Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 134 Jangan Pergi!!


__ADS_3

Atmaja kembali ke ruangan Revan. Terlihat sang anak sedang duduk sambil membaca buku. Atmaja menghela nafasnya berat melihat anaknya itu.


" Aira tidak ketemu. Mungkin dia sudah naik taksi tadi waktu papa perjalanan mengejarnya." ujar Atmaja.


Revan hanya terdiam dan larut dari balik buku nya. Atmaja duduk di samping tempat tidur Revan. Di tatapnya wajah Revan lekat - lekat.


" Kamu kenapa?. Bukannya dulu kamu begitu keras kepala dan langsung pergi dari rumah ketika papa tidak suka melihat mu berhubungan dengan Aira?. Tapi kenapa sekarang kamu kok seperti ini kepadanya?. Apa Aira ada salah denganmu, hah?." tanya Atmaja kepada Revan.


Revan menutup buku yang di baca nya. Dia menarik nafas dengan berat. Di tatapnya wajah sang ayah dengan sendu.


" Bagaimana aku bisa bertemu dengan dia Pa?. Lihat lah kondisi ku sekarang!. Aku tidak mau membebani Aira dengan kondisi ku saat ini. Aku tidak bisa bertemu dengan dirinya lagi Pa. Aku tidak sanggup bertemu lagi dengannya." jelas Revan dengan air mata yang berderai. Dia sampai sesenggukan karena menahan sesak di dalam dadanya.


Atmaja menghela nafasnya berat mendengar ucapan Revan. Dia tau kalau Revan masih begitu menyayangi Aira. Hanya saja dia tidak ingin wanita itu melihat kondisi fisiknya saat ini.


Took .. Took .. Took ...


Seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut. Revan dengan segera menghapus air matanya dengan tangannya. Atmaja beranjak dari duduknya dan membuka pintu tersebut.


Terlihat seorang dokter dan perawat berdiri di depan pintu dengan wajah sendu dan sedih.


" Iya dok. Ada apa?." tanya Atmaja di depan pintu. Dokter dan perawat itu masih diam saja melihat ke arah lelaki tua itu. Mulutnya seakan membisu saat bertatapan dengan Atmaja. Atmaja yang di tatap hanya diam keherananan.


" Siapa Pa?." tanya Revan dari dalam ruangan.


" Ini ada teman kamu." jawab Atmaja masih dengan perasaan heran karena masih di tatap oleh keduanya.


" Teman?. Suruh masuk saja Pa." pinta Revan.


Atmaja pun mempersilahkan kedua orang itu masuk ke dalam. Dokter dan perawat itu pun masuk ke dalam. Revan tersenyum saat melihat dua orang itu.


" Dokter Zaki. Apa kabar?." tanya Revan dengan ramah. Tapi wajah dokter itu pun masih menunjukkan wajah seorang yang sedang bersalah kepadanya. Revan menatap wajah dua orang itu secara bergantian.


" Ada apa ini?. Kenapa wajah kalian berdua seperti itu?." tanya Revan yang mulai curiga.


" Dokter Revan saya mau meminta maaf." ujar lelaki itu. Revan mengerutkan dahinya.


" Minta maaf?. Untuk apa?." tanya Revan tak mengerti. Lelaki itu menunduk kan kepalanya.


" Maaf karena saya tidak bisa menyelamatkan nyawa istri anda." ujarnya sedih. Perawat di sebelahnya pun ikut menunduk.


Atmaja yang mendengar itu pun terkesiap. Dia berjalan mendekat ke arah dua orang itu.

__ADS_1


" Apa maksud kalian berbicara seperti itu?." tanya Atmaja yang mulai panik.


" Tadi di depan gedung rumah sakit ada kecelekaan beruntun yang begitu parah." ujar perawat itu.


" Ya aku lihat itu. Tapi apa hubungan nya dengan menantuku Aira?." tanya Atmaja.


" Nyonya Aira terlibat dalam kecelakaan itu. Dia mengalami pendarahan di kepalanya. Dan maaf kami tidak bisa menyelamatkan nyawa nya." jelas dokter itu.


Revan hanya diam menatap wajah kedua orang itu. Lalu dia tersenyum.


" Jangan bercanda seperti itu. Tidak lucu tau. Istri ku sudah pulang naik taksi. Mana mungkin dia terlibat kecelakaan. Yang benar saja kalian." ujar Revan tak percaya.


" Tapi kami tidak bohong dok. Nyonya Aira memang terlibat kecelakaan dan kami tak dapat menyelamatkan nya." tukas perawat disana. Revan tergelak mendengar itu.


" Sudahlah. Aku tau kalau ini hanya lelucon." jawab Revan.


" Kau ini, aku baru saja sadar bukannya menjengukku. Malah berbual seperti itu. Sungguh keterlaluan." ujar Revan.


Ponsel Atmaja berdering. Di ambilnya ponsel itu dari saku jaket nya. ' Kinanti '.


" Hallo ..." sapa Atmaja.


" Ada apa Kinan?." tanya Atmaja cemas.


Kinanti malah menangis sejadinya saat di tanya oleh Atmaja. Terdengar suara riuh isak tangis dari seberang ponsel itu.


" Hallo Kinan. Hallo!!. Kamu dengar aku kan!!. Ada apa Kinan!!. Hallo!!." ujar Atmaja yang mulai panik dan ketakutan.


Lama sekali tak ada sahutan. Hanya suara tangis yang menggema di balik telepon itu. Terdengar suara mbok Sum dan mbak Aminah pula yang ikut menangis. Atmaja mengusap dahinya yang mengeluarkan keringat dingin.


" Hallo Kinan. Tenanglah. Ada apa?. Kenapa semua orang menangis?. Semua baik - baik saja kan?." tanya Atmaja lembut. Agar wanita di seberang telepon itu dapat menguasai perasaannya.


" Baru saja polisi datang kemari. Mereka memberitahu kalau Aira terlibat kecelakaan di depan rumah sakit. Dan dia ... Dan dia .... Huuuuaaaahhhh." suara Kinan terputus. Dia menangis lagi.


Atmaja langsung berwajah pias saat mendengar kabar dari Kinanti. Dia menatap kedua orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan Revan dan memberi kabar itu.


" Pa. Ada apa?. Mama Kinanti bilang apa?. Tidak terjadi apa - apa kan?. Aira sudah di rumah kan?." tanya Revan khawatir. Atmaja langsung memeluk tubuh anaknya. Di peluknya tubuh Revan dengan sangat erat. Air matanya pun pecah sudah. Revan yang di peluk pun masih tak mengerti.


" Kuat kan hatimu nak!. Kuat kan hatimu!. Aira sudah pergi. Ikhlas kan dia pergi!. Ikhlas kan!." ujar Atmaja.


Revan tersentak mendengar itu. Dia tak percaya dengan ucapan papa nya.

__ADS_1


" Pa jangan bercanda seperti ini. Tidak lucu Pa. Kenapa papa ikut - ikutan seperti mereka sih. Gak mungkin Aira pergi. Dia tidak akan kemana - mana. Dia ada di rumah bersama Attar. Jangan bercanda deh." ujar Revan tak percaya.


Atmaja melepas pelukannya kepada Revan. Dia menatap wajah Revan dengan perasaan sedih. Perasaan iba pun dia tuju kan kepada anaknya itu.


" Dimana Aira sekarang?." tanya Atmaja kepada dua orang yang berdiri di ruangan itu.


" Jenazah nyonya Aira berada di kamar jenazah Pak." ujar dokter itu.


" Kalian ini ngomong apa sih. Jenazah apa maksud kalian!. Istri ku baik - baik saja di rumah. Dia tidak kemana - mana!." ujar Revan kesal. Dia masih tidak percaya dengan kabar kepergian Aira.


Atmaja dan dua orang itu pun menghela nafas berat. Mereka tau kalau Revan tidak akan percaya dengan kabar yang begitu mendadak ini. Pasti hatinya begitu hancur ketika mengetahui isti yang di cintainya itu telah tiada.


*****


.


.


.


Kini Atmaja dan Revan tengah berada di depan pintu kamar jenazah rumah sakit itu. Penjaga di sana pun langsung mengenali siapa yang sedang duduk di kursi roda itu.


Penjaga itu pun membuka pintu kamar itu. Ada tiga tempat tidur yang tertutup selimut disana. Atmaja langsung menangis saat melihat barisan tubuh kaku tak bernyawa itu. Penjaga itu pun berdiri di barisan mayat yang ada di ujung.


" Buka selimut nya!." pinta Revan segera. Dia ingin membuktikan kalau apa yang di ucapkan semua orang tentang kepergian Aira adalah omong kosong. Penjaga itu membuka selimut yang menutupi tubuh yang tak bernyawa itu.


Dan ...


Atmaja langsung jatuh terduduk saat melihat sosok itu. Itu menantu yang baru di akuinya. Wanita itu adalah perempuan yang sempat di tolak olehnya. Dia Aira. Dengan mata terpejam dan wajah penuh luka dan darah yang mulai mengering di sana.


Revan yang melihat sosok itu seperti di sambar petir di siang hari. Tubuhnya begitu gemetar. Tangannya terulur menyentuh wajah istri yang di cintainya itu. Air matanya pun lolos tak terbendung lagi.


" Tidak!. Tidak mungkin!. Ini tidak mungkin!!. Airaaaaa .... Tidaaakkk!!!. Jangan pergi!!!. Jangan tinggalin aku!!!. Bangun!!. Buka mata mu!!!. Jangan tinggalin aku!!." ujar Revan sambil terus memeluk dan menggoyang tubuh Aira yang sudah terbujur itu.


Atmaja menangis pilu mendengar teriakan dari anaknya itu. Dia begitu kaget dan tak percaya kalau Aira akan pergi secepat itu. Padahal baru berapa jam yang lalu dia melihat wanita itu berada di ruangan bersama anaknya.


" Bangunlah sayang!. Bangunlah!. Kamu bercanda kan sayang!!. Kamu marah kan sama aku?. Kamu ingin membalas sikap ku tadi pagi kan?. Makanya kamu berakting seperti ini!. Sudah cukup sayang!. Sudah cukup akting nya!. Aku janji tidak akan kasar lagi sama kamu!. Aku janji sayang!. Sekarang buka mata mu ya!. Aku mohon buka mata mu!. Kamu tau kan. Aku takut melihat mu seperti ini!. Please!!. Aku mohon sayang bukalah mata mu!. Airaaaa.... Aku mohon bukalah matamu!!!." Revan masih menangis dan membangunkan tubuh sang istri.


Tapi percuma. Sekeras apa dia menggoyang dan membangunkan tubuh sang istri. Dia tidak akan bangun lagi. Karena memang istrinya itu sudah pergi untuk selama - lamanya. Kini tidak ada lagi senyuman paling manis yang akan di lihatnya ketika membuka mata atau ketika dia pulang bekerja.


" Tiiiiiiiddddddaaaaaaakkkkkkkkk!!!!." teriak Revan sambil terus memeluk tubuh kaku Aira.

__ADS_1


__ADS_2