
Aira masih tetap pendiriannya untuk menemani Revan sampai terbangun. Reihan pun hanya dapat menghela nafasnya pasrah saat melihat wanita itu dengan segala keras kepalanya.
Aira membuka pintu kamar perawatan Revan. Terlihat lelaki tampan itu memejamkan matanya. Aira berjalan mendekat ke arah tempat tidur Revan. Di lihatnya wajah tirus suaminya itu dengan seksama.
Aira tersenyum saat menatap wajah itu. Wajah yang biasa pucat saat di lihatnya, kini ada sedikit rona di pipinya. Tangan Aira terulur menyentuh pipi Revan. Dingin. Tapi tak sedingin terakhir kali mereka bertemu.
Aira duduk di kursi yang ada di samping Revan terbaring. Di tariknya selimut yang membalut tubuh lelaki itu sampai menutupi dadanya. Agar sang suami tidak kedinginan karena AC ruangan itu.
Tak lama kemudian, Aira berulang kali menguap menahan kantuknya. Di rebahkannya kepala wanita itu di samping ranjang tempat Revan terbaring. Dan wanita itu pun terlelap ke alam mimpi.
Ruangan itu pun cukup lama hening. Hanya bunyi jam di dinding yang berdetak. Revan pun membuka matanya. Dia belum benar - benar terpejam ternyata. Di liriknya tubuh wanita yang amat sangat dia rindukan dan cintai itu.
Dari awal kedatangan Aira ke kamar itu sudah di ketahui oleh lelaki itu. Revan berpura - pura tidur agar tak bertatap muka dengan Aira. Dia ingin sekali memeluk dan merengkuh tubuh wanita itu. Tapi saat melihat kondisi nya saat ini. Di urungkan nya niat tersebut.
Butiran bening terlihat keluar dari ujung mata lelaki itu. Dadanya terasa begitu sesak saat ini. Di gigitnya bibir bawahnya agar suara isakan tangisnya tak di dengar oleh wanita yang amat di cintainya itu. Revan menghela nafas berulang - ulang dengan berat. Lalu di pejamkannya matanya hingga masuk ke dalam alam mimpi juga.
.
.
__ADS_1
.
*****
.
Samar - samar Aira mendengar suara orang berbicara di iringi dentingan benda terbentur satu sama lain. Matanya sungguh berat sekali untuk terbuka. Rasa kantuk pada dirinya begitu besar. Tapi suara berisik itu telah membuatnya begitu penasaran untuk segera membuka matanya.
Dengan berat hati dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Aira pun membuka matanya. Dengan sedikit mengerjap dan menyesuaikan cahaya yang masuk di retina nya wanita itu pun akhirnya terbangun dari mimpi panjangnya.
" Selamat pagi." sapa perawat yang ada disana.
Aira pun memperhatikan wajah Revan dengan seksama. Tidak ada tanda - tanda lelaki itu akan membuka matanya. Aira pun menghela nafasnya dan bangun dari duduknya. Di regangkan otot - otot pinggangnya yang kaku karena memang semalam dia tidak tidur dengan posisi yang benar.
Terlihat perawat disana sudah sibuk dengan aktivitas pagi mereka. Mulai dari menensi tekanan darah Revan dan menyuntikkan obat lewat saluran infus di tangan lelaki itu. Perawat disana pun berjalan mendekat ke arah Aira sambil menyodorkan satu wadah besar air hangat untuk membasuh muka dan tubuh Revan.
" Nyonya. Tolong di basuh ya wajah dan tubuh dokter Revan. Kalau sudah selesai, wadahnya taruh di luar saja. Nanti ada petugas yang akan mengambilnya." terang perawat itu. Aira hanya mengangguk mengiyakan saja.
Aira mengambil handuk kecil yang tergantung rapi di tempat jemur handuk yang di sediakan di sana. Aira menuang sedikit sabun cair ke dalam wadah yang berisi air hangat itu lalu memasukkan handuk kecil dan memerasnya.
__ADS_1
Di basuhlah muka Revan secara perlahan dan dengan gerakan lembut. Di tatapnya wajah yang masih setia terpejam itu. Setelah selesai dengan bagian wajah, Aira berpindah mengusap leher dan membuka sedikit kancing baju yang di pakai Revan lalu di basuhlah secara perlahan.
Revan yang berpura - pura tertidur itu pun sungguh tak kuasa menahan perasaan haru atas apa yang di lakukan wanita yang sangat di cintainya itu. Aira masih mengusap dan menggosok perlahan tangan serta kaki laki - laki itu.
Setelah selesai membasuh seluruh tubuh Revan. Aira membuang air bekas membasuh tubuh Revan ke dalam wastafel dan menaruh wadah itu di luar sesuai petunjuk perawat di sana. Aira mengambil handuk kering dan bersih lalu berjalan mendekat ke arah Revan yang ada di tempat tidur.
Di keringkanlah muka, badan serta kaki Revan dengan handuk itu secara perlahan. Aira melihat ada sisir di atas meja samping Revan berbaring. Di ambillah sisir itu dan di sisirlah rambut Revan dengan lembut. Aira tersenyum saat melihat rambut Revan sudah rapi. Terlihat tampan walau pun wajahnya tirus dan sedikit pucat.
" Kamu kapan bangun sih?. Ini kan sudah siang. Kenapa mata mu masih terpejam terus?. Gak capek apa tidur terus?." tanya Aira saat menatap wajah Revan.
" Aku pulang dulu ya. Nanti aku akan kesini lagi." ujar Aira sambil beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Revan yang masih terpejam itu.
Setelah Aira pergi meninggalkan kamar itu. Revan pun membuka matanya. Butiran bening mengalir kembali di sudut matanya. Dia sungguh merasa bersalah atas perbuatannya yang sudah membohongi Aira dengan berpura - pura tidur.
Dia ingin sekali merengkuh tubuh wanita itu. Dia begitu merindukan wanita yang sudah memberinya kebahagiaan selama ini. Tapi Revan takut dan tak kuasa. Jika Aira tau dirinya tidak sama seperti dulu lagi. Apakah wanita itu akan menerima nya seperti dulu?.
Apalagi saat ini kondisi Aira juga masih belum sembuh sepenuhnya. Dia akan menjadi beban buat wanita itu. Dia akan merepotkan hidup wanita itu. Dan dia akan membuat malu buat wanita itu. Dan Revan tidak mau itu terjadi. Maka Revan telah memutuskan untuk terus menghindar dari wanita yang amat di cintainya itu.
" Maafkan aku, sayang. Maafkan aku!!." gumam Revan dengan berlinang air mata.
__ADS_1