Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 57 Kisah Kelam


__ADS_3

Revan menghentikan laju motor tersebut di depan sebuah taman. Dia pun duduk di sebuah kursi panjang di depan taman itu. Revan pun menunduk terdiam menatap tanah yang dia pijak.


Aira yang semula berdiri saja di depan taman itu. Perlahan dia pun berjalan mendekati lelaki itu. Aira mengusap punggung Revan yang duduk terdiam disana.


" Apa aku salah?." tanya Revan dengan suara berat nya menahan tangis. Air mata nya pun mulai mengalir di pelupuk matanya. Aira masih mengusap punggung Revan.


" Apa aku tidak berhak memilih keinginan ku sendiri?." tanya Revan lagi.


" Selama ini aku sudah banyak menuruti semua keinginan dia. Tapi kenapa dia tak pernah mengerti apa yang aku inginkan!." imbuh Revan yang mulai terisak.


Revan menarik tangan Aira yang mengusap bahu nya. Dia menggenggam erat tangan perempuan itu. Tangis nya semakin pecah saat menggenggam tangan Aira.


" Aku sangat mencintai mu. Sangat mencintai mu. Kenapa mencintai dirimu membutuhkan pengorbanan begitu berat seperti ini?." ujarnya sambil sesenggukan.


" Revan." seru Aira. Kini Aira berjongkok di depan lelaki itu. Revan menatap wajah Aira dengan berurai air mata. Matanya merah karena menahan tangis.


" Jika kamu lebih mencintai keluarga mu, pergi lah. Kembali lah kepada mereka. Aku akan sangat bahagia dengan itu. Aku berjanji tidak akan muncul lagi di hidupmu." tukas Aira dengan mata yang berkaca - kaca.


Revan masih terdiam dan memandang wajah Aira lekat - lekat. Tangannya masih menggenggam erat tangan Aira.


" Kamu membenciku?." tanya Revan. Aira menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Mana mungkin aku membencimu. Aku sungguh mencintai mu." jelas Aira.


" Lalu, kenapa kamu selalu menyuruhku pergi dari hidupmu?." tanya nya lagi dengan suara terendahnya.


" Karena aku hanya ingin kamu bahagia!." jawab Aira dengan berurai air mata. Dia ingin sekali menahan air matanya. Tapi dia sudah tidak bisa menahan.


" Bahagia ku ada di hidupku sendiri. Dan bahagiaku bila terus bersama mu." ujar Revan. Kini tangan Aira mengusap air mata di pipi Revan.


" Jangan suruh aku pergi lagi. Aku sudah tidak punya siapa - siapa lagi selain kamu." tukas nya dengan air mata masih menetes. Aira mengusap air mata itu kembali.


" Jangan begini Revan. Aku mohon jangan begini. Aku tau kamu sangat menyayangi keluarga mu. Terlebih papa mu. Dia orang tua mu yang terakhir. Hanya dia yang kamu miliki. Aku sangat mencintai mu. Tapi aku tak boleh egois. Pulang lah Revan. Minta maaflah kepadanya. Dia pasti akan memaafkanmu." ujar Aira.


" Aku tidak mau!. Aku sudah bilang, jangan suruh aku pergi lagi. Apa kamu tuli, hah?." bentak Revan. Aira menggigit bibir bawahnya. Ini pertama kali Revan membentak dirinya.


" Maaf. Maaf kan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu. Maaf Aira. Maaf." tukas Revan sambil menggenggam tangan Aira. Dia tidak sadar kalau tadi membentak perempuan itu.

__ADS_1


" Aku tidak apa - apa Van." seru Aira sambil mengusap air matanya dan mencoba tersenyum. Revan memeluk tubuh kekasihnya itu. Aira pun membalas pelukan Revan.


" Aku sudah pernah bilang kan. Kalau aku tidak akan pernah meninggalkan mu." tukas Revan. Aira mengangguk mengiyakan.


" Aku tidak menyesal pergi meninggalkan semua nya. Aku tidak menyesal. Asalkan kamu selalu ada di sisi ku." ujar Revan.


" Aku mohon. Jangan suruh aku pergi. Karena aku tidak akan pergi meninggalkan kamu. Apapun yang terjadi." tukas Revan. Aira mengangguk mengiyakan ucapan Revan. Mereka masih mengeratkan pelukannya.


" Lalu kamu mau tinggal dimana sekarang?." tanya Aira saat melepas kan pelukannya.


" Untuk malam ini, aku akan tinggal di hotel. Besok aku akan cari tempat tinggal." jawab Revan.


" Baiklah. Lalu besok kalau kamu mau pergi bekerja gimana?. Mobilmu kan kamu tinggal di rumah lama mu." tanya Aira.


" Aku bisa naik taxi. Atau naik ojek." jawabnya. Aira pun tersenyum mendengar ucapan Revan. Revan pun mulai menyunggingkan senyum di bibirnya.


" Ayo kita cari hotel dulu buat kamu tidur malam ini." seru Aira. Revan mengangguk mengiyakan. Mereka melangkahkan kakinya menuju motor yang terparkir di pinggir jalan. Tiba - tiba langkah Aira pun terhenti.


" Kenapa?." tanya Revan.


" Apa kamu ada uang untuk menyewa hotel?." tanya Aira ragu. Revan pun tersenyum mendengar itu.


" Kamu takut aku gak bawa uang dan gak bisa nyewa hotel dan gak bisa makan kan?." tanya Revan memastikkan apa yang ada di pikiran Aira. Aira mengangguk mengiyakan.


" Kamu kebanyakan nonton sinetron." Revan mencubit hidung Aira dengan gemas.


" Ya biasanya kan kalo orang minggat itu gak bawa apa - apa." jawab Aira.


" Aku memang gak bawa apa - apa. Hanya 2 stell baju, surat - surat, dan juga dompet aja." tukas Revan.


" Surat - surat?." tanya Aira.


" Iya. Surat kelahiran, surat rumah, kartu keluarga, ijazah, surat deposito juga ada." jawabnya santai. Aira menolak ke arah Revan dan menatap lelaki itu dengan heran.


" Kamu sudah merencanakan ini dari awal?." tanya Aira.


" Tidak. Tadi waktu masuk kamar tiba - tiba kepikiran bawa aja." jawabnya.

__ADS_1


" Berhubung surat - surat ku ada dalam satu map, makanya surat - surat nya terbawa semua sekaligus." jelas Revan. Aira berdecak kesal. Sia - sia rasanya khawatir dengan lelaki di sebelahnya ini. Karena dalam kondisi seperti apapun, dia selalu saja sangat pintar dan cerdik.


" Ayo kita cari hotel. Kamu nanti juga nginep disana juga kan sama aku?." tanya Revan menggoda.


" Ogah. Setelah kamu dapat hotel, aku langsung pulang." jawab Aira.


" Kenapa pulang?. Nginep aja. Gak baik perempuan pulang malam - malam." tukas Revan sambil tersenyum.


" Gak baik juga perempuan nginep berduaan bareng lelaki yang belum mukhrim." jawab Aira sambil mencubit lengan Revan. Revan pun mengadu dan meringis kesakitan.


" Setelah aku dapat rumah, kita urus semua rencana pernikahan kita yuk." pinta Revan.


" Menikah?." tanya Aira. Revan mengangguk mengiyakan.


" Kamu serius?." tanya Aira.


" Apa aku terlihat main - main?." tukas Revan. Aira menggelengkan kepalanya.


" Aku ingin segera menikah dengan mu." ujar Revan. Aira pun tersenyum mendengar ucapan Revan.


" Apa tidak apa - apa?." tanya Aira.


" Tidak apa - apa. Laki - laki seperti ku tidak membutuhkan wali untuk menikahi perempuan yang di cintainya. Dulu kak Reihan dan kak manda pun menikah tanpa kehadiran papa." ujar Revan.


" Serius?. Kenapa?." tanya Aira.


" Karena papa tidak setuju." jawab Revan.


" Apa?." Aira tercekat.


" Lalu kak manda hamil dan lahir lah kirana. Sejak saat itu, akhirnya papa mulai merestui pernikahan mereka dan menyuruh mereka tinggal bersama - sama hingga saat ini." jelas Revan.


" Maka dari itu, kita harus cepat - cepat menikah dan memberi papa cucu. Biar dia merestui pernikahan kita." tukas Revan menggoda.


" Kamu pasti bercanda kan Revan?." tanya Aira sebal.


" Buat apa aku bercanda. Itu memang kenyataan. Aku memang tidak tau jelas kejadiannya. Karena waktu itu aku kuliah di luar negri. Aku hanya mendengar potongan cerita itu dari mbok sum ketika aku sudah kembali ke sini." jelas Revan.

__ADS_1


Aira masih berpikir keras mengenai cerita Revan. Revan pun menggandeng tangan Aira untuk beranjak dari taman untuk mencari hotel untuk menginap malam ini.


__ADS_2