoleh ke arah suara dan menampilkan senyum terindahnya. "Kakak sudah datang. Maaf, tadi aku asyik mengobrol sama debay," ujar Naura seraya berhambur memeluk Irma.
Menjelang hari kelahiran anaknya, Naura selalu berhambur kepelukan orang-orang terdekat dan memeluk mereka erat, seakan-akan itu adalah pelukan terakhir darinya.
"Tidak masalah, masih bisa buka pintu sendiri juga," imbuh Irma, dengan senyum juga menghiasi wajah wanita yang memakai blouse lengan panjang dengan rok panjang dan kerudung itu.
"Sebelum kita masak, aku mau tunjukin Kakak sesuatu." Naura menarik Irma, menuju sebuah lemari putih di dekat box bayi. "Kak, aku dan Dimas sudah menata semua peralatan bayi di sini. Apa menurut Kakak masih ada yang kurang?" Wanita itu membuka setiap pintu lemari, memperlihatkan semua yang ada di dalam.
Irma memperhatikan setiap benda yang tersusun rapi di sana, kemudian ia menggeleng menandakan semua sudah komplit.
__ADS_1
"Ah, baguslah! Setidaknya aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Jadi nanti tidak perlu grasak-grusuk," ucap Naura lagi sembari memeluk Irma lagi.
Irma hanya tersenyum. Ia tahu setiap orang akan sangat antusias dengan kehadiran seorang buah hati, tetapi entah mengapa ia merasakan ada yang aneh dengan sikap Naura beberapa hari ke belakang. Kadang pikiran buruk menghinggapi kepalanya yang selalu segera ia tepis. Bahkan, untuk menghilangkan pikiran buruknya Irma sampai ikut saat pemeriksaan kandungan Naura yang terakhir dan menurut dokter pun tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kondisi ibu dan anak dalam keadaan baik. Membuat Irma berpikir ketakutannya sangat tak beralasan.
"Persiapan buat debay udah seratus persen. Sekarang giliran persiapan buat bikin suami kita kenyang." Naura tersenyum puas dengan semua yang sudah dipersiapkannya, lalu beranjak dari kamar itu menuju dapur.
Dari semenjak semalam, Naura dan Irma sudah merencanakan akan mengantar bekal bersama ke tempat kerja Dimas dan Andre serta makan bersama di sana. Sementara itu, tempat yang mereka pilih untuk mengeksekusi semua makanannya di rumah Naura. Kakak beradik itu pun berkutat di dapur dengan segala bahan masakan yang dibeli Irma saat berangkat ke rumah Naura. Gelak tawa mengiringi acara memasak mereka, apalagi saat Naura menceritakan ketika awal-awal Naura belajar masak dengan hasil yang amburadul, tetapi tanpa menolak lelaki itu menghabiskan hasil karyanya.
"Berarti dia sangat mencintaimu. Dia tak mau membuat kamu terluka karena dia menolak masakan yang kamu berikan," ujar Irma sembari menepuk bahu Naura.
Naura mengangguk, bahkan ia ingat betul di usia kehamilan menginjak 4 bulan, Dimas pernah merengek meminta ia menghidangkan masakan amburadul itu lagi. Momen-momen yang tidak akan pernah Naura lupakan sampai kapan pun.
Hampir satu jam, Naura dan Irma berkutat di dapur sampai keduanya berhasil mengeksekusi beberapa menu makan siang mereka. Nasi putih, tumis kangkung, ayam goreng, tahu dan tempe goreng, bakwan jagung serta sambal tomat sudah tersaji di rantang.
Setelah membersihkan diri, keduanya pun berangkat menggunakan taksi menuju sebuah posko penjagaan di Jalan X yang menjadi tempat Dimas dan Andre menjalankan tugasnya. Suami Irma dan Naura sedang menggelar Operasi Patuh jaya selama dua minggu. Senyum Naura terus mengembang dengan tangan yang masih menenteng rantang di atas pangkuannya. Ini kejutan untuk sang suami, sudah lama ia tak pernah mengantar makanan secara langsung, hanya menitipkan bekal Dimas kepada Irma.
"Seneng banget kayaknya," ujar Irma yang pandangannya tak pernah lepas dari Naura.
"Tentunya. Apalagi isi bekal hari ini makanan kesukaan Papol." Ujung bibir Naura terus tertarik, membentuk senyum yang seharian ini tidak pernah pudar. Hari yang menurut Naura sangat spesial dan membuatnya terasa sangat bahagia, meskipun ia sendiri tidak tahu sebabnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, seakan-akan tak punya beban apa pun. "Apa aku sudah cantik? Aku gak bakal malu-maluin Papol, meskipun perutku besar kan?" tanya Naura lagi sambil bercermin di kamera selfi ponselnya.
Irma hanya menggeleng sambil senyum-senyum. Sudah lebih dari lima kali, Naura menanyakan hal yang sama semenjak selesai berdandan. "Kamu cantik, De. Sangat cantik malah. Aku yakin bukan hanya Dimas yang akan terpesona, tapi seluruh orang yang ada di sana."
__ADS_1
"Termasuk Kak Andre?" Naura menyipitkan sebelah matanya.
"Itu terkecuali, dia kan punya aku yang sebelas dua belas cantiknya sama kamu," jawab Irma, nyegir kuda. Bukan kebiasaannya memuji diri sendiri.
Naura hanya menaikkan bibir atasnya, tak menyangka sang kakak juga bisa merasakan bucin akut.
Mobil yang ditumpangi kakak beradik itu tiba di tempat yang dituju. Setelah membayar ongkos, Naura dan Irma bergegas turun. Dimas dan Andre yang ditemani dua rekan lainnya tampak sudah bersantai. Andre dan dua temannya sedang mengobrol di dalam posko, sedangkan Dimas tampak sedang berdiri luar posko dengan mata yang fokus ke layar ponsel yang sedang dipegang, menghubungi seseorang.
Sementara itu, orang yang dihubungi Dimas sedang berjalan dengan Irma ke arah posko dengan masing-masing menenteng satu rantang. Ia sengaja tidak menerima panggilan Dimas karena ingin memberi kejutan saat dirinya tiba-tiba ada di hadapan si suami. Senyum terus mengembang, tak sabar ingin segera berada di hadapan Dimas yang hanya tinggal beberapa langkah. Namun, senyum Naura langsung memudar saat wanita itu melihat seseorang berlaga aneh di seberang jalan. Ia memperhatikan orang itu, lalu beralih memandang Dimas yang masih sibuk menghubunginya.
"Tidak, jangan," gumam Naura sembari mempercepat langkahnya.
"De, hati-hati jalannya!" Irma menegur Naura, tetapi tidak didengar Naura. Langakah eanita itu semakin cepat.
"Kejutan!" Beberapa detik kemudian, Naura sudah berada di depan Dimas dan langsung memeluk lelaki yang masih mendial nomor Naura.
"Ra?" Dimas terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Naura di hadapannya.
Naura mengurai sedikit pelukannya, menatap Dimas dengan senyum yang begitu cantik, lalu memeluk kembali Dimas dengan sangat erat. "Iya. Ini aku. Aku merindukanmu. Aku mencintai ... mu!" ujar Naura dengan suara yang semakin melemah bersamaan dengan teriakan Irma serta rantang yang digenggam mereka pun terjatuh bersamaan.
"Tidak! Ra!" teriak Irma histeris.
__ADS_1