
Pagi itu Aira bersiap - siap untuk pergi bekerja. Semenjak dia bercerai dengan mantan suaminya 10 bulan yang lalu, Aira kembali beraktivitas seperti dulu sebelum dia belum menikah. Bukan bekerja di kantoran yang nyaman dan ber Ac. Aira melainkan bekerja di sebuah pabrik produksi sepatu lokal yang lumayan ternama di kota nya.
" Mbak, gak sarapan dulu?." tanya Santi adik Aira. Kebetulan Aira menumpang di rumah kontrakan adiknya itu. Santi adik Aira sudah berumah tangga dan sudah memiliki anak yang sangat lucu. Sebenarnya dia tidak mau menjadi beban adiknya itu, tapi Santi dan suaminya memaksa Aira untuk tinggal bersama. Agar Aira tidak merasa kesepian.
Aira dulu menikah dengan mantan suaminya hampir 7 tahun. Tapi mereka tidak memiliki anak. Bukan tidak memiliki, lebih tepatnya di ambil kembali oleh Sang pencipta kembali. Dua kali Aira hamil dan melahirkan, dua kali juga Aira harus kehilangan bayi mungil mereka.
" Enggak San, mbak sarapan di pabrik saja. Udah siang nanti telat." jawab Aira sambil mengeluarkan motor matic kesayangannya.
" Walah mbak. Padahal aku udah masak nasi goreng kesukaan mbak." dengus Santi kesal. Aira hanya tersenyum melihat adiknya yang cemberut.
" Mamara mau kemana?." tanya Bian anak Santi. Bian memanggil Aira dengan sebutan mamara yang artinya mama Aira. Santi langsung menggendong anaknya yang baru berumur 2 tahun itu.
" Mamara kerja dek." jawab santi.
" Mamara sayang dong dek." sahut Aira sambil memonyongkan bibirnya. Bian langsung mencium bibir Aira dengan lembut sambil menjulurkan tangannya meminta bersalaman.
" Hati - hati mbak." sahut Santi. Aira hanya mengangguk.
Di lain tempat, terlihat seorang lelaki tampan sedang berenang di kolam renang. Tampak perempuan separuh baya membawa minuman dan handuk kering lalu menaruhnya di atas meja. Lelaki itu naik ke pinggiran kolam renang sambil tersenyum.
" Makasih ya mbok Sum." tukasnya. Perempuan itu tersenyum sambil berlalu masuk ke dalam.
Lelaki itu mengambil ponsel nya dan menatap layar ponsel tersebut dengan dahi berkerut. Ternyata saat tadi dia asyik berenang, ada 12 panggilan tak terjawab di ponsel tersebut. Tanpa pikir panjang lelaki itu langsung menghubungi ulang penelepon tersebut.
"H**allo Van, kamu kemana aja sih dari tadi aku telepon gak kamu angkat**." terdengar suara perempuan bertanya dari seberang telepon.
" Aku baru selesai berenang. Kamu kayak gak tau kebiasaan aku saja setiap pagi." jawab Revan dengan nada suara datar dan dingin. Sambil mengelap tubuh basahnya, Revan mengambil gelas di atas meja langsung meminumnya.
"Nanti kamu jadi jemput aku kan?. Kita jadi berangkat ke rumah sakit bareng kan**?." tanya perempuan itu. Perempuan yang sedang bercakap cakap dengan Revan itu bernama Sheila. Dia seorang dokter spesialis syaraf di rumah sakit sama dengan Revan praktek.
__ADS_1
Revan dan sheila sudah cukup lama berpacaran sekitar hampir 5 tahun. Tapi hubungan mereka masih lempeng saja. Tanpa ada kepastian dan tanda - tanda mereka akan melanjutkan ke jenjang yang lebih jauh.
" Iya. Satu jam lagi aku jemput." sahut Revan sambil mematikan ponselnya. Setelah mandi dan berganti pakaian rapi, Revan melirik jam di pergelangangan tangannya. Masih pukul 7 pagi. Revan melangkah turun ke ruang makan. Karna kamar dia ada di lantai dua. Di meja makan sudah tersedia kopi hitam tanpa gula dan roti gandum dengan selai coklat. Karna Revan tidak mau kalau pagi harus makan yang berat.
Setelah meminum kopi itu Revan langsung berangkat menuju tempat kost Sheila. Kebetulan Sheila bukan warga asli kota tersebut. Dia kost tidak jauh dari rumah Revan. Hanya sekitar 10 menit dari rumah Revan. Ketika sudah sampai gang tempat kost Sheila, dari jauh sudah terlihat Sheila sedang berdiri di depan pos kampling depan tempat kost nya. Sheila langsung menarik handle pintu mobil revan saat tau mobil Revan yang datang.
" Selamat pagi." sapa Sheila. Revan hanya tersenyum lalu melajukan mobil nya menuju tempat mereka melayani para pasien mereka.
" Kamu sudah sarapan Van?." tanya Sheila.
" Sudah." jawab Revan singkat.
" Ooh, kirain belum. Aku buatin kamu sarapan loh. Roti gandum dengan selai coklat kesukaan kamu." tukas Sheila.
" Aku udah kenyang. Tadi di rumah mbok Sum juga buatin sarapan seperti itu." jawab Revan dingin. Sheila tampak kecewa dan langsung diam dengan perkataan Revan. Kejadian seperti ini bukan hanya satu atau dua kali terjadi. Sudah sering sampai hafal Sheila dengan perilaku cuek Revan.
Di sana ada seorang lelaki dan juga istri nya sedang berjalan bergandengan menuju poli kandungan tempat Revan praktek juga. Revan berjalan lurus tanpa menoleh kesana kemari. Aura dingin dan cuek langsung terpancar di belakangnya. Revan memang terkenal sebagai dokter paling pendiam dan paling dingin diantara dokter lainnya.
Sampai - sampai semua rekan rekannya memanggil dia dengan sebutan gunung es. Karna saking cuek dan dinginnya itu. Tiba-tiba lelaki yang menggandeng istrinya yang hamil tadi memanggil namanya.
" Revan." panggil laki - laki itu. Revan menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara tersebut. Dahi nya berkerut menatap lelaki yang memanggil namanya tadi. Lelaki tersebut tersenyum sambil melambaikan tangannya.
" Kamu Revan anak kelas 7A itu kan?." tanya lelaki itu. Revan mencoba mengingat ingat lelaki itu, tapi semakin di ingat dia semakin tidak ingat.
" Kamu lupa sama aku?. Aku teman sekelasmu dulu waktu SMP." tukas lelaki itu.
" Siapa ya?. Maaf aku sudah lupa soalnya." jawab Revan.
" Ya ya ya wajar lah kalo kamu lupa. Udah jadi dokter juga. Pasti banyak yang di pikirkan. Aku Aji prasetya, teman sekelasmu dulu. Aku dulu yang duduk di belakangmu persis. Aku dulu yang sebangku dengan Rama si kacamata botol itu." tukas Aji mengingat kan Revan.
__ADS_1
" Oooohh ya ampun. Iya iya aku ingat. Ya ampun Aji gimana kabarmu?. Maaf aku sudah lupa dengan mu. Kamu banyak berubah soalnya." jawab Revan sambil menjabat tangan Aji. Aji tampak tergelak.
" Sedang apa kamu disini, Ji?" tanya revan. Aji yang sedari tadi masih menggandeng istrinya menunjukkan perut buncit istrinya tersebut.
" Nyonya mau periksa kandungan. Jadi aku yang mengantar. Masa sudah berbuat tak mau mengantar periksa juga." jawab Aji. Terlihat istri Aji yang senyum - senyum dari tadi mendengar perkataan suaminya.
" Wah hebat juga ya kamu. Sudah berapa bulan ini." tanya Revan.
" Sudah 28 minggu." jawab Aji.
" Anak kamu sudah berapa Van?." tanya Aji. Revan hanya tersenyum mendengar pertanyaan Aji.
" Aku belum berkeluarga." sahut Revan.
" Wah Van tunggu apalagi sih. Umur sudah segitu juga. Keburu abis nanti stoknya." goda Aji.
" Emang baju apa pakai stok segala." jawab Revan. Aji tertawa terbahak - bahak mendengar candaan Revan. Padahal dia tau betul Revan orang yang cuek dan pendiam.
" Ooh iya Van, hari minggu besok ada reuni anak - anak seangkatan kita. Kamu ikut yaa." ajak Aji.
" Insya Allah ji." jawab Revan.
" Ooh iya Van, aku boleh minta nomer ponselmu. Biar kita bisa silaturahmi seperti dulu." pinta Aji. Revan langsung memberikan nomer ponselnya. Dan mereka pun akhirnya berpisah karna Revan harus mempersiapkan segala keperluan prakteknya.
Ketika malam telah tiba, dan revan sudah berada di kamarnya. Ponsel revan tidak berhenti berbunyi. Karena semenjak pertemuaan dia dengan Aji tadi pagi dan bertukar nomer telepon, Aji memasukkan nomer telepon Revan ke dalam grup whatsapp teman SMP mereka.
Banyak sekali mereka obrolkan. Mulai saling bertanya kabar sampai bergosip tentang apalah apalah itu yg bagi Revan tidak penting sama sekali. Tiba tiba ada salah satu teman sekelas mereka yg membahas soal Aira. Revan tertegun menatap ponselnya. Ada yang berdenyut di dalam hatinya.
~ Happy reading ~ 😉😉😉
__ADS_1