
'Kalau kayak gini bisa panjang urusannya.'
Andre yang begitu terlena akan penampilan si istri tanpa sadar telah memberikan jawaban-jawaban yang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ia harus bergerak cepat jika tak mau semua bertambah runyam, mengingat Irma begitu sensitif dengan namanya orang ke tiga.
Lelaki itu beringsut mendekati Irma kembali. Ia berbaring di samping Irma yang masih membelakanginya dengan tubuh yang sengaja dibuat menempel di punggung si istri. Satu tangan dijadikan Andre sebagai bantal kepala yang tidur memiring, sedangkan tangan satu lagi merangkul erat perut Irma.
"Sayang, sepertinya kamu sudah salah paham," ujar Andre seraya mencium kepala Irma, menghidu aroma rambut yang begitu wangi.
Irma tetap bergeming membelakangi Andre, meskipun ia tidak menolak saat lelaki itu merangkul dan menciumi kepalanya.
"Jangan marah ya! Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku memang bersama wanita, tapi bukan berarti berbuat aneh-aneh."
Irma tetap tak menjawab. Mulutnya seakan terkunci untuk mengeluarkan kata-kata.
"Gini deh! Kamu dengarkan dulu penjelasanku, setelah itu terserah. Kamu mau marah atau tidak aku terima," lanjut Andre yang setiap berkata tak direspon oleh si istri.
Andre pun menjelaskan secara detail yang telah dialaminya, sejak bertemu dengan anak kecil di pinggir jalan sampai membantu persalinan wanita yang baru ditemuinya, semua diceritakan tanpa ada yag terlewatkan. Andre tidak ingin ada celah yang bisa membuat hubungan mereka merenggang, walau hanya sedikit. Keterbukaan adalah kuncinya.
Meskipun diam seribu bahasa, bukan berarti Irma sudah tidur. Wanita itu mendengarkan setiap ucap yang keluar dari mulut Andre, membuat ia merasa bersalah karena terlalu mengumbar emosi daripada bertanya secara terperinci. Perlahan, Irma menggerakkan tubuhnya. Ia membalikkan tubuh itu menghadap sang suami, membuat wajah mereka saling berhadapan sangat dekat.
"Apa itu benar?" tanya Irma.
"Tentu saja. Untuk apa aku berbohong, tidak ada untungnya. Berabe yang ada kalau nanti ketahuan," jawab Andre dengan senyum yang tertampil.
"Maafkan aku! Aku kekanak-kanakkan sekali," ucap Irma kemudian, tanpa berani menatap mata Andre.
Angin berembus begitu segar di kepala Andre saat mendengar permohonan maaf Irma. Wanita itu sudah paham. Ia menangkup wajah yang masih menunduk itu, menatap lekat-lekat mata yang masih tak berani menatapnya. "Aku mengerti. Semua yang telah terjadi membuatmu selalu menjadi waspada. Tapi, percayalah hanya ada kamu di hatiku. Aku tak akan membiarkan orang lain menggesernya. Bahkan, jika Tuhan menurunkan bidadari sekalipun, aku akan dengan tegas menolak karena hanya kamu bidadariku."
"Mulai menggombal lagi." Irma perlahan mengangkat wajahnya yang sudah merona.
__ADS_1
"Bukan menggombal, tapi itu kenyataan," tutur Andre sembai mencubit gemas hidung si istri. "Jika kamu masih kurang percaya, besok kita temui mereka. Mbak Say, bisa tanya sepuasnya kepada mereka kebenarannya.
"Aku percaya." Irma meraih tangan yang mencubitnya, lalu memperhatikan setiap luka yang tergores. "Apa di sini, sakit?" Ia menunjuk tempat bekas gigitannya, meskipun sudah tidak berbekas, kemudian mendaratkan kecupan di sana. Sementara itu. Andre hanya menggeleng dengan senyum yang tertampil. "Sekali lagi, maaf. Aku seharusnya bangga padamu sudah menjadi pengayom yang siap menolong tanpa pandang bulu, bukan malah merajuk seperti tadi," lanjutnya.
Andre mengangkat kepalanya dengan tangan yang dipakai bantalan sebagai penyangga."Tidak apa, tapi jangan pernah lagi ragukan aku, ya! Karena diragukan oleh orang yang kita cintai itu rasanya ... sakitnya tuh di sini!" Andre menepuk-nepuk dadanya.
Irma mengangguk pasti.
"Tapi, ada yang jauh lebih sakit," lanjut Andre sembari memainkan kedua alisnya naik-turun.
Irma memicingkan kedua matanya dengan alis yang mengkerung.
"Itu!" Tangan Andre menunjuk bagian tengah tubuhnya dan diikuti oleh mata Irma yang melihat ke bawah. "Kamu tahu, membayangkan tidak bisa lepasin lingerie malam ini buat yang itu kesakitan. Apalagi, besok udah mulai verboden." Bagi Andre sehari selepas ulang bulan pernikahan adalah hari dengan momok yang paling mengerikan. Sampai kapan pun Andre tidak akan melupakan hari di mana ia kepanasan sendirian dan hal itu pasti terulang setiap bulannya. "Obatin, ya!" pinta Andre, memelas.
"Apa, sih, Mas! Ujung-ujungnya ke sana lagi," imbuh Irma dengan wajah yang sudah merona.
"Maaf, telah membuat kacau acara romantis kita dan hampir saja gagal total," ucap Andre sembari mengecup kening Irma begitu pergulatan mereka selesai.
Irma yang sudah kelelahan hanya mengangguk dengan seutas senyum yang menghiasi wajah.
***
Sang surya akhir pekan sudah mulai meninggi, sepasang suami istri masih tergeletak di kasur bekas pergulatan mereka semalam. Tidak puas hanya sekali, mereka begulat sampai berkali-kali, membuat keduanya selepas subuh kembali menyelami alam mimpi.
Namun, tidur mereka harus terganggu oleh suara bel, ketukan serta salam dari luar. Dengan malas, Irma bangun lalu berjalan menuju pintu depan yang juga disusul oleh Andre.
Seorang dengan seragam pengantar paket berdiri di depan pintu sembari mengucap salam.
"Maaf, apa ini rumah Bapak Andreas Danendra?" tanya si kurir kemudian.
__ADS_1
"Iya, Pak."
"Ada paket untuk Pak Andreas," Kurir itu menyerahkan sebuah paket kepada Irma, setelah itu pamit kembali.
Sepeninggalan si kurir, Irma membolak-balik paket. Membaca nama pengirimnya, tetapi tak kenal.
"Paket dari siapa?" tanya Andre sembari memeluk si istri.
"Entahlah. Ini paket untukmu!" Irma menyodorkan paket itu kepada Andre.
Andre meraih paket tersebut. "Bara?" Ia membaca nama pengirimnya.
"Bara siapa, Mas?"
"Suami yang istrinya aku tolong itu," jawab Andre sembari membuka isi paket tersebut.
Kedua mata suami istri mereka membulat sempurna, melihat isi paket yang diterima Andre. "Mas, ini gak salah?" tanya Irma.
Irma membaca ucapan terima kasih dengan voucher gratis belanja selama setahun di sebuah mall ternama sebagai hadiah ulang bulan pernikahan Andre dan Irma.
"Kayaknya enggak, soalnya dia pemilik mall itu."
"Hah, pemilik mall?" Irma tak menyangka orang yang ditolong Andre bukanlah sembarang orang.
"Iya. Mumpung dapat voucher gratis, entar beli baju yang kayak semalam yang banyak, ya! Sekalian sekodi juga bisa." Andre berujar sambil nyengir.
"Pikirannya ke sana mulu." Irma mencubit pinggang Andre. "Berterima kasih dulu sama yang ngasih jangan asal pakai. Siang ini kita ke rumah sakit, ya! Jenguk mereka sekalian berterima kasih."
"Siap, laksanakan, Nyonya Andre!" Andre sangat bersyukur semenjak menikah ia selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Rezeki pun datang dari tempat yang pernah ia duga.
__ADS_1