
Revan tengah berbaring di ranjang tempat tidur nya. Dia menghela nafasnya dengan berat sambil memandang sekeliling. Sunyi. Kamar itu terasa sepi tanpa adanya sang istri. Biasanya jam segini dia akan bermanja - manja dengan istrinya di atas tempat tidur. Atau gak dia dan istrinya sedang menonton dvd drama korea kesukaan istrinya.
Revan pun memeluk guling dan menghadap ke arah biasa Aira tidur. Di usap nya bantal yang ada di sebelahnya itu. Keberadaan istrinya sungguh sangat berarti baginya. Saat ini dia ingin sekali istrinya ada di sampingnya. Agar duka dan kesedihan nya saat ini bisa terhapus. Revan mencoba memejamkan matanya. Agar besok pagi dia bisa bertemu dengan wanita yang di cintainya itu.
*****
Pagi - pagi sekali Reihan sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit tempat Aira di rawat. Reihan sudah memesan tiket pesawat semalam. Ya karena Revan dan dirinya tinggal di kota yang berbeda.
" Maaf ya mas, Aku gak bisa ikut denganmu. Aku nanti siang ada jadwal operasi di rumah sakit." jelas Amanda saat menyiapkan baju suaminya ke dalam koper.
" Tidak apa - apa. Aku akan berada di sana untuk beberapa hari. Kamu di sini saja. Temani papa. Jangan bilang ke papa kalau aku akan pergi menemui Revan dan Aira." ujar Reihan. Amanda mengangguk mengiyakan.
Mereka pun keluar dari dalam kamar menuju ruang tengah. Terlihat Atmaja sedang duduk di ruang itu dengan korannya. Atmaja memang punya kebiasaan setiap pagi dan sore selalu membaca koran langganan nya setiap hari.
Lelaki paruh baya itu melihat anak dan menantunya turun dari tangga. Terlihat Reihan berjalan dengan koper di tangannya. Atmaja pun menutup korannya dan berdiri menghampiri anaknya.
" Mau kemana kalian?." tanya Atmaja kepada Reihan. Reihan dan Amanda terdiam. Mereka beradu pandang satu sama lain.
" Rei ada kerjaan di luar kota Pa untuk beberapa hari." jawab Reihan singkat. Atmaja hanya mengangguk mengiyakan ucapan Reihan.
" Apa harus sepagi ini kamu berangkat?. Kita kan belum sarapan bersama." tukas Atmaja.
" Rei dapat jadwal penerbangan pagi Pa. Lagi pula nanti siang ada meeting sama klien juga. Takut gak ke kejar waktunya." jelas Reihan berbohong. Amanda hanya terdiam dan menatap wajah suaminya yang sedang mencari alasan itu.
" Ya udah Pa, Rei berangkat dulu. Titip Amanda dan Kirana ya Pa. Kalau ada apa - apa, langsung kabari Rei." pamit Reihan sambil mencium tangan Papa nya. Dia pun juga mencium pipi istrinya sebelum berangkat sambil mengedipkan sebelah matanya. Istrinya hanya tersenyum saat melihat kode dari sang suami.
Reihan pun berangkat ke bandara di antar oleh supir keluarga itu. Di dalam mobil, Reihan menghela nafasnya lega karena berhasil lolos dari pertanyaan ayahnya itu.
Maafkan aku Pa. Aku terpaksa berbohong. Kalau aku jujur mau menemui Revan. Aku takut Papa tidak mengizinkanku. Revan sedang tertimpa musibah. Dia sangat butuh kita saat ini. gumam Reihan dalam hati.
*****
Revan sudah rapi dengan pakaian di tubuhnya. Dia tidak berniat untuk berangkat bekerja. Dia mengambil izin untuk menemani istrinya yang baru saja melahirkan anaknya itu.
Mbok Sum telah menyiapkan sarapan untuk dirinya. Revan terlihat berjalan menuruni tangga rumah itu.
" Sarapannya sudah siap tuan." ujar mbok Sum.
" Mbok makan saja sarapannya. Saya langsung berangkat ke rumah sakit saja." tukas Revan. Mbok Sum hanya mengangguk mengiyakan ucapan Revan.
Kini lelaki itu berangkat ke rumah sakit setelah memesan taksi online tadi. Karena mobil miliknya dia tinggal di sana. Tak butuh waktu lama, dirinya pun tiba di lobby rumah sakit tempat istrinya di rawat.
Revan langsung berjalan menuju tempat Aira di rawat inap. Saat dia sampai disana. Dia tidak mendapati istrinya. Di cari nya istrinya tapi bed yang di tempati istrinya semalam kosong.
__ADS_1
" Sus, pasien di bed ini kemana?. Apa sudah di pindah?." tanya Revan kepada salah seorang perawat disana
" Maksudnya istri dokter?." tanya perawat itu. Revan mengangguk.
" Nyonya Aira sudah di pindah semalam. Dia berada di ruang perawatan." ujar perawat disana. Revan pun bergegas menuju ruang perawatan yang kemarin di tempati nya sebelum melahirkan.
Sesampainya disana terlihat ibu mertuanya baru keluar dari ruang tersebut.
" Mama." sapa Revan. Kinanti tersenyum melihat Revan.
" Kamu sudah datang?. Aira baru selesai di seka tubuhnya. Dia masih belum boleh mandi dan turun dari tempat tidur." ujar Kinanti. Revan pun masuk kedalam ruang itu. Terlihat istrinya sudah bisa duduk walaupun masih di atas tempat tidur.
Aira tersenyum saat melihat kedatangan suaminya itu. Revan pun mengusap kepala istrinya dengan lembut. Di berikannya banyak ciuman di kening wanita itu.
" Kamu sudah bisa duduk?. Cepat sekali. Apa tidak sakit?." tanya Revan.
" Masih sakit sih. Tapi aku paksa saja. Aku harus segera bangun dan bisa berjalan lagi. Aku ingin menemui anakku. Aku ingin bertemu dengannya." ujar Aira.
" Jangan terlalu di paksa. Pelan - pelan saja." tukas Revan.
" Gimana kondisi anak kita?." tanya Aira.
" Entah lah. Aku belum menemui nya. Tadi dari rumah aku langsung mencarimu di ruang atas. Tapi ternyata kamu sudah di pindah." jelas Revan.
" Ada apa?." tanya Revan saat dirinya tau sedang di perhatikan.
" Bawa aku menemui anak kita. Aku ingin melihatnya." pinta Aira. Revan memeluk tubuh istrinya. Di belai nya rambut wanita itu.
" Nanti. Kalau kamu sudah benar - benar sehat kita akan menemui nya." jawab Revan.
" Sekarang saja. Aku ingin melihat nya. Kita bisa pakai kursi roda kan." ujar Aira. Revan hanya menghela nafasnya.
" Kamu sudah memberinya nama?." tanya Aira kepada suaminya.
" Belum. Aku belum memberinya nama." jawab Revan. Aira berdecak mendengar jawaban suaminya. Revan hanya tersenyum melihat istrinya itu.
" Bagaimana kalau namanya Attarrazka." usul Revan. Aira menatap wajah suaminya.
" Attarrazka?!. Artinya apa?." tanya Aira.
" Attarrazka memiliki arti keberuntungan atau suatu rezeki yang murni. Karena dia suatu rezeki dan kado terindah untuk kita berdua." jelas Revan. Aira tersenyum mendengar itu. Dia begitu suka dengan nama pemberian suaminya itu.
" Attarrazka .." Aira mengulangi nama itu. Wajahnya terlihat senang.
__ADS_1
" Kamu suka dengan nama itu?." tanya Revan. Aira mengangguk. Revan pun tersenyum melihat istrinya yang kembali tersenyum seperti dulu lagi.
" Panggilannya siapa?. Attar atau Azka?." tanya Aira lagi.
" Terserah kamu. Attar boleh. Azka boleh." jawab Revan.
" Gimana kalau Attar saja. Terlihat keren bukan." ujar Aira.
" Iya. Attarrazka Ega Pranata." tukas Revan. Aira tertawa.
" Kenapa?." tanya Revan tak mengerti akan arti tawa istrinya.
" Kenapa di tambahi dengan nama jelek itu sih. Menyebalkan!." jelas Aira.
" Hei. Dia kan anakku. Jadi harus ada nama bapaknya dong." ujar Revan.
" Nama bapaknya jelek amat. Kasian anakku. Dia pasti jadi bahan olok - olok temannya besok kalau sekolah." tukas Aira. Revan tersenyum melihat istrinya itu.
" Sayang. Aku mencintaimu." seru Revan sambil mengusap pipi istrinya.
" Aku tidak. Sekarang cinta ku hanya untuk Attar seorang." jawab Aira.
" Kamu jahat sekali. Mentang - mentang ada yang baru. Yang lama di lupakan." ujar Revan.
" Biarin. Kamu sama Attar juga masih ganteng Attar. Jadi aku pilih Attar saja." tukas Aira.
" Baiklah. Terserah kamu saja. Jangan nyesel ya kalau aku di lirik orang." seru Revan menggoda istrinya.
" Paling juga yg ngelirik Sheila mantan kamu itu." ujar Aira ketus.
" Hei kenapa bahas mantan sih. Curang deh." jawab Revan. Aira berlagak acuh dan membuang muka nya ke arah lain. Revan mencubit pipi istrinya itu dengan gemas. Aira tergelak menahan sakit dan tawa nya.
" Jadi kapan aku bertemu dengan Attar?." tanya Aira lagi.
" Nanti kalau kamu sudah sehat." jawab Revan.
" Tapi aku sudah sehat. Lihat saja. Aku sudah bisa duduk kan." ujar Aira. Revan mengecup kedua pipi istrinya bergantian.
" Kamu pasti ketemu dengan Attar. Percaya deh sama aku. Lagi pula dia gak akan kemana - mana juga. Kamu akan memiliki banyak waktu bersamanya." jelas Revan. Mata Aira berkaca - kaca.
" Benarkah?. Apa kamu yakin?." tanya Aira. Revan mengangguk.
" Iya. Aku yakin. Karena Attar kita adalah anak terkuat yang pernah ada." jawab Revan. Aira tersenyum dengan di iringi butiran air matanya yang menetes. Revan menghapus air yang mengalir dari pelupuk mata istri nya.
__ADS_1