Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 133 Aku Tidak Ingin Bertemu!


__ADS_3

Aira sudah berjalan mendekati lobby rumah sakit. Tiba - tiba dia teringat akan jaket nya yang tertinggal di kursi kamar Revan di rawat.


" Kenapa aku harus lupa sih?. Kan jadi harus balik lagi. Huft .." dengusnya kesal.


Aira pun berjalan kembali menuju ruangan Revan. Dengan langkah sedikit cepat Aira kembali menyusuri lorong - lorong rumah sakit yang sudah lumayan ramai itu.


Ceklek!!.


Saat Aira membuka pintu kamar tersebut. Revan tengah duduk sambil membaca buku yang di bawa ayahnya kemarin. Dia begitu terkesiap saat melihat Aira kembali lagi ke kamar itu.


" Revan!." seru Aira.


" Aira!. Kau?. Bukannya kau sudah pulang?." tanya Revan kaget. Aira berjalan mendekat ke arah ranjang tempat Revan terbaring.


" Kapan kau bangun?." tanya Aira balik. Dia begitu penasaran. Perasaan tadi saat dirinya keluar dari kamar ini Revan masih tertidur.


" Baru saja!." jawab Revan singkat. Dia berusaha menutupi kebohongannya agar Aira tidak curiga.


Aira masih menatap wajah Revan dengan seksama. Dia begitu senang saat melihat Revan membuka mata. Revan dengan segenap jiwa nya berusaha menghindar agar tidak bertatap muka dengan wanita di sampingnya ini.


" Kenapa kau kembali?." tanya Revan sambil membuka buku yang tadi di baca nya.


" Jaket ku tertinggal di sini. Tuh!." tunjuk Aira pada sofa yang ada di sana.


" Lalu?. Ambillah!. Dan cepat lah keluar!. Aku ingin istirahat!." pinta Revan. Aira mengernyit kan dahinya. Dia begitu tidak suka dengan ucapan Revan yang di nilai kasar kepadanya.


Padahal selama ini, mama nya dan semua orang selalu bilang. Kalau Revan adalah orang yang hangat kepadanya. Dia tidak pernah berbicara kasar sedikit pun kepadanya. Tapi sekarang, sungguh berbeda terbalik dengan apa yang di cerita kan semua nya.


" Kau lihat apa?." tanya Revan sinis saat dirinya tau sedang di tatap oleh Aira dengan seksama.

__ADS_1


" Kenapa kau kasar sekali?. Padahal kata mama dan semua orang kau tidak pernah berbicara kasar kepadaku." ujar Aira heran.


Revan hanya bisa terdiam. Sebenarnya dia juga tidak ingin berbicara kasar seperti ini kepada Aira. Dia begitu ingin memeluk dan merengkuh tubuh wanita ini. Dia sangat merindukan aroma serta hangat pelukan wanita itu. Tapi jika sampai Aira tau tentang keadaannya saat ini. Jika Aira sampai tau dirinya tidak seperti Revan yang dulu. Akankah wanita ini mau menerima semua kekurangannya saat ini?. Apakah dia tidak akan menjadi beban bagi wanita yang di cintainya ini?.


" Aku tidak mau bertemu dan berbicara dengan mu!. Pergilah!. Jangan temui aku lagi!." tukas Revan. Aira masih duduk mematung menatap wajah Revan.


" Pergilah!. Keluar!. Jangan pernah kemari lagi!." bentak Revan kepada Aira dengan begitu kerasnya.


" Revan!!." bentak Atmaja saat memasuki ruangan itu dan tau perbuatan anaknya terhadap Aira. Revan pun mendengus kesal melihat kedatangan ayahnya.


" Apa - apaan kamu?. Kenapa kamu berteriak kepada Aira?. Apa salah dia sampai kamu berbicara kasar kepadanya?." tanya Atmaja tak mengerti. Aira masih terdiam. Butiran bening keluar dari pelupuk matanya. Dia begitu kecewa dengan sikap Revan yang kasar kepadanya.


" Suruh dia pergi Pa!. Aku gak mau bertemu dan berbicara dengannya lagi!." tukas Revan.


" Revan!!. Jangan keterlaluan kamu!. Dia itu istrimu. Apa kamu lupa siapa dia, hah?." tanya Atmaja. Aira beranjak dari duduknya. Dia pun berjalan mendekat ke arah pintu dan keluar dari ruangan itu.


" Lihat!. Lihat apa yang kamu lakukan pada Aira!. Dia jadi sedih seperti itu. Kamu itu kenapa sih?." Apa kamu lupa dengan Aira?." tanya Atmaja. Revan masih bungkam. Matanya sudah berkaca - kaca menahan tangisnya agar tidak pecah.


Semua orang yang lewat lalu lalang melihat ke arahnya tak di hiraukan sedikit pun oleh Aira. Dia terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu tanpa arah. Atmaja berusaha mengejar Aira yang keluar dari ruangan Revan. Tapi lelaki itu tak menemukan keberadaan Aira.


Aira mengusap air matanya dengan telapak tangannya secara kasar. Lalu Aira pun berjalan lurus melewati pintu keluar. Aira berdiri di depan pintu keluar rumah sakit tersebut menunggu taksi datang.


Tapi hampir setengah jam dia berdiri taksi tak kunjung datang. Akhirnya dia berjalan sedikit sampai ke arah jalan raya. Dia masih celingak - celinguk mencari keberadaan taksi. Dari arah seberang Aira melihat taksi berhenti. Dia pun tanpa menengok kanan kiri langsung berlari menuju taksi yang berhenti itu.


Bruuaakkk!!! ...


Salah satu mobil yang melintas pun begitu kaget saat melihat Aira tiba - tiba langsung berlari ke arah jalan raya itu pun mengerem mendadak mobil yang di kendarai. Mobilnya berhasil berhenti. Tapi nahas mobil orang itu di tabrak oleh pengemudi yang ada di belakangnya hingga ringsek dan terdorong maju dan menabrak tubuh Aira hingga jatuh tersungkur di aspal jalanan.


Tabrakan beruntun dari arah belakang tak terelakan lagi. Keadaan jalan raya di depan rumah sakit pagi itu pun begitu mencekam dan sangat mengenaskan. Aira sudah tidak sadarkan diri bersimbah darah. Begitu pun dengan pengemudi yang mengerem mendadak mobil nya tadi. Sudah tak berbentuk akibat di tabrak oleh kendaraan lain dari arah belakang.

__ADS_1


Atmaja melihat kerumunan orang berdiri di depan rumah sakit. Dia menoleh ke kana dan kiri mencari keberadaan Aira. Tapi tak bertemu. Atmaja pun juga melihat mobil bertabrakan dengan sangat panjang dan ringsek semua. Dia hanya menghela nafasnya melihat itu. Pikirannya tidak sampai ke arah sana. Dia pun kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit.


.


.


.


*****


.


.


Petugas medis yang ada di ruang UGD pun langsung di sibukkan dengan pasien - pasien yang mengalami kecelakaan di depan rumah sakit ini. Mereka semua melakukan pertolongan kepada para korban yang mengalami kecelakaan itu. Tak terkecuali Aira.


Petugas medis disana sampai tidak mengenali wajah Aira karena penuh dengan darah segar yang terus mengalir di wajahnya. Setelah di bersihkan oleh para perawat. Barulah wajah Aira dapat di kenali. Para perawat dan dokter begitu terkejut karena salah satu korban tabrakan yang terjadi adalah istri dari rekan sejawatnya. Istri Revan.


Berbagai pertolongan pertama di lakukan demi memulihkan kasadaran wanita itu. Tekanan darah Aira semakin tinggi dan denyut nadinya semakin menurun. Pendarahan di kepalanya terus saja keluar dari telinga dan hidung tanpa henti. Dokter masih terus berusaha menangani pendarahan yang di alami Aira.


Tiba - tiba Aira muntah darah begitu banyak. Snelli dan baju para perawat pun tak luput dari semburan darah yang keluar dari mulut wanita itu. Dan .....


Aira menghembuskan nafas terakhirnya. Alat detektor jantungnya pun melemah dan tiiiiiiiitttttttt .........


Dokter dan perawat disana begitu terkesiap melihat alat detektor jantung itu. Dokter langsung menarik alat kejut jantung berusaha memberikan pertolongan kepada Aira.


" Atur di 220 volt. 3 .. 2 .. 1 .. Clear ." seru dokter itu dan menempelkan alat kejut jantung itu ke dada Aira. Tak ada respon.


" 250 volt." pinta dokter itu. Perawat itu pun menurut dan menekan tombol menambah kekuatan daya kejut alat disana.

__ADS_1


" Clear!." dokter itu menempel kan alat kejut jantung itu dan tak ada respon lagi.


Sampai ketiga kali pun masih tak ada respon dari wanita disana. Dokter itu pun menyerah dan menatap ke arah perawat yang membantunya. Perawat itu menggelengkan kepala nya dan melepas semua alat bantu yang melekat di tubuh Aira. Termasuk selang oksigen di hidungnya. Perawat disana pun menutup tubuh Aira dengan selimut.


__ADS_2