
Revan membuka pintu ruangan observasi bayi disana. Terlihat banyak bayi berada dalam Inkubator dan terlihat sama dengan anaknya. Seorang dokter menghampirinya.
" Dok, bayi nya di sebelah sana!." ujar dokter tersebut dan Revan pun berjalan mengikuti langkah dokter itu.
Dokter Anne berhenti di depan sebuah box bayi. Lalu menyuruh Revan untuk mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum memyentuh darah dagingnya itu. Revan pun menurut.
Setelah itu dia pun berjalan mendekat ke arah dokter wanita itu. Terlihat seorang bayi yang masih sangat mungil dengan beberapa selang di hidung dan mulut nya. Revan pun tak kuasa melihat anaknya seperti itu. Tangis nya pun pecah. Di usap nya tangan mungil yang masih merah itu.
Dokter Anne pun mengangkat tubuh bayi mungil itu pun dan menyerahkan kepada Revan. Revan sungguh tak kuasa melihat dan menyentuh bayinya itu. Dengan mata masih berurai air mata dan tangan yang bergetar, Revan menggendong bayinya untuk pertama kali. Terlihat ada sebuah bekas jahitan di dada sebelah kiri nya. Revan menoleh ke arah dokter Anne untuk mempertanyakan bekas apa itu.
" Dokter, tadi kami melakukan tindakan kepada anak dokter. Bayi nyonya Aira tidak menangis saat di lahirkan. Itu karena bayi tersebut telah menelan banyak cairan air ketuban hingga memenuhi rongga paru - paru nya. Jadi kami tadi sedikit melubangi rongga dada anak dokter untuk mengeluarkan cairan ketuban itu." jelas Dokter Anne.
Revan begitu terkesiap mendengar ucapan wanita seprofesinya itu. Tangis nya pun semakin jadi saat mendengar itu. Di peluknya bayi mungil itu dengan perlahan dan hati - hati.
" Maaf dok, tapi kita terpaksa melakukan itu tanpa persetujuan dokter. Kita harus cepat melakukannya tadi. Kalau tidak bayi dokter tidak akan terselamatkan karena kesulitan untuk bernafas. Tadi saja dia sempat berhenti bernafas untuk beberapa detik. Kita terus melakukan CPR dan sebagainya untuk mengembalikan nafasnya." jelas dokter Anne.
" Terima kasih dok. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa anak saya. Saya mohon ke depannya tetap begitu. Lakukan semua yang terbaik untuk anak saya. Berapa pun biaya nya saya tidak perduli. Tolong selamatkan anak saya!." pinta Revan kepada dokter wanita itu.
" Saya dan tim disini akan melakukan yang terbaik dan semampu kami dokter. Dokter Revan dan keluarga tolong selalu berdoa agar bayi dokter Revan bisa survive dan hidup selayaknya anak - anak yang lain." ujar dokter Anne. Revan mengangguk.
" Baiklah dok, saya kasih waktu dokter untuk berduaan dengan bayi nya. Saya tinggal dulu ya dok." ujar dokter Anne dan berlalu pergi.
Revan masih menggendong bayinya. Di ciumi nya tangan mungil itu yang ditusuk beberapa jarum untuk kelangsungan hidupnya. Revan pun mengadzani bayi nya yang tadi belum sempat dia lakukan. Bayi itu pun merespon semua yang di lakukan Revan. Saat Revan membacakan adzan di telinga nya, bayi itu serasa ingin menangis. Tapi sayang dia tidak bisa menangis karena mulutnya terhalang oleh selang oksigen.
Revan masih memeluk bayi nya itu dan menetes kan air mata. Ingin sekali dia saja yang menggantikan penderitaan yang di alami istri dan anaknya itu. Dia tidak tega melihat orang yang di cintainya menderita seperti ini. Di letakkan kembali bayi mungil itu kedalam box bayi. Di lihatnya semua kabel - kabel dan selang yang terhubung di tubuh mungilnya.
" Sayang. Jagoan papa yang kuat ya. Papa akan melakukan apapun agar kamu sembuh. Jangan menyerah ya nak. Kamu pasti rindu kan dengan mama, hmm. Kalau kamu sudah sembuh kita bisa pulang dan tinggal bersama ya." ujar Revan seorang diri sambil menggenggam tangan mungil anaknya dengan satu jari miliknya.
Di usapnya kepala yang masih terasa empuk dan lunak itu. Karena memang tempurung kepala nya belum terbentuk sempurna dan masih sangat kecil. Terlihat rambut yang masih jarang - jarang tumbuh di kepala mungil itu. Revan tersenyum dalam tangisnya saat melihat anaknya tersenyum seakan mendengar apa yang dia ucapkan.
__ADS_1
" Papa temui mama dulu ya. Nanti papa kesini lagi. Kamu bobok aja disini. Jangan pergi kemana - kemana. Jangan tinggalkan papa dan mama. Nanti papa dan mama akan sedih kalau kamu tinggal." ujar Revan dengan tangis yang menjadi lagi. Dia sungguh tidak bisa menahan untuk tidak menangis. Serasa dadanya sesak dan tersayat saat melihat kondisi bayinya itu.
Tuhan. Apa ini hukuman atau ujian untukku?. Kalau ini hukuman, seharusnya Kau hukum saja aku. Jangan anakku yang tidak berdosa ini. Jika ini semua ujian. Tolong lah cabut semua ujian ini. Karena aku sungguh tidak mampu untuk melewatinya. Aku tidak mampu melihat anakku menderita seperti ini. gumam Revan dalam hatinya.
Revan bangun dari duduknya. Di tutupnya lagi pintu box bayi itu bagian depannya tadi. Agar buah hatinya merasakan suhu hangat di dalam box itu. Revan mengusap wajahnya yang basah dan sembab. Dokter disana pun hanya tersenyum dan menguatkan lelaki yang baru saja menjadi seorang ayah itu. Revan mencoba tersenyum dan menyembunyikan luka di hatinya itu.
Sebelum pergi, dokter Anne memberikan berkas - berkas untuk di tanda tangani olehnya. Itu mengenai prosedur penanganan yang akan di lakukan kepada bayi tersebut. Revan juga di minta untuk tanda tangan perihal susu, vitamin, serta obat yang akan di berikan kepada bayinya nanti.
" Berikan semua yang terbaik. Susu, vitamin, ataupun obatnya. Tolong jaga dia baik - baik. Pantau selalu perkembangannya. Kalau ada apa - apa segera hubungi aku." ujar Revan kepada dokter Anne sebelum pergi. Dokter itu pun mengiyakan ucapan Revan.
******
Revan berjalan lagi melewati lorong untuk menemui istrinya. Kini Aira di rawat di lantai 4 gedung rumah sakit ini. Revan pun memencet tombol lift yang terbuka itu. Ini lift khusus untuk para dokter dan perawat. Jadi disana terlihat sepi. Di dalam lift Revan menghela nafasnya begitu berat. Dia pun memijat tengkuknya yang merasa berat. Seperti ada beban yang menghantam bagian itu. Pintu lift pun terbuka. Dia pun langsung berjalan menuju ruang perawatan istrinya.
Saat Revan memasuki ruang ICU itu, terlihat beberapa dokter sedang berbincang di meja kerjanya masing - masing. Mereka begitu terkesiap saat melihat Revan berada disana.
" Dokter Revan." ujar salah seorang dokter. Revan pun menoleh.
" Istri dokter ada di bed nomer 4. Kondisi nya masih belum stabil dok. Tensi darahnya masih juga tinggi. Kami juga masih belum melepas alat Fentilator di tubuhnya." jelas dokter tersebut kepada Revan. Revan menghela nafasnya lalu beranjak menuju bed yang di maksud dokter itu.
Di buka lah tirai yang menutup setengah bed itu. Terlihat istrinya masih terbaring lemah dengan alat Fentilator di mulutnya. Di genggamnya tangan wanita itu. Aira membuka matanya perlahan. Dia sekilas melihat wajah suaminya disana. Revan tersenyum ke arah istrinya itu. Tapi wanita itu memejamkan matanya lagi.
" Dia belum sadar?". tanya Revan.
" Pengaruh obat biusnya belum hilang dok. Maka dari itu nyonya Aira hanya bangun sebentar - sebentar saja." jawab dokter itu. Revan menarik kursi yang ada di dekat sana. Lalu dia pun duduk di samping istrinya itu.
Saat melihat Revan yang ingin berdua saja dengan istrinya. Dokter yang tadi berbicara dengannya pun pamit meninggalkan sepasang suami istri itu. Dokter itu pun hanya melihat dari kejauhan saja.
Revan membelai pipi istrinya dengan lembut. Di ciumnya kening wanita yang sudah berkorban banyak untuk kelahiran anaknya. Aira membuka kembali matanya. Dia menatap wajah Revan dengan tatapan sayu. Setengah sadar kondisi nya saat ini. Revan tersenyum saat di tatap oleh istrinya.
__ADS_1
" Sayang. Jangan banyak gerak dulu. Tubuh kamu masih lemah. Istirahat saja dulu. Bobok lagi ya." ujar Revan kepada Aira. Aira pun memejamkan matanya kembali.
Revan masih saja mengamati wajah istrinya yang pucat itu. Berulang kali dia menghela nafas yang begitu sesak di dalam dadanya. Aira kembali membuka matanya dan menatap lelaki itu. Revan mengusap air mata yang mengalir di sudut mata istrinya.
" Kenapa?. Ada apa kamu menangis?." tanya Revan lirih. Aira hanya menatap wajah suaminya tanpa bisa berbicara. Karena mulutnya tengah terpasang alat Fentilator yang tidak bisa membuatnya bicara sepatah kata pun. Revan tau apa yang sedang di pikirkan istrinya. Pasti soal anaknya.
Revan mengusap perut datar istrinya dengan hati - hati karena takut terkena jahitan yang masih basah itu. Dia menatap wajah istrinya dengan lembut.
" Kamu tau gak. Anak kita sudah lahir. Dia jagoan. Tadi aku sudah bertemu dengannya. Dia sangat mirip denganku. Dia sangat tampan sekali." ujar Revan menghibur istrinya agar tidak sedih. Lelaki itu pun tersenyum saat membicarakan bayi mereka.
Mata Aira basah kembali. Dia sangat ingin melihat anak yang dimaksud suami nya itu. Revan mengusap air mata itu lagi. Lelaki itu pun menggelengkan kepala nya menyuruh istrinya untuk tidak menangis lagi.
" Kita harus kuat. Kita tidak boleh menyerah begitu saja dengan ini semua. Kita akan lewati semua ini bersama - sama." tukas Revan. Aira mengangguk kan kepala nya. Wanita itu menunjuk alat yang terpasang di mulutnya. Memberikan kode kepada suaminya untuk melepas alat menyakitkan ini. Revan pun mengangguk.
" Sebentar aku tanya dokternya dulu. Apa sudah boleh di lepas atau tidak." ujar Revan lalu beranjak menuju meja dokter yang tadi menangani istrinya. Menanyakan apa sudah bisa di lepas alat Fentilator itu.
" Kalau nyonya sudah bisa bernafas sendiri, saya akan lepas alat ini." ujar dokter itu kepada Aira. Aira mengangguk mengiyakan ucapan dokter itu.
" Sebentar saya ambilkan alatnya." imbuh dokter itu pergi mengambil alat untuk melepas selang Fentilator di mulutnya.
Dokter itu pun kembali dengan alat seperti vacum cleaner kecil. Revan memperhatikan apa yang di lakukan dokter itu kepada istrinya. Dokter itu pun melepas semua selotip yang menempel di kulit Aira dan mengambil alat vakum itu.
" Saya ambil ya selangnya. Ini rasanya agak sedikit tidak nyaman. Tapi hanya beberapa detik saja kok." ujarnya lalu menyalakan alat itu dan mengambil selang yang tertanam di dada Aira.
Aira merasa seperti di cekik saat alat penghisap itu menyedot selang yang ada di rongga dadanya. Revan sampai mengernyit kan dahinya melihat istrinya kesakitan itu.
" Sudah. Saya sudah mengambil selang nya. Nyonya bisa bernafas dengan normal sekarang. Gimana rasanya?. Sudah plong kan?". tanya dokter itu.
" Iya. Tapi ada rasa panas dan sakit di dada dan tenggorokan saya dok." ujar Aira yang sudah bisa berbicara kembali.
__ADS_1
" Tidak apa - apa. Itu hanya efek selang tadi saja." jelas nya dengan tersenyum. Revan pun menepuk bahu teman seprofesinya itu. Memberikan semangat dan ucapan terima kasih karena sudah berkorban menyelamatkan nyawa istrinya.