
Revan memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah bergaya minimalis namun elegan itu. Dia sangat tidak sabar ingin bertemu dengan istri tercinta nya itu.
Dia pun sedikit berlari tadi saat menaiki tangga rumah tersebut dan membuka langsung membuka pintu kamarnya itu. Kosong. Di carinya sosok istrinya itu di sekitar kamar. Perhatiannya tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di ketuknya pintu tersebut. Tapi tak ada sahutan.
" Sayang. Kamu di dalam?." tanya Revan sambil menarik handle pintu yang terkunci itu. Dia pun mulai khawatir karena tak ada sahutan dari dalam kamar mandi.
" Sayang. Kamu sedang apa?. Kamu baik - baik saja kan?. Sayang." panggil Revan terus sambil mengetuk pintu kamar mandi yang berubah menjadi sebuah gedoran cukup kencang.
Revan merasa ada yabg tidak beres di dalam. Dia sudah bersiap untuk membuka paksa pintu tersebut dengan kaki nya. Dia akan mendobrak pintu tersebut.
Ceklek!! ....
Pintu kamar mandi terbuka. Aira keluar dari dalam kamar mandi dengan baju handuk di tubuhnya.
" Sayang kamu berisik sekali. Ganggu orang lagi berendam saja." ujar Aira kesal. Revan tergelak mendengar ucapan istrinya itu. Dia begitu geram dan kesal karena kekhawatirannya sia - sia saja.
" Lagian kamu gak nyaut pas di panggil tadi. Aku kira kamu kenapa - napa di dalam." tukas Revan mencari pembelaan. Aira berdecak lalu duduk di atas sofa yang ada disana.
" Lain kali kalau ke kamar mandi jangan di kunci pintunya." ujar Revan lalu ikut duduk di samping istrinya. Aira menggosok - gosok rambutnya yang basah dengan handuk yang tadi melilit di kepalanya. Revan memperhatikan wajah istrinya lekat - lekat.
" Kamu kenapa ngeliatin aku sampek begitu nya sih. Kenapa?. Gak pernah liat wanita cantik." tukas Aira sambil melirik ke arah suaminya itu. Revan tersenyum dan langsung di peluknya istrinya itu. Di berikannya banyak sekali ciuman di pipi dan kepalanya.
" Jangan ulangi lagi. Kamu tau, aku begitu khawatir tadi. Aku takut kamu dan anak kita kenapa - napa." ujar Revan sambil terus memeluk tubuh istrinya.
Aira tersenyum mendengar itu. Dia pun memeluk erat tubuh suaminya itu. Entah mengapa dia begitu merindukan lelaki itu. Padahal dia hanya di tinggal bekerja seharian. Tapi rasanya seperti tidak bertemu selama beberapa bulan saja.
__ADS_1
Revan hanya tersenyum melihat istrinya yang semakin menempel saja pada dirinya. Padahal dulu saat melihat Revan pulang kerja, Aira langsung menyuruhnya pergi mandi terlebih dahulu baru boleh mendekat ke arahnya. Aira begitu nyaman dengan aroma tubuh suaminya itu. Seakan tak ingin lepas dari bau tersebut.
Revan melepas tangannya dan sedikit menjauhkan tubuh istrinya dari tubuhnya. Aira langsung menatapnya dengan tatapan tidak suka.
" Kamu mau kemana?." tanya Aira.
" Aku mau mandi sayang. Tubuhku gerah sekali rasanya." jawab Revan.
" Jangan!!. Tidak boleh!!." tukas Aira. Revan mengernyit kan dahinya tak mengerti.
" Kenapa?." tanya nya heran.
" Kamu gak boleh mandi. Nanti kalau kamu mandi, tubuh kamu jadi bau." ujar Aira sambil menarik tangan suaminya itu untuk mendekat ke arah nya.
Revan tertawa mendengar itu. Sekarang dia tau alasan kemarin dia di katai bau oleh istrinya itu. Di cubitnya pipi wanita itu dengan gemas.
" Aku dulu pernah sayang. Waktu pertama kali dapat ijin praktek di rumah sakit. Ada ibu hamil nyamperin aku. Katanya dia pengen banget cubit pipi aku. Katanya sih yang pengen itu anak dalam perutnya." ujar Revan bercerita kepada istrinya.
" Lalu?." tanya Aira.
" Ya mau gak mau lah. Aku pun menuruti keinginan ibu tadi." jawab Revan.
" Pipi kamu di cubit sama ibu tadi?." tanya Aira.
" Gak hanya pipi saja. Semua badanku di cubit habis - habisan sama ibu tadi sampai merah - merah semua. Ya walaupun setelah itu dia dan suaminya minta maaf. Tapi tetep saja kan masih terasa panas banget di kulit." ujar Revan sambil mengelus kulit tangannya. Aira tertawa mendengar cerita dari suaminya itu.
__ADS_1
" Kamu jangan gitu besok kalau ngidam. Ngidam yang normal - normal saja. Jangan yang aneh - aneh." tukas Revan kepada Aira.
" Memang ngidam aneh seperti apa." tanya Aira bingung.
" Ya pokok nya yang masih bisa di terima oleh nalar. Jangan seperti istrinya Radit. Minta makan bakpau tengah malam di pinggir kuburan. Kan serem sayang." jelas Revan.
" Memang istrinya dokter Radit begitu waktu hamil?." tanya Aira tak percaya.
" Iya. Kalau gak percaya tanya saja sama orangnya besok kalau ketemu." jawab Revan.
" Kalau kamu ngidam nya aneh - aneh. Aku gak bakal turutin." ujar Revan.
" Iihhh kamu kok gitu sih. Kalau yang pengen anak kamu gimana?." tanya Aira kesal.
" Itu hanya alasan. Mana ada bayi dalam perut minta yang aneh - aneh. Itu hanya mine sheet dari ibu nya saja. Yang melampiaskan semua nya pada bayi dalam perutnya. Ngidam itu sebenarnya tidak ada sayang. Itu hanya akal - akalan ibu hamil. Supaya keinginannya keturutan semua." ujar Revan sambil mengusap kepala istrinya. Aira cemberut sebal mendengar itu.
" Aku sumpahin, kamu merasakan apa yang dirasakan para ibu hamil. Ngidam, muntah dan lain - lainnya. Agar kamu bisa ngerti penderitaan mereka. Huh!!." tukas Aira lalu beranjak dari duduk menuju lemari untuk berganti pakaian. Revan hanya tergelak mendengar itu.
" Sayang. Kenapa jadi kamu yang marah?." tanya Revan.
" Ya jelas lah. Aku baru tau ya sifat jahat kamu. Dasar dokter kejam dan tak punya hati." tukas Aira sebal.
" Kamu baru tau ya. Maka dari itu, kenapa profesi dokter kandungan itu banyak kaum laki - laki nya dari pada wanita. Karena mereka terkenal kejam dan tidak punya hati." tukas Revan meledek istrinya agar bertambah kesal. Karena bagi Revan, saat melihat istrinya marah itu hal yang paling lucu dan menyenangkan.
Aira melempar bantal yang ada di kasur ke arah suaminya yang duduk di sofa. Revan hanya tertawa melihat itu.
__ADS_1
Sayang. Kamu adalah alasan terbesar ku untuk tetap bahagia menjalani kehidupan yang berat ini. Melihat senyum mu, mampu meluruhkan beban di dalam hatiku. Aku tidak pernah mencintai seseorang sebesar mencintai dirimu. Aku juga tidak pernah menaruh harapan sebesar harapan ku padamu. Aku hanya ingin melihat mu selalu tersenyum dan bahagia. Semoga aku selalu menjadi alasan setiap senyum dan kebahagiaan mu itu. Aku sangat mencintaimu, istri ku. Sangat. - Revan.