
Andre menggenggam erat tangan sang istri, membawa Irma masuk ke rumah yang nantinya akan menjadi tempat mereka tinggal.
"Selamat datang di kamar kita!" Andre membukakan pintu kamar dan mempersilakan Irma masuk.
"Makasih," jawab Irma, sembari masuk ke kamar yang baru pertama kali ia injak.
Mata Irma memindai setiap sudut kamar yang didominasi warna abu dan skyblue itu. Kamar yang luas dengan kamar mandi di dalam, seperti yang diucapkan Andre dan menjadi alasan lelaki itu untuk Irma mengikutinya. Lalu, netra indah Irma teruju pada ranjang ukuran besar yang membuat begitu terpana, bahkan bola matanya sampai berkaca-kaca karena terharu oleh perlakuan Andre yang selalu membuatnya terasa begitu spesial.
Senyum Andre mengembang saat melihat Irma yang sedang mematung menatap ranjang yang diatasnya terdapat taburan mawar yang membentuk tulisan 'I❤U. Ia yang baru selesai mengunci pintu pun langsung menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang.
"I Love You," bisik Andre di telinga Irma begitu mesra.
"Love you too," balas Irma, malu-malu.
"Apa kamu suka?"
Irma hanya mengangguk. Tentu saja ia suka, malah sangat-sangat suka. Di pernikahan sebelumnya, ia tidak pernah mendapatkan perlakukan sespesial itu.
"Beneran suka?" tanya Andre lagi yang masih memeluk Irma dari belakang.
"Iya, Mas. Terima kasih."
"Kalau gitu cobalah ranjangnya! Masih suka atau berubah pikiran?" Tiba-tiba Andre mengurai pelukkannya, lalu menggendong sang istri ala bridal style.
"Mas mau ngapain? Turunin aku!" Irma dibuat terkejut oleh perbuatan Andre.
"Nyobain kasur! Kasurnya baru diganti kemarin. Aku juga belum tahu, empuk atau tidak. Kita cobain bareng-bareng," jawab Andre dengan seringai lebar yang terus menghiasi bibirnya.
"Hah?" Sebelah mata Irma menyipit dengan bibir atas sedikit terangkat saat mendengar jawaban nyeleneh sang suami.
"Kurasa pendengaranmu masih sangat bagus, Sayang."
"Tapi, aku bisa jalan, Mas." Mulut Irma protes, tetapi tubuhnya menyutujui perbuatan Andre. Bahkan, tangan Irma sudah melingkar di leher sang suami sejak Andre mengangkat tubuhnya.
__ADS_1
"Biar kayak di film-film." Senyum itu tidak pernah pudar, terus terukir di wajah Andre. Kakinya pun melangkah dengan mata yang tak berhenti menatap wajah sang pujaan hati, hinggga irisnya itu tertuju pada daging kenyal tanpa tulang dengan warna merah yang menggoda. "Udah boleh, kan?" Kepala Andre terus menunduk.Tanpa menunggu jawaban Irma, ia langsung mendaratkan kecupan di bibir si istri. "I love you," ucap Andre lagi.
Mendapat kecupan dan kata cinta lagi, membuat Irma kembali tersipu. Wajah Irma seketika memerah, dan hal itu malah membuat Andre ingin melakukan lebih dari sebuah kecupan. Andre pun kembali menempelkan bibir miliknya, tetapi kini bukan sekedar menempel. Ia mengabsen si kenyal berwarna merah itu. Menikmati manisnya benda yang sudah sekian lama terbayang di setiap bangun dan tidur Andre. Keduanya saling menikmati bibir pasangan masing-masing, hingga tanpa terasa tubuh Irma sudah berada di atas ranjang yang semerbak dengan aroma mawar.
"Bagaimana?" tanya Andre begitu ia melepaskan pertautan di antara mereka.
"Bagaimana apanya?"
"Kasurnya," jawab Andre dengan mata yang masih terus menatap intens sang istri.
Tersadar sudah berada di atas kasur, Irma pun melepaskan tangannya yang masih setia melingkar di leher Andre. "Enak," jawab Irma, malu-malu.
"Yang enak, kasurnya atau ciumannya?" Andre menaik-turunkan kedua alisnya, menggoda wanita yang masih ada dalam kungkungannya itu dan berhasil mendapatkan cubitan dari Irma cukup keras. "Aww ... kenapa malah dicubit?" Spontan, Andre langsung bangun sambil memegangi perut yang dicubit sambil mengaduh kesakitan.
Irma yang melihat Andre terus memegangi perut, langsung diliputi rasa bersalah. Ia pun langsung bangun dan duduk di samping Andre. "Maaf. Pasti kekencengan, ya? Mana yang sakit?" tanya Irma sembari mengelus bagian yang tadi ia cubit.
"Yang sakit bukan di sana," ujar Andre dengan suara yang memelas.
"Lalu?" Irma mendongak.
"Perasaan tadi yang dicubit di situ," jawab Irma, tetapi tak ayal ia menuruti ucapan Andre.
Tangan Irma turun ke bawah, mengelus perut Andre di bagian bawah. Akan tetapi, lelaki itu masih saja mengatakan salah dan meminta tangan Irma terus ke bawah, hingga tangan wanita itu berhenti di suatu tempat.
"Ah, kamu modus!" Sadar dikerjain sang suami, Irma langsung menjauhkan tangannya dari sesutu yang baru saja tanpa sengaja dipegang, lantas memukul lelaki yang sedang menertawakannya. Lagi dan lagi Andre berhasil menggodanya, membuat bibir Irma otomatis mengerucut.
"Modus pun udah halal ini, Mbak. Enggak bakal ada yang marahi, malah dapat rejeki." Andre memamerkan rentetan giginya, lantas merangkul sang istri yang masih terdiam.
"Mbak, marah?" tanya Andre saat mendapati Irma masih diam.
Irma menggeleng. Mendapatakan sejuta perhatian dan kasig sayang dari Andre, membuat rasa takut menghinggapi hatinya. Irma melepaskan tangan yang masih merangkulnya dan menggenggam erat tangan itu.
"Mas kalau nanti sudah bosen sama aku, kamu bilang, ya!" ujar Irma dengan posisi tubuh yang saling berhadapan dengan Andre.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?"
"Jujur, aku masih takut. Jika suatu saat kamu juga meninggalkanku karena kekuranganku." Tanpa terasa air mata Irma kembali menetes. "Jika nanti kamu menemukan orang yang pantas untuk kamu, kamu bilang terus terang kepadaku. Jangan bermain di belakangku! Biarkan aku yang pergi."
Andre menangkup wajah yang sudah basah itu, mencoba menyelami perasaan Irma yang tiba-tiba saja berubah sendu "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu dan aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun," ujar Andre penuh keyakinan. "Apa ini karena mamah?" tanya Andre kemudian.
Sebelum masuk ke kamar, tanpa sengaja Andre dan Irma berpapasan dengan Rita. Rita memang tidak berbicara apa-apa, tetapi dari sorot matanya bisa terlihat jelas kalau wanita itu masih belum bisa menerima Irma. Bahkan, Rita sampai membuang muka saat Irma tersenyum dan menyapanya.
"Bukan." Irma menggeleng.
"Kalau gitu jangan pernah berpikir seperti itu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kecuali maut yang memisahkan. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Menjalani setiap waktu bersamamu sampai tua nanti. Jangan pernah membahas itu lagi!" Andre membawa Irma ke dalam pelukkannya.
Cukup lama, keduanya saling berpelukkan, hingga kondisi Irma kembali tenang.
"Mbak, aku udah lama menunggu momen ini. Kalau enggak inget sama Tuhan, udah lama aku ingin melakukannya. Sekarang udah sah, boleh langsung unboxing, kan?" tanya Andre saat keadaan Irma sudah membaik.
"Sekarang?" tanya balik Irma.
"Iya. Apa, Mbak belum siap?"
"Bukan seperti itu tetapi masih banyak orang, lho, di rumah."
"Apa masalahnya? Kita kan di dalam cuma berdua. Boleh, ya!" Andre sedikit memaksa.
"Kita belum mandi. Badanku udah lengket sama keringet." Irma mencoba mencari alasan.
"Nanti sekalian mandinya. Kita tambahin dulu keringetnya."
Irma tak bisa menjawab lagi, lidahnya tiba-tiba teras kelu. Membayangkan sesuatu yang sudah lama tidak pernah ia lakukan, membuatnya bersemu merah.
"Tidak menjawab, berarti iya," ujar Andre lagi.
Andre kembali mencium bibir Irma. Ciuman biasa yang semakin lama menuntut lebih. Tangan Andre mengelus lembut bagian belakang Irma, lalu manarik tubuh itu semakin menempel ke tubuhnya sambil memperdalam permainan bibir dan lidahnya. Irma yang sebelumnya mencari seribu alasan pun, mengimbangi penyatuan liur mereka. Hingga, permainan lidah dan bibir itu begitu mereka nikmati.
__ADS_1
Dengan bibir yang masih saling berpaut, perlahan tangan Andre melepas jarum pentul dari kerudung si istri dan membuang kerudung itu. Lalu, tangannya beralih ke bagian belakang tubuh Irma, membuka resleting gaun yang dipakai istrinya. Namun, tiba-tiba Andre melepaskan tautan dari keduanya, bahkan resleting yang dibuka pun belum terbuka sempurna.
"Aku ke kamar mandi dulu. Sakit perut!" ujar Andre seraya berlari ke arah kamar mandi, meninggalkan Irma yang sudah panas dingin oleh perbuatannya.