
Hari sudah berganti siang. Matahari pun mulai meninggi. Revan yang telah selesai memeriksa beberapa pasiennya pun keluar dari ruangannya.
Saat hendak berjalan menuju kantin untuk makan siang. Dia berpapasan dengan Sheila. Sheila yang tau akan kehadiran Revan pun hanya menatap diam. Ingin sekali dia menyapa lelaki itu. Tapi di urungkannya niat tersebut. Mereka pun berpapasan tanpa saling menyapa, seperti tidak pernah mengenal sebelumnya.
Revan pun memilih dan membeli makan siang nya. Saat hendak memakan makan siang nya Revan pun di hampiri oleh lelaki yang tak asing bagi Revan. Walaupun dia hanya bertemu dengannya baru dua kali.
" Waahh .. Waahh ... Ternyata anda seorang dokter di rumah sakit ini yah. Keren sekali." ucap lelaki itu, yang tak lain adalah Arga. Mantan suami Aira.
Revan yang mendengar itu pun mengurungkan niat nya untuk makan.
" Apa mau anda?. Kenapa anda ada disini?." tanya Revan datar dan tanpa basa - basi.
" Pertanyaan yang lucu. Ini rumah sakit kan. Ya jelas saya disini pasti memeriksakan diri saya. Saya mengantar ibu saya memeriksakan kesehatannya." ujar Arga sambil mendudukan tubuhnya di kursi di hadapan Revan.
" Dunia ini sempit ya, dokter Revan." tukas Arga sambil membaca Id Card yang menggantung di leher Revan. Revan hanya diam sambil menatap lelaki tak di undang ini. Dia ingin tau, seberapa jauh lelaki ini akan mengoceh hal - hal yang tidak penting.
" Anda mengenal Aira darimana?." tanya Arga dengan senyum mengejek.
" Saya kenal darimana, saya rasa bukan urusan anda. Anda sudah bercerai kan dengannya. Apa hak anda mencampuri urusan pribadi Aira?." tukas Revan santai dengan seringai di wajahnya.
Arga yang mendengar ucapan Revan itu pun merasa kesal. Terlihat tangannya tengah mengepal seperti menahan sesuatu.
" Hahahahaha .... " Arga langsung tertawa terbahak - bahak. Sehingga membuat orang yang ada di kantin itu pun menoleh ke arahnya. Revan masih menatap wajah lelaki di depannya. Mencoba memahami arti tertawanya barusan.
" Ahh maaf, entah mengapa mendengar ucapan anda barusan saya jadi ingin tertawa." ujar Arga mencoba memancing emosi Revan. Tapi sepertinya Revan pun tidak terpengaruh sedikit pun dengan ucapan lelaki ini.
__ADS_1
" Apa anda tau, dokter Revan?. Alasan kenapa saya menceraikannya?." ujar Arga seraya mendekatkan wajahnya di hadapan Revan dan berbicara sedikit berbisik. Revan masih terdiam menatap lelaki itu.
" Karena dia tidak bisa memberikan anak kepadaku. Selain itu, dia perempuan yang membosankan. Dari luar saja dia terlihat manis dan menggemaskan. Tapi ketika berada di atas ranjang, dia sungguh perempuan yang membosankan. Dengan sekali lihat, membuat gairah lelaki pun langsung menghilang." jelas Arga mencoba memprovokasi.
Telinga Revan rasanya panas saat mendengar ucapan lelaki ini yang semakin lama semakin ngelantur kemana - mana itu. Ingin rasanya Revan menonjok wajahnya dengan keras. Tapi Revan menahan itu semua. Karena ini masih di rumah sakit. Dia pun juga tak ingin melanggar etika peraturan di rumah sakit tempatnya bekerja. Revan menarik nafasnya dan membuangnya secara kasar.
" Anda tidak perlu kuatir. Saya seorang dokter spesialis kandungan. Masalah anak, saya bisa mengusahakannya nanti. Banyak berbagai macam metode yang bisa di capai di rumah sakit ini." tukas Revan santai membalas ucapan Arga.
" Dan satu lagi, kalau masalah di ranjang. Saya bisa membuat suasana yang tadinya membosankan kata anda menjadi lebih panas. Itu semua tergantung cara anda memperlakukannya dan menikmatinya. Kalau anda merasa tidak bergairah saat melihat tubuhnya. Berarti ada yang salah dengan diri anda." imbuh Revan.
" Mumpung anda berada di rumah sakit, sebaiknya anda memeriksakan diri anda dan gairah anda tadi ke bagian sexologi. Saya kenal dokter di bagian itu. Apa perlu saya merekomendasikan anda kepadanya?." tukas Revan sambil tersenyum memukul dengan telak ucapan Arga.
Arga pun merasa geram mendengar ucapan Revan yang dirasa menghina dirinya itu. Saat dia ingin membalas ucapan Revan. Revan pun sudah berdiri dari duduknya.
" Saya rasa sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Saya permisi. Waktu saya sudah terbuang sia - sia mendengar keluhan anda barusan." tukas Revan lalu beranjak pergi meningglkan Arga yang masih duduk disana. Revan pun pergi tanpa menyentuh sedikit pun makanan yang di beli nya itu. Rasanya perutnya sudah sangat kenyang mendengar perkataan Arga yang bisa di bilang sedikit melukai hatinya itu. Karena dia telah menjelek - jelekan perempuan yqng di cintainya.
" Hallo .. " seru Revan.
" Hallo Assalamualaikum Van." seru suara dari balik telepon. Suara Aira.
" Kamu lagi apa?!. Sibuk ya. Apa aku mengganggu?. " tanya nya.
" Tidak. Aku sedang istirahat. " jawab Revan. Aira terdiam saat mendengar suara Revan yang dingin itu. Tidak seperti biasa nya ketika berbicara kepada nya.
" Van, apa kamu masih marah kepadaku?." tanya Aira lirih. Revan terdiam mendengar itu. Sebenarnya dia tidak marah, hanya kesal saja.
__ADS_1
" Maafkan aku Van. Aku gak bermaksud ngomong begitu. Aku hanya .. "
" Cukup Ra. Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulut kamu. Aku lagi males bahas masalah kemarin" tukas Revan kepada Aira. Deg ... Aira yang mendengar ucapan revan barusan. Seperti mendapat pukulan keras di hatinya.
" Kamu menelepon ku hanya untuk bicara ini?." tanya Revan.
" Eehh ti .. Tidak kok. Apa kamu sudah makan siang?." tanya Aira hati - hati. Revan menghela nafasnya.
" Sudah. Aku sudah makan." jawabnya datar.
" Ooohhh. Baguslah kalau kamu tidak lupa makan." ujar Aira.
" Aku masih ada kerjaan. Nanti kita sambung lagi." ucap Revan lalu mematikan panggilan tersebut.
Aira yang tercekat melihat panggilannya di putus pun terdiam seribu bahasa. Ada rasa bersalah dan penyesalan disana.
" Bodoh. Kenapa kemarin aku bilang begitu ke Revan?. Lihat! Sekarang dia marah kan." gumam Aira seorang diri.
" Suara Revan kenapa berubah menjadi dingin seperti itu. Apa dia masih marah denganku ya?. Atau jangan - jangan dia sudah menyerah dengan semua ini." gumam Aira dalam hati.
Ada rasa tidak rela dalam dirinya.
" Tidak tidak. Tidak mungkin Revan berubah pikiran secepat itu. Pasti dia sedang banyak pekerjaan di rumah sakit." gumam Aira menenangkan hatinya.
" Tapi gimana kalau dia berubah pikiran lalu setuju dengan ucapan papa nya?. Lalu aku gimana?!." tukas nya lagi.
__ADS_1
" Aku harus ketemu dengan Revan. Harus!. Aku harus menanyakan semuanya. Agar lebih jelas semuanya." tukas Aira mencoba berpikir positif dari kejadian ini.
Dia pun masuk kembali ke dalam area produksi tempat nya bekerja. Walaupun tubuhnya ada di pabrik itu. Tapi pikirannya sedang melayang ke tempat lain. Dia ingin sekali bertemu dengan kekasihnya itu. Agar bisa meluruskan kesalah pahaman yang terjadi antara dirinya dan Revan.