
Revan sedang mengendarai mobilnya menuju rumah Aira. Tampak Aira dan Santi duduk di bangku tengah mobilnya. Sementara Akbar dan Bian duduk di sampingnya.
Sesekali ia melirik ke arah kaca spion yang ada di tengah memperhatikan wajah wanitanya itu. Akbar melirik ke arah Revan dan tersenyum melihat tingkah orang yang sedang jatuh cinta itu.
" Mas Revan kita mampir ke pasar dulu ya. Aku tadi belum masak. Kita belanja dulu." pinta Santi.
" Kita beli lauk yang sudah matang aja, bun." seru Akbar sambil menoleh ke arah istrinya itu.
" Iya dan. Jadi kamu gak perlu repot - repot masak. Atau gak kita makan malam di luar saja." ajak Revan.
" Ya sudah terserah kalau gitu. Mbak Aira mau makan apa." tanya Santi kepada kakaknya yang duduk diam menatap ke luar jendela.
" Apa aja." jawab Aira singkat.
" Gimana kalau nasi padang." tukas Revan meminta persetujuan orang - orang di dalam mobil itu.
" Boleh juga mas." jawab Akbar. Santi pun mengangguk mengiyakan ucapan Revan.
Akhirnya mobil mereka menuju restoran padang terdekat disana. Mereka pun turun ketika mobil Revan sudah memarkirkan di area parkir disana.
Para pelayan restoran itu menyambut kedatangan mereka. Dan Revan pun meminta semua hidangan masakan khas kota padang itu di sajikan di atas meja.
Tak lupa mereka memesan es jeruk untuk minumnya. Setelah menunggu tak beberapa lama. Pelayan datang membawa piring berisi makanan itu. Hampir satu meja penuh dengan makanan itu.
Santi, Akbar, dan Aira saling berlandangan. Mereka tidak yakin akan bisa menghabiskan semua makanan ini.
" Van kamu gak salah pesen kan. Ini kenapa makanan nya buanyak begini. Kalau gak habis kan mubazir." seru Aira sambil kebingungan menatap menu makanan di atas meja.
" Kalau kamu takut mubazir, ya di habisin aja semua nya." jawab Revan santai.
" Sebanyak ini mas?!. Gagal dong diet aku." tukas Santi lesu.
Revan dan Akbar tergelak menahan tawa melihat tingkah dua orang wanita di depannya itu.
" Sampai kapan kita akan ngobrol. Aku sudah lapar nih. Apalagi menu makanan nya menggoda semua." seru Akbar mengambil sendok bersiap untuk makan.
Santi melotot ke arah suaminya itu. Dia gemas sekali ingin mencubit lengannya. Dasar tidak tau malu sekali sih, gumamnya.
" Ayo silahkan dimakan. Nanti keburu dingin loh." seru Revan.
Terlihat Akbar mengambil piring yang berisi gulai daun singkong dan tambusu ( usus sapi yang di isi telur dan tahu lalu di kukus ) bumbu kuning. Santi pun mengambil telur dadar karena dia mau menyuapi Bian terlebih dahulu.
Revan mengambil kikil sapi dan sambal ijo lalu memakannya dengan lahap. Dia menatap ke arah Aira yang hanya diam tak menyantap makanannya itu.
" Kenapa kamu gak makan." tanya Revan setelah menelan makanan yang di kunyahnya tadi.
Aira memperlihatkan tangannya yang terluka. Revan lupa kalau tangan kanan Aira terluka dan tidak bisa mengambil makanan.
Revan menarik kursinya untuk pindah duduk di samping perempuan itu. Lalu mengambil piring nasi di depan kelasihnya itu.
" Kamu mau lauk apa?!." tanya Revan.
Aira menunjuk gulai babat dan perkedel kentang. Revan mengambil makanan yang di ingin perempuan itu lalu menyuapi nya.
Aira tercekat menatap Revan yang mencoba menyuapi nya makan. Akbar dan Santi tersenyum melihat keromantisan mereka berdua.
" Van malu di lihat orang - orang." bisik Aira pelan.
" Lalu kamu tidak akan makan begitu." tukas Revan menatap wajah Aira.
" Tangan kamu lagi sakit. Jadi aku akan menyuapi mu. Ayo buka mulutmu." seru Revan.
__ADS_1
Aira membuka mulutnya dengan malu - malu. Revan pun menyuapi makanan yang di ingin dia tadi.
" Mamara kayak Bian. Maem aja di suapin." tukas Santi menggoda kakaknya itu.
Wajah Aira tampak merona. Dia sungguh malu. Revan tersenyum mendengar ucapan Santi.
Setelah selesai makan, Revan berjalan menuju kasir untuk membayar semua makanan. Masih banyak makanan yang belum terjamah di atas meja. Revan pun meminta pelayan membungkus makanan yang masih di atas meja untuk di bawa Santi pulang. Biar dia besok tak usah repot memasak.
Sesampainya di rumah Aira. Akbar langsung masuk ke dalam kamar untuk menidurkan Bian yang terlelap dalam gendongan ayahnya. Santi pun mengekor pada suaminya sambil membawa makanan yang di bungkus tadi untuk di hangatkan kembali agar tidak basi.
Aira dan Revan duduk di ruang tamu. Aira masih mengamati lukanya yang di balut perban. Dia mendapat cuti selama satu minggu untuk memulihkan luka nya itu.
" Minggu depan kakak ku pulang." seru Revan membuka percakapan.
Aira menatap revan bingung. Apa hubungan nya kakak nya pulang dengan dirinya. Gumamnya dalam hati.
" Aku ... Berniat untuk mengajak kakak ku menemui mu." tukas Revan lagi.
" Aku .... Ingin .... Melamarmu .... " jelas Revan gugup. Aira melotot kan matanya menatap Revan dalam - dalam.
" Kamu ... Bercanda kan." tanya Aira tak percaya. Iyaa pasti Revan sedang bercanda. Hah dasar bercanda nya gak lucu banget. Gumam Aira dalam hati.
" Enggak. Aku serius." jawab Revan.
Aira tertawa garing mendengar ucapan Revan yang mendadak dan tak masuk di akal itu.
" Bercanda mu gak lucu tau gak sih." seru Aira.
" Aku gak bercanda Aira. Aku serius dengan ucapanku. Kamu gak percaya denganku." tukas Revan menatap Aira.
" Van ... Tapi aku ... " belum selesai Aira berbicara Revan memotong ucapannya.
" Kenapa?!. Kamu pikir aku hanya main - main dengan hubungan kita, gitu. Dari awal aku sudah bilang Aira. Aku tak pernah main - main dengan hubungan kita. Kamu tau aku. Aku tak pernah main - main dengan apa yang ku ucapkan. Apalagi ini menyangkut masa depan kita." jelasnya sedikit kesal karena Aira meragukan niatnya.
Revan hanya terdiam. Dia mengerti apa maksud perkataan Aira. Dia membicarakan statusnya.
" Apa papamu juga tahu keinginan mu ini." tanya nya lagi.
" Tidak." jawab Revan singkan.
Aira tersenyum mendengar ucapan Revan. Senyumannya penuh arti.
" Apa perempuan tadi yang di rumah sakit itu mantanmu?!." tanya Aira lagi. Revan menatap mata Aira. Dia tidak ingin membahas soal Sheila. Dia ingin membicarakan kelanjutan hubungan mereka ini.
Aira mengangguk perlahan. Sepertinya dia tau jawabannya dengan sikap diam nya Revan. Lalu dia menarik nafas dan menghembuskannya sambil menatap wajah Revan.
" Kembali lah dengan dia. Aku rasa dia sangat mencintai mu. Dia sepadan denganmu. Keluarga mu pasti senang dan setuju kau bersamanya." ujar Aira sambil menatap wajah Revan dan sedikit menyunggingkan senyum.
Revan mendengus kesal mendengar ucapan Aira itu.
" Kamu tidak berhak menyuruh ku kembali dengan dia. Aku dan Sheila sudah selesai. Kita gak ada hubungan apa - apa. Kita kan lagi membahas hubungan kita. Kenapa kamu mengalihkan pembicaraan ini sih, hah." jawab Revan kesal. Suara nya pun mulai meninggi.
Santi dan Akbar mendengar ucapan Revan. Mereka berdua saling pandang. Mereka tau problem yang di alami kakaknya itu.
" Lalu kamu ingin aku seperti apa. Kamu ingin aku bilang iya lalu memperkenalkan kepada kakak dan papa mu. Terus kamu ingin aku diam saja saat mereka menentang hubungan kita ini. Kenapa jadi kesannya aku tidak punya harga diri begitu." tanya Aira sebal.
" Aku cukup tau diri van. Aku tau aku ini siapa. Aku yakin papa dan kakakmu pasti tidak akan setuju kalau aku berhubungan denganmu. Sebelum mereka mempermalukan aku. Dan sebelum rasa cintaku padaku cukup besar. Lebih baik kita akhiri saja semua ini. " jelas Aira.
Revan tercekat mendengar ucapan Aira itu. Baru saja dia memulai hubungan ini. Kenapa aira sudah menyerah dan mundur begitu saja. Sebegitu takut nya dia akan terluka kembali.
" Aku gak nyangka kamu akan ngomong kayak gitu. Kita baru memulai. Kenapa kamu ingin mengakhiri nya. Kalau pun mereka kakak dan papaku tidak setuju. Aku pun tidak perduli. Ini hidup aku, Ra. Aku yg akan menjalani semua ini. Bukan mereka. " tukas Revan.
__ADS_1
" Jangan bodoh Revan. Benar ini memang hidup kamu. Tapi sebelum kamu menjadi seperti ini, siapa orang yang paling berpengaruh dalam kesuksesanmu itu kalau bukan mereka. Keluargamu." seru Aira.
" Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Begitu pun papamu. Pasti dia ingin kamu memiliki istri yg baik pula." imbuhnya.
" Kenapa kamu selalu menganggap dirimu tidak baik untukku, hah. Kamu bercerai dengan suami mu itu bukan keinginanmu. Tapi dia laki - laki ******** itu yang membuangmu." jawab Revan.
" Lalu kamu ingin memungutku yang sudah di buang layaknya benda usang ini untuk bermimpi menjadi sesuatu yang berharga tinggi, hah." seru Aira. Kini dia mulai menitikkan air mata. Hatinya sudah sesak penuh dengan opini - opini dia sendiri.
" Sudah lah van. Aku tidak ingin membahas ini lagi. Semuanya sudah jelas untukku. Aku tidak layak untukmu. Pergi lah. Jangan kemari lagi. Jangam temui aku lagi. Aku tidak ingin melihatmu lagi. " jelas Aira sambil mengusap air mata nya.
Dia mencoba tegar di hadapan lelaki ini. Revan hanya diam menatapnya. Pikiran nya kalut. Terlebih lagi hatinya. Jangan di tanya seperti apa hatinya sekarang. Pasti sudah remuk dan berserakan.
" Apa kamu mencintaiku." tanya Revan sambil terus menatap mata Aira. Dia mencari kebenaran di mata perempuan itu.
" Tidak. Aku tidak mencintaimu." jawab Aira sambil mengalihkan pandangannya agar matanya tak bertemu dengan tatapan Revan.
" Apa kamu mencinta ku." tanya Revan lagi. Dia masih menatap wajah perempuan itu.
" Tidak van. Pergilah dan jangan kemari lagi." bentak Aira lalu dia berdiri untuk beranjak pergi. Revan menarik tangan nya kasar. Sehingga dia jatuh terduduk kembali di hadapan lelaki itu.
" Tatap mataku Ra. Apa kamu mencintai ku." tanya nya lagi.
Aira menatap mata lelaki itu. Dia tak kuasa menahan air mata nya.
" Aku tidak mencintai mu." jawab Aira menatap mata Revan dengan derai air matanya.
Revan menarik punggung Aira dalam pelukannya. Di dekapnya perempuan itu erat - erat. Aira pun membalas pelukan itu. Rasanya dia tak ingin melepas pelukan lelaki itu. Dia sangat mencintai lelaki itu. Sangat.
Tapi dia harus berbohong dan harus merelakan lelaki ini pergi. Dia tidak ingin membuat lelakinya ini susah kedepannya.
" Kamu bohong Ra. Aku tau kamu juga mencintai ku. Sama seperti aku. Aku tidak mau berpisah dengan mu. Tidak Ra. Aku akan membuat keluargaku menerima mu. Kalau pun mereka tidak menerima mu, aku tidak perduli. Aku siap meninggalkan semuanya demi kamu." jelas Revan sambil terus memeluk tubuh Aira.
Pelukannya masih kuat. Terlihat buliran bening keluar dari pucuk matanya. Dia sangat tidak ingin berpisah dengan perempuan ini. Tekatnya sudah bulat. Apapun nanti keputusan mereka, dia tidak perduli. Dia akan tetap bersama perempuan ini.
Santi dan Akbar yang menguping pembicaraan mereka dari dalam pun ikut terharu. Santi kembali menitikkan air mata nya. Akbar yang ada disampingnya pun memeluk tubuh istrinya itu.
" Aku memcintaimu Ra. Sangat mencintai mu." ucap Revan lembut tepat di telinga Aira.
Aira yang mendengar itu hanya memejamkan matanya dan terus memeluk nya. Dia mencoba meresapi setiap kata cinta dari kekasihnya itu.
Revan melepas pelukannya. Di tatapnya wajah Aira dalam - dalam. Di usapnya bekas air mata yang tersisa di pipinya. Aira pun membalas tatapan penuh cinta dari lelakinya itu.
Di ciumnya kening Aira dalam - dalam oleh Revan. Aira tersenyum dan tetap memejamkan matanya meresapi kecupan penuh arti itu.
Revan melepas kecupan itu dan menempelkan dahi nya ke dahi Aira. Mata mereka bertemu di satu titik. Tampak senyum tersungging di bibir lelaki itu.
Revan menatap bibir perempuan di hadapannya ini yang menggoda. Tanpa pikir panjang Revan pun menempelkan bibirnya ke bibir perempuannya itu. Awalnya Aira tak membalas nya. Tapi semakin lama dia pun tergoda dengan kelembutan bibir lelaki nya ini.
Ciuman mereka cukup dalam dan lembut. Mereka berdua menumpahkan semua hasrat dan emosi mereka tadi dalam ciuman ini.
Setelah cukup puas ******* bibir perempuan nya itu. Revan melepas bibirnya dan kembali mengecup kening dan kedua pipi Aira. Aira hanya diam melihat kelakuan Revan itu.
Dia tidak memungkiri jika dia juga menginginkan sentuhan dan kecupan dari lelakinya itu.
~ **Happy reading ~
Hai readers ...
Tolong kasih like, komen, dan vote nya yaaa ...
Episode kali ini cukup buat penulis baper loh ...
__ADS_1
Terima kasih sudah mendukung author sampai sejauh ini ...
Happy weekend semuanya** ....