
Sejak saat itu, Atmaja tak pernah lagi datang ke rumah nya. Lelaki itu pun tak pernah datang menemuinya di tempat biasa mereka janjian untuk membaca buku. Dan ketika mereka berdua tak sengaja berpapasan pun Atmaja pura - pura tidak melihat Kinanti dan bersikap acuh kepada nya. Kinanti hanya terdiam dan menatap wajah lelaki yang di cintainya itu.
Satu bulan pun berlalu. Tiba - tiba siang itu Ifah berlari menuju rumah Kinanti.
" Kinan. Kinan." teriak Ifah dengan tidak sabarnya. Ibu Kinanti pun keluar.
" Ifah. Ada apa nduk?. Kamu kok sampai teriak - teriak seperti itu?." tanya ibu Kinan.
" Maaf Bude. Kinan nya ada?. Ifah ingin bertemu dengan Kinan." ujar Ifah.
" Kinan Bude suruh beli gula di warung. Kamu tunggu disini saja. Sebentar lagi juga pulang." ujar ibu Kinan. Ifah pun mengangguk mengiyakan.
Tak lama kemudian, Kinan pun kembali dari warung dan melihat Ifah sudah duduk di teras rumahnya.
" Ifah." sapa Kinan. Gadis itu pun menoleh. Lalu tersenyum kepada Kinan.
" Kamu sudah dari tadi disini?." tanya Kinan.
" Tidak. Aku barusan datang kok." jawab Ifah senang.
" Kinan ada yang ingin aku sampaikan." jelas Ifah.
" Apa?. Ehh sebentar. Aku taruh gula ini kedalam sebentar ya. Kamu tunggu di situ aja. Jangan kemana - mana." tukas Kinan. Ifah hanya mengiyakan ucapan sahabatnya itu. Tak lama kemudian pun Kinan keluar lagi menghampiri Ifah yang masih duduk di teras rumahnya.
" Ada apa?. Sepertinya kamu senang sekali. Apa kamu baru dapat arisan?." tanya Kinanti. Ifah hanya tersenyum.
" Bukan. Lebih dari arisan." jawab Ifah. Kinan pun mengernyit kan dahinya tanda tak mengerti.
" Mas Atmaja tadi menyatakan perasaannya kepadaku Kinan. Dia tadi datang ke rumahku bersama bapaknya. Terus dia mengajakku ngobrol di teras rumah. Lalu dia bilang kalau dia suka terhadapku. Dan dia meminta ku untuk menjadi kekasihnya." jelas Ifah bahagia.
Kinanti hanya terdiam mendengar itu. Dia pun menatap wajah Ifah dengan seksama. Ifah tampak begitu bahagia. Senyum di wajahnya tak berhenti surut.
" Kinan. Kamu kok diam aja?. Kamu gak seneng kalau aku pacaran sama mas Atmaja?." tegur Ifah saat melihat sahabatnya itu hanya diam tak bereaksi apapun. Kinanti menepiskan senyum di bibirnya. Dia menggenggam tangan Ifah.
" Mana mungkin aku tidak senang. Aku sangat senang mendengarnya Ifah. Kamu beruntung sekali bisa mendapatkan cinta mas Atmaja. Dia kan lelaki paling tampan dan pintar di kampung ini." ujar Kinanti pura - pura bahagia dengan pernyataan sahabatnya itu.
__ADS_1
Ifah pun mengangguk mengiyakan ucapan Kinanti. Dia tersipu malu dan terus tersenyum. Dia tidak berhenti tersenyum ketika membayangkan lelaki yang di sukainya selama ini membalas perasaannya.
" Kinan. Apa aku sedang bermimpi?." tanya Ifah senang.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu?." tanya Kinanti tak mengerti.
" Kalau aku bermimpi. Tolong jangan bangunkan aku. Aku ingin terus berada di mimpi ini. Aku tidak ingin bangun dari mimpi ini." ujar Ifah. Kinanti mencubit pipi Ifah.
" Aaauuuwwww ..." teriak gadis itu.
" Tidak mimpi kan?." tanya Kinan sambil mencubit pipi gadis itu. Lalu keduanya pun tertawa bahagia bersama. Yang bahagia hanya Ifah. Tidak dengan Kinan. Dia merasakan luka di hatinya begitu perih mendengar itu. Seperti ada yang menabur garam di atas sayatan luka tersebut.
Sejak saat itu, Setiap kali Ifah datang bertemu Kinanti. Dia selalu membicarakan Atmaja. Mas Atmaja yang ini lah, mas Atmaja yang itu lah. Tak pernah ada habisnya ketika membicarakan lelaki itu.
Dua tahun pun berlalu. Kinanti dan Ifah telah lulus sekolah SMA. Ifah pun melanjutkan kuliah kedokteran di kota lain. Sedangkan Kinanti bekerja di sebuah pabrik di kota nya.
Sejak saat itu pun, dia tidak pernah melihat Atmaja lagi di kampung itu. Kata ayahnya, Atmaja telah bekerja di kantor kejaksaan di ibu kota. Ayah Atmaja dan Ayah Kinanti pun masih terus bertemu. Dan mereka pun tidak pernah tau hubungan rumit antara anak - anak mereka.
Hampir 5 tahun tak bertemu. Pada hari raya saat itu, tiba - tiba Atmaja serta ibu dan ayahnya berkunjung ke rumah Kinanti untuk bersilaturahmi. Itu kali pertama mereka bertemu setelah perpisahan mereka kala itu.
" Bagaimana kabarmu?." tanya Atmaja. Kinanti pun tersenyum.
" Seperti yang mas lihat." jawab gadis itu.
" Kita sudah lama ya tidak bertemu dan ngobrol seperti ini." tukas Atmaja.
" Iya. " jawab Kinan.
" Gimana kabar Ifah mas?." tanya Kinanti. Atmaja menghela nafasnya.
" Ifah baik. Sekarang dia kerja di sebuah puskesmas di ibu kota." jelas Atmaja.
" Aku sangat merindukannya. Sudah jadi dokter dia sekarang." tukas Kinanti.
" Iya." jawab Atmaja. Sunyi senyap di antara mereka. Kinanti merasa canggung duduk berdua dengan lelaki yang masih ada di hatinya ini.
__ADS_1
" Kamu sudah punya pacar?." tanya Atmaja tiba - tiba. Kinanti menoleh ke arah lelaki itu.
" Kamu tau. Aku masih belum bisa melupakanmu sampai saat ini." ujar lelaki itu sambil menatap wajah gadis itu. Kinanti begitu tercekat mendengar ucapan Atmaja.
" Kamu tau. Dua bulan lagi aku akan menikah dengan Ifah." terang Atmaja. Kinanti begitu terkesiap mendengar itu.
" Selamat ya mas." hanya itu kata - kata yang terlontar dari mulut gadis itu. Atmaja tersenyum mendengar ucapan itu.
" Kamu mau menikah dengan ku?." tanya Atmaja tiba - tiba. Kinanti menatap wajah Atmaja dengan seksama. Lelaki itu pun masih menatap gadis itu.
" Aku tau jawabanmu apa. Pasti kamu tidak mau kan." jawab Atmaja dengan senyum getir.
" Mas Atmaja. Maafkan sikap ku yang dulu. Aku tidak bermaksud menyakitimu." ujar Kinanti.
" Aku tau. Aku tau kamu juga mencintai ku. Tapi kamu menutupi perasaanmu itu gara - gara kamu tau kalau Ifah juga memiliki perasaan yang sama kan terhadapku." ujar Atmaja. Kinan begitu kaget mendengar ucapan itu. Dia menatap wajah lelaki itu tak percaya.
" Kamu ingin aku dan Ifah bersama bukan." tanya Atmaja.
" Baik. Aku akan mengabulkan permintaanmu itu. Tapi jangan salahkan aku. Kalau hidup temanmu itu tidak bahagia nantinya jika menikah bersama ku." imbuh lelaki itu.
" Apa maksudmu mas?." tanya Kinanti.
" Aku tidak pernah mencintai Ifah. Dan tidak akan pernah bisa mencintainya." jawab Atmaja.
" Mas Atmaja. Aku mohon. Lupakan aku. Belajarlah mencintai Ifah. Dia sangat mencintaimu. Jangan sakiti hati sahabatku. Aku mohon mas." pinta Kinanti. Atmaja tersenyum pelik.
" Kamu selalu memikirkan perasaan sahabatmu. Pernahkah kamu memikirkan perasaan ku?." tanya Atmaja.
" Kamu sungguh egois Kinan!." tukas Atmaja.
" Terserah kamu menilai ku seperti apa mas. Aku tidak perduli. Asal kamu tau. Sampai kamu berani menyakiti perasaan sahabatku. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membalasmu lebih kejam. Ingat itu!!." ujar Kinanti lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Atmaja seorang diri di teras rumahnya.
Dan sejak kejadian itu, Kinanti tidak pernah bertemu dengan Atmaja atau pun Ifah. Bahkan saat hari pernikahan sahabatnya itu pun Kinanti tidak datang. Kinanti seperti hilang di telan bumi di mata Ifah dan Atmaja. Karena Kinanti telah memilih kerja di luar kota untuk menghindari pertemuan dengan sahabat dan lelaki yang di cintainya.
Saat Ayah Kinanti meninggal dunia. Rumah mereka pun di jual dan mereka pun pindah ke luar kota. Mereka pindah ke kampung halaman ibu Kinanti. Hingga Kinanti bertemu dengan Bayu dan mereka pun menikah dan memiliki anak Aira dan Santi.
__ADS_1