
Hampir seharian penuh Aira berada di rumah Santi. Dia sangat puas bisa bermain dengan bocah lucu yang dulu hampir setiap hari bermanja - manja dengannya itu. Gelak tawa Bian pun terdengar gak ada henti - henti nya saat Aira dengan jahil nya menggoda bocah tersebut.
Aira merebahkan tubuhnya di kasur yang dulu sebelum menikah dia tempati. Sekarang kamar dan kasur itu menjadi tempat tidur mama nya. Kinanti pun ikut merebahkan tubuhnya di samping tubuh putri sulungnya itu. Aira langsung mendekap dan memeluk tubuh mama nya. Terasa nyaman sekali. Walaupun tidak senyaman pelukan Revan.
Tak lama kemudian mereka pun terlelap dalam mimpi. Santi dan keluarga kecilnya pun terlelap di kamar milik mereka yang ada di sebelah kamar yang di tempati Aira.
Sore hari nya pun, Aira berpamitan pulang ke rumah nya. Dia sudah berjanji pada Revan kalau tidak akan pulang malam. Dengan di antar oleh suami Santi, Akbar, Aira pun pulang ke rumahnya.
" Gak mampir dulu, dek?." tanya Aira kepada Akbar saat melepas helm dan menyerahkan ke adik iparnya tersebut.
" Enggak mbak. Aku langsung pulang saja. Nanti Santi nyariin lagi." jawab Akbar.
" Oohh gitu. Terima kasih ya sudah ngantar mbak pulang segala. Kamu hati - hati di jalan." tukas Aira kepada adik iparnya itu.
" Iya mbak. Aku pamit pulang dulu. Assalamualaikum." ujar Akbar.
" Waalaikumsalam." sahut Aira lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
*****
Setelah mandi, Aira meraih ponselnya yang berada di dalam tas yang ia bawa tadi. Tak ada panggilan atau pesan apapun dari suaminya. Aira melihat jam yang ada di dinding. Pukul 7 malam.
" Apa dia masih sibuk ya?. Seharusnya kan ini waktunya jam makan malam." gumam Aira. Dia merasa tidak tenang. Pikirannya tertuju pada Revan suaminya.
" Awas saja kalau dia macam - macam disana!. Ku cincang sampai halus nanti, huh!!." dengusnya kesal. Di lemparnya ponsel miliknya ke atas kasur. Lalu dirinya turun ke bawah untuk makan malam.
Saat berada di meja makan. Aira begitu kesepian. Begitu banyak makanan tersaji di atas meja. Tapi dia hanya makan seorang diri. Di ambil nya nasi lalu di taruh ke atas piring beserta lauk dan sayur nya. Lalu dirinya beranjak dari duduk nya menuju ruangan belakang tempat para assisten rumah tangga nya tinggal.
__ADS_1
Terlihat mbok Sum, mbak Aminah dan suaminya sedang makan malam bersama disana sambil duduk lesehan di bawah. Gelak tawa mereka pun terdengar saat melihat acara komedi di layar televisi.
" Nona!!." seru mbak Aminah kaget saat melihat Aira berdiri di depan pintu pembatas ruang makan dan ruang belakang mereka tinggal.
Aira tersenyum mendengar nama nya di sebut. Para assisten rumah tangga tersebut berdiri dari duduk nya dan menunduk takut di hadapan Aira.
" Boleh kah saya ikut makan malam bersama kalian?." tanya Aira.
Wajah para assisten rumah tangga itu begitu kaget mendengar ucapan nona muda nya.
Apa aku tidak salah dengar?. Non Aira minta makan bersama dengan kita?. Apa tidak salah!!. gumam Mbak Aminah.
" Boleh gak?." tanya Aira lagi.
" Tapi non, kenapa non Aira ingin makan malam disini bersama kami?. Disini kotor non, jelek, dan panas tidak ada AC nya." ujar mbak Aminah. Aira tersenyum mendengar itu.
Wajah para assisten rumah tangga itu pun terlihat tak enak mendengar ucapan Aira. Mereka begitu sungkan dan segan pada nona mudanya itu. Mereka juga takut kalau tuan muda nya tau, pasti akan sangat marah melihat istri yang di cintainya makan bersama para pembantu.
" Ayolah ku mohon!!. Aku kesepian kalau harus makan sendirian di meja makan. Gak enak makan sendiri itu." tukas Aira.
" Baiklah non. Tapi nanti kalau tuan muda marah bagaimana?." tanya mbok Sum dengan takut.
" Enggak. Revan tidak akan marah. Lagipula dia kan tidak ada di rumah." jawab Aira santai.
Para assisten rumah tangga tersebut saling memandang. Akhirnya mbok Sum pun mempersilahkan nona muda nya untuk gabung bersama mereka.
Aira begitu senang. Dia langsung duduk begitu saja di lantai. Dia tidak menghiraukan mbok Sum yang menyuruhnya untuk duduk di atas kursi yang ada disana.
__ADS_1
" Kalian makan apa itu?. Seperti nya enak." tanya Aira penasaran dengan isi piring mbok Sum.
" Ini sayur orang desa non. Non Aira mana suka dengan masakan kampung begini." ujar mbok Sum.
" Jangan salah ya. Saya paling suka masakan orang desa. Itu sangat nikmat sekali. Aku mau dong mbok sayur yang mbok sum makan itu." rengek Aira.
Mbok Sum pun menuangkan sayur yang ada di panci kecil ke dalam piring Aira. Sayur gulai daun singkong yang sangat enak bagi Aira.
" Heeemmm ini sayur terenak yang pernah saya makan mbok. Mbok Sum kenapa punya makanan seenak ini gak bagi - bagi sama saya sih." tukas Aira.
" Maaf non. Saya pikir non Aira tidak suka sayur begituan." jawab mbok Sum.
" Mulai besok, mbok Sum harus masakin saya makanan apa yang mbok Sum dan mbak Aminah makan. Jangan membeda - beda kan makanan saya dengan kalian. Kita semua ini kan sama. Sama - sama manusia. Tidak ada yang harus di bedakan." jelas Aira.
" Tapi non." ujar mbok Sum.
" Gak ada tapi - tapian." jawab Aira.
" Nanti kalau tuan muda tidak suka bagaimana?. Bisa di marah i nanti saya non." jelas mbok Sum.
" Gak akan mbok. Nanti saya yang akan bilang ke Revan kalau dia pulang nanti." tukas Aira.
Aira makan dengan begitu lahapnya. Dia sampai menghabiskan dua piring penuh. Setelah cuci tangan. Dia duduk kembali di bawah sambil selonjoran. Perutnya terasa sangat kenyang sekali. Sampai - sampai dia menurunkan sedikit celana yang dia pakai karena begah.
" Aku sangat kenyang mbok Sum." seru Aira sambil mengelus - elus perut nya yang sedikit buncit karena kekenyangan.
Mbok Sum dan mbak Aminah hanya tersenyum melihat nona muda nya itu.
__ADS_1
Anda sangat baik hati dan rendah hati nona muda. Beruntung sekali tuan muda mempunyai istri cantik dan sebaik anda nona muda. Semoga kalian bahagia selalu.gumam mbok Sum dalam hati.