
"Tuyul? Maksudnya gimana?" tanya Andre saat mendengar ucapan terakhir sang pujaan hati, sedangkan ia sendiri masih belum sadar dengan keadaannya.
Irma terus berjalan meninggalkan Andre seolah tak mendengar pertanyaan dirinya. Hingga, wanita itu berada di ambang pintu, ia berhenti sejenak, "lihat saja di cermin," ucap Irma, lalu menutup pintu dan benar-benar pergi dari rumahnya.
"Tuyul? Lihat pada cermin? Apa maksud wanita itu?" tanya Andre pada dirinya sendiri selepas kepergian Irma. "Dasar aneh!"
"Hhh ...." Ia mencium aroma jamu yang dipegang, lalu menjauhkan kembali gelas yang dipegang. "Baunya enggak enak sekali. Tapi, apa iya harus kubuang? Tante Ranti sudah cape-cape bikin, masa iya suruh dimakan sama westafel? Bisa-bisa dapat gelar calon mantu durhaka." Andre masih menatap gelas di tangan yang sengaja ia jauhkan dari indra penciumannya. "Bawa ke kamar sajalah," lanjutnya.
Andre pun melenggang ke kamar membawa segelas jamu yang belum diicipnya sama sekali. Setiba di kamar, ia langsung menyimpan gelas itu di atas nakas. "Eh, kenapa pakaian berserakan di sini?" Lelaki itu menatap aneh pada pakaian yang berserakan di lantai. Sambil bersiul, ia memunguti pakaian tersebut dan menyimpannya di keranjang baju kotor. "Bentar dulu ... bukannya ini baju harusnya nempel di tubuh? Kenapa malah di lantai?" Andre memperhatikan pakaian yang masih dipegangnya dan bersiap mendarat di keranjang.
Iris hitamnya masih menatap intens baju di tangan, ingatannya sedikit terbuka, lantas ia pun menunduk, pandangannya beralih ke tubuh yang tidak memakai pakaian. "Oh, ya, ampun! Pantas saja Irma menyebutku tuyul," pekik Andre, menyadari keadaannya yang tak layak dilihat oleh lawan jenis maupun sesama jenis. "Bisa ancur reputasiku," gerutunya sambil melempar kasar pakaian ke dalam keranjang.
Tak ingin wanitanya berpikir yang macama-macam, Andre segera mengambil pakaian di dalam lemari dan buru-buru mengenakannya untuk segera menemui Irma. "Sialan! Kenapa sampai lupa kalau aku ke kamar mandi gak pakai apa-apa? Kebiasaan yang harus segera diubah." Andre terus mengumpati kecerobohannya yang sudah menjadi kebiasaannya. Ya, karena setiap kali ia akan membuang hajat, Andre pasti melepas seluruh pakaiannya—dan masih untung tadi masih menggunakan underware. Bisa dibayangkan seperti apa malunya seorang Andre, bila pakaian yang satu itu juga terlepas dari tubuhnya?.
__ADS_1
Sebelum pergi ia meneguk habis jamu yang tersimpan di atas nakas. Rasa pahit dan bau aneh dari ramuan jamu dengan sedikit rasa manis itu, tak lagi dihiraukan Andre. Ia meminumnya dalam satu tegukan, kemudian membawa gelas bekas jamu tersebut menuju si pengantar jamu tadi.
"Apa yang ada di pikiran Irma tentang diriku?" gumam Andre yang sudah berdiri di depan pintu rumah bercat pink itu. Dengan tak sabar ia mengetuk pintu tersebut.
Sementara itu di dalam rumah, Irma yang sepulang dari rumah Andre langsung ikut bergabung dengan sang mama menonton televisi, tampak sedang senyum-senyum sendiri. Bukan karena acara yang ditontonnya, karena acara di telivisi sedang menayangkan sinetron melow pembuat si penontonnya nangis bombay. Bahkan, Ranti sudah menghabiskan setengah bungkus tisu.
"Lagi tanggung-tanggungnya kenapa malah iklan?" gerutu Ranti. "Sinetron sedih, kenapa malah senyam-senyum sendiri?" tanyanya kepada Irma, sambil mengusap air mata yang terus mengalir sampai-sampai cairan dari hidung juga ikut mengalir.
"Jorok apanya? Ini mamah buang biar gak jorok. Lagian kamu aneh, film bikin mewek kamu malah senyam-senyum kayak orang kesambet. Hayoh, ada apa?" Ranti berujar penuh selidik.
Ada tuyul tampan. Ingin sekali wanita itu menjawab seperti itu, tetapi mana mungkin ia berani buka suara seperti itu. "Enggak kenapa-kenapa. Pengen aja, selagi belum ada undang-undang yang melarang untuk tersenyum," jawabnya dengan rentetan gigi yang sengaja ditampilkan.
"Pasti ada sesuatu." Ranti tak percaya begitu saja. "Hayoh, ada apa?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Belum sempat Irma menjawab, terdengar pintu di ketuk, membuat wanita itu langsung mengalihkan topik pembicaraan.
"Ada tamu, Mah!"
"Buka, sana! Tanggung, filmnya sudah mulai lagi," ujar Ranti yang sudah mulai fokus pada layar televisi lagi.
Daripada mamahnya memperpanjang tentang alasan senyum-senyum sendiri dirinya, Irma lebih memilih mengiakan perintah Ranti. "Ya, tunggu sebentar!" teriak Irma, lalu beranjak dan segera pergi ke depan.
"Ish, gak sabaran banget, sih!" gerutu Irma saat mendengar pintu terus diketuk oleh si tamu. "Sebentar," teriaknya sambil membuka pintu.
"Hai!" ucap Andre dengan senyum yang tertampil begitu pintu terbuka lebar.
"Ha ... hai!" Melihat Andre di depannya malah membuat Irma gugup. Bukan apa-apa, pasalnya yang ada dipikiran Irma bukanlah Andre yang ada dihadapannya, melainkan Andre yang bergaya ala tuyul. 'Otakku sudah mulai tak beres.' Irma menggerak-gerakkan kepalanya, mengusir pikiran ngawur yang memenuhi isi kepalanya.
__ADS_1