Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 99 Keputusan Terberat


__ADS_3

Setelah mendengar perintah dokter Radit, perawat disana pun melakukan tugasnya dengan cekatan. Dia mulai menelepon dokter jaga yang ada di kamar perawatan. Menanyakan soal kamar kosong karena ada pasien dari poli kandungan yang akan di rawat inap disana.


Perawat yang lain pun juga turut membantu. Mereka memasuki ruangan pemeriksaan dengan membawa infus beserta selangnya dan beberapa jarum. Terlihat pula ada kantung kencing disana. Aira menoleh ke arah suaminya. Dari sorot matanya dia pun bertanya soal barang - barang yang di bawa perawat itu.


" Selama kamu di rawat inap, kamu gak boleh turun dari tempat tidur sayang. Maka dari itu kamu akan di pasang selang kencing ini." ujar Revan saat membaca arti sorot mata istrinya. Aira terdiam mendengar itu. Dia membayangkan bagaimana nyerinya saat alat itu masuk ke dalam saluran kencingnya.


Kilatan gambar masa lalu nya seakan kembali di putar lagi. Beberapa tahun yang lalu dia pernah di posisi nya seperti sekarang. Dia menjalani perawatan di rumah sakit ketika dirinya tengah mengandung anak tercintanya. Aira mulai menetes kan air matanya lagi. Rasa ketakutan di dalam hatinya muncul lagi. Dan sekarang perasaan itu begitu hebat rasanya. Dia menatap tajam ke arah dua dokter yang ada disana. Tatapannya berubah menjadi tatapan benci dan rasa tidak suka.


" Aku mau pulang!. Aku gak mau tinggal disini!." ujar Aira saat salah satu perawat meraih tangannya untuk di tusuknya dengan jarum infus. Aira menepis tangan perawat itu berulang kali. Dia pun tak segan memberikan penolakan dan tatapan tidak suka kepada perawat itu.


" Sayang. Ku mohon. Jangan seperti ini. Ini semua demi anak kita." ujar Revan saat melihat istrinya itu menolak untuk di pasang selang infus.


" Apa kamu bilang, demi anak kita?. Kamu malah akan membunuh anak kita kalau aku ada disini terus menerus. Kamu tidak tau apa yang aku rasakan Van. Kamu tidak tau. Aku yang tau gimana rasanya tinggal disini dan harus menyaksikan anak - anakku meregang nyawa mereka. Aku yang tau!!." teriak Aira. Suaranya kini memecah kesunyian ruangan itu. Sampai - sampai pasien yang ada di ruang tunggu pun mendengar teriakan perempuan itu.


" Kalau kamu tidak mau menuruti ucapan ku. Aku akan pulang sendiri. Aku bisa pulang sendiri." tukas Aira dan hendak turun dari bed pemeriksaan itu. Revan menghembuskan nafasnya secara kasar. Dia pun langsung menahan Aira untuk turun dari bed yang ada disana.

__ADS_1


" Radit, Ambilkan brankar yang ada di luar. Cepat!!." perintah Revan. Radit pun berlari keluar. Sementara Aira masih meronta - ronta ingin turun dan di lepaskan. Kini tangan Aira sudah di pegangi oleh Revan secara kuat.


" Revan!!. Lepasin aku!!. Lepasin!!. Aku mau pulang!!. Aku tidak mau disini!!. Kamu bisa membunuh ku dan anakku!!. Lepasin aku!!. Aku akan membencimu seumur hidupku kalau kau sampai melakukan ini kepadaku dan anakku!!." teriak Aira sambil berusaha meronta - ronta dan melepaskan tangannya dari lelaki itu. Revan hanya terdiam mendengar itu. Dia berpura - pura tuli dan tidak mendengar semua yang di ucapakan istrinya.


" Sus cepat pasang selang infusnya!!." perintah Revan. Perawat itu pun mulai melakukan tugasnya. Terlihat Radit masuk kedalam ruangan membawa brankar dan dua perawat disana juga turut masuk dan membantu melakukan tugas nya kepada Aira.


Setelah selang infus berhasil di pasang. Revan masih memegangi tangan istrinya. Dia takut kalau Aira akan menarik jarum yang sudah terpasang dengan susah payah itu.


Aira masih terus meronta - ronta. Dia bahkan sudah menjambak dan memukul wajah dan tubuh Revan dengan brutalnya. Revan hanya diam saja. Dia tau kalau istrinya reflek melakukan itu. Dia hanya ingin melindungi dirinya dari sergapan para perawat disana.


Tinggal selang kencing yang belum terpasang. Revan memerintahkan perawat perempuan disana untuk memegangi kaki istrinya dengan kuat. Radit pun beralih memegangi tangan Aira. Revan mengambil sarung tangan yang ada di atas mejanya lalu memakainya. Dia pun membuka plastik yang membungkus alat kateter tersebut dan mengambil jarum suntik untuk mengeluarkan cairan yang ada di dalam selang. Setelah selesai, dia mengambil kapas berisi alkohol dan gunting yang ada disana.


Revan mulai membuka baju bagian bawah istrinya yang tadi tertutup selimut. Perawat disana masih memegangi kaki istrinya dengan kuat. Revan mulai menggunting celana dalam yang di kenakan oleh istrinya itu. Dia pun mulai menuangkan kapas yang sudah di rendam dengan alkohol dan membersihkan daerah sensitif itu. Daerah tersebut harus steril dari kotoran ataupun kuman - kuman sebelum selang kencing itu masuk di dalamnya.


Alih - alih Aira akan diam saat merasakan dinginnya cairan alkohol itu. Aira malah meronta lebih kencang dan kuat dari sebelumnya saat merasakan cairan dingin itu menyentuh kulitnya. Revan mempercepat gerakannya membersihkan daerah tersebut dan mulai memasang selang kencing pada tubuh istrinya. Aira yang merasakan sakit, nyeri dan rasa panas itu pun berteriak sambil memukul tubuh Radit dengan kencang.

__ADS_1


Revan melepas sarung tangannya dan mencucinya di wastafel. Setelah itu dia kembali di samping istrinya. Aira sudah tampak mulai tenang. Dia sudah tidak meronta - ronta seperti tadi. Mungkin akibat rasa nyeri yang dirasakannya saat di pasang selang kencing itu. Kini istrinya itu hanya menangis sejadinya. Perawat disana memberikan sebuah berkas yang harus di tanda tangani oleh suami Aira untuk meminta persetujuan untuk melakukan tindakan apapun guna menyelamatkan wanita itu dan bayi yang di kandungnya.


Revan mengambil berkas tersebut dan langsung menanda tangani tanpa di baca terlebih dahulu. Karena dia sangat paham apa isi dari berkas tersebut. Dia sering memberikan berkas tersebut kepada keluarga pasien - pasiennya yang membutuhkan penanganan khusus seperti istrinya saat ini.


" Sayang. Kamu gak usah khawatir. Aku akan tetap di sampingmu. Mendampingimu apapun yang terjadi nanti. Aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu. Kamu jangan sedih terus ya. Kamu tunggu aku. Aku akan kesana nanti setelah pasien - pasienku nanti selesai di periksa. Mereka masih membutuhkan aku. Kamu akan pergi kesana bersama dokter Radit sebagai penanggung jawab perawatanmu." ujar Revan sambil mengusap kepala dan pipi istrinya itu. Di hapusnya air mata wanita itu. Dia pun memberikan kecupan lembut dan hangat di kening istrinya itu. Aira hanya diam melihat suaminya itu. Dia tidak merespon apapun yang di katakan lelaki itu. Hanya air matanya saja yang masih setia mengalir.


Revan mengangkat tubuh istrinya yang terbaring di bed perawatan untuk di pindahkan ke brankar rumah sakit itu. Perawat di sana menyuruh Aira melepas kan semua perhiasan yang di kenakannya. Anting, cincin pernikahan maupun kalung yang melekat di lehernya. Revan pun membantu istrinya melepas itu semua. Terlihat cincin yang melingkar di jari manis perempuan itu di masukkan ke dalam rantai kalung yang di pakai istrinya tadi dan Revan pun memakai kalung tersebut di lehernya.


" Aku akan menyimpannya disini." tunjuk Revan pada dadanya. Maksudnya dia akan menyimpannya di dekat hatinya. Biar dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya. Radit pun tergelak mendengar ucapan temannya itu.


Masih sempat - sempatnya dia melakukan hal gombal dan kuno seperti ini disaat kondisi emergency begini. Dasar!! Pamer!!!. gumam Radit.


Perawat disana pun membantu Aira melepas baju yang di kenakannya. Mereka membawa baju perawatan rumah sakit untuk menukarnya dengan baju yang di pakai Aira. Revan pun mengajak Radit untuk menunggu di luar saat melihat istrinya akan berganti pakaian. Dia tidak ingin laki - laki manapun melihat bagian tubuh istrinya itu. Termasuk Radit sekalipun.


" Aku percayakan istriku padamu. Lakukan semua yang kamu bisa dan sesuai prosedur yang ada. Nanti setelah aku selesai dengan pasien disini. Aku akan menemui mu." tukas Revan. Radit pun tersenyum mengangguk mengiyakan. Dia menepuk bahu temannya itu. Mencoba menenangkan hati sahabatnya itu.

__ADS_1


Terlihat perawat disana membuka pintu ruangan. Terlihat Aira tengah berbaring di atas brankar rumah sakit dengan pakaian perawatan. Revan menatap wajah wanita yang tengah di dorong oleh para perawat itu. Terlihat kesedihan yang mendalam disana. Revan menghela nafasnya secara kasar menatap kepergian istrinya dari hadapannya itu.


Aku begitu mencintaimu dan anak kita. Maaf jika ini menyakitimu. Hanya ini jalan yang harus di tempuh untuk menyelamatkan mu dan anak kita. Aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa - kenapa. Maafkan aku sayang. Maaf.


__ADS_2