Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
104


__ADS_3

Belum puas menikmati suasana pantai, selepas Magrib setelah melaksanakan kewajiban mereka kepada Sang Pencipta, Irma dan Andre kembali menjelajahi dunia sekitar pantai di malam hari. Suara debur ombak dan embusan angin malam menemani pasangan suami istri yang menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan yang dilewati mereka disuguhkan para penjaja serba-serbi khas pantai serta pedagang makanan yang semakin malam semakin ramai saja.


"Kita mau ke mana?" tanya Irma, setelah cukup lama berjalan kaki.


Andre tampak berpikir. Dari tadi keduanya hanya berjalan menikmati jalanan area pantai, tanpa tahu arah tujuan mereka. "Karokean, mau?" Lelaki itu menunjuk sebuah tempat dengan kerlap-kerlip lampu aneka warna yang sepertinya ramai pengunjung.


Irma dengan cepat menggeleng sembari memberikan cubitan di pinggang sang suami. Bisa-bisanya Andre mengajak dirinya ke tempat seperti itu, tempat yang sarat dengan hal-hal yang tidak baik, bahkan tak jarang jadi target penggrebekan.


"Maaf," ujar Andre sembari memamerkan rentetan giginya. "Kata ibu-ibu pedagang sosis di depan ada pasar malam. Apa mau coba ke sana?" tanya Andre kemudian.


Untuk ajakan yang satu itu, Irma langsung berbinar. Tanpa pikir panjang, ia segera mengiakan tawaran sang suami.


Irma dan Andre pun kembali menyusuri jalan yang masih ramai oleh para turis juga penduduk lokal di sana. Setelah berjalan beberapa ratus meter, keduanya sampai di sebuah lapangan luas yang sudah ramai oleh pengunjung. Dengan antusias sepasang suami istri itu langsung berbaur dengan para pengunjung lain, menjajal area bermain yang hanya buka pada malam hari saja ditemani permen kapas dan popcorn.


Hingga di tengah keasyikan keduanya, mata mereka menangkap sosok yang mereka kenal sedang berada di lokasi pembelian tiket bianglala.


"Bukannya itu Ara dan Dimas, ya?" Irma menunjuk ke arah dua orang yang sangat dikenal. "Iya, itu mereka," ujarnya begitu yakin.


"Akhirnya, dia luluh juga." Andre menimpali. Andre merasa lega karena Dimas mau memenuhi keinginan Naura. Setidaknya, ia tidak merasa bersalah lagi karena telah menjadi akar utama tangisan adik iparnya itu.


"Kita samperin mereka, yuk!"

__ADS_1


Irma melangkah hendak menghampiri Naura dan Dimas, tetapi pergerakkan wanita itu terhenti oleh Andre yang tiba-tiba mecekal tangannya.


"Kita cari tempat lain saja, ya!" ajak Andre dengan seringai lebar menghiasi bibir.


"Kenapa? Bukannya tadi bilang mo naik bianglala juga."


"Enggak jadi. Cari wahana lain saja. Kalau dengan mereka endingnya bisa ditebak."


Andre yang tak mau kebersamaannya diganggu oleh Naura, langsung menarik lengan sang istri menjauhi area bianglala. Irma pun mengikutinya tanpa membantah. Membuat mereka seperti orang yang sedang main kucing-kucingan dengan Naura dan Dimas, sampai akhirnya bisa keluar dari pasar malam tanpa bertemu dua orang berhoodie itu sekali pun.


Bermain berbagai jenis permainan di pasar malam membuat sepasang suami istri itu diserang rasa lapar yang mulai melilit perut. Perut mereka berkali-kali menghasilkan bunyi nyaring yang membuat keduanya menertawakan perut tak berakhlak mereka. Sembari jalan pulang, Irma dan Andre mencari tempat makan, hingga pilihan tertuju pada sebuah restoran seafood yang berada di pinggir pantai.


Andre menggenggam tangan sang istri, berjalan memasuki rumah makan seafood dengan nuansa beach club dengan sentuhan tropis. Restoran yang memiliki konsep indoor dan outdoor dengan lampu-lampu lampion menghiasi area itu serta aksen kayu yang mendominasi bangunan tersebut menambahkan kesan hangat dan instragamble bagi pengunjung. Ditambah lagi, adanya musik live semakin membuat betah para pengunjung, termasuk Irma dan Andre. Tidak ingin melewatkan suasana tempat instragamble, sembari menunggu pesanan datang, dua sejoli itu pun asyik berselfie ria.


"Hai!" sapa seseorang dengan senyum mengembang sembari melambai. Ia yang tak lain adalah Naura. Orang yang Andre hindari sejak di pasar malam, kini ada di hadapan mereka.


"De? Akhirnya ke sini juga?" tanya Irma, pura-pura baru mengetahui keberadaan Naura dan Dimas di daerah itu, lalu memeluk sang adik.


"Iya, dong! Boleh ikut gabung di sini, kan?" tanya Naura yang dijawab anggukkan Irma, kemudian duduk di kursi kosong depan Irma.


"Tentu saja boleh. Itung-itung double date," jawab Irma dengan senyum yang juga tertampil di bibirnya.

__ADS_1


Berbeda dengan Andre, ia yang masih ingin berduaan saja dengan sang istri hanya bisa membuang napas kasar. Tak rela waktunya terganggu oleh si adik ipar dan sudah pasti perhatian Irma juga akan teralihkan.


"Masih banyak waktu buat berduaan. Nanti bisa lanjut sepuasnya di kamar hotel. Aku gak bakal ganggu," ujar Naura, melirik Andre seolah-olah tahu isi hati lelaki itu.


Dimas yang juga baru selesai memesan makanan pun ikut begabung. Ia menepuk bahu sang sahabat begitu mendengar ucapan istrinya.


"Sabar. Bukannya mengayomi istri juga tugas seorang polisi? Itu sih yang aku dengar dari seseorang tadi pagi. Dan, aku sedang mencoba menjalankannya. Karena istriku sedang mau makan bersama kalian di sini," bisik Dimas, lalu duduk di dekat Naura dan berhadapan dengan Andre.


Andre hanya mendelik yang mendapat balasan seringai lebar dari Dimas.


Niat makan malam romantis berdua di tempat yang super romantis dan instragamble, akhirnya berubah menjadi double date antara kakak-adik dengan suami-suaminya. Pembicaraan hangat yang diselangi percekcokkan ringan antara Naura dan Andre mewarnai kebersamaan mereka sembari menunggu makanan siap dihidangkan.


Setelah cukup lama menunggu, hidangan dari olahan seafood segar yang mereka pilih sendiri pun sudah tersaji di atas meja. Nasi goreng seafood, nasi putih, kepiting saus padang, kepiting goreng, cumi saus tiram, lobster goreng, lobster bakar, kerang saus padang, ikan bakar kakap putih, udang asam manis, cah kangkung serta empat jenis minuman yang mereka pesan sudah memenuhi meja.


Mata Naura langsung berbinar melihat semua yang ia pesan sudah tersaji di depan mata. Berbeda dengan Irma dan Andre, keduanya melongo melihat banyaknya makanan yang tersaji, sedangkan mereka hanya memesan tiga jenis makanan saja.


"Ra, ini buat satu RT?" tanya Andre.


"Buat kita berempat, biar kamu semakin kuat berselancar di atas kasur." Naura berujar tanpa filter sedikit pun, membuat orang di meja sebelah menoleh ke arah mereka dan mendadak Andre tersendak padahal belum ada makanan yang masuk.


"Ra, mulutnya!" gumam Andre.

__ADS_1


Naura tak peduli, hanya mengedikkan bahu, lalu menikmati makanan yang sudah menari-nari di lidah semenjak melihat poster di depan parkiran.


__ADS_2