Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 123 Naluri


__ADS_3

" Nyonya Aira jangan sampai terkena serangan panik seperti tadi lagi ya Pak. Karena cedera otaknya masih sangat baru dan rentan untuk terluka lebih lebar lagi. Perlahan - lahan saja kita membuka memori ingatan yang telah terkubur itu. Akan ada waktunya sendiri nantinya. Jadi kita harus sabar untuk hal semacam ini." jelas dokter yang menangani kasus Aira.


Atmaja berulang kali menghela nafas dengan berat. Tiba - tiba kepalanya menjadi sangat berat saat mendengar kabar dari dokter itu.


" Apa dia harus di rawat disini lagi?." tanya Atmaja.


" Kita lihat nanti. Kalau Nyonya Aira tidak mengeluh rasa sakit di kepalanya. Dia bisa pulang. Tapi kalau masih sakit. Ya kita akan minta untuk rawat inap lagi." jawab dokter itu.


Setelah pembicaraan nya dengan dokter itu selesai. Atmaja pun keluar menemui Akbar yang sudah menunggu dengan gelisah. Akbar langsung berdiri dan menghampiri Atmaja saat melihat lelaki itu keluar dari ruangan.


" Bagaimana Pak?." tanya Akbar.


" Kita nunggu Aira sampai sadar. Kalau dia tidak mengeluh sakit, kita bisa membawanya pulang. Tapi kalau masih sakit, ya rawat inap lagi." jawab Atmaja. Akbar menghela nafas dengan berat.


*****


Beberapa hari kemudian ...


Aira sudah kembali ke rumah. Kinanti pun seperti merawat dua bayi di rumah itu. Aira dan Attar. Walaupun kini sudah ada perawat yang membantu mengurus Attar. Tapi Kinanti tak bisa tinggal diam. Dia tak tega harus melepas Attar untuk di rawat sepenuhnya dengan perawat.


Malam itu semua orang di rumah itu tidur dengan cepat. Karena tadi siang Aira menjalani terapi di rumah sakit. Mungkin dia lelah karena terapi. Jadi selepas makan malam dan meminum obatnya. Aira langsung tertidur dengan lelap.


Saat tengah malam, Attar tiba - tiba menangis. Seperti ada yang membangunkannya. Aira langsung membuka mata dan beranjak duduk di tepi ranjang. Sejak Aira pulang dari rumah sakit. Dia tinggal di kamar tamu yang ada di rumah itu. Karena semua orang takut jika Aira tinggal di kamar lama nya bersama Revan. Dia akan terkena serangan panik seperti kemarin saat melihat Attar.

__ADS_1


Attar masih terus menangis. Tangisan bayi itu terdengar begitu keras. Aira pun berjalan membuka pintu kamarnya. Terlihat perawat yang menjaga Attar keluar dari kamar bayi itu. Perawat itu membawa botol termos air panas untuk susu Attar. Karena air panas nya sudah habis.


Aira sudah berdiri di ambang pintu kamar Attar. Terlihat Attar berada di dalam box bayi dengan suara merengek meminta di gendong atau di tolong. Aira berjalan mendekat ke arah box bayi itu. Tangis Attar semakin kencang saat melihat Aira yang berdiri di samping box bayi itu. Aira pun langsung mengangkat tubuh bayi mungil itu dan menggendongnya.


Attar langsung terdiam saat di pelukan Aira. Seperti menemukan kenyamanan yang dia cari selama ini. Aira pun tampak senang saat menggendong bayi mungil nya. Di tepuk - tepuk dengan lembut pantat Attar. Bayi itu menatap wajah Aira. Bahkan tawa di bibirnya yang mungil itu kadang terlihat disana.


" Nyonya Aira!." seru perawat itu dengan kaget saat melihat Aira menggendong Attar dengan tangannya sendiri.


Perawat itu pun begitu kaget dan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Aira menggendong tubuh Attar. Aira tak memperhatikan saat perawat itu telah kembali. Dia masih asyik menepuk - nepuk pantat Attar dan menenangkan bayi mungil itu.


" Kamu kenapa berdiri disini?." tanya Kinanti saat melihat perawat itu berdiri di ambang pintu kamar Attar.


" Nyonya Aira menggendong Attar." tukas Perawat itu dengan senang. Kinanti yang tadinya masih mengantuk seketika langsung membuka matanya dengan sempurna.


Kinanti pun berjalan mendekat ke arah Aira berdiri. Terlihat Attar tertidur di gendongan ibu kandungnya. Wajah damai dan tenang Attar saat di gendongan Aira membuat Kinanti menangis haru. Di tatapnya wajah Aira lalu di peluknya tubuh putrinya itu.


Kinanti begitu senang melihat Aira menggendong Attar. Ini suatu perkembangan yang sangat baik. Walaupun Aira kehilangan ingatannya. Tapi dia tidak kehilangan naluri dia sebagai seorang ibu.


Kinanti melepas pelukannya. Aira pun berjalan mendekat ke arah box tempat Attar biasa tidur dan menaruh tubuh bayi mungil itu dengan perlahan agar tak membangunkan bayi mungil itu. Kinanti pun melihat ada binar kasih sayang di mata Aira. Aira pun mengusap kepala Attar dengan lembut. Terlihat bayi itu terlelap sekali dalam mimpinya.


" Dia lucu sekali saat tidur begitu." tukas Aira senang saat melihat wajah damai Attar. Kinanti pun tersenyum dan membelai lembut rambut Aira.


" Dia persis sekali dengan papa dan mama nya kalau tidur begitu." ujar Kinanti. Aira menoleh ke arah ibunya.

__ADS_1


" Papa?. Mama?." tanya Aira. Kinanti mengangguk.


" Sudah malam. Kamu juga harus istirahat. Ayo kembali ke kamar mu." ujar Kinanti kepada Aira. Aira pun mengangguk mengiyakan ucapan ibu nya.


Saat berada di depan pintu, Aira menoleh menatap box bayi tempat Attar tertidur. Rasanya dia sangat ingin berlama - lama dengan bayi mungil itu. Kinanti pun mengusap punggung Aira meminta dia untuk segera kembali ke kamarnya.


Aira pun berjalan menuju kamarnya dan membuka pintu kamar itu lalu hilang di balik pintu kamarnya. Kinanti menatap tubuh anaknya dengan tatapan haru. Dia tidak menyangka jika Aira akan menggendong Attar secepat ini.


" Besok - besok kalau Aira masuk ke kamar ini untuk menemui Attar biar kan saja. Siapa tau ini akan membantu ingatannya untuk pulih." pinta Kinanti kepada perawat yang menjaga Attar.


" Baik Bu." jawab perawat itu.


Kinanti pun kembali menuju kamarnya. Ada perasaan senang di dalam hati nya. Semoga Aira terus mengalami kemajuan seperti ini dan akhirnya bisa sembuh seperti dulu lagi.


*****


Malam ini giliran Atmaja yang menjaga Revan di rumah sakit. Lelaki paruh baya itu tidak sendiri. Dia di temani pak Aziz suami mbak Aminah. Atmaja terlihat mengantuk. Berulang kali dia menguap menahan kantuknya. Pak Aziz sudah berulang kali meminta majikannya itu untuk tidur. Tapi Atmaja menolak. Dia beralasan masih belum mengantuk.


Di dalam ruangan, perawat baru saja bertukar shift dengan perawat yang tadi sore bertugas disana. Perawat itu pun masuk ke dalam ruangan tempat Revan terbaring selama ini. Mengecek semua alat - alat yang terhubung di tubuh lelaki itu.


Saat perawat disana mengecek semua alat - alat itu. Tiba - tiba tangan Revan bergerak. Perawat disana pun masih tak percaya. Dia berpikir jika itu adalah halusinasi. Tapi tak lama kemudian, tangan Revan pun bergerak kembali. Mata perawat itu pun langsung membulat karena terkejut. Di perhatikan lagi tangan Revan dengan seksama. Dan untuk ketiga kalinya tangan Revan pun bergerak kembali.


Perawat itu pun langsung berlari memanggil dokter yang ada di ruangan itu. Memberi tahu kalau tangan Revan barusan bergerak.

__ADS_1


__ADS_2