
Keesokan pagi nya, Aira membangunkan suaminya pagi - pagi sekali. Karena pagi itu dia harus berangkat ke rumah sakit karena ada jadwal operasi pagi. Aira menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Saat di kamar mandi, Revan merasakan perutnya sangat mual sekali. Dia pun sangat ingin muntah tapi gak bisa. Seperti ada yang tercekat di tenggorokannya. Rasanya sungguh gak nyaman sekali.
" Kamu sudah selesai mandi?." tanya Aira saat melihat suaminya sedang memakai kemeja yang sudah di siapkannya tadi. Revan mengangguk.
Aira mendekat dan membantu suaminya mengancingkan kancing kemeja tersebut. Revan tersenyum melihat istrinya itu.
" Sayang. Nanti mama datang kesini." seru Aira sambil mengaitkan satu per satu kancing kemeja suaminya.
" Oohh iya. Mama kesini sama siapa?." tanya Revan.
" Entahlah. Paling sama Santi dan Bian. Semalam aku sudah bilang sama mama. Kalau aku tengah hamil. Mama senang sekali. Makanya nanti dia kesini. Mama juga bilang, kalau aku ingin makan rujak atau manisan tinggal bilang aja. Nanti akan di buatkan." jelas Aira dengan senang.
Saat mendengar kata rujak dan manisan. Seketika air liur Revan ingin menetes. Dia sampai menelan saliva nya. Dia begitu ingin memakan dua jenis makanan itu.
" Tapi aku tidak ingin makan rujak atau manisan. Jadi aku bilang sama mama untuk gak usah repot - repot bawa atau buat makanan itu." imbuh Aira melanjutkan ceritanya. Revan menatap istrinya lekat - lekat.
" Sayang. Kamu telepon mama sekarang gih." pinta Revan.
" Ada apa?." tanya Aira heran.
" Bilang sama mama untuk buatin manisan atau rujak buah yang banyak mangga muda nya. Aku begitu ingin makan itu. Seperti nya sangat enak sekali." ujar Revan sambil menelan saliva nya lagi.
Aira menatap wajah Revan lekat - lekat. Dia terkejut dengan apa yabg di ucapkan suaminya. Revan yang sedang di tatap pun merasa heran.
__ADS_1
" Ada apa?. Kenapa menatapku begitu?." tanya Revan.
" Sayang. Kamu ngidam ya?." tukas Aira. Revan pun tercekat mendengar kalimat barusan.
" Enggak. Siapa yang ngidam?. Ada - ada aja kamu. Mana mungkin aku ngidam." sela Revan dengan gugup. Aira tertawa dengan keras melihat kelakuan suaminya itu. Dia sampai duduk berjongkok sambil mengelus perut nya karena terlalu semangat tertawa.
" Puas kamu tertawa, hah?." dengus Revan. Aira berdiri dan memeluk tubuh suaminya itu.
" Makanya jangan suka jahat sama ibu hamil. Tau rasa kan. Ya begitu lah rasanya perempuan kalau lagi ngidam. Gak enak sekali kan." jelas Aira. Revan terdiam sambil membalas pelukan istrinya.
" Nanti aku akan bilang sama mama kalau kamu sangat ingin makan rujak dan manisan." ujar Aira. Revan mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.
" Ayo kita turun ke bawah. Aku udah siapin sarapan buat kamu." tukas Revan.
" Ayo." jawab Revan lalu mengajak istrinya turun ke lantai bawah untuk sarapan.
*************
Hampir siang hari Kinanti, Santi dan Bian datang ke rumah Aira. Aira begitu senang melihat mama, adik dan keponakan nya datang. Ini kali pertama Kinanti dan Santi datang ke rumah Aira dan Revan.
" Mama bawa apa itu?. Aku kan sudah bilang, gak usah repot - repot." ujar Aira.
" Mama gak repot kok nak. Ini mama buatkan manisan mangga muda untuk mu. Pasti kamu pengen makan yang seger - seger kan." tukas Kinanti.
" Bukan aku sih yang pengen makan itu. Tapi Revan ma." ujar Aira.
__ADS_1
" Apa?. Revan?." tanya mama nya.
" Iya. Karena saat ini yang ngidam itu Revan. Bukan Aira." jelas Aira.
Santi yang mendengar itu pun tertawa puas. Dia tidak bisa membayangkan kalau kakak iparnya yang ganteng dan cool itu sedang ngidam. Kinanti pun menepuk bahu Santi untuk tidak meneruskan tertawanya.
" Pasti lucu deh. Jadi pengen lihat gimana ekspresi mas Revan kalau lagi ngidam." tukas Santi. Aira pun tersenyum.
" Ya sudah kamu simpan di kulkas manisan ini. Nanti kalau Revan pulang kamu berikan kepadanya." ujar Kinanti. Aira pun membawa manisan itu ke dapur dan memasukkannya ke dalam kulkas.
Mereka bertiga pun mengobrol santai di ruang tengah rumah tersebut. Bian pun begitu senang berada di rumah itu. Dia asyik berlari - larian mengelilingi rumah tersebut dengan senang nya. Aira tersenyum melihat tingkah lucu bocah itu.
" Kamu jaga kesehatan loh nak. Jangan capek - capek. Hamil muda itu rentan dengan keguguran." ujar Kinanti sambil mengusap kepala anaknya. Aira mengangguk mengiyakan ucapan mamanya. Di peluknya tubuh mama nya dengan manja.
" Melihat mbak Aira hamil seperti ini. Aku jadi pengen hamil lagi." tukas Santi.
" Ya sana bilang sama suami mu." ledek Aira.
" Masalahnya itu. Mas Akbar masih gak pengen nambah anak. Dia pengen fokus ngebesarin Bian. Biaya hidup semakin hari semakin sulit saja." ujar Santi.
" Akbar ada benarnya juga sayang. Dia gak mau kamu dan Bian nanti hidupnya terlunta - lunta. Nanti kamu rundingkan lagi kalau momem nya sudah pas." usul Kinanti. Santi mengangguk mengiyakan.
" Pasti mas Revan begitu memanjakanmu. Iya kan mbak. Jadi iri deh." gumam Santi.
" Bukan memanjakan. Tapi over protectiv itu namanya. Aku sampai sebal sendiri." ujar Aira.
__ADS_1
Mereka semua pun tertawa mendengar ucapan Aira. Mereka semua pun larut dalam obrolan masing - masing.