
Dua jam telah berlalu. Dokter jaga disana telah memeriksa Aira kembali. Ternyata kondisi Aira membaik begitu cepat. Tidak ada reaksi apapun dari transfusi darah tadi.
Dokter jaga disana pun menulis kan surat kepulangan Aira dari IGD dan beberapa resep obat untuk di minum di rumah.
" Ini dok resep obat nona Aira Fahira." seru dokter jaga disana yg di ketahui Revan bernama Ikhsan itu.
" Terima kasih banyak ya." jawab Revan sambil menepuk bahu adik kelas nya di bangku kuliah itu. Ikhsan pun mengangguk mengiyakan.
" Apa aku sudah boleh pulang?!." tanya Aira saat melihat Revan menghampiri bed nya dengan membawa sebuah resep.
" Iya. Ayo aku antar kamu pulang." jelas Revan sambil menggandeng lengan Aira. Aira menuruni bed disana perlahan dan berjalan pelan - pelan dalam dekapan Revan.
" Heeemmm rasanya aku pengen sakit terus." desah Aira sambil menatap wajah Revan.
" Jaga bicara mu. Ucapan adalah doa." tukas Revan. Aira tersenyum melihat Revan.
Saat berjalan di lorong rumah sakit. Tampak dari kejauhan seorang perempuan berlari menuju ke arahnya. Revan menghela nafas panjang saat melihat perempuan itu berlari ke arahnya.
Revan pura - pura tidak melihat kehadiran perempuan itu yang tak lain adalah Sheila, mantan kekasihnya itu.
Terlihat dari raut wajahnya tampak kesal dan marah. Sheila berhenti pas tepat di hadapan sepasang kekasih ini.
" Revan. Apa yang kamu lakukan disini?!. Siapa perempuan ini." tanyanya sinis dan tak henti - hentinya melirik Aira.
Aira mengulum senyum pada perempuan di depannya ini tapi tak mendapat respon. Yang ada hanya lirikan ketidaksukaan.
" Siapa pun dia bukan urusanmu." tukas Revan datar. Wajahnya tak bergeming sama sekali. Revan menuntun Aira kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Tapi Sheila keburu menarik lengan Revan secara kasar. Revan pun terhenti dan menatap wajah sheila.
" Dia siapa?!." teriak Sheila frustasi karena tak dapat respon apapun dari lelaki di hadapannya.
" Lepasin ... !!." bentak Revan pada Sheila yang masih menarik lengannya.
Aira beringsut dalam dekapan Revan. Dia tidak pernah melihat Revan sekasar itu pada perempuan.
" Ooohhh jadi karena perempuan murahan ini kamu mengabaikanku, hah." cibir Sheila.
Revan menatap wajah Sheila kesal. Ingin sekali dia meremas mulut gadis cantik ini di depannya.
" Maaf ya mbak. Saya bukan perempuan murahan yang mbak bilang tadi. Mbak ini siapa?!. Kenapa mbak berkata kasar begitu?!." tanya Aira kesal saat mendengar ucapan Sheila yang menusuk hati itu.
" Kalau bukan perempuan murahan lalu apa sebutan buat orang yang sudah merebut lelaki orang lain." jawab Sheila sinis kepada Aira.
" Cukup sheila .. !!!. Jaga bicaramu ya. Kamu seperti orang tak berpendidikan tau gak." tukas Revan kesal. Dan Revan menggandeng lengan Aira kembali untuk mengajaknya pergi dari sana.
Sheila menarik tangan Aira tepat di telapak tangannya yang terluka itu. Aira memekik kesakitan. Memang di telapak itu sangat sakit rasanya. Selain ada luka, juga bekas jahitan yang masih belum hilang nyerinya.
" Mau kemana kamu perempuan murahan, hah. Berani nya kau mengambil milik orang." teriak Sheila dan semakin meremas tangan Aira yang terluka.
Revan reflek mendorong tubuh Sheila hingga terjatuh ke lantai. Dia melihat Aira meringis kesakitan. Air matanya tak dapat terbendung.
Aira menangis sejadinya sambil memegangi tangannya yang mulai mengeluarkan darah merembes dari dalam balutan perban tadi.
" Kau ... Tunggu aku akan buat perhitungan buatmu." seru Revan sambil membopong tubuh Aira kembali menuju IGD kembali.
Ikhsan dan perawat disana kaget saat melihat Revan membawa Aira masuk kembali kesana. Revan langsung menuju bed kosong dan menurunkan tubuh Aira disana.
Terlihat Aira meronta - ronta menahan sakit yang amat dalam disana. Dengan cekatan ikhsan dan para perawat membuka kembali perban di tangannya dan memeriksa luka itu.
__ADS_1
Revan pun memegangi tangan Aira yang satunya karena posisi Aira sekarang sedang meronta kesakitan.
" Kasih obat bius dulu saja. Agar dia tak merasakan sakit baru di obati lagi lukanya." perintah Revan tak tega melihat Aira yang terus meronta dan menangis kesakitan.
Perawat menyuntikkan obat bius di tangan Aira. Selang beberapa menit, akhirnya Aira kembali tenang. Dirasakan telapak tangannya yang tadi seperti di cabik - cabik perlahan kebas tak terasa apapun disana.
Ikhsan mencubit pelan tangannya mengetes apakah obat bius sudah bereaksi. Setelahnya di bersihkan lagi darah yang keluar dari tangan Aira.
Terlihat luka jahitan Aira terbuka. Mungkin karena tarikan tangan Sheila yang keras serta remasannya tadi.
Revan mengusap pucuk kepala Aira perlahan. Mencoba menenangkan wanitanya yang mulai merasakan kantuk di matanya.
Terlihat Aira memejamkan matanya. Revan menghela nafas panjang. Di lihatnya Aira terlelap dalam tidurnya.
Setelah selesai menjahit ulang luka nya. Ikhsan dan perawat disana meninggalkan Revan dan Aira yang tengah tertidur
Revan menarik nafas panjang. Dia membenamkan wajahnya di samping Aira tertidur. Rasanya hari ini sangat melelahkan untuknya.
Tiba - tiba terdengar seseorang membuka tirai dengan kasar. Revan tersentak menatap siapa yg membuka tirai. Terlihat Santi dengan menggendong Bian disana.
Revan menginstruksikan adik Aira itu untuk tidak berisik dengan menempelkan telunjuknya pada bibirnya.
" Gimana keadaan mbak Aira, mas?!." tanya Santi lirih setengah berbisik.
" Dia baik - baik saja. Sekarang sedang tidur. Mungkin terkena efek obat bius tadi." jawab Revan pelan sambil mengelus pipi Bian.
" Kenapa pakai di bius segala?!. Apa lukanya serius?!." tanya Santi bingung. Terlihat Akbar suami Santi ikut memasuki ruang IGD. Akbar tersenyum kepada Revan.
" Luka nya cukup dalam dan lebar. Jadi harus di jahit. Makanya pakai di bius." jelas Revan sambil menatap wajah Aira.
Santi menatap kakaknya sendu. Wajah kakaknya terlihat tenang ketika tidur.
" Ayo kita tunggu di luar. Nanti mbak Aira bangun kalau kita berisik disini." ajak Akbar kepada Santi untuk keluar ruangan.
Santi mengekor pada suaminya itu. Revan pun mengikuti calon adik iparnya keluar. Terlihat Sheila masih berdiri di luar pintu IGD.
Sheila menoleh ke arah Revan. Tapi Revan tak bergeming sama sekali kepadanya. Rasanya dia sudah muak melihat kelakuan Sheila itu.
Santi menatap Sheila dan bergantian menatap Revan. Dia menangkap gelagat mencurigakan di keduanya.
" Mas Revan kenal dia?!." tanya santi to the point kepada Revan.
" Iya kenal." jawab Revan singkat.
" Pacar mas Revan?!." tanya Santi menyelidik.
" Dulu iya. Sekarang tidak." imbuhnya.
" Mas Revan putus bukan karena mbak Aira kan?!." tanya Santi cemas. Akbar sedikit menarik lengan istrinya itu.
" Bukan. Aku putus dengan nya karena muak melihat sikapnya yang lama - lama seperti seorang psycho." jawab Revan datar.
Sheila masih berdiri tidak jauh dari Revan dan Santi duduk. Mungkin dia sedikit mendengar ucapan Revan. Lalu dia beranjak meninggalkan Revan dan Santi yabg masih duduk disana.
Revan menghela nafas nya. Dia menundukkan pandangannya menatap lantai rumah sakit yang dingin. Santi pun terdiam menatap pintu IGD. Dia berharap apa yg di ucapkan lelaki di sebelahnya benar adanya.
Jika sampai lelaki di sebelahnya ini berbohong, maka kasihan kakaknya itu. Kakaknya itu mungkin akan menderita kembali.
" Mas revean serius kan dengan mbak Aira?!. " tanya Santi sambil masih menatap pintu IGD. Tatapannya menerawang jauh. Dia tidak sanggup kalau melihat kakaknya terpuruk kembali.
__ADS_1
" Iya ..?!." tanya Revan kaget sambil menatap Santi.
" Mas Revan gak berniat menjadikan mbak Aira mainan kan?!." tanya Santi lagi. Kini dia menatap balik Revan. Terlihat buliran air mata menetes di pipinya. Dia sudah berusaha menahan. Tapi akhirnya jatuh juga.
Akbar yang melihat istrinya mulai melow itu menepuk bahu nya mencoba menenangkan.
Suara tangisan Santi makin terdengar keras. Bian yang melihat ibu nya menangis mulai ikut menangis pula. Akbar kewalahan menghadapi istri dan anaknya yang sama - sama menangis itu.
Revan mengambil alih Bian ke dalam gendongannya. Sementara Akbar mendekap istrinya itu mencoba menenangkan.
" Bun, sudah dong jangan menangis. Ntar kalu ada yang lihat di kira ada yang meninggal di dalam." seru Akbar sambil mendekap istrinya itu. Santi memukul dada Akbar.
" Kamu mendoakan mbak Aira meninggal, hah." tanyanya masih terisak.
" Siapa yang mendoakan mbak Aira begitu. Aku kan cuma bilang kalau ada yang lihat kan gak enak." jelas Akbar. Santi mengusap air matanya kasar. Dia mendengus kesal pada suaminya itu.
Revan tersenyum melihat pasangan suami istri itu. Bian pun sudah berhenti dari tangisnya.
Terlihat perawat keluar dari ruang IGD.
" Dokter Revan, nona Aira sudah sadar. Sekarang mencari dokter." jelas perawat itu.
" Oohh iya sus, terima kasih." jawab Revan.
" Mas aku ikut masuk ya." pinta Santi pada Revan.
Revan tersenyum sambil mengangguk mengiyakan permintaan Santi.
" Kamu sama Akbar masuk aja dulu. Ntar aku nyusul." jelas Revan.
Santi, Akbar, dan Bian langsung masuk ke ruang IGD itu untuk menghampiri kakaknya.
Revan masih duduk di ruang tunggu di depan. Dia mengambil ponselnya. Di tatapnya layar ponselnya dan dia mencoba menghubungi nomer ponsel kakaknya, Reihan.
Lama terdengar panggilan di angkat dari seberang.
" Hallo, kak Reihan. Ini aku." seru Revan
" Iya ada apa van dari kemarin kamu telepon kakak terus." sahut kakaknya itu Reihan.
Revan menghela nafas panjang.
" Kak ... Aku ingin menikah." tukas Revan dalam satu tarikan nafas.
" Apa van?!. Kamu mau nikah?!. Sama Sheila." tanya Reihan balik. Dia sedikit kaget mendengar ucapan adiknya itu.
" Bukan. Kakak ada dimana sekarang." tanya Revan.
" Kakak masih ada di luar kota ini. Minggu depan baru balik." jelas Reihan.
" Ok. Minggu depan kalau kakak udah balik, tolong lamarin Aira buat aku." pinta Revan.
" Siapa van?!. Aira?!. Siapa itu Aira?!." tanya Reihan penasaran.
" Panjang ceritanya kak. Nanti aku jelaskan." tukas Revan.
" Sudah dulu ya kak. Kalau udah balik tolong kabari aku." jelas Revan lalu mematikan ponselnya.
Reihan yang ada di ujung sana masih tertegun mendengar permintaan adiknya itu. Kenapa tiba - tiba Revan minta di nikahkan. Siapa itu Aira??. Lalu sheila gimana??. gumam Reihan dalam hati.
__ADS_1