Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
40


__ADS_3

Setelah berjalan cukup jauh dari tempat sepi, Andre menepikan kembali motornya di dekat sebuah gerobak pedagang pecel lele. Ia yang belum makan semenjak pulang kerja, memilih menikmati makanan yang dijajakan pedagang pinggir jalan tersebut untuk acara malam berdua mereka. Selain itu untuk memenuhi permintaan Irma—tempatnya tidak terlalu ramai oleh pengunjung.


Andre pun memesan dua porsi makanan untuknya dan Irma, lalu memilih tempat duduk di bawah pohon rindang yang sudah dihiasi oleh lampu kerlap-kerlip dan di tambah musik yang dipendengarkan dari speaker aktif membuat suasana makan di tepi jalan tak kalah dengan suasana cafe. Ia begitu menikmati sedapnya nasi putih hangat dengan pecel lele, tempe dan tahu goreng tak lupa sayur mentah dan sambal juga masuk ke mulut yang sudah sangat lapar itu.


Begitupun dengan Irma, energinya terkuras habis setelah menangis tak kunjung berhenti dari magrib sampai sang adik datang, membuat perut keroncongan minta diisi penuh. Bahkan, ia sampai menghabiskan makanan di piring tanpa tersisa sedikit pun.


"Apa mau nambah lagi?" tanya Andre yang masih menghabiskan makanan yang tersisa di piring.


"Enggak. Terima kasih, aku sudah kenyang." Irma berujar seraya membersihkan mulutnya dengan tisu. 'Aku gak ada jaim-jaimnya, malu-maluin aja. Dia aja belum selesai makan, punyaku malah udah ludes entah ke mana.' Irma mendumel sendiri dalam hati, merutuki dirinya yang makan seperti orang tidak makan satu minggu.


Ya, memang benar juga, seminggu ini wanita itu tak ada napsu makan sekali. Makan malam bersama Andre kali inilah yang membuat selera makannya kembali ada, malah bisa dibilang meningkat dua kali lipat. Andai, tak malu ia sudah memesan satu porsi lagi karena cacingnya masih ada yang berdemo tidak kebagian jatah. Hingga, Irma hanya bisa menatap sembari menelan ludahnya saat Andre masih sibuk dengan suapan terakhir di piring.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Andre, sembari membersihkan mulutnya.


"Si-siapa yang melihatmu? Aku hanya sedang melihat lampu kerlap-kerlip di belakangmu, sambil berpikir apa gak cape mereka kerlap-kerlip mulu? " Irma dibuat gelapan karena ketahuan memperhatikan lelaki di hadapannya, sehingga mecari alasan yang tak jelas.


"Aku semakin ganteng, ya?" tanya Andre lagi, tak memedulikan jawaban Irma.


"Sudah aku bilang aku tak memperhatikanmu." Irma tetap berkilah.

__ADS_1


"Aku tahu, aku semakin ganteng, sampai-sampai kegantenganku membuatmu kesal seminggu ini. Maafkan aku." Andre meraih tangan Irma yang berada di atas meja, menggenggamnya begitu erat. Cukup sudah kepura-puraan seminggu ini karena bukan hanya Irma yang tersiksa, dirinya pun sama tersiksanya oleh ulahnya sendiri.


"Untuk apa minta maaf? Kamu tak salah."


"Aku salah telah membuatmu kesal, bahkan telah membuatmu harus menutupi mata indahmu itu dengan kacamata hitam. Maafkan aku." Andre mendaratkan kecupan di tangan yang masih di genggamnya. Rasa sesal terbersit di hati lelaki itu, ia tak menyangka perbuatannya telah membuat wanita pujaannya meneteskan banyak air mata. "Aku berjanji tak akan pernah membiarkan air matamu tumpah lagi. Cukup sekali aku membuatmu menangis. Maafkan aku!" Kata maaf tak henti-hentinya keluar dari mulut Andre.


Irma menarik tangannya dari genggaman Andre. Ia semakin yakin kalau Andre tak mendengar pembicaraannya dengan Naura secara utuh.


"Kenapa? Apa kamu tak mau memaafkanku? Bukankah kamu juga mencintaiku?" Andre tersentak, mendapati tangan itu menjauh.


Irma menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sedikit keberanian yang ia punya. Sebelum semuanya terlanjur jauh, Irma memutuskan mengikuti perkataan adiknya, selanjutnya keputusan ada di tangan Andre.


"Memang percakapan apalagi? Bagiku ungkapan cintamu itu sudah lebih cukup."


"Itu tak cukup. Untuk apa semua kata cinta, kalau nyatanya cintaku tak akan pernah bisa membuatmu bahagia. Kamu berhak bahagia dengan wanita yang bisa membahagiakanmu." Hati Irma kembali terasa teriris saat harus mengungkapkan kata-kata itu lagi.


"Dan aku hanya akan bahagia jika bersamamu."


"Kamu bilang seperti itu karena kamu belum tahu semuanya tentang aku."

__ADS_1


Andre kembali meraih tangan yang sudah terasa dingin dengan keringat yang sudah keluar dari setiap porinya. Menatap wanita itu penuh cinta. "Aku tahu semuanya. Kamu tak perlu mengucapkan sesuatu yang akan menyakitkanmu karena itu juga akan menyakitiku. Aku tahu semuanya dan itu tak akan mengubah perasaanku kepadamu. Aku tetap mencintaimu dan aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun. Impianku adalah menua bersamamu, menghabiskan hari-hari kita bersama. Aku tak peduli dengan hal yang lainnya, asalkan kamu bersamaku itu sudah cukup," tutur Andre panjang lebar.


Andre memang sudah mendengar semua yang mereka diucapkan di kamar Irma tanpa terkecuali. Karena sebenarnya, ia yang tak bisa menunggu hingga esok, langsung mengikuti Naura untuk menjelaskan secara langsung kesalahpahaman antara dirinya dan Irma. Hingga, tangan Andre yang hendak mengetuk pintu kamar terhenti oleh tangisan Irma yang sedang menumpahkan isi hatinya kepada Naura.


"Kamu tak perlu menceritakan apa pun lagi, kecuali satu kalimat yang kamu ucapkan untukku saat di kamar itu. Bukan yang lain. Mau kah kamu mengucapkannya lagi?"


"Tapi—"


"Tidak ada tapi dalam kalimat itu."


Dari kacamata hitamnya, Irma bisa melihat betapa Andre begitu serius dengan semua ucapannya, membuat ia semakin terenyuh oleh semua sikap lelaki di hadapannya itu.


"Apa kamu ingin aku mendiamkanmu lagi?" tanya Andre kemudian.


"Bukan seperti itu. Tapi, masa iya cewek nembak cowok." Irma dibuat salah tingkah oleh ucapannya sendiri, tetapi ia juga tak mau didiamkan lagi.


"Aku juga tak mau nembak lagi, kalau ujung-ujungnya ditolak mulu." Andre juga tak mau kalah.


"Kali ini gak ditolak." Setelah mendengar ucapan Andre, Irma memutuskan tuk mencoba menjalani hubungan ini. Bukankah keduannya saling mencintai? Dan berharap Andre bisa memegang kata-katanya. Jika tak mencoba, bagaimana ia bisa tahu keseriusan dari ucapan lelaki di hadapannya.

__ADS_1


"Baiklah, karena kamu sudah janji tak akan menolak aku akan mengulanginya lagi. Aku mo to the point saja, lagi males berpuitis-puitis ria." Senyum tertampil di bibir Andre, ia tak menyangka penantiannya akan segera membuahkan hasil. "Alesha Irmania, Mbak tercantik di seluruh dunia, izinkanlah pengejar cintamu ini mengungkapkan isi hatinya untukmu. Mbak Irma tersayang aku telah lama menaruh hati untukmu. Hati, jiwa, pikiran dan raga ini hanya dipenuhi oleh namamu seorang. Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Apakah kau mau menerima cinta dari lelaki hina ini? Maukah kau menjadi udaraku? Yang menemaniku disetiap embusan napasku, memberi warna disetiap hariku."


__ADS_2