
Di saat orang lain sudah bersantai-santai dengan keluarganya, lelaki itu baru saja menginjakkan kaki di depan rumah setelah seharian bergelut dengan tugasnya sebagai pengayom masyarakat. Ditambah lagi, di detik-detik akan pulang ia menerima kabar ada sebuah kecelakaan beruntun di jalan X, yang mengharuskannya menunda waktu pulang dan baru bisa kembali ke rumah selepas Isya. Langkah gontai Andre berjalan memasuki rumah dengan wajah yang sudah sangat kusut.
"Wah, yang bentar lagi jadi pengantin makin gencar aja kerjanya tanpa lelah. Semangat! Aku suka perjuanganmu kisanak!" celoteh Friska yang melihat Andre berjalan ke arahnya.
"Kalau ngomong, ya!" Andre melucuti topi yang dipakai, lalu memukulkannya ke kepala Friska, sehingga membuat adiknya meringis.
"Aku memujimu, kenapa malah kena pukul?" protes Friska.
Tanpa memedulikan ucapan Friska, Andre menghampiri kedua orang tuanya yang juga ada di ruang tamu, mencium tangan ke dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu, lalu pergi ke kamar untuk membersihkan tubuh yang sudah lengket oleh keringat.
Guyuran air dari shower, memijat perlahan kepala dan tubuh Andre. Membuat Andre bisa merasakan rileksasi setelah kepenatan yang didapatnya seharian ini. Aroma mint dari shampo dan sabun yang dipakai, mengembalikan kembali kebugaran tubuh Andre yang hampir saja terkuras habis.
"Ah ... seger!" Andre menjatuhkan tubuhnya di dekat Friska, tak lupa ia mengibaskan rambut pendeknya yang masih basah ke arah Friska. Sehingga anak gadis itu protes karena kena cipratan air dari rambut si kakak.
"Basah, Kak!"
"EGP." Andre menoleh kepada gadis di sampingnya sembari menjulurkan lidah, mengejek, membuat si gadis mencebik kesal. Begitulah jika kedua kakak beradik itu bersama, pasti ada saja yang diributkan mereka.
"Makan malam dulu, gih! Nanti keburu larut malam," perintah Rita kepada anak lelakinya.
"Nanti saja, Mah. Belum napsu makan." jawab Andre yang malah memilih berbaring di sofa dengan kedua kaki yang sengaja ia tindihkan ke paha Friska.
__ADS_1
"Enggak bakal napsu makan dia, Mah! Pengennya makan disuapin sama Kak Irma, pasti dia langsung lahap," ejek Friska, mengingat Andre yang tak hentinya merajuk karena tak diizinkan pergi bersama Irma.
"Bisa jadi, tuh! Siapa tahu kalau makan disuapin pacar, ingatanku teralihkan. Liat jalanan yang menjadi merah buat kakak gak napsu liat makanan apa pun."
"Itu, sih, maumu!" Friska memukul kaki yang sedang posisi enak di atas pahanya. "Apa Kakak abis nanganin kecelakaan beruntun di jalan X?" tanya Friska, seketika ingat berita yang menjadi tranding topik sore tadi. Andre pun mengangguk, mengiakan. "Ih, liat di tv aja serem banget. Apalagi, liatnya langsung." Friska bergidig ngeri.
"Makanya jangan malah ngeledek! Pijitin napa?"
Friska hanya mencebik, tetapi tak urung mengerjakan permintaan sang kakak pula. Sementara itu, Ahmad dan Rita hanya mendengarkan Andre bercerita tentang kecelakaan yang baru saja ditanganinya. Friska yang melihat beritanya di televisi pun sesekali ikut menimpali. Hingga, Rita teringat tentang kejadian tadi siang dan langsung melaporkannya kepada si anak.
"Dre, tadi mamah dan Irma ketemu mantan suami Irma," ujar Rita yang mengagetkan Andre.
"Apa, Mah?" Saking kagetnya, Andre langsung duduk. "Apa dia ngapa-ngapain Irma?" Wajah Andre tampak begitu khawatir. Ia takut Ryan berbuat kasar, seperti yang sudah-sudah.
"Dia orang sableng, Mah. Apa dia kasar sama Irma? Biar aku hajar dia sekalian."
"Kasar gimana? Yang ada dia kayak orang yang baru ketemu bidadari turun dari kayangan, wajahnya itu gak bisa berbohong kalau dia menyukai calon istrimu." Rita mengerucutkan bibirnya, ia kesal kalau mengingat ekspresi wajah Ryan yang menurutnya sangat memuakkan.
Bukannya cemburu atau marah, calon istrinya disukai orang lain, Andre malah tertawa terbahak-bahak. Menurutnya, lelaki yang tega berbuat kasar kepada Irma tak mungkin menyukai wanita kesayangannya itu.
"Kenapa malah tertawa? Apa ada yang lucu?" Rita memicingkan sebelah matanya, heran dengan eksepresi Andre yang malah tertawa lepas. "Kalau dia merebut Irma baru nangis bombay kamu, Dre!"
__ADS_1
"Enggak bakalan mungkin, Mah. Aku tahu lelaki itu dan aku yakin Irma juga gak bakalan mau kembali sama lelaki itu."
"Sebegitu yakinnya?" tanya Rita.
Andre mengangguk pasti, lalu ia menceritakan kehidupan kelam yang dialami Irma selama membina keluarga dengan Ryan. Bukan hanya kekerasan batin, tetapi juga kekerasan Fisik yang didapat Irma. Mendengar cerita lengkap dari Andre, membuat Rita merasa bersalah telah mempertanyakan cinta Irma terhadap Andre.
"Tapi, Dre, yang mamah liat lelaki itu sepertinya terpesona kepada Irma. Sifat manusia kan bisa saja berubah. Bagaimana kalau dia nekad mau merebut Irma dari kamu?" Rita masih saja dirundung ketakutan.
"Ya, rebut kembali saja," jawab Andre dengan entengnya.
"Dre, kadang orang yang suka nekad kayak dia punya seribu satu cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Kamu juga harus waspada." Ahmad yang semenjak tadi jadi pendengar setia juga ikut menimpali.
"Kalau dia punya seribu satu cara, aku punya sejuta cara. Mamah dan Ayah enggak perlu khawatir." Andre mencoba menenangkan.
"Biar enggak direbut, makanya kasih waktu aku dan Irma berdua. Biar dia gak ngerasa boring sama aku." Dengan senyum yang tertampil, bisa-bisanya Andre memanfaatkan kekhawatiran orang tuanya sebagai momentum supaya diberi waktu berdua bersama sang kekasih.
"Dasar maumu!" Friska kembali memukul Andre.
"Usaha," ujar Andre seraya berbisik.
"Besok kalau fiting baju pengantin, mamah izinkan kalian pergi berdua." Tiba-tiba sebuah angin segar berembus di telinga Andre, membuat lelaki itu kegirangan dan langsung memeluk Rita dan menghujaninya dengan ciuman seraya mengucap berribu terima kasih.
__ADS_1
"Tiba-tiba aku langsung lapar. Harus punya tenaga buat jalan bareng sama sang kekasih ini mah." Andre memamerkan rentetan giginya.