
Hari ini aku berulang tahun. Tak ada yang spesial. Tak ada kado maupun ucapan. Aku tak pernah mementingkan itu semua.
Saat aku tiba di sekolah dan masuk ke dalam kelas. Aku duduk di bangku ku. Saat aku menoleh ke sebelah bangku, hanya ada tas sekolah Revan tapi dia tak ada di sana. Ku lihat ada sesuatu di kolong meja ku. Sebungkus coklat yang telah di hiasi pita di atasnya. Di sana ada sebuah note
" Selamat ulang tahun. Semoga bahagia selalu ". Aku tersenyum melihat note itu.
" Terima kasih banyak. Aku suka kadonya." seru ku saat Revan duduk di sebelahku. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Yaahh ... Hanya dia yang selalu memberi ucapan selamat ulang tahun untukku.
Ini tahun terakhir ku duduk di bangku SMP. Benar kami sudah kelas 9. Akhir - akhir ini kami semia di sibukkan oleh evaluasi latihan - latihan soal dan bimbel dari sekolah.
Biasanya aku pulang sekolah pukul satu siang. Berhubung kita sudah kelas 9, jam pelajaran di tambah 3 jam untuk bimbel sekolah. Dan kegiatan ekskul untuk kita semua di hapus agar lebih fokus untuk persiapan ujian nasional.
" Hemmm aku kalo liat lapangan basket pengen banget main basket." keluhku pada Revan.
" Kita mau ujian. Fokus dong." jawabnya datar.
" Kamu gak capek apa Van, belajar mulu. Nanti pulang sekolah masih les privat juga." tanyaku. Dia menggelengkan kepala.
Revan memang anak dari keluarga berada. Ayahnya seorang jaksa dan ibunya seorang dokter. Tak heran jika revan memiliki barang - barang yang harganya tak bisa di jangkau untuk anak - anak seperti ku. Mama nya memanggil guru les privat di rumah saat dia pulang sekolah. Tak ada waktu buat main - main untuknya.
Dia punya kakak laki - laki, namanya Reihan. Kakak Revan sudah memasuki bangku kuliah. Kata Revan kakaknya kuliah di luar negeri karena dapat beasiswa. Itu lah sebabnya Revan selalu di tuntut belajar lebih oleh orang tuanya. Agar dia bisa mencontoh kakaknya.
Ujian nasionak tinggal seminggu lagi. Tiba - tiba Revan tidak hadir ke sekolah. Wali kelasku memberitahukan, bahwa mama nya Revan telah meninggal dunia karena sakit. Aku pun tersentak kaget. Selama ini Revan tak pernah cerita sedikit pun kalau mama nya menderita suatu penyakit.
Tiga hari lamanya Revan tidak masuk sekolah. Aku telah mengumpulkan latihan - latihan belajar selama Revan tidak masuk sekolah. Aku berniat memberikannya agar dia tidak ketinggalan pelajaran saat tidak masuk sekolah.
Hari ini dia masuk seperti biasa. Dia sedang duduk sendirian di bangku untuk mengerjakan evaluasi latihan soal. Ku hampiri dia disana lalu aku duduk di sampingnya.
__ADS_1
Ku tatap wajah dia lekat - lekat. Wajahnya tampak biasa saja. Tak menyiratkan suatu apapun. Dia menoleh dan menatapku yang masih terpaku menatap wajahnya. Di pukullah lengan ku dengan bolpoin yang di pegangnya. Aku pun tersentak.
" Masih pagi udah bengong aja." ujarnya. Ku raih tangannya dan dia menatap tangan ku yang masih menggenggam tangan nya.
" Aku turut berduka cita ya van. Maaf aku tidak tau kalau mama mu sakit keras." jelasku. Dia menepiskan tanganku.
" Aku baik - baik aja kok. Kamu gak usah khawatir. Kamu fokus aja sama ujian." jawabnya kuat. Walau dia tampak kuat di luar. Tapi dari sinar matanya kesedihan itu masih tampak jelas disana.
Sejak kepergian mama nya, Revan berubah. Dia menjadi lebih pendiam. Sehari kalau aku tak mengajak dia bicara, dia tak akan bicara. Kalau di ajak bicara pun di jawab se kena nya saja. Seperti nya dia enggan untuk bersosialisasi dengan kita, teman - temanya.
Ujian nasional pun tiba. Aku berangkat sangat pagi. Karena takut terlambat nanti. Hatiku tak karu - karuan rasanya. Antara cemas, takut dan bingung di campur jadi satu. Tak enak sekali rasanya. Ku lihat Revan sudah tiba. Dia duduk di bangku halaman sekolah. Dia sibuk membolak balikkan kertas evaluasi untuk di pelajari lagi. Ujian pertama kita, Bahasa Indonesia. Walau terlihat mudah, tapi tidak akan semudah itu. Kalau kita tidak teliti, pasti kita akan terjebak dengan kalimat jebakannya.
Ingin rasanya ku hampiri dia. Tapi melihat sikapnya akhir - akhir ini, aku merasa dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati dan pikirannya. Kutatap dia dari jauh, aku pun mengulum senyum.
Good luck ya van. Semoga kamu bisa menjawab semua soalnya. Aku harap kesedihanmu cepat berlalu. Aku rindu melihat senyummu . Gumamku dalam hati.
Waktu pengerjaan ujian selama 2 jam. Ku buka lembar demi lembar dan ku baca secara teliti semua soal ujian. Ku jawab dengan hati - hati. Karena ini akan menentukan lulus atau tudak lulusnya kita di jenjang SMP ini.
Waktu ujian pun berlalu. Semua murid pun keluar dari ruangan ujian untuk pulang ke rumah masing - masing. Aku sudah keluar kelas, ku hampiri kelas Revan. Ku lihat dia masih membereskan alat tulisnya. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku padanya. Dia hanya menatap acuh.
Setelah dia keluar kelas, dia langsung melenggang pergi dari hadapanku. Tanpa menghiraukan aku yang sedari tadi berdiri di depan kelasnya. Ku panggil namanya berulang kali. Tapi dia hanya diam tanpa menyahut sama sekali. Anak - anak yang melihat ku berlari mengejar Revan pun menatap sambil ber bisik - bisik. Entah apa yang mereka gosipkan, aku tak perduli.
Mengapa Revan tidak mau bertemu denganku??. Apa dia marah kepadaku, karena aku tak pernah tau kalau dia ada masalah soal mama nya??. Seharusnya dia bisa ngomong di mana letak salahku. Agar aku bisa memperbaikinya. Bukan dia malah mengacuhkanku begini. Dia langsung memasuki mobil yang menjemput dirinya dan berlalu pergi. Ku tatap mobil itu sampai tak terlihat lagi. Aku sedih Revan begini terhadapku.
Hari - hari berikutnya pun masih sama. Revan tak mau menemui ku. Dia tak menggubris aku yang terus menyapa dan memanggil namanya. Dengan diamnya dia kepadaku. Semakin menambah jarak perbedaan dia denganku. Sekarang kalau aku dan Revan berdiri bersebelahan, di tengah - tengah kita seperti ada tembok besar yang menjulang tinggi memberi batas buat kita.
Pengumuman kelulusan pun tiba. Semua siswa berkumpul di depan mading sekolah. Semua berebut untuk mencari nama mereka masing - masing. Saat ku lihat namaku disana dan LULUS ....
__ADS_1
Aku berpelukan dengan dini. Dini merangkulku senang karena kita berdua sama - sama lulus. Dan saat ku lihat lagi di mading, nama Revan ada di peringkat pertama. Dia mendapat nilai ujian yang hampir sempurna. Dia menjadi juara umum kembali.
Aku celingak celinguk mencari keberadaan Revan. Dini yang tau apa yang kucari langsung menepuk pundakku.
" Revan gak ada. Dia gak datang ke sekolah." seru dini padaku.
" Darimana kamu tau." tanyaku. Dini memegangi dahinya.
" Tadi aku lihat ayahnya Revan masuk ke ruang kepala sekolah." jawab dini. Aku menoleh ke arah dini.
" Aku gak tau ngapain." sambung dini sebelum ku bertanya lagi.
Semenjak pengumuman kelulusan saat itu. Aku tak pernah melihat Revan lagi di sekolah. Aku sempat bertanya ke wali kelasku, dan dia bilang kalau Revan pindah mengikuti ayahnya yang di pindah tugas kan.
Setega itu dia kepadaku. Dia pergi tanpa satu kata pun. Aku pun masih berhutang penjelasan kepadanya. Karena di bersikap dingin dan acuh secara tiba - tiba kepadaku.
Aku harus merelakan kepergiannya. Dan mulai sekarang aku pun juga akan mengubur rasa cinta ku kepadanya. Aku berharap dia dalam kondisi baik - baik saja tanpa kurang satu apa pun.
Selamat tinggal revan ....
Selamat tinggal cinta pertama ku ....
Aku tak akan pernah melupakan mu ....
Kau akan selalu ku ingat dan ku kenang dalam lubuk hati yang terdalam ....
Semoga takdir mempertemukan kita kembali kelak ....
__ADS_1
~ Happy reading ~