Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 26


__ADS_3

Saat melihat kondisi Friska, Ryan pun dengan segera menghentikan taxi yang lewat dan membawa gadis itu pulang.


Sakit di kakinya semakin menjalar, belum lagi siku yang lecet-lecet semakin menambah kesakitan Friska. Jika tidak malu oleh Ryan, ingin rasanya ia menangis sejadi-jadinya. Namun, Friska juga tidak mau dipijat selain oleh Andre, sehingga ia lebih memilih minta diantar pulang oleh Ryan.


"Fris, mending coba dipijit aja, ya! Aku juga bisa, kok!" Ryan kembali menawarkan jasa, tetapi tetap ditolak Friska.


"Enggak, Kak. Suruh cepetan aja yang bawa mobilnya," gumam Friska dengan suara yang sudah mulai serak karena isak tangis.


Ryan hanya bisa menghela napas panjang, lalu meminta si sopir untuk mempercepat laju mobilnya. Ia yang sedang membawa Alvino dalam gendongannya, hanya bisa mengkhawatirkan Friska tanpa bisa berbuat apa-apa karena gadis itu menolak untuk dipijit.


"Sabar, sebentar lagi kita sampai," ucap Ryan sambil mengusap bahu yang terus bergetar karena isak tangis.


Friska hanya menjawab dengan anggukan, rasa sakitnya membuat gadis itu enggan tuk berbicara. Meskipun di dalam hati, ia terus mengomeli dirinya sendiri yang tidak bisa lebih kuat sedikit dan tidak menangis.


'Fris kamu malu-maluin sekali, masa di depan orang yang kamu suka nangis kejer kayak gini? Hancur sudah penilaiannya terhadapmu,' rutuk Friska.


Namun, mau bagaimana lagi, air mata itu spontan terus keluar seiring bertambahnya rasa sakit. Hingga, taxi yang ditumpangi Friska dan Ryan sampai di rumah Andre. Dengan segera, Ryan turun sambil menggendong Alvino di tangan kanan dan memapah Friska di sebelah kiri.


Sementara itu, dua orang yang sedang duduk di kursi teras menatap ke arah mereka dengan tak berkedip.


"De kau lari sampai mana? Kok, bisa barengan sama Ryan? Eh, kau apakan adikku? Kenapa dia sampai nangis begitu?" tanya Andre. Bukannya membantu Ryan yang sedang kesusahan memapah Friska sambil menggendong Alvino, lelaki itu malah mencecar dua orang itu dengan pertanyaan, apalagi saat melihat adiknya menangis.


"Bisa tidak, nanyanya nanti saja?" ujar Ryan yang mulai kesal dengan dua orang yang malah menonton kesusahannya.

__ADS_1


Kemudian dengan kompak, Andre dan Dimas menghampiri Ryan. Yang satu mengambil Alvino dan yang satu membantu Ryan memapah Friska, membawa gadis itu ke kursi.


"Apa yang terjadi?" tanya Andre.


"Kakiku terkilir," jawab Friska dengan air mata yang mulai membasahi kembali pipinya. "Ah, sakit sekali ...." Gadis yang sepanjang perjalanan menahan diri langsung menangis sejadi-jadinya di hadapan sang kakak.


"Yaelah, cuma terkilir lebay amat! Yang mana yang sakit?"


Friska menunjuk kaki kanannya, Andre pun lantas membuka sepatu sang adik, lalu menggerakan pergelangan kaki Friska dan memberikan pijatan yang cukup keras untuk membenarkan kembali posisi persendian yang bergeser.


Friska yang kesakitan, spontan memeluk lelaki yang berdiri di samping kursi tempatnya duduk. "Kak, sakit!" teriak Friska yang sedang bersembunyi memeluk paha Ryan.


"Eh ...." Ryan yang kaget hanya diam mematung karena sesuatu tersundul kening gadis itu, yang tepat berada di depan adik Ryan yang merespon dengan begitu cepat.


Mendengar teriakan Andre, Friska langsung tersadar. Namun, ia belum sadar sedang memeluk apa, hingga merasakan ada sesuatu yang keras menempel dengan keningnya. "Aku memeluk apa?" gumam Friska sangat pelan, lalu perlahan membuka mata hingga ia dibuat terbelalak ketika sadar apa yang dipeluknya.


"Eh!" Friska langsung melepaskan pelukannya. "Maaf, aku main peluk saja," ujar Friska dengan wajah yang sudah memerah karena malu. "Aku sudah membaik, aku permisi." Ia yang tidak bisa menyembunyikan rasa malunya lantas berlari masuk ke rumah, tanpa memedulikan kakinya yang masih sakit.


"Jangan dibawa lari! Entar geser lagi," teriak Andre, tetapi tidak dipedulikan oleh Friska.


Selepas Friska pergi, Andre menatap Ryan dengan penuh selidik. Dan, melihat hal itu, Dimas pun memilih masuk ke rumah dengan berdalih ingin mengajak Alvino bermain dengan Kayla.


Sementara itu, lelaki yang ditatap Andre masih diam mematung.

__ADS_1


'Perasaan macam apa ini?' tanya Ryan pada dirinya sendiri. Jantungnya bekerja lebih keras dengan kecepatan yang melebihi biasanya, bahkan ia merasa seakan-akan si jantung akan meloncat dari tempatnya saat Friska memeluknya tadi.


"Bagaimana bisa bertemu Friska?" tanya Andre membuyarkan lamunan Andre.


"Aku bertemu dengan dia pertigaan yang tidak jauh dari rumahku," jawab Ryan.


"What? Yang benar saja? Apa dia joging sampai ke sana?" Andre terperangah mendengar penuturan Ryan karena jarak dari rumahnya ke rumah Ryan sangatlah jauh. 'Apa dia nekad sampai mencari tahu rumah Ryan segala?'


Ryan sendiri hanya mengedigkan bahu karena dirinya juga belum bertanya lebih jauh. Keadaan Friska yang sepanjang perjalanan terus menangis membuatnya tidak bertanya apa-apa perihal gadis itu yang ada di dekat rumahnya.


"Lalu bagaimana dia bisa terkilir?" tanya Andre lagi layaknya seorang intel yang sedang melakukan penyelidikan.


Ryan pun menceritakan tentang keteledorannya yang hampir saja membuat Alvino serta Friska celaka. Ia yang tadi sedang menerima telepon lupa mengunci roda kereta dorong Alvino, sehingga kereta itu melesat menuruni jalanan yang menurun. Dan, saat Ryan tersadar, Alvino sudah sangat jauh. Kemudian, Friska yang melihat kejadian itu langsung menolong Alvino hingga kakinya terkilir.


Andre hanya mangut-mangut mendengar cerita Ryan dengan pikiran yang mulai berkelana setelah mendengar penuturan lelaki itu. 'Mungkinkan ini yang dinamakan jodoh? Kemarin Ryan yang nolong Friska, sekarang Friska yang nolong Ryan. Masa iya sih, aku iparan dengan Ryan? Lalu Dewi bagaimana? Keluargaku juga bagaimana?'


"Dre, aku minta maaf telah membuat Friska kesakitan seperti tadi. Aku sungguh-sungguh tidak sengaja. Aku juga berterima kasih karena berkat adikmu, Alvino baik-baik saja. Aku tidak bisa membayangkan kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Al. Sekali lagi terima kasih," tandas Ryan.


Akan tetapi, Andre tidak merespon.


"Dre!" Ryan menepuk bahu Andre.


"Apa kamu menyukai adikku?" Tiba-tiba pertanyaan itu lagi yang telontar dari mulut Andre.

__ADS_1


"Hah?!" Sementara yang ditanya malah mengkerungkan alis. Ia merasa pembicaraan mereka tidak nyambung.


__ADS_2