Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 108 Susahnya Mengatakan


__ADS_3

Kini Revan, Aira, dan Kinanti berada di luar ruang Niccu tempat anak mereka di rawat. Perawat disana hanya mengizinkan mereka melihat dari balik kaca yang menutupi ruangan tersebut.


Aira duduk di kursi roda sambil terus menatap ke arah Incubator tempat anaknya berjuang untuk hidupnya. Air matanya tak dapat tertahankan lagi. Dia hanya bisa menangis sambil menatap bayi mungilnya dari balik kaca. Revan mengusap kepala istrinya itu agar kuat dan bisa menguasai emosi nya.


Dari balik kaca tersebut, terlihat bayi mereka penuh dengan selang dan beberapa kabel untuk alat bantu kelangsungan hidupnya. Bayi itu masih sangat merah dan kecil sekali. Kinanti yang ikut melihat itu pun tak kuasa menahan air matanya. Dia begitu tidak tega melihat cucu nya seperti itu.


" Ayo kita kembali ke kamar." seru Revan kepada istrinya. Tapi Aira masih tidak ingin berpisah dengan bayinya.


" Aku ingin disini saja bersama Attar. Aku ingin disini." pinta Aira.


" Sayang. Tadi kan kamu sudah janji akan melihatnya sebentar saja. Kamu juga belum pulih. Attar baik - baik saja. Banyak dokter dan perawat yang menemaninya." ujar Revan.


" Aku ibu nya. Pasti dia butuh aku saat ini. Kenapa kamu selalu melarangku bersama dengan anakku sih. Kamu mau memisahkan aku dengan bayiku." tukas Aira marah saat mendengar keinginan nya di tolak oleh suaminya. Revan menghela nafasnya.


" Kamu juga butuh banyak istirahat saat ini. Kamu belum pulih. Nanti kalau kamu sudah pulih. Kamu bisa menemui nya sebanyak yang kamu mau." jelas Revan.


Aira hanya menangis dan terus memandang bayi mungil dari balik kaca. Kinanti mengusap lengan Revan. Meminta untuk sabar menghadapi sifat keras kepala istrinya itu. Revan pun mengusap kepala istrinya lembut.


" Nak, kamu harus sehat dulu. Kalau kamu belum sehat bagaimana kamu akan merawat anak mu nantinya. Kita kembali ke kamar ya. Ini sudah waktunya kamu minum obat." ujar Kinanti.


" Tapi Ma. Aku masih ingin disini." pinta Aira.


" Besok kita kesini lagi ya." jawab Kinanti.

__ADS_1


Aira menatap kaca tersebut. Dia sangat tidak rela pergi dari tempat itu. Dia ingin bersama dengan anaknya sepanjang waktu. Akhirnya dia pun harus rela dan pasrah saat kursi roda itu di dorong menjauhi tempat anaknya di rawat.


Di dalam perjalanan menuju kamar. Aira hanya terdiam tanpa suara. Revan pun demikian. Mereka sibuk dengan pikiran masing - masing. Terlihat seseorang yang mereka kenal sedang berdiri di luar kamar mereka. Revan mengernyit kan dahinya memandang orang itu.


" Kak Reihan." sapa Revan. Reihan pun menoleh dan tersenyum melihat adik dan adik iparnya itu. Reihan memeluk tubuh Revan saat lelaki itu berjalan mendekat ke arahnya.


" Bagaimana kabarmu?." tanya Reihan.


" Aku baik." jawab Revan masih tak percaya dengan kehadiran kakaknya itu.


" Aira bagaimana keadaan mu?. Selamat ya kalian berdua sudah menjadi orang tua." ujar Reihan. Aira tersenyum mendengar itu. Reihan pun bersalaman dengan Kinanti dan memperkenalkan diri.


Kini mereka berdua, kakak dan adik itu tengah duduk berdua di sebuah taman dekat Aira di rawat. Revan hanya terdiam menatap sebuah pohon besar yang begitu rimbun dan membuat hati yang memandangnya terasa sejuk.


" Apa sih!. Selalu saja mendramatisir keadaan." jawab Revan dingin. Reihan tergelak dengan sikap adiknya yang masih sama seperti yang dia kenal. Acuh, dingin, dan menyebalkan itu. Di pukulnya kepala Revan dari belakang.


" Hei!!. Ngajak ribut ya!!." tukas Revan kesal.


" Kenapa wajahmu masih begitu menyebalkan seperti itu, hah!. Aku yakin, anakmu pasti menangis melihat wajah bapaknya seperti ini." ujar Reihan. Revan pun membalas memukul lengan kakaknya itu.


" Bagaimana kondisi anakmu saat ini." tanya Reihan. Revan hanya menghela nafasnya.


" Kau tau darimana Aira berada disini?." tanya Revan menyelidik.

__ADS_1


" Hei, orang tua tanya gak di jawab. Tidak penting aku tau darimana. Dan kau tidak perlu tau aku tau semua ini dari siapa." jelas Reihan. Revan merasa kesal mendengar itu. Dia pun menendang kaki kakaknya dengan keras. Reihan mengadu kesakitan.


" Kau memata - matai ku ya?." tanya Revan.


" Heh kurang kerjaan apa aku harus memata - matai mu." jawab Reihan. Revan tergelak mendengar ucapan kakaknya.


" Apa papa tau semua ini?." tanya Revan.


" Menurutmu?. Apa kita bisa ngobrol seperti ini jika papa tau semuanya?." jawab Reihan.


Mereka berdua pun tertawa bersama. Mereka berdua sama - sama tau bagaimana sifat Ayah mereka.


" Kalau kau butuh bantuan ku, katakan saja. Jangan seperti ini." ujar Reihan. Revan menatap wajah kakaknya.


" Aku gak butuh bantuan mu." jawab Revan.


" Jangan sampai orang lain yang memberitahuku. Kau harus mengatakannya kepadaku pertama kali. Aku akan membantumu." imbuh Reihan.


Dia tahu sifat Revan seperti apa. Adiknya terlihat cuek dan dingin. Tapi sebenarnya dia begitu hangat. Bahkan saat ini pun, ketika Revan berkata tidak butuh bantuan. Tapi sebenarnya dia sangat membutuhkan keluarga nya.


" Kau sudah makan?." tanya Reihan. Revan menggelengkan kepala.


" Aku dengar makanan di rumah sakit itu rasanya lumayan. Kamu harus mentraktirku makan makanan rumah sakit." ujar Reihan sambil beranjak dari duduknya. Revan pun tergelak dan mengikuti langkah kakaknya yang berjalan menuju kantin rumah sakit ini.

__ADS_1


__ADS_2